Selasa, 20 September 2011

Cerita Silat : Pendekar Super Sakti [Kho Ping Ho] 7

tidak lenyap?” Im-yang Seng-cu bertanya dengan suara dingin. Jelas terdengar dari suaranya bahwa ia marah.

Dengan bersandar pada tongkatnya, Han Han menoleh kepadanya. “Saya meng­haturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan locianpwe, juga terhadap, ku­buran Kakek saya. Akan tetapi nama seperti yang dimiliki Kakek saya perlu­kah dipertahankan? Hanya akan men­datangkan aib dan noda saja pada ke­turunannya!” Suara Han Han terdengar penuh kepahitan ketika ia mengucapkan kata-kata terakhir “keturunannya” itu, ketika ia teringat betapa sesungguhnya ia adalah keturunan seorang yang begitu bejat akhlaknya!

Im-yang Seng-cu juga kelihatan marah. “Orang muda, engkau sombong! Biarpun Kakekmu tersesat dalam hal kelemahannya terhadap wanita, namun aku sebagai sahabat baiknya maklum betapa dengan susah payah ia melawan pengaruh jahat yang mengalir dalam tubuhnya sebagai darah nenek moyang Suma! Engkau pun hanya seorang manusia yang tentu me­miliki kelemahan-kelemahan. Kalau eng­kau tak dapat memaafkan Kakekmu sen­diri, bagaimana engkau akan dapat me­maafkan orang lain? Hemmm, hendak kulihat engkau kelak apakah lebih baik daripada Suma Hoat!” Setelah berkata demikian, Im-yang Seng-cu melesat pergi dan lenyap dari situ. Han Han meng­hela mapas panjang dan merasa menyesal bahwa guru Sin Kiat itu pun marah ke­padanya.

Melihat Han Han termenung dengan wajah keruh, Kim Cu mendekatinya dan menyentuh lengannya. “Han Han, biar semua orang marah dan tidak suka ke­padamu, ingatlah bahwa di sini masih ada aku yang selamanya takkan dapat membencimu....”

Hati Han Han seperti dibetot-betot dan ia memeluk gadis itu yang membenamkan mukanya di dadanya yang masih panas karena kemarahannya tadi. Sampai lama mereka berada dalam ke­adaan seperti itu, kemudian Kim Cu dapat menguasai hatinya, melepaskan pelukan Han Han dan berkata.

“Marilah kita cepat pergi dari tempat ini.” Bisikannya mengandung perasaan takut.

“Jangan takut, Kim Cu. Kalau sampai gurumu muncul dan hendak mengganggu kita, kita lawan mati-matian.”

“Aku tidak takut, Han Han, hanya aku merasa ngeri kalau harus berpisah denganmu. Marilah kita pergi.”

Dua orang muda itu melanjutkan per­jalanan. Biarpun keduanya tidak takut lagi menghadapi ancaman Toat-beng Ciu-sian-li, namun mereka juga bukan orang-orang nekat yang ingin mencari mati. Mereka mengambil jalan melalui hutan-hutan dan mendaki lereng yang tersem­bunyi agar jangan sampai bertemu de­ngan nenek itu.

“Han Han, kesehatanmu belum pulih kembali. Kalau kita melanjutkan perjalanan terlalu lama, tentu engkau akan jatuh sakit. Maka, kurasa lebih baik kita mencari tempat persembunyian dan ting­gal dulu di tempat itu sampai kesehatan­mu pulih. Bagaimana?”

Han Han mengangguk. “Terserah kepadamu, Kim Cu. Akan tetapi di mana kita mencari tempat yang baik?”

Kim Cu tersenyum. Manis sekali wa­jahnya setelah kini mereka terlepas dari bahaya dan ia dapat tersenyum dengan hati lapang. “Kau tahu, dahulu ketika kita mendapat waktu libur dan diper­bolehkan pergi untuk beberapa hari, se­telah bertemu dengan engkau yang tidak mau kembali, aku lalu pergi mendaki sebuah puncak di antara puncak-puncak pegunungan ini dan bersembunyi di se­buah goa yang amat tersembunyi. Tem­pat itu indah sekali, goa itu merupakan terowongann yang menjurus ke tepi ju­rang yang tak berdasar saking tingginya! Tak seorang pun akan datang ke tempat itu.”

“Hemmm, mau apa engkau dahulu bersembunyi di tempat itu?”

Wajah Kim Cu menjadi merah. “Mau.... menangis....”

Han Han memandang wajah cantik itu dengan mata terbelalak heran. “Menangis? Menangis saja mengapa mencari tempat yang tersembunyi?”

Kim Cu mengangguk. “Ya, biar tidak ketahuan orang. Aku kecewa sekali melihat engkau pergi tidak mau kembali, dan aku menangis di sana sam­pai kedua mataku bengkak-bengkak!”

“Ah.... Kim Cu.... Kim Cu....” Han Han makin terharu menyaksikan betapa gadis ini sejak dahulu telah jatuh cinta kepadanya. Dan ia pun merasa heran bu­kan main melihat perubahan dirinya. Mengapa kini ia mudah terharu, mudah berduka? Padahal dahulu ia tidak pernah selemah ini. Dan ketika ia marah-marah tadi, menghancurkan batu nisan kakeknya tidak timbul kebuasan untuk membinasa­kan orang. Kemarahannya tadi masih terkendali dan ia menghancurkan batu nisan dengan sadar. Ia menunduk, me­mandang kakinya yang buntung. Karena kebutungan kakinya itulah maka terjadi perubahan pada dirinya? Dia tidak tahu.

Melihat pemuda itu memandang kaki­nya yang buntung, Kim Cu salah men­duga dan berkata, “Jangan khawatir, Han Han. Jalan ke puncak yang kumaksudkan itu memang sukar. Akan tetapi di bagian yang paling sukar, aku bisa menggendong­mu!”

Han Han tersenyum. “Apa kaukira aku anak kecil? Betapapun sukarnya, dengan bantuan tongkatku ini dan dengan bantu­anmu, tentu akan dapat kulalui.”

Kim Cu tiba-tiba menari kegirangan mengelilingi Han Han, membuat pemuda itu makin heran. “Eh, eh, apa-apaan engkau ini? Apa kau sudah gila?”

“Hi-hik, memang aku gila. Gila ka­rena girang melihat perubahanmu. Eng­kau tidak putus asa lagi dan semangatmu telah bangkit kembali. Bagus! Bukankah hal itu amat menggirangkan hati?”

Han Han memegang kedua tangan gadis itu, tongkatnya ia kempit. “Kim Cu....” katanya penuh keharuan. “Engkau seorang gadis yang baik sekali. Dengan engkau di sampingku, aku merasa seolah-olah mendapatkan Adikku Lulu yang hi­lang itu kembali. Memang, aku tidak akan putus asa, Kim Cu. Aku akan membuktikan kepada dunia, kepada Im-yang Seng-cu, dan tokoh-tokoh kang-ouw lain­nya bahwa biarpun aku keturunan Keluar­ga Suma yang terkutuk, akan tetapi aku tidak jahat seperti mereka, dan aku akan membuktikan bahwa seorang buntung, seperti katamu, masih dapat melakukan hal yang berguna bagi manusia dan du­nia!”

“Bagus! Dan aku yakin bahwa engkau kelak tentu akan menjadi orang yang amat berguna, jauh melebihi mereka yang kakinya utuh, dan akan dapat mem­bersihkan nama keturunan Suma yang berlepotan noda yang diperbuat oleh nenek moyangmu.”

Han Han mengangguk-angguk. “Mudah-mudahan, Kim Cu.”

Berangkatlah kedua orang muda itu mendaki puncak yang dimaksudkan Kim Cu. Menjelang malam mereka tiba di goa yang dimaksudkan, sebuah goa yang ber­ada di puncak. Kim Cu membuat obor dari kayu kering dan mereka memasuki goa yang merupakan mulut terowongan itu. Perjalanan itu amat melelahkan, ter­utama sekali bagi Han Han yang kese­hatannya belum pulih sama sekali.

“Sebelum gelap, aku akan keluar men­cari daun-daun obat untuk lukamu. Luka­mu perlu dicuci, diobati dan diganti kain pembalutnya.”

Han Han mengerutkan kening. “Eh, aku membuatmu repot sekali, Kim Cu. Daun obat dan air pencuci bisa dicari di puncak, akan tetapi kain pembalut....?”

Kim Cu memandang pakaiannya. “Pa­kaianku masih utuh, diambil sedikit-sedikit untuk pembalut masih lebih dari­pada cukup!”

Han Han hanya menggeleng kepala dan menghela napas melihat gadis itu sambil tertawa sudah berlari keluar goa. Dia duduk bersandar pada dinding goa, diam-diam ia merasa gelisah memikirkan Kim Cu. Gadis itu dengan jelas mem­buktikan cinta kasihnya yang amat men­dalam kepadanya. Ia berhutang budi, dan ia suka sekali kepada Kim Cu. Akan tetapi cinta? Ah, bagaimana kalau dia tidak dapat membalas cintanya? Dia merasa gelisah kalau-kalau harus mem­buat gadis itu berduka kelak karena ti­dak mampu membalas cinta kasihnya yang demikian murni. Pula, dia seorang pemuda buntung, keturunan keluarga jahat. Dia terlalu kotor dan tidak ber­harga bagi seorang gadis semulia Kim Cu.

Malam itu Kim Cu datang membawa daun obat, air dan buah-buahan. Dengan tekun di bawah penerangan api unggun, gadis ini membuka balut kaki buntung Han Han, sedikit pun tidak kelihatan jijik, mencuci paha yang buntung, me­naruh obat, dan membalutnya lagi meng­gunakan sabuk suteranya. Setelah selesai, mereka makan buah-buahan lalu mengaso dan tertidur di dekat api unggun. Sampai jauh malam Han Han tidak dapat tidur. Terlalu banyak hal-hal memenuhi otak­nya, dari memikirkan Lulu sampai penga­lamannya di Pulau Es, memikirkan ke­adaan nenek moyangnya, dan akhirnya memikirkan Kim Cu. Gadis itu tertidur nyenyak sekali di dekat api unggun, tidur miring dengan muka menghadap ke arah­nya. Wajah yang cantik itu tampak pucat di bawah sinar api unggun, rambutnya kusut karena tidak disisir. Bibirnya agak terbuka memperlihatkan deretan ujung gigi yang putih. Han Han mendekati api unggun, menambah kayu kering yang tadi dikumpulkan gadis itu. Sampai hampir pagi barulah Han Han dapat tidur, sambil bersandar pada dinding goa setelah tadi ia duduk bersila dengan kaki yang ting­gal satu untuk memulihkan tenaga dan mengatur pernapasannya.

Han Han terkejut dan bangun dari tidurnya ketika lengannya diguncang-guncang Kim Cu. “Han Han....! Han Han.... bangunlah....!”

Han Han memandang gadis itu yang mukanya pucat sekali. Segera kewaspada­annya timbul. “Ada apakah, Kim Cu?”

“Ada orang di luar.... kulihat bayangannya berkelebat....”

“Hemmm, mengapa bingung. Biarkan saja.”

“Tidak, siapa tahu dia subo! Bayang­annya berkelebat cepat sekali. Mari kita sembunyi!” Gadis itu menarik-narik ta­ngan Han Han. Pemuda ini menurut, bangkit dan jalan terpincang-pincang dengan tongkatnya, tangannya ditarik Kim Cu yang memasuki terowongan. Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinarnya menerobos memasuki terowongan itu sehingga keadaan dalam goa tidak terlalu gelap.

Tiba-tiba terdengar suara yang amat mereka kenal, datangnya dari luar goa, “Hi-hi-hik! Kalian hendak lari ke mana? Biar ada Im-yang Seng-cu aku harus mengambil nyawamu, murid murtad!”

“Celaka.... dia subo....!” Kim Cu berbisik dan menarik tangan Han Han sambil melangkah maju lebih cepat lagi. Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan dan Han Han melihat bahwa mereka berada di pinggir sebuah jurang yang amat luas. Ketika ia menjenguk ke bawah, matanya berkunang. Demikian tinggi dan curamnya jurang ini sehingga dasarnya tidak tampak, terhalang oleh embun pagi dan awan! Mereka berhenti dan membalikkan tubuh memandang ke arah terowongan, menanti munculnya Toat-beng Ciu-sian-li yang tadi mereka dengar suaranya dengan hati berdebar-­debar.

