Selasa, 13 Mei 2014

cersil terbaru rhp 7

"Jangan ngelantur! Hunuslah senjatamu!” bentaknya.

"Crang” sekali, Kim-liong-cee-hwee-kiam keluar dari serangkanya.

"Ya, tapi baik2lah sekali ini!"

Pertarungan mengadu senjata melanjuti pertarungan bertangan kosong, lebih hebat dan berbahaya sepuluh kali.

Pedang Kiu Heng memutar bulat memancarkan sinar berkilauan, sedangkan si orang tua memainkan huncwenya dengan gapah.

Sewaktu Kiu Heng melancarkan jurus Sin Liong Cut Hay (naga sakti keluar dari laut), si orang tua membalas dengan jurus Tui Cong Bong Goat (mendorong jendela menatap rembulan), dengan demikian, serangan Kiu Heng kandas tak berbekas. Menyusul terlihat si orang tua mengebutkan huncwenya menotok ke timur, membabat ke barat, tampaknya seperti sedang mabuk arak, dan kesurupan pula yang sering disebut kelakuan orang yang angin2an, gerak lengannya tidak tampak terlalu cepat tapi gaya kekuatannya bukan main kerasnya, membuat orang kaget dan bergidik.

Menghadapi ilmu lawan yang luar biasa aneh ini, Kiu Heng tidak menjadi gentar, dengan cepat lengan kirinya mengebut, si orang tua berjingkrak2an seperti kelabakan. Tapi setiap jepitan jarinya dapat memecahkan serangan si orang tua sehingga luput dari bahaya.

Tu Pei Lojin merasa kagum dan heran, tapi tidak bisa berpikir terlalu lama karena serangan Kiu Heng kembali datang.

Pertarungan berlangsung terus penuh kehebatan dan mendebarkan jantung. Tiga ratus jurus berlalu tanpa dirasai mereka.

"Kalau begitu terus, aku tidak bisa menang!" pikir Kiu Heng, "aku harus menggunakan llmu yang terlihay dari pelajaran yang terdapat di Bu Lim Tiap!"

Begitu habis berpikir, segera ia berseru: "To Cianpwee, awas!" seiring dengan peringatan nya, jurusnya segera berubah, tubuhnya merapung ke udara, lalu menukik turun dengan deras, lengan kiri dan lengan kanan yang berpedang dipergunakan berbareng dengan jurus Siang-ma-in-coan (sepasang kuda minum di mata air), langsung menikam dan mengeprak si orang tua.

Tanpa ragu si orang tua melancarkan keahliannya dengan jurus Hoo I.ui Wan Tie (burung Hoo menangis, orang hutan menjerit), memecahkan serangan dahsyat lawannya.

Kiu Heng membarengi lagi dengan serangan Keng Liong Cin Kau yang ampuh, memaksa si orang tua mundur beberapa langkah, dengan demikian ia menang di atas angin, sampai To Pei Lojin hanya bisa menangkis tanpa bisa menyerang lagi.

Sungguhpun demikian, benteng pertahanan To Pei Lojin luar biasa ampuhnya, huncwenya diputar demikian macam, niscaya setitik air pun tidak bisa tembus. Serangan ber-tubi2 yang ampuh maupun yang ganas dari Kiu Heng tak berdaya menjebolkan benteng pertahanan musuh, sehingga berkutet terus menerus tanpa sudah-sudahnya.

Beberapa jam kembali berlalu, parkelahian berubah dari gencar dan seru menjadi lambat dan ayal, tak ubahnya seperti hujan ribut yang sudah reda.

To Pei Lojin melawan terus dengan alot dan gerakan lambat seperti kecapaian. Sebaliknya Kiu Heng yang sudah menerima tenaga luar biasa dari pedang peninggalan Cie Yang Cinjin, dan separuh tenaga Kong Tat serta tenaga Ang Hou Kek dari batu hijau, ditambah sering meminum madu lebah hitam yang berkasiat, tenaganya tetap kuat.

"Mungkinkah bocah ini terbuat dari besi dan baja? Kenapa ia kuat betul dan tidak terlihat letih?” pikir To Pei Lojin dengan heran.

"To Cianpwee, terimalah serangan ini!"seru Kiu Heng.

Suara tiba pedang sampai, menjurus lurus ke arah dada dengan kecepatan kilat. To Pei Lojin tidak berani menangkis dengan kekerasan, tubuhnya miring menghindarkan ujung pedang. Begitu serangannya mengenai angin, Kiu Heng mengubahnya dengan cepat, Kim-liong-cee-hwee-kiam tidak ditarik, melainkan dipakai menyerang terus, seperti bayangan mengikuti tubuh si orang tua.

Dengan cepat To Pei Lojin menangkis, lalu mencelat pergi beberapa tambak dengan gerak ayal2an. Tiba2 si orang tua merasakan di bawah ketiaknya hawa yang dingin, sewaktu menundukkan kepala menegasi, bajunya sudah pecah tergores pedang.

"To Locianpwee, bagaimana? Apakah mengaku kalah? Kalau masih penasaran mari kita lanjutkan lagi!” tantang Kiu Heng sambil ber-gelak2.

"Siau-ko mempunyai tenaga yang sakti sekali, aku menyerah kalah! Pepatah mengatakan, gelombang Sungai Tiang Kang yang belakang mendorong yang di depan, yang baru menggantikan yang tua, aku menyerah kalah!"

"Benar2kah kau mengaku kalah atau pura-pura kalah?" tanya Kiu Heng sambil menyimpan pedangnya ke dalam serangka.

"Kecil2 sudah mengetahui banyak istilah, aku tidak mengerti apa yang dinamai benar2 menyerah dan apa yang dinamai pura2 menyerah!" kata To Pei Lojin.

"Lagipula kalau benar2 menyerah bagaimana? Sebaliknya bagaimana?”

"Kalau pura2 menyerah perkelahian ini cukup sampai di sini, kemudian hari siapa pun tidak boleh mencoba merintangi atau mengganggu satu sama lain, lagi pula aku tidak ingin menerima seorang murid setua dirimu," kata Kiu Heng.

”Sebaliknya, kalau kau benar2 menyerah kalah, aku bisa menuturkan asal usuhmu, dan sejak hari ini kau harus mendengar kataku bagaimana?"

Kiranya To Pei Lojin sejak bertemu dengan Kiu Heng sudah mengandung niatan menjadikan si anak muda sebagai muridnya, karena itu dalam pertarungan ia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, karena ia tahu pemuda yang dihadapi berhati keras, bilamana tidak menang tidak akan mengerti, sengaja Ia memberikan lowongan dan pura2 kalah.

Kini Ia mendengar Kiu Heng ingin menyebutkan asal usulnya, sehingga membuatnya ketarik, karena Ia tahu pasti tiada orang kedua di atas dunia ini terkecuali suhunya yang mengetahui peladiaran silat apa yang dipelajarinja.

"Ya, coba kau katakan!" katanya.

"Orang lain tidak mengetahui dirimu dari golongan mana, tapi aku bisa mengetahui dengan jelas. Kau adalah murid dari Hui Hui Ho-siang dari Pek Tok Bun. Disebabkan Hui Hui Hosiang melihat sepak terjang Pek Tok Bun tidak senonoh, Ia meninggalkan pintu perguruan itu dan berdiam di atas gunung empat puluh lahun lamanya. Ia mengumpulkan berbagai macam ilmu dari perguruan silat dan mengubahnya menjadi satu gabungan silat yang luar biasa, lalu diturunkan kepadamu, sehingga merasa sombong dan menganggap paling pintar mengenali ilmu silat dari golongan manapun. Ya atau tidak?"

"Aku benar2 tunduk! Apa yang kau katakan benar semua, aku tidak menyangka dan mengira di otak monyet seperti dirimu bisa menyimpan pengetahuan yang maha tinggi!" kata To Pei Lojin sambil ter-bahak2.

---ooo00oo---














Bu Lim Tiap (Pusaka Rimba Hijau)

Dituturkan Oleh : TSE YUNG

SCAN IMAGE : Lunjuk's Corner dan Arman
jVU : Dewi KZ

JILID III


"Nah, sejak hari ini kau harus turut denganku dan mendengar kata2ku, kuyakin kau akan memperoleh banyak kemajuan," kata Kiu Heng.

"Bagus! Aku berusia tujuh puluh tahun mengangkat guru seorang bocah yang masih ingusan dan berbulu seperti monyet. bukankah hal ini akan menjadi berita yang menggemparkan dunia Bu Lim. Siluman monyet, kau jangan mengimpi, kau.....”

Ia tidak melanjutkan kata2nya, tangannya keluar dan ditotokkan dengan perlahan, inilah ilmu yang luar biasa dari dunia persilatan yang bernama Pit Kiang Tiam Hiat (menotok terhalang tembok), tahu2 Kiu Heng kena tertotok urat gagunya, sehingga diam saja tidak bisa menjawab ejekan si orang tua.

To Pei Lojin sengaja mempertunjukkan kepandaiannya ini dengan tujuan mematikan kecongkakan dan keangkuhan Kiu Heng, agar di kemudian hari tidak menderita kerugian dari sifat buruknya itu.

Kiu Heng merasa gusar tak alang kepalang, pedangnya dihunus untuk mengadu jiwa mati2an. To Pei Lojin tetap duduk tak bergerak begitu ia melihat si pemuda menghampiri, lengannya kembali menotok, membuat Kiu Heng seperti patung, tinggal matanya melarak-lirik dengan gusar tanpa bisa berbuat sesuatu apa.

"Kepandaianku sudah cukup sempurna, kenapa kena totok tidak berdaya untuk memecahkannya?" pikir Kiu Heng,

"Kalau si bungkuk ini tidak bermain sihir pasti menggunakan ilmu menotok Pit Kiang Tiam Hiat yang lihay luar biasa. Ilmu ini menurut suhu sudah hilang dari dunia persilatan, kenapa bisa dimiliki si bungkuk ini?"

Dengan wajah serius To Pei Lojin berkata: "Bocah, kau harus tahu dunia ini luas dan mengandung berbagai keanehan, orang2 berilmu tinggi tidak terhitung jumlahnya, dengan kepandaianmu yang tidak seberapa, segera menganggap diri sangat lihay, akibatnya bisa mencari binasa sendiri. Sadarlah, gunung yang tinggi masih ada yang tinggi! Ilmu dan pelajaran tidak habis untuk dipelajari! Sudah beberapa kali aku mencoba kepandaianmu dan tabiatmu, dan yakin kau adalah bibit yang baik untuk dipupuk! Aku sudah tua dan mengharap mencari seorang murid guna mewariskan kepandaianku. Bocah, kalau kau mendengar kata2ku yang kuucapkan sejujurnya ini, kau bisa menjadi seorang yang berguna di kemudian hari."

Sehabis berkata si orang tua menggoyangkan lengannya, Kiu Heng terbebas dari totokan, cepat ia bertekuk lutut di hadapan To Pei Lojin, kedua matanya berlinang air mata haru, kepalanya tunduk, seperti menyesal sekali.

"Anak yang baik, kutahu kau seorang murid yang berbakti pada gurumu yang terdahulu. Karena itu akupun tidak mau mempersukar dirimu. Kalau kau tidak memandang hina kepadaku, boleh kau memanggil Giehu atau Kan-tia (ayah angkat) pada diriku !"

Kiu Heng terharu, tanpa disuruh kedua kali Ia berkata: Gihu! terima hormat anakmu!"

"Kiu Heng menghormat pada diriku dan mengakui aku sebagai Giehu,” kata si orang tua sambil memimpin bangun, "tapi aku belum mengetahui namamu, bukankah hal yang lucu? Kan jie-cu (anak angkat) sebutkanlah namamu!”

"Kiu Heng!"

"Bagus," jawab To Pei Lojin, "sedangkan kau pun harus tahu, aku she Siauw nama Siong, bergelar Tohiap (pendekar bungkuk). Kini aku berusia berapa, aku sendiri lupa menghitungnya, ya kira2 tujuh puluh tahun lebih!"

Siauw Siong tertegun sejenak sambil ber-batuk2, parasnya menunjukkan tengah terpekur, per-lahan2 Ia bertanya: "Menurut namamu yang demikian ganjil, mungkin kau hidup mempunyai sakit hati yang hebat, kuharap kau bisa menuturkan, agar kubisa membantumu memecahkan kesulitan ini!"

Kiu Heng ragu2 sejenak, achirnya menceriterakan kejadian waktu kecilnya, dengan jujur dan jelas.

"Baiklah! Nanti aku men-dengar2 siapa pembunuh diri ayahmu dan keluargamu itu!' kata Siauw Siong.

"Atas bantuan Giehu, aku mengucapkan terima kasih, tapi biar musuh itu berkepala tiga dan bertangan enam, harus beres di tanganku sendiri!”

"Oh, sudah pasti!" jawab Siauw Siong.

Lengannya merogo saku mengeluarkan semacam benda yang bercahaya dan diserahkan kepada Kiu Heng. "Kini kau sudah menjadi anak angkatku, terimalah pemberianku ini sebagai tanda mata.”

"Ah!" seru Kiu Heng terkejut karena ia mengenali benda itu.

"Bukankah ini yang dinamakan Sam-cun-giok-cee? Dari mana Giehu mendapatkannya?”

"Kau tentu ingat kejadian di Pek Tio Hong, dari salah seorang yang kau binasakan, aku mendapatkan benda ini!” jawab Siauw Siong.

Kiu Heng terdiam meng-ingat2.

"Kalau begitu, salah seorang di antara mereka adalah pencuri Sam-cun-giok-cee dari Pek-bu-siang Siang Siu, kini ia sudah binasa, bebanku menjadi ringan!" kata Kiu Heng seraya menuturkan pesan2 dari Pek-bu-siang.

"Aku mengenal Pek-bu-siang maupun Ang Hoa Kek," kata Siauw Siong, "mereka merupakan tokoh2 Kang Ouw yang aneh dan sudah lama mengasingkan diri, tak kira kedua2nya sudah meninggal dunia!"

Mereka tertegun sejenak, keadaan menjadi sunyi: "Fajar hampir menyingsing, kau masih memakai pakaian malam, mari kita pulang,” kata Siauw Siong.

Dengan secepat kilat mereka turun dari atas gunung, Kiu Heng bermalam di sebuah hotel yang bernama Huay Yang Lauw, sedangkan Siauw Siong baru beberapa hari dalang di Hang Ciu, ia belum mempunyai tempat tinggal yang tetap, kini ia mengikuti ke tempat, bermalamnya si anak.

Malam berganti siang, mereka tidak tidur lagi, melainkan duduk bersemadi menjalankan pernapasan untuk menghilangkan seluruh kelelahannya.

Tengah hari Kiu Heng dan Siauw Siong pergi belanja, mereka membeli baju2 yang indah dan menanggalkan bajunya yang buruk, sehingga ayah dan anak angkat seperti seorang saudagar kaya raya saja. Dengan pakaian yang ganteng, mereka pesiar beberapa hari di telaga See Ouw dan aksi2an, sambil makan dan minum sepuas2nya.

Malamnya mereka tidur sekamar. Sewaktu kentongan berbunyi tiga kali, tiba2 Siauw Siong berbalik badan dan turun dari ranjang, Kiu Heng pun mengguling tubuh mengikuti turun.

"Ha, ada apa?"

"Di genteng ada orang," bisik Siauw Siong dengan perlahan.

"Kenapa aku tidak mengetahuinya?” kata Kiu Heng dengan heran.

"Karena kurang pengalaman dan latihan, semalaman suntuk kau tak tidur, sampai ada orang di atas genteng tidak mengetahuinya! Bagaimana jadinya kalau pendatang itu untuk menuntut balas, bukankah kau akan dicelakakan dengan mudah?”

Kiu Hong merasa jengah, wajahnya merah, untung waktu malam, sehingga tidak terlihat Siauw Siong.

"Yang datang hanya seorang!" kata Siauw Siong.

Kiu Heng manggut menyusul kakinya menotol bumi dan mencelat keluar melalui jendela. Sesampainya di atas, ia tidak melihat bayangan maupun sesuatu yang mencurigakan.

"Jangan2 Giehu sudah pikun, pendengarannya tak tajam lagi!' pikir Kiu Heng.

Sebelum ia turun, berkelebat sesosok bayangan hitam yang cepat sebagai meteor! Tahu2 di depan mukanya berdiri seorang pemuda ganteng.

"Kau menyusahkan diriku saja, lekas kau keluarkan barangmu!" kata si pemuda dengan aseran.

"Aku tidak berhutang maupun meminjam barangmu, apa yang harus kukeluarkan?"

"Apakah kau tidak mengerti?"

"Bertanya pada dirikukah?”

"Ya, kalau tidak pada siapa?"

"Aku tak mengerti!”

"Kau jangan berlagak pilon! Lekas kau keluarkan kotak Bu Lim Tiap, perkara menjadi beres. Bilamana tidak jangan sesalkan aku berlaku kurang ajar!”

Kiu Heng baru sadar pemuda itu menjadi Bu Lim Tiap.

"Kenapa ia bisa tahu, aku memiliki Bu Lim Tiap?" pikirnya.

"Apakah kau tetap bersikap keras tak mau menyerahkan?" desak si pemuda.

"Di dunia hanya ada perampok yang memaui barang orang dengan kekerasan, kau manusia macam apa berani berlaku keras padaku?"

"Aku Gui Wie, putera dari Pek-tok-thian-kun bagaimana?" jawab si pemuda.

"Ku kira siapa, kiranya puteranya binatang beracun!"

"Kau sudah dijadikan musuh seluruh kaum Bu Lim, berani betul memaki pemegang Bu Lim Tiap, sudah bosan hidupkah?"

"Segala binatang beracun, dimaki apa salahnya, bilamana kau masih gila2an, aku pun bisa memakimu!"

Pemuda itu menjadi gusar dengan cepat, Ia mengebut kepada mata Kiu Heng memakai jurus Tek Cee Kie Goat (memetik bintang meraih bulan).

Dikata cepat memang cepat, begitu Kiu Heng mengegos, serangan Gui Wie mengenai angin. Ia penasaran, tapi sebelum bisa memberikan serangan susulan, punggungnya merasakan angin dingin, sehingga menjadi terkejut. Untung ia bukan manusia biasa, kakinya menotok genteng dan mencelat beberapa tombak dengan ilmu Goan Yau Ca Liu (membungkukkan tubuh menancapkan pohon liu).

Gui Wie yang muda berpenyakit memandang ringan kepada musuh, akibatnya hampir menderita kerugian besar. Kini Ia tak berani ber-lambat2an lagi begitu turun, lengan bajunya mengebut lagi, tahu2 ia sudah menghunus pedangnya. Dengan cepat melakukan penyerangan deras ke arah dada musuhnya.

Kiu Heng pun menghunus pedangnya, dengan cepat diputarkan, sehingga serangan musuhnya kembali kandas! Gui Wie menjadi cemas atas serangan2nya yang gagal, keringatnya mengucur deras, ia sadar bukan menjadi tandingan si pemuda cepat2 mencelat keluar gelanggang.

"Jangan bertarung sudah, aku mengaku kalah!” serunya.

Kiu Heng merasa heran kepada pemuda itu.

"Kau yang mengajak berkelahi, kini kau pula yang mengajak sudahan," pikirnya.

"Aku memukulmu dan menggertakmu dengan aseran, tak lain untuk me-nakut2i saja, sekadar mencoba ketabahan dan ilmu kepandaianmu!" kata Gui Wie.

"Aku tak menginginkan kotak Bu Lim Tiap milikmu, tapi menginginkan persahabatan denganmu!"

Kiu Heng diam tidak menjawab seketika lamanya.

"Apakah kau sudah memakan obat bisu sehingga tidak mau bicara?”

"Aku heran atas kelakuanmu yang tidak keruan. Kau harus tahu, ayahmu adalah musuhku dan kubenci dengannya, kenapa kau ingin bersahabat denganku?"

"Lain bapak lain anak!" jawab Gui Wie dengan tegas.

”Aku menghormati mendiang gurumu yang jujur dan baik budi. Di samping itu aku tidak senang atas kelakuan ayahku yang tidak patut, karena itulah aku meninggalkan rumah secara menggelap untuk mengabarkan kepadamu soal bahaya yang mengancam jiwamu! Kau harus tahu ayahku sudah membagikan selebaran ke seluruh dunia persilatan dan menitahkan mereka mencarimu dan membunuhmu, sebab kau sudah dijadikan musuh bersama kaum Bu Lim atas tindakanmu yang tidak menghargai Bu Lim Tiap.

Kiu Heng meng-angguk2kan kepala.

"Pedangmu itu terlalu menyolok dan mudah dikenali, sebaiknya kau simpan saja terlebih rapi!"

"Terima kasih atas kebaikanmu, lain kali kita bertemu pula!" kata Kiu Heng.

Sambil merangkapkan kedua tangannya, Gui Wie segera berlalu dengan cepat.

Begitu Kiu Heng kembali ke kamar, Siauw Siong segera berkata:

"Apa yang kamu ucapkan sudah kudengar, sesungguhnya kota Hang Ciu terlalu ramai dan bukan merupakan tempat yang baik untuk ditinggali terus!”

"Tia, mengandalkan kepandaianmu dan kepandaianku, mungkinkah takut pada Pek Tok Thian Kun?"

"Bukan soal takut pada Pek Tok Thian Kun, tapi ia sudah menyebarkan undangan pada berbagai golongan Bu Lim untuk memusuhi dirimu! Kau boleh merasa tak takut tapi harus ingat, di luar langit masih terdapat langit. Dapatkah kau menghadapi mereka yang berjumlah banyak? Barusan kumendengar soal Bu Lim Tiap, benar2kah kau memilikinya?

"Ah, ini kesalahanku, sampai lupa memberi tahu pada Giehu,” kata Kiu Heng sambil mengeluarkan Bu Lim Tiap dari dalam sakunya.

"Ah, ini adalah Bu Lim Tiap yang sesungguhnya. Sewaktu kukecil, pernah melihat Sucou memegang Bu Lim Tiap ini. Dari mana kau dapat?"

Kiu Heng menuturkan bagaimana didapatnya pusaka rimba hijau itu.

"Heng-jie, dengan kepandaianmu yang sekarang ini belum cukup kuat untuk melindungi Bu Lim Tiap dari rongrongan kaum Bu Lim yang menghendakinya!"

"Habis harus bagaimana?”

"Untuk sementara kita harus menyingkir dari dunia yang ramai dan harus mengumpet dulu. Bukan berarti takut, tapi untuk melatih diri terlebih lihay! Kau mungkin tahu Kay-hiap sedang dihukum di Tay San, tak halangannya kita ke sana! Bagaimana? Apa kau setuju?"

"Aku menurut pada Giehu!” jawab Kiu Heng.

***

Sementara itu kita menengok kepada Cui-jie dan Ping Ping yang meninggalkan Pek Tio Hong. Sepanjang jalan mereka bergurau dan mengobrol dengan asyik, sehingga tidak merasa sepi.

Pada suatu hari, Cui-jie mengingat gurunya pernah mengatakan, bilamana ada waktu ia akan merantau lagi di dunia Kang Ouw, tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Bu Kong San di Kiang Say. Karena itulah mereka menuju ke sana untuk menemukan Na Wan Hoa.

Beberapa bulan kemudian mereka tiba di Tie-cui di Propinsi An Hui, lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju Kiang Say.

Perahu yang mereka pakai tidak terlalu besar, tapi cukup menyenangkan, se-olah2 mereka tengah piknik di atas air untuk menikmati pemandangan alam.

Beberapa hari kemudian tiba di sebuah pelabuhan kecil yang bernama Tang Liu Sian. Sebelum perahu bisa melanjutkan perjalanan, angin besar dan keras menghalangi perjalanan. Mereka terpaksa berdiam beberapa hari menantikan angin reda. Penumpang2 banyak yang mendarat untuk mencari hiburan dan jalan2.

"Adik Ping, kenapa kau tampaknya lesu dan lemas?" tanya Cui-jie.

"Angin sangat besar, perahu ber-goyang2, entah bagaimana kepalaku menjadi pening dan ingin muntah2!" jawab Ping Ping.

"Sebaiknya kita mendarat beristirahat sambil membeli obat, bagaimana?"

"Aku tak bisa berjalan lagi, kepalaku bukan main peningnya."

"Baiklah, kau tunggu sebentar, aku akan mencari obat untukmu," kata Cui-jie seraya mendarat, sehingga di atas perahu tertinggal jurumudi dan Ping Ping berdua.

Belum lama Cui-jie pergi, angin keras tiba2 menyampok, air bergelombang dahsyat, tali pengikat perahu menjadi putus di-koyak2 angin yang menggila. Si pengemudi perahu mencoba sekuat tenaga mempertahankan perahunya, tapi kekuatannya sangat terbatas, ia kena disampok ombak dan jatuh ke air, sehingga perahu terombang-ambing.

Sedangkan Ping Ping yang tengah mabuk kapal dan pening menjadi pingsan lupa daratan.

***

Menurut tukang2 perahu yang sering melintasi pulau Ce Cu To, menganggap sebagai pulau iblis yang menakutkan. Setiap kali kapal atau perahu yang terkena angin ribut pasti tersampok ke pulau itu. Se-olah2 pulau itu sebagai juga kawa2 yang berjaring kuat, sedangkan perahu2 dan kapal2 merupakan korban2 dari kawa2 itu. Karena itulah pulau ini bernama Cee Cu To.

Di atas pulau itu terdapat gunung yang indah dan permai. Anehnya, setiap kali hujan lebat dan angin dahsyat bergelombang tinggi, dari puncak gunung itu sering terdengar irama merdu yang menawan hati.