Melihat betapa tubuh gadis itu meng­gigil dan wajahnya pucat sekali, Han Han berkata halus, “Jangan takut, Kim Cu. Aku akan selalu mendampingimu.”

“Jangan.... jangan mencampuri.... biar aku menghadapi subo,” bisik Kim Cu sambil menjauhkan diri dari pemuda itu.

Dalam terowongan itu sunyi dan secara tiba-tiba, seperti munculnya iblis sendiri tampak tubuh Toat-beng Ciu-sian­-li yang tersenyum-senyum mengerikan. Melihat gurunya ini, Kim Cu maklum bahwa biarpun Han Han membantunya, mereka tidak akan menang, dan akhirnya mereka berdua tentu akan tewas. Maka ia cepat berkata.

“Subo, teecu merasa berdosa kepada subo. Kalau teecu mau dihukum, hukum­lah. Mau bunuh, bunuhlah. Akan tetapi..... teecu mohon, jangan subo mengganggu Han Han, dia sudah cukup menderita..... bunuhlah teecu saja....”

“Kim Cu....!” Han Han membentak.

“Heh-heh-hi-hik, muridku yang paling kusayang, yang paling banyak kuberi ilmu-ilmuku, kini hendak menentangku sendiri? Murid murtad engkau!” Toat-beng Ciu-sian-li yang masih tersenyum­-senyum menyeramkan itu memandang kepada Kim Cu dengan sinar mata beri­ngas. Kim Cu merasa ngeri hatinya, bulu tengkuknya berdiri dan maklum bahwa tangan maut telah menjangkaunya.

“Toat-beng Ciu-sian-li! Tahan dulu! Jangan kau membunuh Kim Cu!” Han Han membentak marah sambil maju ter­pincang-pincang.

“Bocah buntung, kau tunggulah giliranmu!” Bentak Toat-beng Ciu-sian-li sambil terkekeh dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar berkilauan me­nyambar ke arah Kim Cu dan itu adalah sebuah gelang rantai anting-antingnya yang kini dipergunakan sebagai senjata rahasia yang menyambar dengan kecepat­an kilat ke arah gadis itu. Kim Cu me­mang tidak ingin melawan, maka dia berdiri seperti arca menanti datangnya senjata rahasia yang menyambar ke arah dahinya untuk merenggut nyawanya.

“Kim Cu....!” Han Han berteriak ketika melihat betapa gadis itu sama sekali tidak berusaha menghindarkan diri dari sambaran senjata itu. Han Han lupa diri dan lupa bahaya, melepaskan tong­katnya dan langsung meloncat ke depan menubruk Kim Cu pada kakinya dengan maksud menghindarkan gadis itu daripada ancaman maut.

“Han Han....!”

“Kim Cu....!”

“Heh-heh-heh, hi-hi-hik!” Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh ketika melihat tubuh kedua orang muda itu tergelincir ke bibir jurang! Han Han memang berhasil me­nyelamatkan Kim Cu dari sambaran senjata rahasia, akan tetapi ia membawa Kim Cu bersama-sama terjerumus ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya!

Perlahan-lahan Toat-beng Ciu-sian-li melangkah ke pinggir jurang, men­jenguk ke bawah lalu tertawa lagi, akan tetapi suara ketawanya kecewa. “Sayang...., kalau dia bisa membawaku ke Pulau Es!” Nenek ini lalu berjalan keluar dari terowongan itu, sedikit pun tidak memikirkan lagi keadaan Han Han dan Kim Cu yang dianggapnya tentu akan hancur lebur tubuhnya terbanting pada dasar jurang yang sedemikian curamnya.

Biarpun Toat-beng Ciu-sian-li seorang nenek yang amat lihai dan pengalaman hidupnya sudah seratus tahun, namun ia sungguh lancang kalau berani menentukan mati hidup manusia. Hidup dan matinya manusia berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Kalau Tuhan menentukan sese­orang harus hidup, biar dia dihujani se­laksa batang anak panah, ada saja sebab­nya yang membuat ia lolos dari bahaya maut. Sebaliknya kalau Tuhan menghen­daki seseorang harus mati, biar dia ber­sembunyi di lubang semut, tetap saja maut akan datang menjemput tanpa dapat dihindarkan lagi.

Kim Cu sudah hampir pingsan ketika tubuhnya meluncur ke bawah. Tenaga luncuran itu sedemikian kuatnya sehingga tidak mungkin mempergunakan gin-kang dan kepalanya menjadi pening, napasnya seperti terhenti. Masih dapat dilihatnya bayangan tubuh Han Han berkelebat mendahuluinya karena tubuh Han Han yang lebih berat itu lebih cepat lagi tenaga luncurannya, apalagi Han Han terdorong oleh tenaga loncatannya ketika menolongnya tadi. Teringat akan Han Han, Kim Cu menjadi sadar kembali dan ia menjerit panjang, “Han Han....!”

Seakan-akan tidak akan ada akhirnya tubuhnya meluncur ke bawah dan Kim Cu yang sudah setengah pingsan itu ter­heran apakah dia tidak sudah mati dan kini yang melayang-layang turun itu ada­lah nyawanya? Terbayang dalam otaknya akan dongeng yang pernah didengarnya bahwa sorga letaknya di atas, sedangkan neraka di bawah. Kalau begitu, apakah nyawanya sedang melayang menuju ke neraka? Ia merasa ngeri, akan tetapi ia teringat akan Han Han. Kalau di neraka ia akan bertemu dan berkumpul dengan Han Han biarlah ia menuju ke neraka!

“Byurrrrr....!” Kim Cu merasa seolah-olah tubuhnya remuk dan ia tidak ingat apa-apa lagi!

Tiga hari tiga malam kemudian, pada pagi harinya, Kim Cu membuka mata. Tubuhnya masih terasa nyeri semua, akan tetapi ia dapat menggerakkan kaki tanganya dan membuka matanya.

“Omitohud...., Nona sudah sadar....? Omitohud, syukurlah,” Terdengar suara halus. Kim Cu menoleh ke kiri dan melihat seorang nikouw yang kepalanya gundul kelimis, sikapnya halus, mukanya menyinarkan kebahagiaan batin, ter­senyum memandangnya. Nikouw ini usia­nya tidak akan kurang dari enam puluh tahun, namun wajahnya halus dan merah penuh kesehatan dan ada sesuatu dalam gerak-gerik nikouw ini yang membuat ia tampak seperti seorang dewi.

“Siankouw.... seorang dewi penjaga hukuman di neraka?” tanya Kim Cu yang masih menduga bahwa dia kini te­lah berada dalam neraka, sungguhpun ia heran mengapa neraka begini bersih dan enak, dalam sebuah kamar yang bersih dan dia rebah di atas dipan yang bertilam putih bersih pula.

“Omitohud....! Memang dunia ini neraka bagi yang belum sadar, anakku, akan tetapi sorga bagi yang telah sadar. Engkau masih hidup, Nona. Thian belum menghendaki engkau mati.”

Serentak Kim Cu bangkit duduk dan tidak memperhatikan tubuhnya yang nyeri semua rasanya. “Aku masih hidup? Han Han.... di mana dia....? Han Han....!” Ia menjerit, memanggil nama itu.

Nikouw itu bangkit berdiri mendekatinya dan menaruhkan tangannya yang halus di pundak Kim Cu. “Tenangkan hatimu, Nona. Engkau belum sembuh benar, tidak baik banyak bergerak. Ber­baringlah kembali.”

Suara itu halus sekali, namun mengandung wibawa yang tak mungkin da­pat dibantah sehingga Kim Cu merebah­kan tubuhnya lagi di atas dipan. “Akan tetapi.... tolonglah beri tahu, subo. Di mana Han Han?”

“Han Han siapakah yang Nona maksudkan?”

“Han Han.... temanku. Kami berdua jatuh dari atas, dan kalau aku masih hidup dia tentu hidup pula. Ah, di mana dia?”

Nikouw itu menggeleng-geleng kepala­nya. “Sukar dipercaya ada orang yang jatuh dari atas tebing gunung itu masih dapat hidup seperti engkau, Nona. Eng­kau telah berada di sini tiga hari tiga malam, pingsan. Dan pinni (aku) tidak pernah mendengar tentang temanmu yang bernama Han Han itu....”

“Tiga hari tiga malam? Dan Han Han tidak ada? Ah, mana mungkin? Subo, tolong ceritakan, apakah yang sesungguh­nya telah terjadi?”

“Nona, sebaiknya kauceritakan dulu kepada pinni bagaimana engkau tiba-tiba saja jatuh dari atas, seperti dari langit saja.”

Kalau dia masih hidup, lebih baik dia tidak bercerita tentang dirinya, karena kalau hati ini terdengar oleh Toat-beng Ciu-sian-li, tentu nenek itu akan mencarinya, demikian pikirnya. “Kami.... aku dan temanku ikut berjalan di atas tebing, dan aku tergelincir, dia berusaha menolongku dan kami terjerumus ke bawah. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Subo, ceritakanlah bagaimana aku dapat berada di sini.”

Dengan sabar nikouw itu mengambil sebuah mangkok dari atas meja. “Kau minumlah obat ini dulu, Nona. Minumlah.”

Karena maklum bahwa ia ditolong oleh nikouw ini, maka tanpa membantah Kim Cu minum obat yang pahit rasanya itu sampai habis, kemudian ia rebah kembali, siap mendengarkan cerita nikouw tua yang ramah dan amat halus tutur sapanya itu.

“Menurut nalar orang yang jatuh dari tempat setinggi itu tentu mati. Akan tetapi agaknya Thian menghendaki lain. Engkau jatuh ke dalam Sungai Hek-ho yang mengalir tepat di bawah tebing itu menuju ke timur, masuk ke saluran besar. Sungai itu di bagian bawah tebing amat deras alirannya, dan banyak mengandung batu-batu karang menonjol di permukaan dan di bawah permukaan air. Akan tetapi, omitohud.... engkau agaknya jatuh di bagian yang dalam sehingga tidak terluka. Dan lebih kebetulan sekali seperti telah diatur oleh tangan Thian sendiri ketika tubuhmu yang pingsan itu timbul ke permukaan air, dari jauh kelihatan oleh perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Engkau mereka tolong dan melihat engkau seorang wanita, mereka lalu membawamu ke sini. Pinni adalah ketua dari Kwan-im-bio di sini bersama tujuh orang nikouw lain, dan karena pinni sedikit-sedikit mengerti ilmu pengobatan, maka pinni cepat mengobatimu. Syukur­lah, atas kemurahan Thian, engkau selamat.”

“Akan tetapi temanku itu bagai­mana dia? Di mana dia?”

Nikouw itu menghela napas. “Kalau dia jatuh bersamamu dan masih hidup tentu telah ditolong pula oleh para nela­yan. Akan tetapi tak seorang pun melihatnya dan seperti kukatakan tadi, tem­pat itu banyak mengandung batu karang. Kalau jatuhnya menimpa batu karang, atau seperti engkau pingsan lalu hanyut oleh air yang sedemikian derasnya.... hemmm.... agaknya tidak ada harapan lagi baginya.”

“Tidak.... Tidaaakkkk....!” Kim Cu menjerit dan bangkit duduk, matanya terbelalak memandang ke kanan kiri. “Tidak boleh dia mati aku masih hidup! Nikouw tua yang mulia, aku harus men­cari dia!”

Dari pintu kamar yang terbuka itu muncul tujuh orang nikouw, yang lima sudah berusia lima puluhan tahun, yang dua masih muda, kurang lebih tiga puluh tahun. Sikap mereka juga halus-halus dan wajah mereka membayangkan ketenangan. Melihat Kim Cu hendak turun, para ni­kouw yang tadi mendengar jeritan gadis itu mendekati dipan dan hendak men­cegahnya, mengira bahwa gadis ini men­jadi bingung karena kecelakaan hebat itu.

Nikouw tua mengangkat tangan men­cegah mereka, lalu memegang tangan Kim Cu dan berkata, “Engkau hendak mencari temanmu itu, Nona? Baiklah, boleh saja dan mari pinni menemanimu ke tepi sungai.”

Kim Cu berjalan dengan tubuh meng­gigil dan masih lemah sekali. Akan tetapi nikouw tua yang baik hati itu meng­gandengnya dan pergilah mereka berdua keluar dari kelenteng kecil itu, diikuti pandang mata tujuh orang nikouw yang menggerakkan pundak masing-masing, hati mereka penuh iba terhadap Kim Cu.

Dengan hati yang tidak karuan rasa­nya Kim Cu bersama nikouw tua itu menuju ke pinggir sungai. Ngeri hatinya melihat sungai yang benar-benar amat deras airnya, lebih ngeri menyaksikan batu-batu yang runcing tajam menonjol di seluruh permukaan sungai, akan tetapi ia benar-benar mengkirik (meremang bulu tengkuknya) ketika berdongak ke atas melihat tebing yang amat tinggi yang puncaknya tertutup mega. Dari tempat setinggi itu dia jatuh! Kim Cu menge­luarkan seruan tertahan dan kedua pun­daknya menggigil.

“Percayakah engkau kini bahwa hanya tangan Tuhan saja yang mampu menye­lamatkan engkau, Nona? Tentang nasib ­temanmu itu, benar-benar pinni meragukan keselamatannya.”

“Tidak, kalau aku selamat, dia harus selamat, suthai! Tolong panggil para nelayan.”

Nikouw itu bertepuk tangan, lalu menggapai ke arah seorang nelayan yang sedang menjemur jala di tepi sungai. Nelayan itu menengok dan cepat berlari menghampiri. Melihat Kim Cu, ia me­mandang dengan muka berseri. “Ah, ini­kah Nona yang jatuh dari langit itu, Sian-kouw? Sungguh beruntung, dia dapat ter­tolong dan kembali terbukti kelihaian Sian-kouw mengobati orang.” Ia mem­bungkuk-bungkuk, sikapnya kasar sederha­na.

Kim Cu berkata, “Lopek, aku ber­terima kasih sekali kepada para nelayan yang telah menolongku. Sekarang aku mohon kepada kalian untuk mencari te­manku.”

“Temanmu, Nona? Temanmu yang mana?”

Kim Cu menahan mulutnya yang hen­dak menyebut nama Han Han ketika teringat bahwa nama itu takkan ada artinya bagi si nelayan. “Temanku, se­orang pemuda yang ikut pula terjerumus dari tebing atas bersamaku.”

“Heh....?” Nelayan itu terkejut. “Masih ada lagi yang jatuh dari langit?”

“A-liuk, harap kaupanggil berkumpul para nelayan ke sini.”

“Baik, Sian-kouw!” Nelayan itu lalu berlari menuju ke dusun di mana tinggal para nelayan, tidak jauh dari Kuil Kwan-im-bio yang terletak di ujung dusun. Tak lama kemudian di situ telah berkumpul dua puluh orang lebih nelayan-nelayan yang sederhana. Mereka semua, seperti A-liuk, merasa girang melihat Kim Cu selamat dan merasa kagum akan kepan­daian nikouw yang mengobati Kim Cu.

“Paman sekalian, selain bersyukur dan amat berterima kasih kepada paman sekalian, saya minta tolong sukalah pa­man menceritakan teman saya yang pada hari dan saat itu jatuh pula dari atas.”

“Kami tidak melihat ada orang lain!” terdengar suara mereka riuh rendah bi­cara sendiri dan saling bertanya sendiri.

“Mungkin paman semua tidak ada yang melihatnya. Akan tetapi karena aku selamat, kiranya dia pun selamat. Harap paman suka menggunakan perahu dan mencari di sekeliling pantai dan di seberang kalau-kalau ia terdampar dan mendarat di suatu tempat dalam keadaan terluka.”

“Kalian penuhi permintaannya. Kasih­an temannya itu kalau memang benar dia selamat.”

“Baik, Sian-kouw,” jawab mereka se­rempak.

“Tunggu dulu, paman-paman yang baik!” Kim Cu berkata ketika melihat mereka hendak pergi melaksanakan permintaannya. Ia meloloskan delapan buah gelang emas, satu-satunya perhiasan yang berada di tubuhnya, dan menyerahkan gelang-gelang emas itu kepada mereka. “Aku hanya mempunyai gelang-gelang ini, harap paman sekalian membaginya sebagai hadiah dariku atas pertolongan kalian mencarikan temanku.”

Akan tetapi tidak ada seorang pun diantara mereka yang menerima pemberian ini. Seorang nelayan tua lalu berkata, “Nona, hadiah adalah pernyataan hati girang dan untuk membalas jasa. Teman Nona belum diketemukan, bahkan kami belum mencarinya, bagaimana kami dapat menerima hadiah darimu? Kalau kami begitu loba, tentu Sian-kouw takkan men­doakan rejeki kami dan tentu ikan-ikan pada lari bersembunyi dari jala dan kail kami.” Setelah berkata demikian, semua nelayan itu bubar, meninggalkan Kim Cu yang masih memegangi gelang-gelangnya dengan melongo.

Nikouw tua itu tersenyum menyaksikan keheranan Kim Cu. “Mereka adalah nelayan-nelayan desa yang polos, jujur dan bersih, Nona. Dan jangan sekali­-kali menganggap mereka bodoh seperti pendapat orang kota. Orang kota menilai kepintaran berdasarkan akal, yang banyak akalnya dikatakan pintar, padahal akal itu hanya mereka gunakan untuk akal-­akalan, saling mengakali dan menipu. Orang-orang yang tidak tahu akan akal­-akal macam itu adalah sepintar-pintarnya orang.”

Selama seminggu lebih, setiap hari para nelayan mencari jejak atau tanda-­tanda Han Han, namun mereka selalu kembali dengan tangan hampa, membuat hati Kim Cu yang menanti terus di tepi sungai menjadi makin hampa. Dua ming­gu kemudian, para nelayan menyatakan keyakinannya bahwa kalau pemuda itu benar terjatuh dari atas seperti halnya Kim Cu, tentu tubuh pemuda itu menimpa batu dan hancur lebur, atau teng­gelam dan mungkin juga hanyut oleh air sungai yang amat deras. Mereka tidak mencari lagi.

Kim Cu tidak mau kembali ke kuil. Selama menanti para nelayan yang mencari-cari, dia selalu ditemani oleh nikouw tua atau kadang-kadang ditemani seorang di antara para nikouw secara bergilir. Makan dan minum pun hampir dipaksa oleh para nikouw, baru Kim Cu mau makan dan minum. Akan tetapi ia tidak pernah kembali ke kuil, tidur pun di tepi sungai!

Ketika para nelayan menghentikan pencariannya, Kim Cu seperti gila. Tidak lagi ia mau makan atau minum, tidak tidur, hanya berdiri atau duduk di tepi sungai, wajahnya makin kurus dan pucat, rambutnya kusut dan matanya sipit dan bengkak karena terlalu banyak menangis sehingga air matanya kering!

Beberapa hari kemudian, para nikouw terpaksa menggotong tubuhnya yang menggeletak pingsan di tepi sungai, di­bawa kembali ke kuil. Kembali nikouw tua itu yang sibuk mencekokkan obat ke mulutnya sampai ia siuman kembali dan dipaksa makan bubur atau obat.

“Mengapa engkau menyiksa hatimu sampai sedemikian rupa, Nona? Dicari lagi pun percuma, agaknya temanmu itu sudah tewas.”

“Kalau dia mati, aku pun akan mati!” kata Kim Cu dan ia menangis sesenggukan. “Suthai, biarkan aku mati....!” Ia terisak-isak.

“Engkau keliru, Nona. Andaikata temanmu itu mati, matinya adalah karena kehendak Tuhan. Kalau engkau memaksa ingin mati, matimu adalah mati paksaan dan amatlah tidak baik mati seperti itu, Nona.”

“Suthai, kalau Han Han mati, apa gunanya lagi aku hidup?”

Nikouw itu mengangguk-angguk dan mengelus-elus rambut gadis itu. “Nona, engkau tentu amat mencinta pemuda itu, bukan?”

Mendengar suara yang masih tenang akan tetapi menggetar penuh rasa iba dan haru ini, Kim Cu memandang dengan mata basah. “Benar, suthai. Aku men­cintanya. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang kumiliki.”

“Kalau begitu, engkau harus hidup, Nona. Kalau engkau mati, engkau takkan dapat berguna untuk dia. Akan tetapi kalau engkau hidup, tidak hanya engkau akan dapat berguna bagi orang yang kau­cinta, akan tetapi engkau malah akan dapat berguna bagi semua orang dan dunia.”

Kim Cu memeluk nikouw itu dan ber­kata, “Ah, suthai. Benarkah itu? Benar­kah aku akan dapat berguna, berguna bagi Han Han biarpun dia sudah sudah mati?”

Nikouw itu mengusap air mata dari kedua pipi Kim Cu dan di dalam hatinya ia pun mengusap air matanya sendiri yang mengucur di hatinya, matanya dikejap-kejapkan untuk menahan panasnya keharuan yang mendorong air mata, mu­lutnya tersenyum untuk menekan keharu­an hati, dan kepalanya mengangguk-angguk untuk mengganti kegaguannya untuk se­mentara. Setelah keharuannya reda dan ia yakin suaranya tidak menggetar, nikouw itu berkata.

“Tentu saja, anakku yang baik. Kalau engkau menghambakan dirimu kepada kebajikan, menjadi murid Kwan Im Pouw­sat, menjadi seperti pinni, engkau akan dapat berguna sekali bagi temanmu itu.”

“Menjadi.... nikouw....?”

Nikouw tua itu mengangguk-angguk. “Tidak langsung sekarang, terserah kepadamu. Kaupelajarilah dahulu kebajikan­-kebajikan dari Kwan Im Pouwsat, kelak engkau boleh menentukan sendiri apakah suka menjadi nikouw atau tidak. Akan tetapi, setidaknya engkau sudah akan lebih tahu akan arti hidup, dan engkau dapat berdoa setiap saat untuk temanmu itu sehingga andaikata dia sudah mati, semoga ia akan mendapatkan tempat yang layak dan damai, sebaliknya kalau masih hidup, semoga dia hidup bahagia. Bukankah dengan demikian engkau akan berguna baginya? Dan berguna pula bagi orang lain....”

Kim Cu kembali menubruk dam me­meluk nikouw itu sambil menangis, ke­mudian ia melorot turun dam berlutut di depan nikouw itu. “Teecu, Kim Cu, mo­hon petunjuk dari subo....”

Demikianlah, mulai hari itu Kim Cu menjadi murid Thian Sim Nikouw dan mempelajari pelajaran kebatinan yang berpusat pada penyembahan Kwan Im Pouwsat. Akan tetapi, nasib malang ma­sih mengharuskan Kim Cu mengelami banyak penderitaan hidup. Enam bulan sejak ia tinggal di situ, pada musim hujan, air Sungai Hek-ho meluap dan terjadi banjir besar yang menghanyutkan dusun itu, termasuk Kwan-im-bio. Para nikouw dan Kim Cu terpaksa mengungsi setelah mereka semua memberi pertolongan kepada para korban banjir. Da­lam pekerjaan inilah, yang dipimpin Thian Sim Nikouw, Kim Cu merasa betapa hidupnya amat berguna bagi orang lain, yang nyata dan dapat dirasainya. Ia makin tekun belajar dan makin lama ia mendapat ketenangan batin sehingga ketika semua pindah ke utara, ke sebuah lereng bukit dan mendirikan kuil kecil sederhana di sana, Kim Cu mengambil keputusan menggunduli rambutnya dan masuk menjadi nikouw! Oleh gurunya ia diberi nama Kim-sim Nikouw (Pendeta Wanita Berhati Emas). Ia telah mendapat ketenangan dam kebahagiaan batin, dan rasa rindunya yang kadang-kadang mun­cul terhadap Han Han, ia tekan dengan doa-doa bagi keselamatan pemuda itu, baik di dunia maupun di akherat.



***



Di dalam sebuah gubuk di kaki Gu­nung Lu-liang-san, Lulu sadar dari ping­sannya dan mendapatkan dirinya sedang dirawat oleh kakek pengemis yang meng­obati luka-lukanya. Melihat gadis itu bergerak, kakek itu berkata perlahan.