Dalam anggapan tukang2 perahu yang sederhana, suara itu dianggapnya sebagai nyanyian dewa. Banyak juga di antara tukang2 perahu yang bernyali besar datang ke atas pulau sewaktu terjadi malapetaka atas diri kawan2nya dan sanak saudaranya, guna menolong. Sayang sekali, setiap yang pergi belum pernah terlihat pulang, lama kelamaan penduduk yang mencari nafkah sebagai nelayan atau tukang perahu, menganggap dewa yang berdiam di gunung itu sangat gusar dan sengaja menghukum orang-orang ini, sebagai peringatan jangan berlaku gegabah lagi berani datang menyatroni tempat kediamannya.

Kini Ping Ping yang malang berada di dalam perahu dan terhempas ke atas pulau itu. Sewaktu siuman, ia merasa heran berada di atas perahu yang kandas di tepi pulau. Ia merasakan peningnya sudah hilang. Tanpa mengenal takut ia turun dari perahu itu sambil memandankan matanya keempat penljuru.

Saat ini ia baru ingat pada Cui-jie, dan mengingat dirinya yang malang, sehingga air matanya bercucuran.

Saat ini hari hampir malam, Ping Ping kembali ke perahunya mencari sisa makanan Kala malam mendatang, angin ribut men-jadi2 lagi, kilat meng-gelugur2, perahu tergoyang2 dibuatnya.

Ping Ping takut kalau2 angin ribut itu membawa lagi perahunya ke tengah lautan, cepat2 ia naik ke darat. Lalu berlari-larian ke atas gunung. Ia dibesarkan di atas gunung, dengan sendirinya sudah merasa biasa berjalan di tempat yang sukar untuk orang biasa.

Tiba2 ia terhenti sejenak, karena mendengar irama seruling yang tajam dan merdu.

"Untung terdapat orang, aku bisa bermalam juga," pikirnya tanpa curiga barang sedikit pun.

Ia menelusuri jalanan yang ber-liku2 menuju ke atas. Untung hujan sudah berhenti sehingga sinar bulan yang terang keluar menerangi jagat, atas bantuan sinar yang redup ini, Ping Ping melanjutkan perjalanan terus.

Semakin lama jalanan semakin lebar, di kiri kanan terlihat tengkorak2 manusia berserakan.

Ia terkesiap ketakutan. Tubuhnya menggigil, kakinya menjadi lemas. Ia jatuh duduk sambil memeramkan mata.

Keadaan menjadi sunyi, keresekan pohon dan air berkerucukan terdengar tegas, waktu berlalu tanpa terjadi apa2.

Ping Ping memberanikan diri membuka mata, dengan hati ber-debar2 Ia mengawasi tengkorak2 yang berjumlah besar itu. Anehnya, di samping tengkorak2 itu terdapat juga emas2 balokan yang besar2. Tengkorak2 itu setiap tangannya memegang harta itu erat2 sampai matinya.

Ping Ping seorang gadis yang tidak tertarik kepada segala emas intan, melihat harta yang berserakan itu, sedikitpun tidak menggoncangkan hatinya.

"Emas2 ini diambil orang tapi tidak bisa dibawa pergi, pasti mengandung racun yang maha dahsyat! Agar orang2 yang berani datang kemari dan kemaruk harta2 menjadi mati konyol," pikirnya.

Lalu Ia berdiri dan meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.

Tiba2 dari balik batu terlihat seorang yang tengah borjongkok, kedua lengannya memegang kepalanya yang sudah berambut putih, ia tengah menangis dengan menyedihkan. Ping Ping tergerak, ia menghampiri kepada orang tua itu.

"Popo (nenek), kenapa kau menangis di malam hari, siapa yang mengganggumu?” tegurnya.

Agaknya si orang tua sangat tajam pendengarannya. Begitu kaki Ping Ping mendekati, Ia sudah bangun, matanya memancarkan sinar tajam. Orang tua itu seperti gusar. Ping Ping tidak kenal gelagat. Ia tersenyum manis pada si nenek.

"Kau datang dari mana?" tegur si nenek dengan galak.

"Aku mendapat nasib malang, naik perahu terkena topan dan terdampar kemari!”

"Kau murid siapa, menghantarkan kematian ke sini?"

"Kenapa kau mengatakan demikian, aku adalah orang malang. mati hidup tidak kupikirkan. Mengenai siapa aku, tak perlu kau tahu!”

Ping Ping mengatakan demikian karena berpikir tengah menghadapi orang jahat.

"Dilihat dari parasmu belum terlihat tanda mati, kenapa datang kemari. Apakah kau tidak melihat tengkorak2 yang berserakan itu?" kata si nenek terlebih lunak.

"Sudah kukatakan aku datang karena mengalami kecelakaan, bila tidak aku pun tidak mau datang kemari! Kini hari sudah malam, begitu siang tanah dan ada perahu yang lewat, aku akan pergi meninggalkan pulau yang menyeramkan ini!"

"Aku tak percaya, kau pasti menghendaki emas dan harta2 dari pulau ini!"

"Harta2 itu di pandangan mataku tak ubahnya dengan kotoran yang menjijikkan. Percayalah padaku, aku datang karena menderita kesialan!”

"Kini kau sudah datang kemari, kematian berada di depan mata, karena itu sebelum kau mati, kau harus mengerti agar mati dengan puas!"

Sehabis berkata, si nenek tua segera mengajak Ping Ping menuju sebuah terowongan tanah yang lebarnya beberapa tombak.

"Hai, anak gadis, apa yang kau lihat tak perlu merasa heran dan jangan berkata. Jika tidak, dirimu segera mati seketika juga.”

Ping Ping merasa heran, tapi Ia sebal dan tidak mau banyak bicara, sesudah menjawab "Ya" segera mengikuti si nenek.

Per-lahan2 dari dalam terowongan itu terdengar bunyi air yang berkerucuk, lalu terdengar pula suara angin yang masuk, disusul suara tajam seruling. Sebenarnya bukan seruling, tapi lubang2 terowongan yang berliang terkena tiupan angin sehingga bersuara seperti seruling.

Suaranya demikian keras dan terdengar jauh.

Segala yang dialami ini membuat Ping Ping heran, tapi Ia tidak mau bertanya, karena sudah dipesan si nenek.

Sesudah melalui terowongan yang aneh, di depan terlihat sebuah kolam yang bening dan jernih, di tepian kolam penuh dengan pohon teratai yang berbunga lebat. Wewangian harum semerbak menerjang hidung, keindahan alam luar biasa, seumur hidupnya Ping Ping belum pernah melihat keadaan yang demikian mempesona, tanpa terasa ia diam sejenak menikmati keindahan ini.

Tengah asyiknya ia menikmati keindahan itu, tiba2 mendengar suara seorang perempuan yang halus dan merdu.

"Hei anak gadis, kau datang dari mana?"

Ping Ping celingukan, Ia tidak melihat siapa2 terkecuali si nenek yang cuci kaki di tepian kolam. Ia heran dan bingung, tahu2 di tepian telinganya mendengar lagi suara tadi.

"Hei anak gadis, kau datang dari mana?"

Ping Ping kaget dan bertambah bingung, pikirnya kini bukan berada di dunia lagi, pasti di suatu tempat dewa atau bangsa roh2 berada. Karena ada suara tanpa terlihat wujud merupakan hal yang terlalu gaib untuknya.

"Mungkinkah yang bicara itu setan?" pikirnya.

Tapi ia tidak menjawab pertanyaan itu hanya meng-angguk2an kepala.

"Anak gadis, kau jangan takut, aku menggunakan suara Cian Li Toan Im (berkata dan terdengar ribuan li). Kau tentu tak akan melihat aku, sebaliknya aku dapat melihatmu dengan tegas.”

Ping Ping hampir2 berkata, Tapi keburu dicegah si nenek tua.

"Kau tidak boleh berkata-kata, sebab bisa dipagut ular2 berbisa dan mati seketika."

Ping Ping menarik lagi kata2nya yang sudah sampai dikerongkongannya.

Si nenek cepat menarik lengan Ping Ping dan dibawa lari dengan cepat. Ping Ping hanya mendengar suara angin keras berkesiur di telinganya dan terasa pedih mukanya. Sebelum Ia bisa membuka mulut, si nenek sudah berkata: "Sudah tiba!'

Tampak sinar terang berkilas di depan mata, Ping Ping tahu tadi masih malam dan terlihat bulan, kenapa tahu2 sudah menjadi siang?

Sewaktu matanya mengawasi sekeliling, kembali ia terpesona oleh keindahan alam. Pohon2 bunga banyjak terlihat di sekelliing lereng gunung. Pohon2 besar yang sudah berusia tua penuh meneduhi sekeliling. Daunnya yang hijau bergoyang tertiup angin, sedangkan wewangian terendus lebih harum lagi dari yang pernah dilihatnya.

Saat ini Ping Ping merasakan otaknya menjadi bening dan segar, napasnya lapang, sesuatu kerisauan seperti tersapu bersih dari kalbunya melihat taman indah yang seperti di kahyangan adanya.

Di tengah2 pohon2 bunga yang menebarkan harum terlihat sebuah gedung indah serupa mahligai. Pintunya terbentang lebar, di dalam ruangan terlihat perabotan yang indah2. Dinding2 bersinar terang dan berkilauan karena bertatahkan mutu manikam. Tiang2 rumah yang terbuat dari emas murni berkelerep-kelerep dengan angkernya.

Ping Ping menggigit jarinya. Ia ingin mengetahui benar2 masih hidupkah atau sudah berada di alam baka?

Ia merasakan sakit dan percaja masih hidup di dunia yang fana ini.

Si nenek dengan laku hormat, membungkuk ke hadapan mahligai, sesudah itu membisiki telinga Ping Ping:

"Di hadapan majikanku, kau jangan banyak bicara, sebab beliau sedang risau terus2an. Asal kau tidak menyenangkan dirinya pasti akan dibunuh mati."

Setelah itu ia membuka mulut ke dalam.

"Cujin, ada tamu dari tempat jauh!"

"Aku sudah tahu!" jawab dari dalam.

"Silahkan bawa masuk!”

Ping Ping mengenali suara itu adalah yang tadi bertanya.

Si nenek segera membawa Ping Ping ke dalam mahligai yang mentereng.

Di tengah ruangan terdapat kursi yang mengkilap, di situ duduk seorang wanita pertengahan umur yang berpakaian putih.

Ping Ping membungkukkan tubuh memberi hormat. Begitu ia mendongak memandang menjadi terpesona sekali, karena wajah wanita yang sudah setengah tua itu masih tetap cantik dan manis, hingga seperti juga seluruh kecantikan dari yang terdapat di dunia ini berkumpul di parasnya, tak ubahnya seperti gadis kahyangan yang hanya bisa dijumpai dalam impian.

Di samping wanita cantik itu terdapat pula seorang gadis yang cantik. Raut wajahnya sangat mirip satu sama lain, bedanya yang satu berusia setengah umur. yang satu lagi gadis belasan tahun.

Si nenek masuk ke dalam, dan kembali lagi membawa air teh yang mengepul dan harum.

"Kau datang dari mana, nak?” tegur wanita cantik berbaju putih.

Ping Ping mengatakan hal yang dialaminya dengan jujur.

Agaknya si wanita sangat sayang pada Ping Ping, dipersilahkan duduk sambil disuruhnya minum teh dan tak lupa ia memperkenalkan dara manis yang bukan lain dari anaknya.

"Ini adalah puteriku namanya Soat jie," katanya.

Ping Ping pun memperkenalkan dirinya tanpa segan2.

"Oh, kalau begitu kau pun terhitung sebagai orang Kang Ouw," kata wanita berbaju putih.

"Dapatkah kau menceriterakan sesuatu kejadian di Tionggoan setahun belakangan ini? Terus terang aku sudah setahun lebih menyekap diri di dalam gunung yang sunyi ini. Kini kau datang, membuat aku terkenang lagi pada masa mudaku.... ah,” katanya sambil menghela napas.

"Sungguhpun aku dibesarkan dalam keluarga Kang Ouw, tapi sebegitu lama belum pernah menerjunkan diri dan hidup sebagai orang Kang Ouw. Karena itu, maafkanlah jika aku hanya bisa menceriterakan sekelumit apu yang pernah kualami,” kata Ping Ping, seraya menuturkan kejadian di Oey San dan bagaimana keluarganya mengalami malapetaka hebat, dan bagaimana ia meninggalkan gunung dan berpisah dengan Kiu Heng serta Cui-jie.

Si wanita baju putlih merasa tertarik pada penuturan Ping Ping yang sederhana. Sedangkan Ping Ping sendiri menjadi berlinang-linang sesudah menuturkan nasib malangnya.

"Kau tak perlu bersedih hati nak, kini rumah kau sudah tidak punya, saudara pun tidak, sebaiknya tinggallah di sini. Di samping menemani aku dan Soat-jie, aku pun bisa membantumu dalam ilmu pelajaran silat.”

Ping Ping seorang gadis yang pintar, cepat2 Ia bertekuk lutut menghaturkan terima kasih.

Sejak itulah Ia hidup di pulau Cee Cu To menuntut pelajaran silat sebagai murid si wanita cantik.