“Jangan bergerak dulu, Nona. Luka-­lukamu bekas bacokan senjata tajam tidak berbahaya, akan tetapi pukulan di punggung membuat tulangmu ada yang retak. Kau rebahlah saja dan jangan banyak bergerak.”

Lulu tersenyum, hatinya girang bahwa dia belum mati. Dia mengenal kakek jembel ini yang telah menyelamatkan nyawanya ketika golok Twa-to-kwi Liok Bu Tang si Mata Satu menyambar lehernya, yaitu kakek yang telah menangkis golok itu dengan tongkatnya.

“Locianpwe, aku berhutang satu nya­wa kepadamu.”

Kakek itu memandangnya dan tersenyum melihat gadis yang berpakaian pria itu tersenyum, kaget dan kagumlah dia. “Wah, engkau memiliki daya tahan yang hebat. Hal ini membuktikan bahwa engkau telah mem­pelajari sin-kang yang luar biasa.”

“Eh, jangan pura-pura tidak mendengar omonganku dan mengeluarkan puji-pujian kosong, locianpwe. Aku telah hutang satu nyawa kepadamu karena aku tentu telah mati kalau locianpwe tidak datang menolong.”

Kakek itu menyelesaikan pekerjaannya membalut luka-luka di tubuh Lulu, ke­mudian berkata sungguh-sungguh, “Nona, saling bantu di antara kita segolongan adalah wajar, bahkan saling menolong di antara manusia sudah semestinya, sama sekali tidak dapat dikatakan hutang-­berhutang. Apalagi kalau kita bersama menghadapi orang-orang Mancu yang amat jahatnya. Ah, bukan semata-mata orangnya yang jahat, karena orang Mancu pun manusia seperti kita. Yang jahat adalah pimpinan mereka yang mengatur penjajahan dan menimbulkan perang. Perang adalah jahat dan kejam, membuat manusia-manusia seperti kita menjadi binatang-binatang buas! Aku sungguh amat membenci perang, akan tetapi lebih membenci orang-orang Mancu yang me­nimbulkan perang!”

Hati Lulu tertarik sekali. Ucapan kakek ini benar-benar memiliki arti yang dalam, apalagi terdengar oleh telinganya, telinga seorang gadis Mancu! “Locianpwe, apakah engkau demikian membenci orang Mancu? Engkau sendiri mengatakan tadi bahwa orang Mancu juga manusia seperti kita, mengapa locianpwe amat mem­benci mereka?”

“Mengapa tidak? Karena merekalah maka orang-orang seperti aku menjadi binatang-binatang buas yang membunuhi manusia lain tanpa berkedip! Dahulu, sebelum ada perang, manusia mengenal prikemanusiaan dan aku akan merasa bangga kalau dapat menyelamatkan nya­wa seorang manusia lain daripada ancam­an bahaya maut. Dahulu, nyawa manusia amat dihargai sehingga sebuah pembunuh­an akan menggegetkan dan pembunuhnya akan dikutuk manusia lain. Akan tetapi sekarang? Ah, dalam keadaan perang, manusia menjadi makhluk sejahat-jahatnya! Betapa banyaknya nyawa manusia me­layang oleh perbuatanku, dan kedua ta­nganku yang berlumuran darah ini telah membunuh entah berapa banyak manusia lain!”

Lulu makin tertarik. Kakek itu mengucapan kata-kata penuh semangat dan kesungguhan, dan wajah yang keriput­an itu tampak berduka sekali. “Akan tetapi yang locianwe lakukan adalah demi perjuangan. Locianpwe berjuang demi negara dan bangsa, dan locianpwe membunuh musuh bangsa. Bukankah hal itu merupakan perbuatan mulia?”

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Lulu berdiri. Kelihatannya saja tertawa, akan tetapi nadanya seperti orang menangis! “Ha-ha-ha! Inilah yang menyedihkan! Manusia menganggap penyembelihan se­sama manusia ini sebagai perbuatan mulia! Makin banyak menyembelih manusia, makin banyak merenggut nyawa sesama manusia, akan gagah perkasa, makin mulia dan disebut pahlawan! Memang perjuangan membela nusa bangsa, mem­bela tanah air adalah sebuah tugas yang mulia, akan tetapi penyembelihan sesama manusia, sungguhpun berlainan bangsa, yang dianggap mulia oleh manusia itu, apakah juga mulia dalam pandangan Thian? Apakah Thian akan bersenang hati menyaksikan manusia ciptaan-Nya saling bunuh hanya karena memperebutkan ke­benaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi! Tidak, Nona. Aku yakin bahwa Thian tidak menghendaki manusia berbunuh-bunuhan, dan aku yakin bahwa penyembelihan antara manusia yang oleh masing-masing golongan manu­sia disebut mulia dan dipuji-puji ini di­kutuk Thian!”

Lulu menjadi terharu. Ia dapat me­ngerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, dan tentu saja bagi dia, seorang gadis Mancu, ucapan itu berkesan amat dalam.

“Kata-kata locianpwe benar-benar mengejutkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin sekali mendengar maksud ucapan locianpwe tadi bahwa perang antara manusia hanya memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemulia­an duniawi. Apakah yang locianpwe mak­sudkan?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Maksudku, tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak menganggap bahwa perang yang dilakukannya berdasarkan kebenaran! Lihat contohnya perang yang dikobarkan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tiong­kok! Bangsa Mancu menyerbu ke selatan dan mereka merasa benar karena mereka menganggap bahwa mereka semenjak dahulu direndahkan, dan menganggap bahwa mereka itu datang untuk membebaskan rakyat Tiongkok daripada ceng­keraman pemerintahan yang tidak baik. Mereka berperang dengan dasar kebenar­an mereka, karena hanya kalau mereka berkuasa di sinilah maka rakyat akan dapat hidup makmur, terbebas daripada penindasan kaisar dan pembesar-pembesar Kerajaan Beng yang lemah dan jahat dalam pandangan mereka. Jelaslah bahwa bangsa Mancu berperang dengan dasar kebenaran mereka, kebenaran palsu! Di lain fihak, Kerajaan Beng berikut semua pejuang yang melawan mereka, termasuk aku, mendasarkan perjuangan dengan kebenaran kita sendiri, kebenaran orang mempertahankan tanah airnya, kebenaran negara mempertahankan hak dan kedaulatannya. Padahal, yang diperebutkan adalah kemenangan, dan sesungguhnyalah bahwa kemenangan yang akan mendatang­kan kemuliaan duniawi kepada mereka yang menang! Kalau perang hanya ter­batas kepada mereka yang bercita-cita, baik para pembesar yang memperebutkan kedudukan, maupun para perajurit yang berperang karena menerima upah, atau pejuang yang berperang karena dorongan cita-cita, masih tidak mengapa. Mereka sudah sengaja ingin terjun ke dalam kan­cah perang yang isinya menang atau kalah, hidup atau mati. Celakanya, rak­yat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban keganasan perang.” Kakek itu menarik napas panjang, kemudian memandang Lulu tajam-tajam dan melanjut­kan kata-katanya.

“Jahat sekali perang ini akibatnya. Pertengkaran pribadi hanya menimbulkan kebencian, akan tetapi perang menimbul­kan kebendaan antara bangsa! Tidak ada lagi pertimbangan antara baik dan buruk, bangsa yang dibencinya karena perang, dianggapnya semua jahat dan semua harus dibasmi! Sungguh menyedihkan sekali karena baru dalam hal inilah ada per­samaan pendapat antara orang baik dan orang jahat! Pendeta-pendeta dan perampok-perampok dapat bekerja sama meng­hadapi musuh! Dalam perang antar bang­sa, biar dia perampok yang sekejam­-kejamnya kalau sebangsa, dianggap se­kutu. Biar sama-sama pendeta kalau menjadi bangsa yang dibenci dianggap lawan yang harus dibunuh! Dan maut yang disebar tidak memandang bulu, tidak mengenal prikemanusiaan lagi. Ke­bencian melanda dan menguasai hati nurani manusia sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang kejamnya me­lebihi srigala. Membunuh dan menyiksa dianggap perbuatan yang baik dan gagah perkasa. Semua karena gara-gara perang dan andaikata bangsa Mancu tidak me­ngobarkan perang lebih dulu, tidak akan terjadi segala kekejaman itu. Karena itu, aku membenci orang-orang Mancu yang menimbulkan perang, membenci mereka yang telah membuat aku sekarang men­jadi seorang pembunuh berdarah dingin!” Kembali kakek itu menarik napas pan­jang, kelihatan berduka sekali.

“Locianpwe, bukan hanya engkau yang menderita, bukan hanya rakyat Tiongkok yang menderita akibat perang. Juga bang­sa Mancu sendiri banyak yang menderita akibat perang ini, perang yang dicetus­kan oleh para pimpinan dengan mengor­bankan banyak rakyat. Rakyat Mancu yang dipaksa menjadi perajurit, mati di sini tanpa diketahui dikeluarganya. Be­tapa banyaknya pula rumah tangga para perwira yang hancur akibat perang, ter­basmi oleh musuh mereka yang oleh mereka disebut dan dianggap para pem­berontak.”

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian mengangkat muka memandang. “Eh, Nona, bagaimana Nona bisa tahu akan keadaan bangsa Mancu?”

Lulu memandang tajam dan menjawab tenang, “Tentu saja aku tahu, locianpwe, karena aku sendiri adalah seorang Mancu.”

“Ahhh....!” Kakek itu benar-benar kaget mendengar ini dan ia memandang wajah Lulu dengan sikap tegang.

“Aku adalah seorang gadis Mancu yang menjadi korban perang ini, locian­pwe. Ayahku seorang perwira yang ter­bunuh bersama seluruh keluarganya oleh segerombolan pemberon.... eh, pejuang yang dipimpin oleh seorang bernama Lauw-pangcu. Hanya aku yang dibiarkan hidup, dirampas pakaianku, diberi pakai­an jembel dan aku dilepas sebagai se­orang anak jembel yang hidup terlantar....!”

“Ya Tuhan....!” Kakek itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak meman­dang Lulu dengan mata terbelalak. Ter­ingatlah ia peristiwa tujuh tahun yang lalu dan ia berkata lirih penuh getaran perasaan, “Akulah Lauw-pangcu kini teringat olehku akulah yang memimpin teman-teman menyerbu perwira dan membunuh mereka sekeluarga. Karena engkau mengingatkan aku akar puteriku yang hampir sebaya, aku tidak membolehkan mereka membunuhmu.... ah, Nona, engkaukah kiranya anak itu? Akan tetapi mengapa engkau sekarang membantu kaum pejuang memusuhi bangsa Mancu sendiri?”

Berubah wajah Lulu. Hemmm, jadi kakek inikah musuh besarnya yang se­lama ini ia cari-cari? Sejenak seluruh tubuhnya menegang dan timbul keingin­annya untuk menyerang kakek itu. Akan tetapi teringat akan pembicaraan mereka tadi Lulu menarik napas panjang dan.... menangis! Sejenak Lauw-pangcu hanya memandang gadis yang menangis itu penuh keheranan dan keharuan, kemudian ia berkata.

“Nona, aku mengerti bahwa di dalam hatimu mengandung sakit hati dan dendam yang besar kepadaku. Andaikata engkau kini menjadi pembantu pemerin­tah Mancu, tentu dendammu akan kau­hadapi dengan kekerasan dan engkau akan kuanggap sebagai musuh. Akan tetapi karena terbukti bahwa engkau mem­bantu fihak pejuang menentang kekejam­an pasukan Mancu, hal ini membuat hati­ku terasa berat dan penuh oleh dosa terhadap dirimu. Nona, aku Lauw-pangcu bukan seorang yang tidak mengenal budi dan bukan seorang yang tidak berani menanggung segala akibat perbuatanku. Aku yang membuat keluarga Nona ter­basmi, yang membuat keluarga Nona terlantar, dan menyaksikan sepak ter­jangmu, kini aku siap menerima pem­balasanmu. Engkau boleh menbunuhku untuk membalas dendam keluargamu. Silakan, aku tidak akan melawan dan menyerahkan nyawaku sebagai tebusan dosaku kepadamu.”

Lulu mengangkat mukanya yang basah air mata memandang kakek itu, kemudian ia menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangan dan kepalanya digeleng-gelengkan.

“Tidak.... tidak...., setelah aku menyaksikan sepak terjangmu, setelah aku mendengar kata-katamu dan mengenal watakmu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pendekar sejati, bagaimana aku dapat membunuhmu? Apalagi setelah menyaksikan keganasan perwira-perwira Mancu.... ah, biarlah kuanggap bahwa Ayah sekeluarga terbasmi oleh perang, bukan oleh tanganmu, Lauw-pangcu. Engkau membasmi mereka bukan karena benci pribadi, melainkan karena perjuang­anmu, karena perang. Biarlah, aku akan melupakan semua itu....”

Lauw-pangcu terbelalak, menghela napas dan mengeluh, “Aduh, baru sekali ini selama hidupku bertemu dengan se­orang wanita semuda engkau, memiliki kebijaksanaan yang begini besar! Sikapmu merupakan tusukan pedang yang tiada bandingnya, menembus hatiku. Ah, Nona, tahukah engkau betapa sikapmu ini membuat aku jauh lebih menderita penuh penyesalan selama hidup daripada kalau engkau menusuk mati aku dengan pe­dangmu? Aku telah membasmi keluargamu.... dan engkau tidak mau membalas dendam. Satu-satunya jalan bagiku, biar­lah aku menjadi pengganti keluargamu, menjadi Ayah Ibumu, biarlah aku meng­ambil engkau sebagai anakku, kalau engkau sudi....”



Mendengar ini, Lulu terisak, menurun­kan kedua tangan, memandang kakek itu dengan sepasang matanya yang lebar, kakek yang telah menyelamatkan nyawa­nya, kakek yang telah membasmi keluarganya, kemudian ia mengeluarkan jerit lirih menubruk maju dan berlutut di depan kakek Lauw-pancu, “Ayah....!”

Sepasang mata kakek tua itu menitik­kan dua butir air mata dan dengan penuh keharuan ia mengangkat bangun gadis itu, memegang kedua pundaknya dan menatap wajah cantik jelita dengan se­pasang mata lebar yang masih mengucurkan air mata.

“Anakku...., engkau anakku...., siapa­kah namamu?”

“Lulu....”

“Ah, nama yang bagus! Lulu, aku akan membimbingmu, melatihmu. Engkau memiliki sin-kang yang luar biasa dan gerakanmu cepat sekali, amat mentakjub­kan, hanya ilmu silatmu yang belum masak. Aku akan menurunkan semua kepandaianku dan kelak engkau menjadi orang yang lebih lihai daripada aku sen­diri. Akan tetapi aku heran sekali...., siapa yang mengajarimu berlatih sehinga memiliki sin-kang begitu hebat dan.... memiliki kebijaksanaan yang belum tentu dimiliki seorang pendeta sekalipun?”

Lulu yang merasa amat terharu dan juga berbahagia karena kini merasa men­dapatkan seorang ayah, sambil bersandar di dada “ayah” ini menjawab manja, seperti kalau ia bersikap manja kepada Han Han! “Ayah, yang mengajarku adalah Kakakku sendiri.”

Kembali Lauw-pangcu terkejut, memegang kedua pundak “anaknya” itu dan memandang wajahnya dengan tajam. “Ka­kakmu? Engkau mempunyai Kakak? Bukankah kaukatakan tadi bahwa.... bahwa yang hidup hanya tinggal engkau se­orang?” Kalimat terakhir ini diucapkannya dengan pahit, mengingatkan dia bah­wa dia yang membunuh semua keluarga gadis yang kini menjadi anaknya itu.

“Kakak angkat, Ayah.”

“Ohhh.... jadi engkau mempunyai seorang kakak angkat dan kini mempunyai seorang ayah angkat, anakku? Agaknya engkau memang seorang yang amat baik budi sehingga banyak orang yang suka kepadamu. Kakakmu itu tentu lihai sekali.”

“Kakakku adalah orang yang paling hebat dan lihai di seluruh dunia ini....!”

“Ayah, bocah ini adalah teman si keparat Han Han!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring disusul berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis cantik gagah yang dikenal Lulu karena gadis itu bukan lain adalah Lauw Sin Lian, murid Siauw­-lim Chit-kiam yang amat lihai dan yang pernah bentrok dengan Han Han ketika mereka berdua baru keluar dari Pulau Es, ketika dia dan kakaknya membantu para piauwsu Hoa-san-pai yang diserang orang-orang Siauw-lim-pai yang mereka kira perampok.

Melihat Sin Lian yang bersikap kasar terhadap kakaknya namun yang ia duga mencinta kakaknya itu, Lulu tersenyum dan memandang dengan matanya yang lebar. Sebaliknya, Sin Lian memandang dengan mata penuh kebencian, bahkan lalu membentak dan melangkah maju, “Dia dan Han Han membantu penjahat-­penjahat Hoa-san-pai dan matinya dua orang suhuku mungkin karena mereka!”

Melihat puterinya maju hendak menerjang Lulu, Lauw-pangcu cepat melompat ke depan Sin Lian, menghadang dan berseru.

“Lian-ji (Anak Lian), tahan dulu! Dia ini adalah Adikmu!”

Mendengar ini, Sin Lian begitu kaget dan heran sehingga ia tiba-tiba meng­hentikan gerakannya, berdiri seperti arca dalam keadaan masih memasang kuda­-kuda siap menyerang. Matanya meman­dang kepada ayahnya penuh pertanyaan.

“Apa.... apa artinya ini, Ayah?”

“Aku telah mengangkat Lulu ini se­bagai anakku, Sin Lian. Dia telah mem­bantu para pejuang dan hampir mengor­bankan nyawanya untuk perjuangan, selain itu.... dia adalah puteri keluarga Perwira Mancu yang terbasmi di tanganku.... dan.... satu-satunya jalan bagiku untuk menebus dosaku kepadanya...., yang sama sekali tidak mendendam kepadaku, mengambil dia sebagai anakku, dan aku melarang engkau mengganggu adikmu sendiri!”

Berubah wajah Sin Lian agak pucat dan ia membantah, “Akan tetapi dia.... dia dan Han Han bersekutu dengan Hoa-san-pai memusuhi Siauw-lim-pai....!”

“Tidak sama sekali, Enci Lian,” Lulu berkata dengan sikap tenang. Pandang matanya yang indah tajam, wajah cantik jelita yang tersenyum cerah, suara yang bening halus itu mengagumkan hati Sin Lian. “Kami sama sekali tidak pernah bersekutu dengan Hoa-san-pai, dan tidak pernah pula memusuhi Siauw-lim-pai. Semua yang dilakukan Kakakku hanyalah karena salah faham belaka.”

“Kakakmu....?” Sin Lian bertanya, bingung.

Lulu tersenyum dan wajahnya berseri. “Benar, dia adalah Kakakku, Kakak ang­katku. Apakah engkau kira dia itu ke­kasihku, Enci Lian? Memang kekasihku, karena Han-koko adalah orang yang paling kukasihi di seluruh dunia ini, kemudian tentu saja Ayahku dan engkau Ciciku!”

Pandang mata penuh kebencian itu melunak dan Sin Lian tak dapat berkata­-kata. Adapun Lauw-pangcu ketika men­dengar bahwa anak angkatnya ini juga adik angkat Han Han, menjadi terkejut dan berseru, “Ah, sungguh tak kusangka Kakak angkatmu adalah Han Han. Bocah itu! Ceritakanlah, Lulu anakku, tentu menarik ceritamu. Sin Lian, duduklah dan kita mendengarkan ceritanya agar semua persoalan menjadi terang.”

Setelah mereka bertiga duduk, Lulu menghela napas dan berkata, “Kasihan sekali kakakku Han Han. Karena mengira murid-murid Siauw-lim-pai hendak me­rampok dan menghadang para piauwsu Pek-eng-piauwkiok yang menjadi murid­-murid Hoa-san-pai. Kemudian melihat mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dia mengira murid-murid Hoa­-san-pai yang melakukannya sehingga da­lam marahnya dia membunuh beberapa orang murid Hoa-san-pai. Akibatnya, dia dimusuhi oleh Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!”

Sin Lian yang hatinya menjadi lega mendengar bahwa gadis cantik yang kini menjadi adik angkatnya itu ternyata bukan kekasih Han Han seperti yang tadinya ia sangka, menjadi tertarik sekali dan berkata, “Ceritakanlah.... ceritakan apa yang telah terjadi sesungguh­nya.”

Maka berceritalah Lulu tentang peris­tiwa yang ia alami bersama Han Han itu, mulai dari pertemuan mereka dengan para piauwsu Pek-eng-piauwkiok sampai terjadi pertempuran dengan para peng­hadang dan munculnya Sin Lian, kemudi­an betapa Han Han membunuh murid-murid Hoa-san-pai, kemudian betapa dia dan kakaknya bertemu dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.

“Ahhh....!” Lauw-pangcu menepuk pahanya setelah mendengar penuturan Lulu bahwa jelas sekali kedua fihak terpancing dan menjadi korban adu domba yang diatur oleh fihak Mancu. “Han Han menjadi korban fitnah. Hal ini harus segera dilaporkan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai, Lian-ji, agar permusuhan antara kedua partai dapat dihentikan dan juga fitnah atas diri Han Han dibersihkan.”

“Baik, Ayah. Memang semestinya be­gitu. Aku pun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan ketua Siauw-lim-pai untuk pergi mencari lima orang guruku, akan tetapi sungguh heran, lima orang guruku itu tidak dapat kutemukan jejak­nya. Sebaiknya aku pergi sekarang juga melaporkan hal penting itu kepada ketua Siauw-lim-pai.”

“Harap engkau tidak usah sibuk-sibuk dan capek-capek, Enciku yang baik. Para pimpinan Siauw-lim-pai sudah tahu akan hal itu karena aku dan Han-koko telah pula datang mengunjungi Siauw-lim-si untuk menghadap ketuanya.”

“Apa? Dia yang telah difitnah dan dianggap musuh oleh Siauw-lim-pai malah datang mengunjungi Siauw-lim-si? Begitu beraninya?” Sin Lian terbelalak saking herannya. Sungguh gadis Mancu ini membawa cerita yang makin aneh saja. Juga Lauw-pangcu menjadi terkejut dan heran.

“Memang Han-ko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling berani di seluruh dunia ini!” kata Lulu dengan bangga. “Dia tidak akan mundur selangkah pun dalam membela kebenaran. Jangankan hanya mendatangi Siauw-lim-si menghadap ketua Siauw-lim-pai, biarpun harus meridatangi neraka menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut), jika dia benar, akan dia lakukan tanpa mengenal takut!” Berceritalah dara yang lincah dan yang amat mencinta kakaknya ini akan sepak terjang Han Han ketika mengunjungi Siauw-lim-pai. Diceritakannya pula betapa Han Han dikeroyok oleh para tokoh Siauw-lim-pai, betapa Han Han masuk bertemu dengan Kian Ti Hosiang. Mendengar penurutan ini, makin lama Sin Lian menjadi makin terheran-heran dan diam-diam ia menjadi kagum sekali ke­pada Han Han yang memang amat me­narik hatinya dan yang sudah ia buktikan sendiri kelihaiannya. Setelah Lutu ber­henti bercerita, keadaan sunyi. Lauw- pangcu termangu penuh keheranan, se­dangkan Sin Lian termenung mengenang­kan keadaan pemuda itu.

“Wah, ceritamu sungguh hebat!” Akhirnya Lauw-pangcu berkata sambil menarik napas paniang. “Anakku Lulu, tahukah engkau bahwa dahulu Kakakmu itu adalah muridku? Sungguh tidak nyana dia dapat menjadi seorang yang berilmu tinggi, juga engkau dapat memiliki sin-kang dan gin-kang yang amat luar biasa. Siapakah guru kalian?”

Biarpun Han Han pernah memesan agar dia tidak bicara tentang Pulau Es dengan siapapun juga, akan tetapi karena Lauw-pangcu telah menjadi ayahnya se­dang Sin Lian menjadi cicinya, Lulu me­rasa tidak perlu merahasiakan hal itu dari mereka. Ia lalu menjawab.

“Guru kami adalah pemilik Pulau Es....”

“Heiii! Pulau Es....?” Lauw-pangcu dan Sin Lian makin terkejut. Benar-benar makin banyak hal tak terduga-duga dan aneh-aneh mereka dengar dari mulut Lulu! “Pulau Es yang semenjak puluhan tahun dicari oleh semua tokoh kang-ouw?”