Pada suatu hari sewaktu Ping Ping dan Soat-jie ber-main2 di sekeliling gunung, dikejutkan suara keras dari udara. Ping Ping merasa kaget, Ia dongak ke atas, tampak seekor bangau putih menukik turun dan hinggap di dekat Soat-jie.

Dengan aleman, burung itu meng-gosok2an kepalanya di tubuh Soat-jie.

"Cici Ping, apakah kau senang dengan bangau ini?” tegur Soat-jie.

"Ya,” jawab Ping Ping.

"Ia mengerti betul, apakah kau sendiri yang memeliharanya?”

"Bukan! Tapi kutahu, sejak aku ingat, bangau ini sudah ada, entah ibuku atau nenekku yang memelihara."

Bangau itu seperti mengerti perkataan majikannya, Ia diam saja mendengari.

Sewaktu Soat-jie menyuruhnya mendekati Ping Ping, bangau itu dengan patuh melompat dan menghampiri.

Ping Ping sangat girang dan tak henti2nya meng-usap2 dengan kasih sayang.

"Cici Ping, kau belum pernah terbang barang kali?”

"Sudah tentu, orang mana bisa terbang?”

"Mari ikut denganku!"

Soat-jie segera menumplak bangau itu, dan diajaknya Ping Ping duduk dibelakangnya, dengan cepat bangau itu menerjang angkasa dan ber-putar2 sambil memperdengarkan suaranya yang tajam.

Suara bangau ini membuat Sian Popo kaget, cepat2 Ia keluar dari dalam rumah dan segera memperdengarkan siulan panjang. Bangau yang tengah ber-putar2 itu segera turun begitu mendengar suara panggilan.

Ping Ping dan Soat-jie berlompatan turun menghampiri si nenek.

"Sian Popo,” kata Soat-jie, "kenapa kau panggil turun bangau ini sehingga mengganggu kesenangan kami? Dan aku heran, kenapa setiap kali naik bangau ini, kau panggil turun?”

Sebenarnya Sian Popo adalah bekas budaknya neneknya Soat-jie, tapi sejak nenek itu meninggal, Soat-jie memanggilnya Sian popo.

"Sudah kularang kau naik bangau terbang ke sebelah timur, kenapa kau membandel terus? Nanti kalau Ibumu tahu, aku yang kena maki. Kau jangan menanyakan sebabnya itu kepadaku, aku hanya menurut perintah yang diberikan ibumu!"

Sehabis berkata, Sian Popo segera masuk ke dalam rumah. Dari parasnya tampak benar ia sangat berduka. Hal ini dibenarkan oleh suara tangisannya yang kedengaran kemudian.

"Soat-jie, pertama kali aku datang, kulihat Sian Popo tengah nangis seorang diri di bawah rembulan," kata Ping Ping.

"Ya, akupun heran, setiap bulan purnama Ibuku menangis. Sian popo pun menangis, hal ini terjadi setahun lebih. Setiap kali aku bertanya selalu tak mendapat jawaban yang memuaskan," kata Soat-jie sambil terpekur.

Kejadian ini merupakan hal yang aneh untuk Ping Ping, ia pun turut berpikir apa sebabnya mereka berlaku demikian, walaupun tidak pernah mengetahui sebab2nya.

Dengan uring2an Soat-jie menemukan ibunya. Didapatkan Ibunya dan Sian Popo di dalam kamar tengah bertangis-tangisan. Karuan saja ia menjadi terlebih heran, sehingga turut2an menangis. Sedangkan Ping Ping yang cetek air matanya turut pula menangis, sehingga keadaan kamar yang mewah dan mentereng itu banjir air mata. Mereka nangis secara ber-sama2 dengan se-puas2nya Sedangkan burung bangau di luar rumah pun men-jerit2 keras, tak ubahnya sedang menangis pula.

Saking asyiknya menangis, satu persatu jatuh tertidur. Sedangkan waktu yang tidak menantikan orang berjalan terus, tahu2 siang sudah berganti malam

Per-lahan2 rembulan yang bulat naik ke cakrawala.

Wanita berbaju putih bangun terlebih dulu menyusul yang lainnya. Dengan lemah lembut ia menyuruh Sian Popo menyediakan meja di pelataran.

Si nenek agaknya sudah mengerti kehendak majikannya, dengan cepat meja sudah tersedia. Di situ terletak barang sesajian.

Begitu wanita baju putih memasang hio bersembahyang, disusul oleh si nenek dan Soat-jie.

Ping Ping mengawasi heran

"Nak, kalau kau tidak keberatan, tak halangannya bersembahyang juga. Kami bersembahyang pada orang yang dicintai, sedangkan kau hitung2 bersembahyang kepada seorang jago bulim yang luar biasa."

Ping Ping menurut, Ia melakukan sembahyang tapi hatinya ber-tanya2, siapakah yang disembahyangi itu?

Tampak wanita berbaju putih mengajak pelayan dan anak serta Ping Ping menuju ke gunung sebelah timur.

Soat-jie merasa girang karena sudah setahun lebih tidak diijinkan ke sana, padahal ia tahu di situlah letak makam neneknya.

Perjalanan mereka tidak terlalu lama, tempat yang dituju sudah dekat. Dari jauh terlihat sebuah kuburan indah. Di samping itu terdapat pula kuburan lain.

Soat-jie merasa heran, karena ia tahu, di samping kuburan neneknya tidak pernah ada kuburan lagi. Ia ber-lari2 ke depan diikuti Ping Ping dari belakang.

Di kuburan yang pertama terlihat, tulisan: Di sinilah tempat beristirahatnya Lie Siu Lan. Sedangkan di kuburan yang baru itu tertulis: Di sinilah mengaso dengan tenang Cie Yang Tojin dari Bu Tong Pay.

Ping Ping menjadi kaget melihat nama itu, karena ia sering mendengar nama besar Cie Yang Tojin, dan iapun mengetahui betul bahwa nama itu adalah nama gurunya Kiu Heng. Cepat2 Ia berlutut memberi hormat di hadapan batu nisan itu, lalu memberi hormat pula pada kuburan neneknya Soat-jie.

"Soat-jie, berlututlah di hadapan nisan nenekmu dan ayahmu!" kata wanita berbaju putih.

Dengan heran Soat-jie memandang ibunya, karena baru pertama kali ini ia mendengar tentang ayahnya. Kakinya tertekuk dengan patuh, diikuti ibunya dan Sian Popo. Sesudah mereka menghaturkan hormat, kepada orang2 yang sudah meninggal, segera duduk di tepian nisan itu.

"Kini kau sudah dewasa, kau sudah boleh mengetahui semua yang ku ketahui,” kata wanita berbaju putih.

"Kejadian dan peristiwa ini sudah berselang puluhan tahun. Saat itu, aku masih muda remaja sebaya dengan dirimu. Penuh angan2 dan cita2, tanpa memperdulikan larangan nenekmu, aku men-colong2 menunggangi burung bangau. Aku menyeberangi lautan berkeliling se-puas2nya menikmati tanah Tiong Goan yang kaya raya. Hal ini sering2 kulakukan di luar tahu nenekmu, dan sebegitu jauh hanya Siau Popo ini yang mengetahui, tapi ia sangat sayang kepadaku, dan membiarkan aku pergi.

Akupun bertambah berani karena sebegitu jauh belum pernah mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi karma seseorang itu rupanya sudah ditentukan oleh alam yang maha kuasa.

Aku masih ingat sewaktu pulang ber-jalan2 menemukan seorang pemuda yang terkapar di dalam terowongan tanah. Ia terluka digigit ular berbisa yang dipelihara nenekmu. Untung aku membawa obat dan menyembuhkan penderitaannya. Nenekmu mengetahui kejadian ini, dan merasa heran kenapa seorang muda bisa datang ke tempat kediamannya tanpa tertarik barang berharga yang berserakkan di sekitar pulau ini. Atas dasar inilah ayahmu diterima berdiam di sini. Akibat dari perhubungan yang erat di antara kami, timbullah benih cinta yang tidak dapat dirintangi segala kekuatan apa pun. Memang sudah dasarnya bahwa ayahmu itu memiliki sifat kejantanan yang luar biasa. Pendeknya mempesonakan kaum gadis, lebih2 aku seorang yang dibesarkan di dalam pegunungan sunyi, sebegitu jauh belum pernah berhubungan dengan laki2. Sebentar saja hatiku sudah goncang dan jatuh cinta. Kami saling cinta mencintai satu sama lain, tahu2 darah muda yang kurang pikir mengakibatkan soal yang memalukan. Aku hamil sebelum kawin.

Nenekmu mengetahui ini merasa gusar, segera me-maki2 aku dan ayahmu. Yang paling hebat, aku dilarang melakukan pertemuan lagi. Ayahmu yang bukan lain dari Cie Yang Cinjin mengetahui perbuatannya salah, lalu meninggalkan Cee Cu To. Ia bertobat atas kelakuannya terdorong oleh napsu itu, lalu menjadi tojin di Bu Tong Pay.

Dengan men-colong2 aku sering datang ke Bu Tong Pay dengan burung bangau itu. Pertemuan kami ini mengharukan sekali, ayahmu tetap dengan pendiriannya, yakni mencuci bersih dulu keburukannya yang dikeram di dalam hatinya, hitung2 mencuci noda yang pernah dilakukannya.

Aku menjelaskan bahwa perbuatannya itu sudah menghasilkan seorang anak yang bukan lain dari kau adanya. Ia tetap membisu. Dan akupun pulang kembali lagi ke sini.

Belakangan aku mendatangi lagi ayahmu, ia mengatakan akan merebut dulu Bu Lim Tiap, sesudah itu baru mau pulang lagi berkumpul denganku. Jika tidak demikian, ia tidak akan menemui aku lagi.

Aku sedih dan berputus asa, tahun demi tahun kulalui merawatmu sambil menanti kedatangannya yang tak kunjung tiba. Tahu2 pertandingan untuk merebut Bu Lim Tiap tiba, inilah yang pertama kali, ayahmu gagal, berikutnya Ia mengikuti lagi pertandingan yang kedua, kembali gagal, demikian pula dengan pertandingan yang ketiga kembali ia mengalami kegagalan. Padahal kalau ia mau dengan mudah bisa mengalahkan lawan2nya, tapi nenekmu sewaktu menurunkan ilmu kepandaian kepadanya, sudah berjanji tidak boleh dipergunakan untuk menjatuhkan lawan bilamana tidak terpaksa. Ia mematuhi larangan nenekmu.

Aku datang terlambat, sewaktu terjadi pertarungan yang ketiga kali, ayahmu sudah dilukai Gui Sam Seng. Padahal lukanya tidak berat, tapi, begitu aku datang ia membunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri. Ia malu menemui aku lagi dan membunuh diri. Aku menjadi kalap dan bersedih hati. jenasahnya kubawa pulang dan kukubur di samping makam nenekmu yang sudah terlebih dulu meninggalkan dunia ini."

Sehabis menuturkan riwayatnya wanita baju putih itu bersedu-sedan.

"Suhu,” kata Ping Ping. "akupun cukup mengenal Cie Yang Cinjin, karena beliau adalah gurunya kawanku yang bernama Kiu Heng.”

"Di mana kini anak itu berada?" tanya si wanita.

"Entahlah.”


Cepat2 wanita cantik berbaju putih itu mengeluarkan seikat kain dari dalam pinggangnya.

cersil terbaru rhp 5

Ia mengetahui kalau Cui-jie bangun dan mengetahui dirinya dalam keadaan demikian, pasti akan menjadi malu, cepat2 ia membuka bajunya sendiri dan menutupi tubuh si gadis.

Tak selang berapa lama, Cui-jie siuman dari pingsannya. Ia merasa aneh berada di dalam gua.

"Adik, kenapa aku bisa berada di sini?”

"Cici, mungkinkah kau menjadikan aku sebagai musuh juga?" Kiu Heng berbalik menanya.

"Legakan hatimu! Aku bukan manusia rendah demikian macam. Aku tetap akan memperlakukan kau sebagai adik kandungku sendiri!" kata Cui-jie.

Tiba2 ia menjadi kaget melihat keadaan dirinya, sehingga menjadi gusar.

"Aku..... kau..... si manusia rendah, kenapa berani berbuat demikian kotor? Aku buta tak mengenal orang!"

Sehabis berkata Cui-jie mendorong dengan tangan diiringi jeritan kerasnya. Akan tetapi sebelum suara itu keluar dari mulut, lengan Kiu Heng terlebih cepat membekapnya.

Ia kuatir suara itu didengar musuh dan mendatangkan bencana yang tidak diinginkan. Tak kira Cui-jie yang tengah gusar tak dapat dilampiaskan, napasnya menjadi sesak, Ia pingsan lagi.

"Cici......... Cici,” panggil Kiu Heng.

Cui-jie tetap tak bangun.

Ia mengetahui untuk menyadarkan si gadis harus memencet sepasang jalan darah yang terletak di bawah buah dada. Tanpa ragu2 lagi, apa yang dipikir segera dikerjakan. Lengannya segera dimasukkan ke bawah baju, lalu menekan dan mengurut agar Cui-jie siuman.

Disebabkan Kiu Heng terlalu cemas dan ter-gesa2, Ia salah tekan! Bukan jalan darah yang kena dijamah, melainkan bukit salju si gadis! "Benda" itu demikian bulat dan segar, sehingga licin dan sukar terpegang!

Kiu Heng seorang anak muda yang baru berangkat dewasa, mana mengerti soal orang dewasa? Tadi ia sudah ber-debar2 melihat sepasang gunung salju, hal itu disebabkan keanehan alam. Kini lengannya menyentuh sepasang benda yang mengandung keanehan itu. sehingga merasa heran tak habis2nya.

Atas desakan keanehan yang ingin diketahuinya, ia me-nekan2, alhasil lengannya itu seperti terkena aliran listerik yang maha dahsyat! Sekujur tubuhnya menjadi gemetar, ia menjadi terkesiap dan kaget. Cepat2 menarik lengannya, tapi sudah terlambat, sesuatu kenikmatan yang sebelumnya tak pernah dirasakan mengalir ke seluruh perasaannya, unik dan segar!

Sesudah menenangkan pikiran dengan bersemadi, mulai lagi Ia me-nekan2 jalan darah, sekali ini ia tidak menyeleweng seperti tadi, sesudah mengurut seketika lamanya. Cui-jie mulai siuman, sedangkan Kiu Heng sudah mandi keringat.

Sewaktu Cui-jie menarik napas yang pertama, Kiu Heng sudah menarik lengannya. Ia bukan letih dan lelah sewajarnya, melainkan lengannya itu mengenai kulit dan daging yang lunak dan licin seperti mengalirkan hawa hangat dan wangi. Di samping itu sering2 lengannya itu salah jalan meraba ke tempat lain sehingga hatinya ber-debar2, untuk menahan perasaan yang aneh ini membuatnya lebih berkeringat.

Per-lahan2 Cui-jie membuka matanya, padahal siang2 ia sudah siuman, tapi tidak mau lekas bersuara, karena merasakan dirinya tengah diurut secara mengasyikkan.

Ia menggunakan kesempatan ini membiarkan diurut terus, achirnya ia mengetahui kesalah-pahaman tadi, ia merasa tak enak pada Kiu Heng.

Ia berpikir pulang pergi harus bagaimana menghilangkan perasaan salah paham ini?

Sementara itu urutan Kiu Heng tetap berjalan, ia sadar menderita luka dan lukanya itu tak mungkin baik di-urut2 demikian, karena itu Ia membuka suara.

Sewaktu matanya dibuka, tampak tubuh Kiu Heng yang mandi keringat, Ia merasa berterima kasih, lengannya tanpa disadari diangkat mengusap keringat2 yang berada di dahi Kiu Heng.

"Adikku, menyusahkan kau saja," kata Cui-jie.

"Lukaku terlampau berat dan tak mungkin sembuh dengan diurut! Mungkin juga bila tidak mendapat obat yang mujarab dalam beberapa hari lagi akan meninggal dunia? Entah bagaimana dengan guruku? Ia mempunyai obat yang bernama Kie-hun-kui-goan-tan yang pernah kau makan juga. Dengan obat itu umurku baru bisa bertambah panjang! Kutahu bisa demikian karena, merasakan seluruh isi perutku seperti bergeser dan pindah tempat, dan tak mungkin sembuh dengan obat biasa!”

"Cici, legakan hatimu! Sebentar malam aku akan mencari gurumu," jawab Kiu Heng.

Tapi kukuatir ia menganggap aku sebagai musuh pula! Kalau sampai demikian, terpaksa aku harus mencurinya. Pendeknya aku harus berdaya sekuat mungkin menolong cici!

Di samping itu, kuyakin pula Na Lo Cianpwee pasti akan memberikan obat itu kepadamu, karena ia sangat menyayang kepadamu seperti menyayang seorang anak kandungnya. Kau rebahanlah dengan tenang!"

"Ah, tidak boleh begitu! Perbuatanmu sangat berbahaya, kau harus sadar Pek Tok Thian Kun tak mungkin melepaskanmu begitu saja. mungkin ia masih berada di sekeliling gunung ini mencarimu!"

"Cici, kau tak perlu kuatir. Aku tak akan berbuat bodoh, Aku bisa berlaku hati2 dan cermat menjalankan pekerjaan ini,"

Cui-jie memandang pada Kiu Heng dengan sinar mata tajam, membuat pemuda kita merasa heran, ia terkejut sejenak, menantikan perkataan Cui-jie.

"Siapa yang pernah mengatakan kau bodoh, hanya mengatakan keadaan sangat berbahaya!”

Kiu Heng menjadi lega, mendengar keterangan itu! Mereka sudah berkumpul lama juga, tapi untuk pertama kali Cui-jie menatap demikian macam. Di samping itu, pertama kali pula Ia melihat wajah Cui-jie yang tadinya beku dan dingin berubah menjadi terang dan manis. Kesemua ini membuat Kiu Heng girang, tak terasa lagi Ia memegang lengan si gadis dan dikepalnya erat2.

Kelakuannya ini sangat wajar, sedikit pun tidak mempergunakan kekerasan. Cui-jie merasa heran, tapi Ia melihat wajah Kiu Heng yang tenang dan demikian wajar, membiarkan saja tangannya di-kepal2, hanya wajahnya menjadi merah seperti kepiting direbus!

Kiu Heng berdiam diri di dalam gua, karena mereka mengetahui musuh2 masih menjaga di luar. Malam pertama dilalui menyusul malam kedua. Orang2 yang mencari mereka masih terdengar suaranya di luar gua.

Kini malam yang ketiga, Cui-jie sudah tiga kali pingsan, Kiu Heng selalu menolongnya dengan cara memijit jalan darah. Setiap kali Cui-jie terbangun, selalu Ia menyebutkan dengan suaranya yang lemah. "Air, air air.......”

Tiga hari tidak keluar gua, tanpa memakan barang sedikit makanan maupun air, masing2 merasa kering dan haus yang luar biasa. Atas ini Kiu Heng sedih dan duka, ia bertekad pada malam ini akan keluar gua untuk mencarj makanan dan air, yakni untuk menolong Cui-jie dan dirinya sendiri.

Sebelum meninggalkan gua, Kiu Heng merasakan dadanya sangat dingin. Ia ingat kepada kotak Bu Lim Tiap, lalu dikeluarkan. Di samping itu, ia pun memegang singa2-an kumala yang didapatnya sewaktu di gua Pek Tio Hong.

Pikirnya dengan batu kumala yang adem bisa menghilangkan haus, lekas2 ia memasukkan singa2an itu ke dalam mulut, benar saja mulutnya yang kering menjadi adem, seperti juga terkena air yang sejuk.

Ia memberikan yang satu lagi kepada Cui-jie. Dengan demikian mereka bisa menahan rasa dahaga dari kasiat singa2an itu.

Sungguhpun demikian rasa lapar tetap tak kunjung hilang, orang yang sakit tidak tahu apa2 dan bisa menahan lapar, tapi tidak demikian dengan orang sehat. Kiu Heng merasakan lapar yang tidak alang kepalang.

***

Rembulan per-lahan2 bergeser ke tengah2 langit yang terang, binatang2 hutan memperdengarkan suara mereka beraneka macam, sedangkan bumi terasa sunyi dan sepi.

Saat inilah dari atas gunung melayang sesosok tubuh yang demikian lincah dan ringan menuju ke dalam lembah. Bayangan ini bukan lain dari Kiu Heng adanya.

Ia berhenti sebentar di atas sebatang pohon Siong, telinganya dipasang, sesudah memastikan tiada musuh lagi di sekitarnya, baru turun ke tanah dan langsung pergi ke rumah gubuk di mana Ia pernah tinggal.

Ia menjadi terkejut karena rumah gubuk sudah tidak terlihat lagi, berganti menjadi satu tumpukan puing dan abu, demikian pula gua di depannya sudah hangus terbakar!

Kiu Heng tertegun sekian lamanya. Ia tidak bisa berpikir kemana perginya Na Wan Hoa dan harus kemana mencari obat untuk Cui-jie?

Sesudah menenangkan pikiran, ia berlalu dari tempat yang membangkitkan kedukaan untuk mencari sedikit makanan. Dalam keadaan malam ia bisa melihat tegas seperti di siang hari. Sungguhpun demikian terkecuali buah2an gunung, tidak ada makanan lain.

Akhirnya ia menggunakan cara yang pallng bodoh untuk mendapatkan binatang hutan, diambilnya batu dan dilemparkan ke semak2 yang rimbun. Dalam sekejap caranya yang tolol ini berhasil membuat seekor menjangan terkejut keluar dari sarangnya.

Tanpa ayal lagi Ia mengejar sambil menyambit dengan batu. Tak kira menjangan itu bisa berlari dengan gesit, ia menghindarkan diri dari batu dan menuju ke atas gunung lalu hilang tak terlihat. Ia mengejar terus dengan penuh harapan. Sesampainya di atas, terlihat tebing, di situ terdapat tikungan, sedangkan menjangan yang sudah tak tertampak menjadi hilang benar2.

Kiu Heng berjalan terus di sebelah tikungan tebing itu terdapat sebuah gua yang besar.

"Ah, kukira ia sudah kabur, tak tahunya pasti bersembunyi di sini?" pikir Kiu Heng.

Dengan cepat ia masuk ke dalam, benar saja menjangan itu terdapat di dalam, ia tengah menekuk kakinya menatap pada Kiu Heng dengan sinar mata bening dan takut, ia diam tak berani bergerak.

Tiba2 Kiu Heng merasa tak tega untuk mencelakakan menjangan itU.

"Jika aku terjun lagi ke dunia Bu Lim, mungkin bisa seperti menjangan ini. Di-kejar2 dan dimusuhi untuk dibunuh!"

Menjangan itu dengan tiba2 mendengking, menyusul terdengar bunyi bergemuruh yang ramai, membuat Kiu Heng kaget dan melompat.

"Mungkinkah blnatang ini pun pintar, sehingga bisa menjebak aku?” pikirnya.

Tengah Ia ragu2, tahu2 ratusan ekor binatang yang bergemuruh atau lebah menyambar dirinya. Ia tidak berani berlaku ayal2an lagi, cepat2 sipat kuping.

Kiu Heng berlari cepat, lebah2 itu bisa terbang lebih cepat pula, sehingga beberapa antukan lebah itu bersarang di atas jidat dan kepalanya. Sehingga ia benjol dan babak belur.

Dengan dongkol Ia kemba1i ke gua sebelum itu ia memetik buah2an gunung lagi dan mengisi kotak Bu Lim Tiapnya dengan air.

Cui-jie merasa girang melihat Kiu Heng kembali tak kurang suatu apa.

"Adikku, apakah Pek Tok Thian Kun sudah pergi?" tegumya.

"Sudah!" jawab Kiu Heng, lalu ia membuka kotaknya, dan memberikan Cui-jie minum.

Buah2an itu dikupas disuapi si gadis sedikit2.

Keadaan malam di dalam gua luar biasa gelapnya, tapi Kiu Heng bisa melihat seperti di dalam siang. Sinar surya masuk ke dalam gua dari celah2 pepohonan, Cui-jie sudah tak sabaran membuka mata untuk menaiap Kiu Heng, karena ia mempunyai firasat buruk tadi malam.

Benar saja Ia melihat jidat Kiu Heng dan pipi yang benjol dan bengkak2, segera Ia menegur. "Adikku, tadi malam kau tidak menemukan guruku bukan?"

Kiu Heng tidak berani mendusta, tapi ia kuatir Cui-jie menjadi 'berduka. "Cici, lebih baik kau merawat dirimu baik2 dan jangan terlalu berduka! Na Lo Cianpwee tidak kutemukan, dan rumah gubuk yang bekas kita tinggali telah....."

"Telah dibakar!" potong Cui-jie.

Ia tidak menjadi duka mendengar kabar buruk itu malahan menjadi girang. "Suhu pernah mengatakan kepadaku, bilamana ia mendapat kesempatan berkelana di Sungai Telaga kembali rumah gubuk itu akan dibakarnya, dengan demikian ia bisa menghilangkan kekesalan dan kedukaan hatinya!

Ia tertegun sejenak sambil memandang kepada Kiu Heng, lalu melanjutkan perkataannya: "Adikku, kau pasti tersengat lebah hitam. betulkah? Bolehkah kau membawaku ke tempat lebah2 itu? Lebah2 itu bisa menolong diriku!”

"Cici, kau jangan mengaco, lebah-lebah itu mana mungkin menolongmu?"

"Adikku, kau lupakah pada madu yang pernah kau minum? Madu itu bisa menambah semangat dan kekuatan, merupakan obat yang mujarab. Madu itu didapat dari lebah2 hitam, Bawalah aku kesana, kau tak perlu kuatir, sebab lebah2 itu peliharaan guruku."

Kiu Heng girang mendengar keterangan ini, tapi ia tidak segera berangkat.