Lulu mengangguk. “Secara kebetulan saja kami dapat sampai di pulau itu dalam keadaan hampir mati setelah meng­alami ancaman maut berkali-kali.” Ia lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Han Han ketika menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo sampai terbawa badai dalam perahu rusak sehingga mereka mendarat di Pulau Es, menemukan peninggalan kitab-kitab pelajaran penghuni Pulau Es dan belajar ilmu selama enam tahun di tempat itu. Betapa kemudian dengan susah payah mereka dapat meninggalkan tempat itu.

Lauw-pangcu dan Sin Llan mendengar­kan penuturan itu dengan mata terbela­lak dan mulut ternganga, merasa seperti mendengarkan dongeng saja. Cerita itu amat mempesona mereka, bukan hanya karena keanehan cerita itu sendiri, me­lainkan juga karena pandainya Lulu bercerita schingga untuk waktu yang cukup lama kedua orang ini seperti meng­gantungkan pandang mata mereka kepada bibir tipis merah yang bergerak-gerak manis ketika bercerita.

“Yang berilmu tinggi-tinggi dan ber­usaha mati-matian mencari Pulau Es, tidak pernah berhasil, dua orang bocah yang tidak mencarinya malah mendapat­kan. Ha-ha, inilah yang disebut jodoh yang terjadi atas kehendak Thian! Pantas saja engkau lihai sekali, anakku, kiranya engkau menjadi ahli waris pusaka-pusaka mujijat yang terdapat di Pulau Es. Sung­guh engkau beruntung sekali, anakku.”

“Aah, ilmu yang berhasil kumiliki dengan latihan berat tidak ada artinya, Ayah. Aku memang bodoh dan kurang tekun seperti Han-ko. Dibandingkan de­ngan Han-koko, ilmuku sama sekali tidak ada artinya, dia sepuluh kali lebih lihai daripada aku!”

Sin Lian makin kagum kepada Han Han dan diam-diam jantungnya berdebar. Hatinya makin tertarik.

“Sekarang di manakah.... Han Han? Mengapa engkau berpisah darinya?” Per­tanyaan ini biasa saja, akan tetapi begitu menyebut Han Han, muka Sin Lian men­jadi merah sekali. Hal ini tidak terlepas dari pandang mata Lulu yang tajam dan pandang mata Lauw-pangcu yang berpe­ngalaman.

Akan tetapi karena Lulu diingatkan kepada kakaknya dan hatinya menjadi gelisah, dia tidak ingin menggoda enci angkatnya itu, bahkan lalu menghela napas dan mengerutkan alisnya yang hi­tam panjang, “Ah, hal inilah yang menyusahkan hatiku. Ketika kami saling berpisah, aku tertawan oleh si keparat Ouwyang Seng murid Setan Botak, se­dangkan kakakku ketika itu dikeroyok dua oleh Setan Botak dan Iblis Muka Kuda!”

“Apa? Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee mengeroyok Han Han?” Lauw-pangcu berteriak dan Sin Lian pun menjadi pucat mukanya. Mereka mengenal siapa dua orang datuk hitam ini, tahu pula akan kehebatan ilmu kepandaian mereka. Seorang saja di an­tara mereka sudah merupakan lawan yang amat hebat, bahkan ke tujuh orang sakti, Siauw-lim Chit-kiam ketika meng­hadapi Setan Botak seorang diri saja hampir kalah. Apalagi kini dua orang datuk hitam itu maju mengeroyok!

“Mana mungkin ia dapat menangkan dua orang datuk hitam itu!” Suara Sin Lian ini terdengar lirih, penuh kengerian dan kekhawatiran karena sembilan bagian perasaannya mengatakan bahwa tentu Han Han tewas kalau dikeroyok dua orang datuk hitam itu, betapapun lihainya Han Han.

“Tidak, kakakku tidak akan kalah!” Lulu berkata. “Tidak mungkin Han-ko sampai kalah! Dia sakti dan cerdik, tentu dapat mengatasi dua orang kakek iblis itu! Akan tetapi, entah ke mana perginya. Aku sedang mencarinya sehingga tiba di sini dan bertemu dengan Ayah. Sekarang aku akan pergi mencarinya lagi sampai bertemu.”

“Lulu, anakku yang baik. Jangan eng­kau pergi dulu. Setelah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau, mana boleh engkau lalu pergi lagi begitu saja? Eng­kau telah memiliki sin-kang yang luar biasa, melebihi aku sendiri, bahkan mung­kin sin-kangmu lebih hebat daripada Sin Lian. Akan tetapi ilmu silatmu belum matang, dan sementara ini engkau ting­gallah di sini bersamaku agar dapat kauperdalam ilmu silatmu. Aku yang akan menggemblengmu sehingga kalau ilmu silatmu sudah matang, kiranya aku sendiri sama sekali tidak akan dapat melawanmu, engkau tidak membutuhkan ­waktu lama untuk mematangkan ilmu silatmu. Juga Encimu dapat membantu­mu. Adapun tentang Han Han, aku akan mengerahkan anak buahku untuk mem­bantumu mencari kabar tentang Kakak­mu itu. Kiranya akan lebih berhasil daripada kalau engkau pergi mencari sendiri.”

“Ucapan Ayah benar sekali, Adik Lulu. Sebagai murid Siauw-lim-pai, tentu saja aku tidak boleh mengajarkan ilmu silat Siauw-lim-pai kepada orang lain bukan murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi agaknya sedikit banyak aku akan dapat membantumu untuk mematangkan ilmu silatmu sendiri yang hebat.”

Dibujuk oleh ayah dan enci angkat yang amat disukainya itu, akhirnya Lulu menurut dan demikianlah, mulai hari itu Lulu digembleng ilmu silat oleh Lauw-pangcu dan Sin Lian. Di bawah bimbing­an Lauw-pangcu yang berpengalaman, benar saja Lulu dapat mematangkan ilmu silatnya dan Sin Lian sendiri terheran-heran menyaksikan kehebatan sin-kang adik angkatnya itu yang benar-benar lebih kuat dari dia sendiri, juga ilmu silat yang dimainkan Lulu selain aneh, juga indah dan amat kuat. Benar pula seperti yang diramalkan Lauw-pangcu, setelah ilmu silatnya dimatangkan di bawah petunjuk Lauw-pangcu yang ber­pengalaman dan Sin Lian yang berilmu tinggi, Lulu memperoleh kemajuan hebat sekali sehingga kalau menghadapi lawan, kiranya dia lebih berbahaya daripada Lauw-pangcu, bahkan lebih sukar dilawan daripada Sin Lian sendiri. Hal ini adalah karena ilmu silatnya tidak dikenal orang, berbeda dengan ilmu silat Sin Lian yang merupakan ilmu aseli dari Siauw-lim-pai.

Semenjak pertemuannya dengan Lulu dan mengangkat Lulu sebagai anak, se­mangat Lauw-pangcu dalam perjuangan menentang bangsa Mancu menurun secara menyolok sekali. Biarpun ia tidak pernah melarang anak buah Pek-lian Kai-pang melanjutkan perjuangan mereka menen­tang pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu), namun ia sendiri tidak aktip bergerak, bahkan lalu mengundurkan diri kembali ke sarang Pek-lian Kai-pang di lembah Sungai Huang-ho sebelah selatan di mana ia bersama Sin Lian setiap hari berlatih silat dengan Lulu.

Hubungan antara Lulu dan Sin Lian makin akrab dan mereka saling mencinta seperti adik dan kakak kandung. Lulu memang memiliki sifat periang jenaka dan lincah sehingga mendatangkan rasa suka kepada siapa saja. Juga ia jujur, polos terbuka di samping memiliki ke­cerdikan dan wawasan yang tajam. Pada suatu hari, beberapa bulan setelah mere­ka tinggal di lembah Huang-ho, Lulu ditanggap (dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan) oleh Sin Lian tentang diri Han Han. Diam-diam Lulu mentertawa­kan encinya ini, akan tetapi secara cer­dik dan nakal ia malah bercerita tentang Han Han secara berlebihan. Dipuji-puji­nya kakaknya itu setinggi langit, dipuji kegagahannya, ketampanannya, kebaikan budinya dan kepandaiannya.

“Di waktu kecil dahulu, dia adalah sahabatku,” kata Sin Lian perlahan de­ngan pandang mata melamun, terkenang akan masa lalu

“Ya, dia pernah bercerita tentang dirimu, Enci Lian.”

“Betulkah? Apa yang ia katakan tentang aku?” tanya Sin Lian, wajahnya berseri.

Lulu tersenyum. “Ia pernah mengata­kan bahwa engkau adalah seorang yang amat baik budi.”

Wajah Sin Lian menjadi merah, akan tetapi matanya bersinar-sinar. “Ah, da­hulu aku bersikap galak kepadanya, mana baik budi?”

“Akan tetapi, dia betul-betul memuji­mu, agaknya dia senang akan kegalakan­mu, Enci Lian. Kakakku memang sabar dan suka mengalah, hal ini di samping segala kebaikannya membuat banyak gadis jatuh hati kepadanya. Di sepanjang perjalanan kami kulihat banyak wanita jatuh cinta kepadanya.”

Sin Lian menengok dan memandang dengan gerakan cepat. “Hemmm, bagai­mana engkau bisa tahu, Adikku?”

“Hi-hik! Bagaimana aku tidak tahu? Pandang mata mereka itu! Pandang mata yang mereka tujukan kepada Han-ko terlalu jelas, tampak sinar-sinar cinta kasih memancar dari mata mereka dan Dewi Asmara mengintai dari balik se­nyum mereka.”

“Ihhh, genit kau!” Sin Lian mencela dan mencubit lengan adiknya.

“Aduh!” Lulu menggosok-gosok kulit lengan yang dicubit encinya. “Tanganmu mencubit aku, akan tetapi pikiranmu mencubit Han-ko, bukankah begitu, Enci Lian?”

“Idiiih! Engkau benar-benar centil, Adik Lulu! Sudan, jangan menggoda orang, ceritakan yang betul.”

“Aku sudah bercerita sebenarnya, masa aku membohong? Bahkan murid Im-yang Seng-cu, Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li yang cantik jelita dan gagah perkasa, juga jatuh cinta kepada Kakak Han Han. Baru berkenalan beberapa hari saja mereka sudah begitu akrab, pendekar wanita itu seperti menjadi bayangan tubuh Han-ko, tidak mau berpisah lagi, setiap gerak-geriknya jelas menunjukkan cinta kasih yang mendalam.” Lulu menghentikan kata-katanya ketika melihat betapa wajah Sin Lian yang tadinya merah itu kini berubah agak pucat dan sinar mata yang tadinya berseri itu men­jadi agak muram. Ia merasa kasihan dan cepat-cepat ia menyambung.

“Akan tetapi, Hoa-san Kiam-li itu akan kecelik kalau mengira bahwa Han-koko mudah saja terjebak panah asmara. Wah, sama sekali tidak! Han-koko ter­lalu murni dan bersih, tidak pernah meng­ingat tentang asmara, apalagi bicara tentang itu! Han-koko adalah seorang pemuda perkasa yang belum pernah di­usik panah asmara, masih bersih dan mulus seperti mutiara belum digosok!” Senang sekali hati Lulu melihat betapa kata-katanya mengembalikan warna me­rah di kedua pipi enci angkatnya. “Dan lagi Han-koko tentu akan merundingkan soal jodohnya dengan aku, kalau sudah tiba saatnya, karena di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa kecuali aku yang menjadi adiknya. Dan aku tentu tidak akan menyetujui dia berjodoh dengan Hoa-san Kiam-li atau gadis manapun juga, biar puteri kaisar sendiri!”

Dengan wajah heran akan tetapi tidak keruh lagi pandang matanya, Sin Lian memandang Lulu dan bertanya, “Mengapa tidak setuju, Adikku?”

“Karena aku telah menemukan se­orang gadis yang betul-betul mencintanya dengan seluruh jiwa raganya, yang betul-betul cantik jelita, betul-betul gagah perkasa, dan betul-betul berbudi mulia sehingga cocok sekali untuk menjadi teman hidup Han-koko selamanya.”

Kembali wajah cantik itu kehilangan sinarnya dan suara Sin Lian agak menggetar ketika bertanya, “Siapa.... siapa dia, Adikku?”