"Cici dapatkah kau menderita seharian lagi? Sekarang sudah siang, aku kuatir dipergoki musuh!"

Cui-jie mengangguk.

Pada malam harinya Kiu Heng menggendong Cui-jie ke gua di mana terdapat lebah2. Ia merasa takut dan tidak berani masuk, Ia terpaku di luar gua, Cui-jie yang digendong membunyikan suara aneh yang terdengar "sing... sing... sing..."

Lebah2 segera mengaung2 datang, binatang2 itu mengitari di atas kepala Cui-jie, sedangkan si gadis semakin seru membunyikan suara gaibnya.

Lebah2 itu ber-putar2 secara teratur, sedikitpun tidak mengeluarkan tanda2 untuk menyengat. Melihat keadaan ini, Kiu Heng menjadi berbesar hati, cepat2 ia masuk ke dalam.

Di bawah petunjuk Cui-jie, Ia masuk terus ke dalam gua. Di slni terdapat dinding batu yang mengelilingi empat penjuru, di situ terletak belasan cangkir yang penuh madu, harumnya semerbak menusuk hidung.

Cui-jie mengajari Kiu Heng harus bagaimana membunyikan suara gaib dan bagaimana mengambil madu2 itu. Kiu Heng yang cerdas dalam sekejap sudah mengerti.

Dengan petunjuk2 Cui-jie, Ia bisa mengambil madu2 dengan mudah, lalu memberikan pada Cui-jie untuk menghirupnya.

Sesudah menghirup dua cangkir, Cui-jie merasakan semangatnya terbangun, hatinya pun menjadi tenang. Disuruhnya Kiu Heng membawa dirinya masuk terus ke dalam, di situ terdapat kamar batu.

"Kamar batu ini adalah tampat yang dipergunakan suhuku melatih ilmu pada mula pertama, ilmu yang dipelajari itu bernama "Ban-hong-cie” atau puluhan ribu jari lebah. Ia membunyikan suara gaib, leba2 keluar dari liang2, pertama suhu hanya melepaskan sepuluh ekor, yang lain liangnya ditutup. Dikeluarkannya lagi suara aneh, berbeda dari yang semula, sehingga lebah2 itu berputar dan menyerang dirinya sekaligus. Ia menggerakkan lengannya menotok lebah2 yang datang. Lebah2 berjatuhan dan mati, ia sendiri terkena antukannya. Tapi pada latihan yang belakangan ia bisa mengatasi keadaan, sehingga ilmunya menjadi sempurna.

"Adikku, kau mempunyai ilmu dalam yang sudah tinggi, tapi ilmu pukulanmu masih terlalu buruk, kau pergunakanlah kesempatan ini untuk melatih diri! Kujamln kau akan memperoleh banyak kemajuan. Bilamana jarimu bisa menjatuhkan seratus lima puluh ekor lebah dengan cepat dan sekaligus, berarti kekuatan dan kecepatan jarimu sudah tidak ada tandingannya lagi di dunia Bu Lim!"

"Baik ya baik, tapi kalau kena diantup sakitnya luar biasa....... Ih? kenapa sakitnya hilang dan jadi sembuh?” kata Kiu Heng.

Ia mendapatkan tempat yang bekas diantup sudah sembuh sama sekali, benjol maupun bengkaknya hilang tak tertampak.

"Kau sangat tolol, itulah berkat madu lebah itu sendiri, karena itu kau tak perlu takut, kena diantup lagi, bukan?"

Kiu Heng menjadi girang, segera ia minta diberi petunjuk2 cara melatih Ilmu Ban Hong Cie.

Kiu Heng baru pertama kali melatih diri, Ia mempergunakan duapuluh ekor lebah. Begitu ia membunyikan suara aneh, lebah2 itu seperti menghadapi musuh, dengan garang mereka me-raug2, lalu meluruk pada kepala pemuda kita.

Dalam sekejap Kiu Heng dibikinnya kalang kabut, kepalanya segera terasa sakit kena antupan2 berbisa, sedangkan lebah itu satu pun tidak ada yang blnasa. Cui-jie yang menyaksikan dari samping segera membunyikan suara "sing... sing... sing..."

Yang gaib, lebah2 segera berserabutan ke atas kepalanya tanpa menyengat lagi.

Kiu Heng sangat penasaran. Ia rajin berlatih terus menerus, sesudah tiga hari, baru ia berhasil memperoleh kemajuan. Dua puluh lebah kena dltotok mati sedangkan ia sendiri tidak kena diantup.

Berbareng dengan itu, madu2 sudah beberapa cangkir diminum Kiu Heng, sehingga otaknya bertambah cerdas. Kegirangannya tak dapat dilukiskan dengan kata2. Ia bertambah rajin dalam latihannya.

Pada hari keempat, Kiu Heng mempergunakan empat puluh lebah untuk melatih diri. sekali ini pun ia berhasil membinasakan seluruh lebah2 itu tanpa menderita luka.

Keesokannya Ia menambah lagi dengan dua puluh ekor. Sungguh pun Ia tidak menderita luka, tapi harus menggunakan seluruh tenaga dan pikirannya baru berhasil membinasakan enam puluh ekor itu.

Sementara itu, Cui-jie yang minum madu biar sudah baikan, belum sehat seperti sedia kala, ia bisa bangun dan duduk. Ia pun turut bergirang atas kemajuan yang diperoleh Kiu Heng. Hari ini ia berdiam diri di dalam goa seorang diri karena Kiu Heng sedang keluar mencari makanan. Inilah untuk pertama kalinya Kiu Heng keluar gua di waktu siang, karena memikir Pek Tok Thian Kun sudah berlalu.

Kiu Heng yang tengah berjalan dan ber-indap2 dengan hati2 menjadi terkejut mendengar gedebaran dari baju orang, agaknya bukan seorang saja, tengah menuju ke tempa ia berada. Cepat2 Ia berjongkok di samping batu besar, telinganya dipasang lebar2, sedangkan matanya pun mengawasi ke jurusan suara tadi.

Ah, sungguh kebetulan sekali, karena yang datang itu adalah In In, Ping Ping dan si orang tua berjanggut indah.

"Hari ini Tia-tia menghapuskan pantangan dan larangan menginjak Thian Tou Hong, sehingga keinginanku datang bermain ke sini dari tahun2 yang lalu terkabul juga. Tapi sesudah, bermain dan ber-jalan2 di sini sejenak, yang terlihat hanya gunung dan pepohonan yang serupa dengan Lian Hoa Hong, sedikit pun tiada yang aneh. Pepatah mengatakan barang yang tidak didapat harum dan manis, sesudah didapat keharuman dan kemanisannya menjadi pudar!" kata In In menggerutu.

Tiba2 terdengar suara rintihan, membuat ketiga orang ini terkesiap, mereka memasang telinga dengan tajam ke empat penjuru.

"Sioksiok. kau mengatakan di sini sudah tak ada orang lagi, baru memberi ijin kami bermain bukan? Kenapa kini terdenngar suaara orang merintih seperti menderita luka berat. Mari kita lihat!" kata Ping Ping.

"Baik," jawab si orang tua berjanggut indah, "menolong jiwa orang lebih berjasa dari pada membuat menara bertingkat tujuh..."

Tiba2 suara rintihan kembali terdengar dengan nyata, seperti juga tengah menderita sakit berat Mereka segera dalang ke belakang batu. Alangkah terkejut mereka, sewaktu melihat yang merintih itu bukan lain dari Kiu Heng adanya.

Kiu Heng memperlihatkan wajah kesakitan yang tidak alang kepalang. Gigi atasnya menggigit bibir bawah dengan erat, seperti mau menggigit masuk saja, kedua matanya agak meram, keringat mengucur dari keningnya.

In In dan Ping Ping dengan cepat menghampiri, yang seorang di sebelah kanan yang seorang lagi dri sebelah kiri. Yang seorang berteriak: "Kiu Koko!" Yang seorang berteriak: "Kiu Heng!"

"Kiu Koko, kau..... kau.... kenapa? Kau katakanlah!" kata Ping Ping sambil meng-goyang2 tubuh Kiu Heng.

"In In, Ping Ping," kata si orang tua berjanggut indah, "kau jangan ber-teriak2, bocah ini mungkin minum air gunung. Menurut kata Tia-tiamu, sebelum Gui Sam Seng berlalu, Ia menyebarkan racun di dalam air. Barang siapa meminumnya pasti akan mati. Bocah ini bisa menghindarkan diri dari tangan Gui Sam Seng, tapi tidak bisa meloloskan diri dari racunnya."

"Siok-siok, bukankah kau masih mempunyai pel Kie-hun-kui-goan-tan? Kau berikan sebutir! Kasihan dia!" pinta Ping Ping sambil mengucurkan air mata.

"Memang obat itu bisa memunahkan segala racun, tapi belum tentu bisa menawarkan racun Pek Tok Thian Kun, tambahan ia sudah terkena lama dan terlambat untuk ditolong!"

"Tidak terlambat!" bantah Ping Ping. "Kau lihat ia masih merintih terus menerus! Berikanlah sebutir!"

In In yang diam saja pun meminta agar si orang tua memberikan obat pada Kiu Heng sehingga si orang tua mengalah juga didesak dari kiri dan kanan.

"Baiklah," katanya.

"Hitung2 bocah ini berhokkie besar. bilamana hari ini Tia-tiamu tidak mengatakan Ia seorang yang baik, pasti tidak kutolong!"

Sehabis berkata segera Ia mengeluarkan peles obat, dengan hati2 dikeluarkannya sebutir dan diberikan ke tangan Ping Ping.

Ia sendiri mengangkat pelesnya dan menutup obatnya yang masih bersisa sebutir.

"Tinggal sebutir lagi! Ah, tinggal sebutir lagi," katanya.

Tiba2 terdengar suara kaget dari In In dan Ping Ping, membuat si orang tua terkejut dan melompat setombak lebih. Berbareng dengan itu ia mendengar suara ter-gelak2.

"Terima kasih banyak! Lo Sianseng, pendeknya obatmu ini sama saja dipergunakan menolong orang! Pada jiwie Kounio pun aku menghaturkan banyak terima kasih juga. Aku tidak mempunyai waktu terlalu lama, karena lebih penting menolong jiwa orang. Sampai ketemu lagi!"

Berbareng dengan habisnya Kiu Heng berkata, ia mencelat pergi dengan cepat, ketiga orang bahna terkejut lupa untuk mengejar. Sewaktu melihat Kiu Heng sudah pergi jauh, In In baru sadar, dan cepat mengejar.

"Kiu Heng, kurang ajar kau, berani betul menipu kami, selamanya tidak akan kuberi ampun!"

Ping Ping pun sudah mengejar. Begitu ia mendengar In In memaki segera menasehatkan:

"Cici tak perlu memakinya, maafkanlah perbuatannya itu! Kuyakin obat itu akan dipergunakan menolong orang juga! Obat itu terlalu mahal dan sukar didapat, untuk mendapatkannya ia menipu kita, kalau tidak demikian pasti tidak akan didapat bukan?"

"Bocah gila, kau bernyali besar betul berani menipuku, bilamana tidak kuhajar jangan panggil aku Lim Peng Sian si berjanggut indah..........."

"Siok-siok, Kiu koko dalam keadaan terpaksa baru berbuat demikian, maafkanlah! Untuk apa bergusar demikian!?" kata Ping Ping.

Mereka mengejar terus, tapi tidak berhasil.

Sewaktu Kiu Heng bersembunji dan melihat datangnya si orang tua berjanggut indah, segera teringat kepada obat Kie-hun-kui-goan-tan yang dimiliki si orang tua. Ia sangat ingin memperoleh obat itu untuk menyembuhkan penyakit Cui-jie, karena itu ia ber-pura2 sakit untuk mengelabui si orang tua. Sesudah memperoleh obat segera berlari dengan kencang ke dalam gua untuk menemui Cui-jie. Begitu ia masuk segera menyumpalkan obat itu ke dalam mulut Si gadis tanpa berkata putih atau hitam.

Cui-jie sangat girang melihat obat itu, tanpa sungkan2 membuka mulutnya. Wewangian yang harum bertebaran. Cui-jie merasakan nyaman, cepat2 ia bersemadi, dengan bantuan obat yang mujarab, dalam sekejap penyakitnya menjadi sembuh.

"Adikku, apakah kau menemukan suhuku? Kini ia berada dimana?" kata Cui-jie sambil mengucurkan air mata haru.

Kiu Heng merasa tak mengerti.

"Cici! Kau kenapa menangis? Mungkinkah obat itu palsu? Mungkinkah kau merasa tidak enak minum obat itu? Cici! Kau katakanlah, aku bisa segera mencari mereka untuk berhitungan!”

"Adikku, mereka itu siapa? Mungkin si orang tua berjanggut indah dan dua gadis dari Lian Hoa Hong bukan? Mereka bisa menipu kau tapi mana mungkin menipuku? Aku mengenali obat itu adalah yang sesungguhnya, hanya saja sesudah meminum obat itu aku merasakan waktu untuk berpisah antara kita sudah dekat sekali........"

Berkata sampai di sini, dipeluknya Kiu Heng erat2, sedangkan air mata terlebih banyak lagi dialirkan.

"Sejak kecil aku menemani suhu, aku mempelajari kehidupannya yang beku dan dingin, sebegitu lama aku tidak mengenal apa namanya menangis, dan tidak tahu pula apa yang dinamai tertawa. Tapi kedua perasaan yang berlawanan itu sudah kucicipinya kini; aku menangis di hati dan tertawa! Aku akan menangis dengan perasaan, dan tertawa dengan perasaan pula. Kutahu perpisahan hari ini teramat berat untukmu maupun untukku, entah kapan kita bisa bertemu kembali untuk merasakan kehangatan sebagai sekarang......."

Tiba2 Kiu Heng berdongak dari pelukan si gadis.

"Cici, Cici, apakah kau akan pergi? Kau harus ingat kau baru sembuh dari luka parah....."

"Karena aku sudah sembuh segera akan pergi, aku harus mencari guruku, aku tidak bisa meninggalkan guruku yang sudah cacat, aku harus merawatnya sampai guruku meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan demikian aku baru bisa membalas budi kebaikannya yang dilimpahkan atas diriku."

Kiu Heng tidak menyangka begitu sembuh Cui-jie segera akan berlalu. Bilamana tahu demikian, tak mungkin ia melakukan penipuan untuk mendapatkan obat itu.

Andaikata mendapat obat pun tidak semudah itu memberikannya. Ia berpikir demikian karena untuk kepentingan peribadinya.

Mungkinkah sebab di lubuk hatinya sudah mengenal cinta? Memang cinta itu selalu mementingkan diri sendiri? Memang dalam beberapa hari sesudah berkumpul di dalam satu gua, Ia merasakan sesuatu yang sukar dilukiskan dengan kata2, ia terjerat di kancah pergolakan batin usia remaja yang menginjak dewasa. Ia merasa sayang dan enggan berpisah dari tubuh si gadis.

Hal demikian meresap di jiwanya, mungkin Ia akan membantah kalau ditanya orang lain, tapi ia tidak akan membantah bilamana dirinya sendiri yang bertanya!

"Bilamana Cici ingin mencari Na Lo Cianpwee, bolehkah aku menemani pergi?”

Cui-jie mendorong Kiu Heng dari rangkulannya, Ia mendelik.

"Kau tidak boleh pergi denganku! Ilmi yang kau pelajari belum sempurna, karena itu kularang mempelajarinya sampai di tengah jalan dan berhenti! Di samping itu, kau harus mengerti kesukaran hatiku."

Hampir2 Kiu Heng menangis.

"Aku mengerti kandungan hatimu. Kau takut berjalan sama2 dengan seorang yang dianggap musuh sekalian kaum Bu Lim, bukan? Karena...”

"Ah! Thian!" seru Cui-jie, "kau anggap aku sebagai manusia macam apa? Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu! Di depanmu aku mengatakan jiwaku dari beku bisa mempunyai perasaan antara sedih dan duka, ini sudah cukup menerangkan perasaan dan jiwa hatiku. Tapi budi kebaikan guruku tinggi seperti gunung dalam sebagai lautan. Aku harus mengenal budi, baru bisa hidup tenteram! Mengertikah apa yang kukatakan? Sesudah kuketemukan guruku, aku akan mendampinginya sampai ia meninggalkan dunia ini. Sesudah itu aku bisa turun gunung mencarimu!"

Kiu Heng merasa sedih dan kecewa, Ia mengucurkan air mata haru sambil menganggukkan kepala.

"Jika cici berlalu aku pun akan berlalu. Aku tidak mau tinggal di dalam gua ini barang sejenak pun!"

Perkataannya diucapkan demikian tegas.

Cui-jie goncang mendengar ketetapan si pemuda.

"Balklah, aku menemanimu beberapa saat lagi, sesudah kau beres mempelajari ilmu di sini baru kita berlalu. Sebelum itu aku harus berterang dulu padamu; se-kali2 tidak boleh mencegah diriku mencari suhuku. Di balik itu kau sendiri harus tahu diri sendiri pula, sakit hatimu yang dalam, harus kau selesaikan dengan memuaskan. Bilamana tidak, sama dengan kau seorang yang tidak berbakti pada orang tuamu!”

Tiga hari kembali berlalu. Kiu Heng sudah bisa menotok mati seratus duapuluh lebah2, boleh dikatakan ilmunya sudah setarap dengan Na Wan Hoa. Hanya saja kepalanya tidak urung terkena tiga kali antupan, hal ini disebabkan kerisauan hatinya juga.

Malam harinya bulan terang benderang, pemandangan gunung indah sekali. Kiu Heng dan Cui-jie duduk di mulut gua menikmati pemandangan alam yang romantis. Malam semakin larut, tapi tidak terpikir oleh mereka untuk beristirahat.

"Pemandangan bulan yang romantis ini membuat orang mabuk! Entah tahun kapan, bulan kapan kita bisa bergembira lagi seperti sekarang?” kata Cui-jie.

Belum sempat Kiu Heng menjawab dari udara terdengar suara.

"Kiu koko! Kiu koko! Kau dimana? Kau dimana?”

"Adikku, suara ini sudah tiga malam terdengar terus! Kenapa kau tidak mau menemuinya? Mungkin ia mempunyai urusan yang penting dan luar biasa untuk disampaikan kepadamu, lekaslah kau menemuinya !"

Kiu Heng mengenali suara panggilan itu tak lain dari Ping Ping. Ia heran kenapa di malam hari gadis itu mencarinya dan sudah tiga malam me-manggil2 terus.

"Ping Ping adalah gadis yang baik, mari kita ketemukan ber-sama2,“ kata Kiu Heng.

"Kau lihat dandananku semacam ini, mana kotor mana buruk, bagaimana enak menemui dia?”

Kiu Heng menatap pada Cui-jie, tanpa terasa jadi bersenyum. "Lekaslah, kau ketemui Ping Ping," desak Cui-jie.

Kiu Heng terpaksa keluar dari dalam gua.

"Ping Ping Kounio, aku di sini!” teriaknya.

Berbareng dengan habisnya perkataan, tampak Ping Ping datang ke arahnya dengan cepat.

"Kiu Koko! Setengah mati aku mencarimu!” serunya seraya menangis tersedu-sedu.

Kiu Heng merasa Ping Ping seorang gadis yang lucu, Ia tersenyum dan me-nepak2 pundaknya.

"Ping Kounio jangan menangis! Soal apa membuatmu bersedih hati? Katakanlah padaku!“

Ping Ping semakin sedih, ia menangis meng-gerung2, lalu memeluk Kiu Heng erat2, membuat Kiu Heng semakin tak mengerti. Pemuda kita yang belum pernah berkenalan dengan sifat perempuan, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menghibur. Ia pun turut berdiam diri seperti patung melihati Ping Ping yang bersedu sedan.

"Untuk kau Kiu koko, aku tak mempunyai rumah untuk ditinggali lagi!" kata Ping Ping sambil ber-isak2.

Kiu Heng terpekur kaget. "Kenapa menyangkut aku? Kenapa ia tidak bisa pulang lagi? Mungkinkah dikarenakan sebutir pel Kie-hun-kui-goan-tan. Ia diusir Tiong Peng Hoan? Ah tak mungkin!" pikirnya berbantahan di dalam diri sendiri.

"Ping Kounio, menangis tidak bisa menyelesaikan urusan. Mari duduk, kau tuturkan apa yang menyebabkan kau bersedih hati!“

Dengan cepat Ping Ping berhenti menangis.

"Kiu koko, aku tidak menyalahkan padamu, semuanya ini terjadi terlalu mendadak dan di luar dugaan, karena terdorong emosi aku tak bisa ber-kata2 begitu bertemu. Dalam hal ini kuminta kau memaafkan aku!" Kem bali Ia menangis.

Aku paling sebal menghadapi orang yang suka menangis, kalau kau menangis terus, aku tak suka meladeni maka itu diamlah dan teruskan ceriteramu!"

"Baik, aku tak menangis lagi,” kata Ping Ping, "Pek Tok Thian Kun dua hari tiga malam mencarimu di Thian Tou Hong dengan hasil hampa. Lalu Ia datang ke Lian Hoa Hong, dan menuduh ayahku menyembunyikan kau, sehingga terjadi peristiwa yang mengerikan!”

Kiu Heng mengerutkan kening.

"Sesungguhnya aku tidak berada di Lian Hoa Hong, kenapa Pek Tok Thian Kun begitu kurang ajar sekali membuat onar, mentang2 memiliki Bu Lim Tiap!”

"Ya, sebab Bu Lim Tiap dipandang sebagai pusaka rimba hijau yang harus dipatuhi segenap orang Bu Lim makanya ia bertingkah ugal-ugalan. Tanpa alasan ia mendesak ayahku. Katanya Lian Hoa Hong dan Thian Tou Hong di bawah kekuasaan ayahku, membataskan jangka semalaman, untuk menyerahkan kau padanya, bilamana tidak ia bisa menggunakan Bu Lim Tiap mengumpulkan golongan putih maupun hitam untuk menghukum ayahku. Hal ini membuat ayahku sengit, segera ia menghajar Pek Tok Thian Kun, pertarungan seru berkobar seketika juga. Dalam hal ini ayahku hanya ingin memberikan pelajaran saja atas sifatnya yang gila2an. sehingga turun tangan tidak terlampau keras, sebaliknya Pek Tok Thian Kun secara ganas dan kejam menghantam ayahku.”

Ping Ping tak meneruskan perkataannya, karena tersedak sedu-sedannya.

"Lalu bagaimana?" tanya Kiu Heng tak sabaran.

"Dalam keadaan terpaksa ayahku melancarkan serangan dahsyat, membuat Pek Tok Thian Kun terkejut dan merat sambil terbahak-bahak!”

"Dengan demikian, bukan bereskah soal itu?”

"Baru saja Pek Tok Thian Kun berlalu, tak seberapa lama, ayahku gemetar sekujur badan, matanya mendelik, sepatah katapun tak bisa diucapkannya lagi, ia..... ia.... segera meninggal dengan mengenaskan!”

"Apa? Meninggal?”

"Seluruh Lian Hoa Hong menjadi gempar karena kematian ayahku," kata Ping Ping.

"Aku pernah mendengar ceritera ayahku, di Lian Hoa Hong terdapat empang teratai, bilamana airnya kering, menandakan Lian Hoa Hong akan mengalami bencana. Berbareng dengan kejadian matinya ayahku, aku teringat kata2nya itu, aku mencari In In untuk melihat empang itu, tapi tidak menemuinya, terpaksa kudatang sendiri.

Apa yang dikatakan ayahku sedikitpun tidak salah, nyatanya empang itu airnya kering. Tengah kumerasa heran, tiba2 dari atas Lian Hoa Hong terdengar jeritan2 yang memilukan hati. Aku terkejut, cepat2 kembali ke atas.

Kembali terdengar bunyi "beng" yang luar biasa kerasnya, lalu terlihat api menjulang ke langit, sehingga aku terkejut tak alang kepalang, sukmaku seperti hilang, sedangkan hatiku hancur luluh tak kepuguhan.

Kala kusampai di atas puncak, yang terlihat hanya api. Sedangkan ibu, In In, Lim Siok-siok dan jenazah ayahku sudah hilang..... saat inilah kumendengar suara yang menggila, tertawa Pek Tok Thian Kun dan dekat berpindah semakin jauh, lalu hilang tak terdengar..."

Selesai mendengar, Kiu Heng mengerutkan keningnya, matanya bersinar tajam dongkol dan geregetan. menatap pada sebatang pohon besar yang dianggapnya seperti Pek Tok Thian Kun.

"Ping Kounio, kejadian sudah demikian maunya menangis teruspun tidak berguna. Kuatkanlah hatimu dan busungkanlah dadamu menghadapi kenyataan yang getir ini. Aku sendiri sejak kecil kehilangan kasih sayang orang tua dan sanak saudara, karena itu kusudah merasakan penderitaan dan kesengsaraan menjadi anak yatim piatu. Legakan hatimu, hari kemudian aku bisa turut membantu dirimu!"

"Kiu koko! Disebabkan mencarimu, tiga hari tiga malam aku tidak pernah makan, kini aku merasa lapar betul!”

"Ah, kau terlalu bodoh tiga hari tidak makan bukan soal main2, lekas ikut denganku!"

Mereka segera menuju ke gua, jauh2 Cui-jie sudah memandang kedatangan mereka. "Belum terang tanah, kenapa sudah kembali lagi?" tegurnya dengan ter-gesa2.

Cui-jie menguatirkan Kiu Heng ketemu Pek Tok Thian Kun, kini dilihatnya si pemuda kembali sambil bertuntun tangan dengan Ping Ping, hatinya merasa kecut. Sesudah mengatakan perkataan gurau untuk menghilangkan perasaan hatinya, ia terdiam bengong.