Lulu menengadah, seolah-olah hendak minta nasehat dari awan dan perlahan-lahan ia menjawab, “Gadis itu, yang ku­anggap paling cocok untuk menjadi jodoh Han-koko, dikatakan dekat amatlah jauh­nya karena dia sendiri tidak tahu bahwa dialah pilihanku, dikatakan jauh amatlah dekatnya karena saat ini ia duduk di depanku....”

“Aduuuhhhhh.... Aduuuhhhhh.... tobaaat, Enci....!” Lulu menjerit dan meronta-ronta sehingga cubitan pada pahanya terlepas dan ia meloncat dan lari menjauhkan diri dari Sin Lian yang mu­kanya menjadi merah seperti udang di­rebus. “Wah, engkau terlalu, Enci Lian! Mencubit paha orang sampai lecet! Awas kau, kelak kulaporkan kepada Han-koko, biar kau dicubit sampai habis! Hi-hik!”

“Lulu....!” Suara Sin Lian terdengar marah, “Engkau yang terlalu! Engkau sudah melampaui batas mempermainkan aku. Apakah engkau sengaja hendak menghina Encimu?”

Melihat Sin Lian marah, Lulu meng­hampiri dan merangkulnya, mencium pipinya dan merebahkan muka di dada yang membusung itu. “Enci Lian, Enciku yang baik, masa engkau tega marah-marah kepada Adikmu? Aku sayang ke­padamu, Enci, dan biarpun aku tadi main-main, akan tetapi main-main karena ada dasarnya. Main-main yang bisa menjadi sungguhan! Atau.... engkau hendak menyangkal dan membohongi hati sendiri bahwa.... bahwa engkau mencinta Han-koko?”

Terdengar isak tertahan di dada Sin Lian. Ia balas memeluk adiknya dan ti­dak menjawab. Ketika Lulu mengangkat muka memandang dan melihat Sin Lian menitikkan dua butir air mata, Lulu ber­tanya lirih.

“Salahkah dugaanku, Enci? Kelirukah aku bahwa engkau mencinta Han-ko?”

Sin Lian menggigit bibir, mengejapkan mata, kemudian.... mengangguk! Lulu tersenyum gembira lalu berloncatan me­nari-nari mengelilingi Sin Lian. “Bagus.... bagus....! Wah, aku girang sekali! Engkau Enciku menjadi Sosoku (Kakak Iparku) sama saja! Wah, aku bahagia sekali, Enci.... eh, calon Soso yang baik!” Lulu merangkul dan menciumi kedua pipi Sin Lian.

Mau tidak mau Sin Lian tertawa juga, mengusap air matanya dan memegang kedua pundak Lulu. “Lulu, adikku yang nakal! Hanya kepadamulah aku sudi membuka rahasia hatiku ini. Bahkan di depan Ayahku sekalipun aku tidak akan suka mengaku. Akan tetapi, hendaknya engkau menutup mulut dan memegang rahasia ini, Adikku. Biarpun aku mencinta orang, harus diselidiki lebih dahulu apakah orang itu akan membalas cintaku. Dan.... dan.... dia masih belum diketahui berada di mana. Karena itu, kuminta, mulai detik ini, jangan kau bicara lagi tentang dia.”

Lulu mengangguk. “Tak mungkin aku tidak boleh bicara tentang dia, hanya aku tidak akan menyinggung perasaanmu, Enci Lian. Dan aku berjanji kelak akan mengusahakan dia membalas cinta kasihmu.”

“Sudahlah, lebih baik mari kita berlatih lagi. Kemajuanmu sudah hebat dan beberapa bulan lagi saja aku takkan kuat menandingimu.”

Kedua orang dara jelita itu lalu berlatih silat dengan tekun. Sampai setahun lebih Lulu berada di lembah Huang-ho, berlatih silat di bawah bimbingan ayah dan enci angkatnya sehingga dia mem­peroleh kemajuan hebat. Kemudian tim­bul lagi rasa rindu dan khawatirnya ter­hadap Han Han, maka ia minta diri dari ayah angkatnya untuk pergi mencari kakaknya. Lauw-pangcu sebetulnya tidak rela melihat puteri angkatnya yang amat dikasihinya itu pergi, akan tetapi karena maklum bahwa hati Lulu tidak akan ba­hagia sebelum dapat menemukan kembali Han Han terpaksa ia berkata.

“Aku merasa menyesal sekali bahwa usahaku menyebar anak buahku untuk mencari Kakak angkatmu itu selama ini sama sekali tidak ada hasilnya, Lulu. Tidak ada seorang pun di dunia kang-ouw mendengar atau melihat adanya Han Han. Oleh karena itu, sungguhpun hatiku tidak akan tenteram melihat engkau pergi sendiri, namun aku tidak dapat mencegahmu. Engkau hati-hatilah di dalam perjalanan, Lulu, karena sungguhpun sekarang tingkat kepandaianmu sudah melampaui aku, namun di dunia ini ba­nyak sekali terdapat orang sakti yang menyeleweng daripada kebenaran.”

“Jangan khawatir, Ayah. Kalau aku telah bertemu dengan Han-ko, aku akan mengajak dia datang ke sini, terutama sekali untuk bertemu dengan Lian-ci....” Lulu melirik ke arah Sin Lian dengan pandang mata dan senyum menggoda.

Wajah Sin Lian berubah merah sungguhpun hatinya merasa senang mendengar janji Lulu. Cepat-cepat ia bekata, “Lulu-moi, kita dapat melakukan perjalanan bersama. Aku pun hendak pergi mencari lima orang suhuku dan mengajak mereka mencari Puteri Nirahai yang menurut dugaanmu menjadi biang keladi semua permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dan yang tentu mengetahui siapa sebenarnya yang membunuh Liok-suhu dan Chit-suhu.”

Demikianlah, dua orang dara jelita itu pergi dari lembah Huang-ho yang ter­sembunyi, meninggalkan Lauw-pangcu yang bersunyi diri dan yang telah meng­undurkan diri dari perjuangan, bahkan yang mulai menjauhkan diri dari urusan duniawi karena merasa sudah terlalu tua ditambah kesadaran bahwa ikut sertanya dalam perang sama sekali tidak akan mengubah keadaan menjadi baik, bahkan sebaliknya. Ia kini tekun bersamadhi semenjak kedua orang puterinya pergi, bahkan menyerahkan urusan Pek-lian Kai-pang kepada para pembantunya.

Adapun Sin Lian dan Lulu tidak lama melakukan perjalanan bersama. Sepekan kemudian mereka terpaksa harus berpisah karena Lulu hendak mencari kakaknya di kota raja, sedangkan Sin Lian hendak pergi ke Siauw-lim-si lebih dulu untuk mendengar apakah lima orang suhunya telah kembali ke sana. Kedua orang gadis remaja ini saling berangkulan ke­tika hendak berpisah dan berjanji akan segera saling bertemu kembali di lembah Huang-ho.

“Jangan lupa, Adikku. Bulan tiga ta­hun depan, jadi kurang enam tujuh bulan lagi adalah ulang tahun ke tujuh puluh dari Ayah kita, tepatnya jatuh pada pertengahan bulan. Aku bermaksud mengada­kan sedikit pesta ulang tahun, dan eng­kau harus membantu dan hadir,” demi­kian pesan Sin Lian.

“Baik, Enci Lian. Aku pasti akan bersama kakakku!”

Sin Lian merasa betapa jantungnya berdebar dan pipinya panas, kemudian ia merangkul sekali lagi dan mencium pipi adik angkatnya, lalu berkata, “Selamat jalan, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Lulu.”

Maka berpisahlah kakak dan adik ang­kat ini. Lulu berdiri memandang encinya yang berlari cepat ke selatan itu sambil tersenyum. Gadis yang amat baik budi, pikirnya, lagi pula gagah perkasa dan cantik jelita. Tepat menjadi isteri Han-ko. Akan tetapi di mana kakaknya? Ter­ingat akan ini, cepat ia membalikkan tubuhnya dan lari ke utara, arah yang berlawanan dengan larinya Sin Lian. Ia harus dapat bertemu dengan kakaknya yang sudah lama dirindukannya itu.



***



Telah lama kita meninggalkan Han Han. Apakah yang telah terjadi dengan Han Han setelah dalam usahanya menyelamatkan Kim Cu dia sendiri terpelanting dan terjerumus ke dalam jurang yang seolah-olah tak berdasar saking curamnya? Benarkah kekhawatiran para nikouw, Kim Cu, dan para nelayan bahwa pemuda itu tentu tewas dan hancur se­hingga mayatnya pun tak dapat ditemu­kan? Memang, kalau menurut pengertian dan perhitungan manusia, selamatnya Kim Cu setelah terjatuh dari tempat tinggi itu merupakan hal yang ajaib dan kiranya tidak mungkin ada orang lain yang sebaik itu nasibnya. Han Han pasti hancur lebur tubuhnya! Akan tetapi pe­ngertian manusia sesungguhnya amat tidak berarti, amat kecil dan jauh dari­pada cukup untuk dapat menjangkau dan menjenguk untuk mengukur kekuasaan Tuhan yang terlampau besar untuk dapat dipertimbangkan dan diukur oleh penger­tian manusia. Logika atau nalar manusia amatlah kecil. Apalagi tentang hidup dan mati. Jika Tuhan menghendaki kematian seseorang, ke mana pun dia pergi, biar­pun dia bersembunyi ke lubang semut, tidak urung maut akan datang menjemput! Jika menghendaki sebaliknya, biar se­laksa macam malapetaka mengancam, dia akan lolos dari bencana!

Demikianlah pula dengan Han Han. Agaknya Tuhan memang belum menghendaki pemuda ini tamat riwayat hidup­nya, sungguhpun nyawanya sudah berada di ujung rambut, nyaris ia tewas. Ketika ia meluncur turun, lebih cepat daripada tubuh Kim Cu yang ringan, ia menimpa air lebih keras daripada gadis itu. Hal ini adalah karena selama melayang turun ini, pikiran Han Han penuh dengan ke­khawatiran akan diri gadis itu. Dia se­lalu ingat akan menyelaniatkan Kim Cu, maka tubuhnya melakukan gerakan me­lawan sehingga tubuh itu terbanting ke­ras ke permukaan air. Hebat sekali aki­batnya, membuat matanya gelap dan ia tenggelam dalam keadaan setengah pinp­san. Kebetulan sekali ia jatuh di bagian yang dalam dan airnya amat deras se­hingga begitu ia jatuh dan tenggelam, tubuhnya disambar dan dihanyutkan air amat cepatnya. Dalam keadaan pening dan setengah pingsan itu, Han Han meng­gerakkan kaki tangannya, akan tetapi kakinya yang buntung terasa nyeri sekali, hampir tak tertahankan. Untung baginya bahwa dia memang telah memiliki sin-­kang yang tinggi dan selama enam tahun menggembleng diri secara tekun sehingga ia telah memiliki kekuatan menahan napas. Ia membiarkan dirinya hanyut, menahan napas dan perlahan-lahan meng­gerakkan kedua lengan sehingga akhirnya ia dapat juga mengambang setelah ter­bawa hanyut amat jauh. Aliran sungai itu makin berbelak-belok dan arusnya kuat sekali. Tubuh Han Han terbanting-banting batu karang menonjol sehingga pakaian­nya robek-robek, berikut kulit tubuhnya. Kakinya terasa makin nyeri, sampai me­nusuk ke jantung, membuat napasnya terengah dan pandang matanya gelap. Kalau saja Tuhan tidak menolongnya, tentu Han Han tewas dalam keadaan seperti itu. Sungguh amat kebetulan bah­wa pada saat itu ia tidak sadarkan diri, pingsan benar-benar, tangannya meraih dan kebetulan lengannya dapat merangkul sebatang pohon yang hanyut. Kedua tangannya mencengkeram ranting-ranting dan daun, dan pingsanlah dia setengah bergantung pada cabang pohon, dibawa hanyut arus air yang makin kuat.