Kiu Heng mengerti apa yang menyebabkan Cui-jie demikian. Ia tersenjum saja. Lalu dengan Ping-Ping mukanya menjadi merah kemaluan. Ketiga orang itu masuk ke dalam gua, lalu duduk di tempat masing2. Dengan sungguh2, Kiu Heng berkata: "Cui Cici, kini bukan saatnya bergurau, kau harus tahu dalam beberapa hari ini Lian Hoa Hong mengalami malapetaka hebat, hal ini akan kuterangkan dengan teliti. Sekarang, kau berikanlah dulu secangkir madu pada Ping Kouwnio, karena sudah tiga hari Ia tidak makan."

Cui-jie mengerti keadaan sesungguhnya sangat berat, tanpa banyak tanya ia masuk mengambil madu dan menjerahkan pada Ping Ping.

"Eh, lekaslah kau makan!" Ping Ping menyambut, lalu mengatakan dengan perlahan dan hampir tidak terdengar. Kiu Heng menyaksikannya menjadi geli.

"Ah, kamu sebagai juga anak kecil, kenapa jadi uring2an? Sejak hari ini, kamu harus akur satu sama lain!" kata Kiu Heng di dalam hati.

Sesudah Kiu Heng melihat Ping Ping selesai menghirup madu lalu menceriterakan kejadian di Lian Hoa Hong dengan panjang lebar dan teliti pada Cui-jie. Hal ini membangkitkan lagi kesedihan Ping Ping, sehingga ia menangis. Terkecuali itu Cui-jie pun turut berduka.

"Tian Tou Hong dan Lian Hoa Hong, didiami keluarga Na dan keluarga Tiong yang tadinya serumah, dikarenakan soal salah paham, sepuluh tahun lebih tidak berhubungan satu sama lain. sehingga kini rnengalami bencana yang tidak diinginkan. Ping-moy, legakan hatimu, kau boleh turut denganku untuk melewatkan hari yang akan datang! Aku lebih tua darimu beberapa tahun, sejak hari ini kau boleh membahasakan aku Cici!”

"Cui-Cici, atas kemurahan hatimu aku mengucapkan banyak terima kasih!" kata Ping Ping.

Kiu Heng tersenyum simpul penuh kemenangan.

"Untuk kebaktianmu pada gurumu, aku tidak bisa mencegah," katanya.

"Kau sudah menjanjikan Ping Kounio turut denganmu, kau bawalah dan ajaklah menemui suhumu, agur ia bisa mempelajari ilmu silat terlebih dalam, untuk keperluan di kemudian hari!"

"Aku sudah menyanggupi kamu berdua," kata Cui-jie, "tapi perpisahan ini sampai kapan bisa bertemu lagi, sebelum itu kita berjanji, tiga tahun kemudian, kita berkumpul lagi di See Ouw pada malaman Tiong Ciu. Adikku, kau pikir bagaimana?"

"Bagus, tiga tahun kemudian kita berjumpa, bilamana tidak bertemu tidak akan berlalu!" kata Kiu Heng memastikan.

Hari kedua, ketiga orang itu sudah bangun.

"Ping-moy, kau minum lagi madu ini,” kata Cui-jie. "Di pegunungan ini sukar mendapatkan makanan.”

"Mungkinkah kita akan berpisah secara demikian?" tegur Kiu Heng.

"Ya,” jawab Cui-jie dengan sedih.

"Aku lupa," kata Kiu Heng "kamu pergi, apakah mempunyai uang?”

Cui-jie dan Ping Ping saling menatap.

"Kami selamanya hidup di pegunungan, untuk apa mempergunakan uang?” kata mereka hampir berbareng.

"Tapi sesudah meninggalkan gunung dan masuk ke kota, segalanya harus memakai uang? Lebih2 kamu kaum perempuan. Tidak ada uang akan lebih sengsara! Mari ikut denganku mencari uang, sekalian menghantarkan kamu berangkat!"

"Ikut mencari uang? Di dalam gunung yang sambung menyambung ini, dari mana uang bisa didapat?” tegur Cui-jie.

"Aku mernpunyai daya!" kata Kiu Heng dengan yakin.

Mereka segera meninggalkan gua dengan ilmu meringankan tubuh, puncak demi puncak dilalui mereka. Kala matahari condong ke barat, dan angin senja bertiup nyaman, keadaan di gunung terasa semakin dingin, Kiu Heng mengajak kedua gadis berlari terus dan tiba di Pek Tio Hong.

Pek Tio Hong yang sudah terbakar hangus, masih gundul, tidak ada rumput maupun pohon. Kiu Heng berdiri di atas puncak, ia mengenang kembali pada Ang Hoa Kek, ia menarik napas panjang tanda berduka.

Cui-jie dan Ping Ping merasa heran.

"Kenapa baik2 menarik napas duka?” tegur mereka serentak.

"Aku pernah mengalami bahaya kebakaran dan keracunan di bukit ini, bilamana tidak ada seorang Lo Cianpwee yang menolong jiwaku, siang2 sudah melayang. Aku selamat dan kematian berbalik Lo Cianpwee itu yang binasa. Ia binasa secara menyedihkan sekali, sampai pun tulangnya pun tidak bisa dikubur. Keadaan lalu berbayang membawa kesedihan, hatiku sesak dan menarik napas."

"Kau bersedih karena beralasan, menandakan hatimu yang suci,” kata Cui-jie, tapi hari sudah mendekati malam, bagaimanapun kita harus mencari tempat bermalam. Dan tidak boleh mematung terus di bukit gundul ini sambil menarik napas !"

"Kau percayalah, aku mengajakmu pasti bisa memberikan makanan, untuk bermalam tempat sudah tersedia. Nah, di bawah selokan gunung itulah kita bermalam. Di situ sering2 terlihat binatang hutan minum air, kamu boleh menangkapnya barang dua ekor untuk menangsel perut. Sedangkan aku akan mencari tempat beristirahat di tempat lain, tak lama lagi segera datang!”

Habis berkata Kiu Heng berlalu, Cui-jie dan Ping Ping menurut kata Kiu Heng turun ke dekat selokan.

Dalam sekejap Kiu Heng sudah tiba di dalam gua tempo hari, ia menggeser batu besar. Keadaan di dalam masih tetap seperti sedia kala, menandakan sejak ditinggalkan, gua itu belum ada orang kedua yang memasukinya. Sesudah Ia mengambil segala benda berharga, segera meninggalkan gua dengan cepat.

Cui-jie dan Ping Ping sudah memanggang seekor rusa kecil. Mereka terbahak2 melihat Kiu Heng. Kiranya kantong berikut bajunya sudah dipenuhi emas dan segala benda berharga lainnya sehingga berenggulan tidak rata dan aneh kelihatannya.

Benda2 itu dikeluarkan satu persatu, Cui-jie terkesiap melihat semua itu tak henti2nya Ia memegang dan me-lihat2 dengan girang. Sedangkan Ping Ping seperti tidak tertarik, ia tersenyum saja.

Begitu terang tanah, mereka segera berpisah dengan bersedih hati.

Sejak saat itu, Kiu Heng tinggal di dalam gua. Ia melatih diri memperdalam ilmunya. Ia mempelajari gambar2 di atas tembok dengan tekun di samping melihat keterangan yang tertera di Bu Lim Tiap. Di samping itu, ilmu Cit-Cuat-kiam dan Sam-cee-pan-goat dimatangkan pula, sehingga Ia memiliki ilmu lebih sempurna dari sebelumnya.

Waktu berlalu dengan cepat, setengah tahun dilalui tanpa terasa. Kiu Heng sudah bosan tinggal di dalam gua, Ia meninggalkannya untuk berkelana lagi di dunia Kang Ouw.


***

Musim gugur telah tiba, telaga See Ouw banyak dikunjungi para pelancong dari berbagai tempat. Kupel2 dan restoran2 di pesisir pantai penuh sesak para pengunjung.

Seorang muda tampak di kupel yang terletak di tengah2 danau. Pakaiannya sangat mentereng, Ia menghadapi berbagai hidangan, sambil menundukkan kepala, pemuda itu bukan lain dari Kiu Heng adanya. Ia tidak memperhatikan para tamu lain yang asyik mengobrol ke barat ke timur sambil menikmati pemandangan alam yang maha indah.

Tiba2 tampak sesosok tubuh berkelebat ke meja Kiu Heng, gerakannya sangat cepat. Kiu Heng kagum melihatnya. Sebelum Ia berkata, orang yang datang itu sudah membuka mulut.

"Ha... siluman monyet, rupanya kau sudah kaya! Setengah tahun tidak bertemu, sudah mentereng betul. Kau pasti dipungut anak seorang hartawan, yah!”

Kiu Heng mengenali orang itu bukan lain dari si bungkuk atau To Pei Lojin yang diketemukan di Pek Tio Hong.

Ia merasa tersinggung mendengar ejekan itu, dengan gusar ia membentak: "Tak perlu kau usilan!"

"Oh, kau malu mengatakannya? Mungkin juga kau mendapat rejeki tak halal dengan jalan menimpah!”

Kiu Heng menatap keempat penjuru, untung keadaan sangat gaduh sehingga perkataan si orang tua tidak ada yang dengar.

"Oh, yang jadi maling selalu ketakutan dan tak tenteram, sehingga takut didengar orang!" ejek To Pei Lojin.

"Hei Bungkuk! Kita tidak bermusuhan apa2, kenapa kau mengganggu terus padaku?"

"Ini yang dinamai karena karma, dalam penitisan dulu kita berjodoh, arwah kita menitis kembali sehingga bertemu lagi! Siapa suruh kau memanggil aku si bungkuk! Kau harus tahu yang memaki aku si bungkuk seumur hidup akan kulibat terus, terkecuali ia sadar dan menghaturkan maaf sambil soja dan paykui, aku baru membebaskannya. Siluman monyet, kalau kau merasa takut, lekas2lah soja paykui!"

"Siapa yang takut padamu? Mau berkelahi?"

"Bagus! Itu yang kucari! Siapa yang kalah harus menjadi murid, yang menang menjadi guru! Sebentar malam kita bertemu di Hong Hong San, bagaimana?” kata si orang tua. sehabis berkata segera berlalu.

Malam harinya, Kiu Heng mengenakan pakaian malam, dengan cepat ia berlari ke atas gunung, keadaan sangat, sunyi dan sepi. Ia merasa heran kenapa si bungkuk belum juga datang. Sebelum ia bisa menggerutu, tampak pepohonan bergoyang menyusul terdengar bunyi aneh, tahu2 si orang tua merosot jatuh dan hinggap di atas batu.

Dengan ter-senyum2, Ia berkata: "Siluman monyet, kau bisa tepat datang di sini. Aku mengucapkan syukur!"

"Memang kau kira aku takut dan tidak datang?” jawab Kiu Heng, seraya maju menyerang.

"Sabar, sabar. Kau jangan seperti kunyuk yang tidak sabaran. Kita harus berjanji terlebih dulu, dalam pertandingan ini asal kena kena towel sudah cukup, aku tak mau mengadu jiwa dengan seekor siluman monyet, tahu?”

Kiu Heng tidak menjawab.

"Siluman monyet, mari maju!" tantang si orang tua,

"Tempo hari aku kalah, sekali ini kau jangan harap menang!" bentak Kiu Heng, seraya mengebut dengan lengan kanan, semacam tenaga tersembunyi yang keras menyambar datang.

Si orang tua cepat2 mengangkat lengan kirinya dan didorongkan dengan mendadak, sehingga pukulan keras dilawan keras.

"Blang!”

Angin pukulan yang bentrok berbunyi keras. Masing2 tidak ada yang terpukul mundur.

Satu sama lain maju merangsak tak mau mengalah, kepandaian yang luar biasa dikeluarkan, keadaan mereka berimbang, semakin bertarung kekuatan mereka semakin hebat.

Dalam setengah tahun Kiu Heng sudah mempelajari matang sekalian ilmu silat yang terdapat di dinding gua, tapi belum pernah dipergunakan untuk melawan musuh. Kini Ia bertemu To Pei Lojin yang tangguh, dan merasa tidak terdesak, hatinya girang. Bagaikan ikan yang dapat air, ia semakin bersemangat menghadapi musuhnya jurus demi jurus.

Sejak menerjunkan diri ke sungai telaga, si orang tua belum pernah mendapat tandingan yang setimpal, kini ia heran betul menghadapi si pemuda yang bisa maju pesat dalam jangka setengah tahun; lebih2 pukulan2 yang dilancarkan Kiu Heng membuatnya heran dan tak mengerti.

Tiba2 Kiu Heng mengundurkan diri sewaktu perkelahian berjalan sedang seru2nya.

"To Cianpwee,” katanya mengubah sebutan, "dalam tangan kosong kita seri, bagaimana kalau memakai senjata?"

"Bagus, kenapa sekarang kau tidak memaki aku lagi?" kata si orang tua. "Siau-ko memain senjata bukan soal yang gampang, bisa2 kita mati tak keruan!”

"Biar mati pun aku tidak menyesal!" jawab Kiu Heng dengan getas.

"Ha! Kau masih muda, belum kawin sudah mati, sayang bukan?"