Han Han sama sekali tidak tahu karena dia tidak sadar ketika cabang pohon itu dihanyutkan air yang makin kuat arusnya dan tiba di tempat yang sempit dan menurun. Kalau saja ia tidak me­meluk kuat-kuat cabang itu di waktu hampir pingsan sehingga tubuhnya kini terbelit-belit ranting, tentu ia sudah terlepas dan tewas ditelan air. Arus air makin kuat dan tibalah di sebuah tikung­an. Cabang pohon itu terhalang batu dan karena cepatnya cabang itu dihanyutkan, ketika menghantam batu karang terdo­rong minggir, ditangkap pusaran air dan dihanyutkan ke pinggir di mana air terpecah memasuki sebuah terowongan. Ki­ranya sungai di bagian ini mempunyai banyak cabang-cabang, yaitu lubang-lubang di antara batu gunung yang me­rupakan gua-gua atau terowongan. Ca­bang pohon yang membawa tubuh Han Han hanyut memasuki terowongan yang amat panjang dan gelap. Lebih dari dua kilometer panjang terowongan ini, di mana air yang masih deras mengalir di bawah gunung karang!

Sampai setengah hari lamanya Han Han dibawa hanyut air sungai. Ketika siuman dari pingsannya, ia telah meng­geletak di antara batu-batu kali yang halus dan berwarna hitam. Cabang pohon tadi hanyut oleh air terdampar ke ping­gir dan terjepit di antara batu-batu. Un­tung bagi Han Han bahwa ia rebah ter­lentang sehingga hanya tubuhnya saja terendam air dangkal, mukanya terapung di permukaan air. Ia membuka mata, mengeluh perlahan karena merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri. Akan tetapi pi­kirannya masih sadar dan segera ia da­pat mengingat kembali keadaannya. Ta­hulah dia bahwa secara gaib sekali Tuhan telah menolongnya sehingga dia tidak tewas ketika terjatuh dari atas tebing yang curam itu. Sejenak ia teringat akan nasib Kim Cu dan cepat ia menggerak­kan tubuh, menekankan kedua tangan pada batu hitam.

“Kim Cu....” Ia berseru perlahan. Matanya memandang ke arah air sungai yang masih deras mengalir di tengah, mencari-cari penuh harapan. Kalau dia selamat, kemungkinan besar Kim Cu selamat pula. “Kim Cu....!” Makin keras ia memanggil. “Aku selamat, tentu engkau pun selamat....!”

“Orang muda yang lancang! Boleh jadi engkau bebas dari cengkeraman air, akan tetapi jangan harap dapat terbebas dari tanganku!”

Han Han yang kuat menahan dingin­nya air karena sin-kangnya, kini menggigil mendengar suara itu. Suara yang merdu dan halus sekali, akan tetapi mengandung hawa dingin yang membeku. Cepat ia memutar tubuh, berpegang kepada batu dan melihat seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya dan ia bengong. Nenek itu hanya berkaki satu! Namun, biar kakinya hanya tinggal satu, nenek itu dapat berdiri tegak di atas batu. Kaki tunggalnya itu berada di tengah-tengah bawah tubuhnya, sukar dikatakan kaki kanan ataukah kaki kiri. Berdiri tegak tak bergerak seperti sebuah arca, tangan kiri memegang tongkat sehingga lengan bajunya tersingkap dan tampak sebuah tangan yang kecil dan berkulit halus putih. Wajah yang keriputan kurus itu masih membayangkan kecantikan masa muda dan tubuhnya masih kecil ramping. Akan tetapi pandang mata nenek itu membuat Han Han mengkirik. Pandang mata yang dingin sekali. Setelah kini ia membalikkan tubuh memandang ke darat, tampak olehnya jauh di belakang wanita tua itu sebuah pondok butut





Penglihatan mata Han Han amat ta­jam. Dia dapat mengenal orang pandai, akan tetapi pada saat itu ia bengong dan memeras otak untuk mengingat-ingat karena ia merasa yakin bahwa ia pernah bertemu dengan wanita ini! Akan tetapi mendengar ucapan wanita tua itu, ia ter­kejut dan berkata.

“Maaf, locianpwe. Mengapa locian­pwe mengatakan saya lancang?”

“Hemmm, aku sudah bersumpah untuk membunuh setiap orang yang berani men­datangi tempat pertapaanku ini dan eng­kau telah lancang berani datang ke sini!”

“Tapi.... saya.... tidak sengaja datang ke tempat ini!” Han Han mempro­tes.

“Tidak peduli. Engkau telah mengotori tempat ini dan engkau harus mati!” Tiba-tiba, sukar diketahui oleh Han Han ba­gaimana wanita itu bergerak, tahu-tahu tubuh wanita itu telah menyambar ke arahnya dan tongkat di tangan kiri itu menyambar ke arah kepalanya. Han Han masih berdiri di dalam air, sebatas paha. Melihat sambaran yang dahsyat luar biasa ini, Han Han cepat melempar tubuh ke belakang.

“Byurrr....!” Ia terluput dari maut, akan tetapi ia gelagapan dan cepat me­megang batu karang, bangun berdiri lagi. Wanita itu telah berdiri di atas batu seperti tadi, pandang matanya yang di­ngin bersinar marah, keningnya yang tipis berkerut.

“Hemmm, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, coba kau­hadapi pukulan ini!”

Sebelum Han Han dapat mencegah atau membantah, Nenek itu telah men­dorong dengan tangan kanannya ke depan. Serangkum hawa yang amat dingin me­nyambar ke arah Han Han. Cepat pe­muda itu membuang diri ke kanan.

“Pyarrrrr!” Batu hitam besar yang berada di sebelah kiri pemuda itu pecah berantakan terkena hawa pukulan yang amat dahsyat itu.

“Locianpwe, tahan....!” Han Han berseru, akan tetapi pukulan ke dua sudah datang pula, lebih hebat dari tadi. Han Han kembali mengelak ke kiri.

“Byurrrr!”

Han Han menengok dengan kaget menyaksikan betapa hawa pukulan itu membuat air di belakangnya menjadi bongkahan-bongkahan salju membeku! Maklumlah ia bahwa nenek itu memiliki Im-kang yang amat dahsyat dan kini teringatlah ia di mana ia telah “bertemu” dengan nenek itu.

“Locianpwe....!”

Nenek itu sudah memukul lagi, tidak ada kesempatan lagi bagi Han Han untuk mengelak. Terpaksa ia menggerakkan tangan menangkis dengan cara mendorongkan tangan kanan ke depan sambil ­mengerahkan tenaga sin-kang. Gerakan ini tentu saja meniru gerakan yang pernah dia pelajari dari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, yaitu Swat-im Sin-ciang.

“Desssss....! Aihhhhh....!” Tubuh nerek itu bergoyang-goyang dan ia me­ngeluarkan seruan kaget, sedangkan tubuh Han Han terbanting ke belakang, mulutnya mengeluarkan darah segar! Keadaan pemuda ini masih belum pulih, belum sembuh benar dari penderitaan luka di kaki yang dibuntung, apalagi baru saja dia dipermainkan arus air sehingga dia amat lelah dan tenaga yang ia keluarkan tadi hanyalah sisa tenaga yang tinggal separuh.

Pertemuan tenaga Im-kang dahsyat itu membuat Han Han terluka di sebelah dalam tubuhnya dan ia terhuyung, me­megang batu dan jatuh di atas batu hi­tam.

“Keparat! Engkau pandai Swat-im Sin-ciang? Ada hubungan apa engkau dengan Si Setan Muka Kuda Siangkoan Lee?”

Akan teitapi pertanyaan yang terde­ngar merdu dan terlalu dingin itu seperti tidak terdengar oleh Han Han yang ke­palanya terasa pening. “Locianpwe.... saya pernah bertemu dengan locianpwe.... di Istana Pulau Es....”

Terdengar wanita tua itu mengeluar­kan suara melengking dan tahu-tahu tu­buhnya telah berada di atas batu depan Han Han, tongkatnya sudah diangkat ke atas, siap ditusukkan ke ubun-ubuh kepala Han Han.

“Apa kau bilang....? Pulau Es....? Orang muda, sekarang ada tiga alasan bagiku untuk membunuhmu. Pertama, engkau lancang masuk ke sini, ke dua, engkau ada hubungan dengan Siangkoan Lee dan Swat-im Sin-ciang, ke tiga, engkau tahu akan Pulau Es....!”

Tongkat diangkat ke atas, ujungnya hendak ditusukkan ke kepala Han Han. Pemuda ini melihat datangnya bahaya maut, akan tetapi kepalanya terlalu pe­ning dan pikirannya tidak karuan. Entah bagaimana, ia merasa pasti akan mati dan ia terbayang akan biruang es yang mati di Pulau Es, maka bibirnya mengeluh, “Biruang Es itu telah mati.... mati digigit ular merah....” Dan dia pun roboh pingsan, terkulai lemas.

“Biruang.... biruang es....? Mati....?” Tongkat yang sudah siap menghabiskan nyawa Han Han itu perlahan-lahan turun. Nenek itu tertegun dan termenung me­mandang tubuh Han Han yang terkulai, kemudian tongkatnya bergerak, mencokel tubuh Han Han dan sekali digerakkan tubuh Han Han terlontar ke atas, disam­but dengan lengan kanan, dikempit ke­mudian nenek itu meloncat-loncat dengan satu kakinya, cepat bukan main dari batu ke batu, menuju ke pondok kecil.

“Luar biasa....! Kakinya juga buntung sebelah....!” gumamnya ketika tadi melihat betapa kaki pemuda itu juga buntung sebelah. Keadaan pemuda itu menarik perhatiannya, begitu tertarik se­hingga ia tidak ingin lagi membunuhnya. Pertama, pemuda ini, yang keadaannya sudah lemah, sanggup menangkis pukulan Im-kangnya. Hal ini saja sudah mengejutkannya karena tadi ia merasa betapa tangkisan itu amat kuatnya. Si Muka Kuda sendiri belum tentu dapat bertahan dan menangkis sekuat itu. Ke dua, pe­muda itu mengatakan pernah bertemu dengannya. Ke tiga, pemuda itu menyebut-nyebut biruang es yang mati digigit ular merah, hal ini menguatkan bukti bahwa pemuda ini berar-benar pernah berada di Pulau Es. Dan kini ke empat, kenyataan bahwa pemuda ini seorang yang berkaki satu menambah keinginan tahunya.

Ketika Han Han membuka matanya, pertama yang terasa olehnya adalah rasa pahit di mulut dan bau harum di hidung. Ia mengecap mulutnya dan tahulah ia bahwa dia telah dicekoki Obat selagi pingsan dan teringatlah ia akan semua pengalamannya tadi. Cepat ia bangkit duduk di atas pembaringan itu dan me­lihat nenek tadi sedang duduk di atas kursi di sudut bilik, memandangnya pe­nuh perhatian. Melihat nenek itu, Han Han maklum bahwa biarpun tadi ia di­serang sampai roboh pingsan, namun akhirnya nenek itu telah menolongnya. Ia lalu meloncat turun dari atas pembaring­an, lupa akan kakinya yang buntung se­hingga akibatnya ia roboh terguling.

“Aduhhh....!” Kakinya terasa nyeri sekali, namun ia memaksa diri merangkak dan berlutut dengan sebelah kaki di depan nenek itu.

“Huh, canggung benar!” Si Nenek mencela. “Sudah berapa lama kakimu buntung?”

“Baru.... baru beberapa hari, locianpwe.”

Nenek itu mengangguk-angguk. Kira­nya pemuda ini malah masih menderita luka pada kakinya yang buntung! Ia ma­kin heran dan kagum betapa pemuda yang terluka hebat masih memiliki te­naga sedemikian kuatnya. “Sekarang le­kas ceritakan semua, bagaimana engkau tahu tentang biruang es dan kapan per­nah bertemu denganku. Kalau ada yang kausembunyikan, aku tidak akan mengampuni nyawamu lagi!”

“Locianpwe, saya bernama Sie Han dan bukanlah seorang yang suka mem­bohong atau menipu, apalagi lancang memasuki tempat kediaman orang-orang suci. Saya tiba di tempat ini lanpa saya sengaja, juga saya dahulu tiba di Pulau ES secara kebetulan, terbawa badai dalam perahu rusak. Sampai enam tahun lamanya, saya bersama Adik angkat saya berdiam di Pulau Es, melatih diri dengar ilmu yang terdapat di kitab-kitab milik penghuni istana di Pulau Es. Setelah biruang es mati tergigit ular merah be­racun dan melihat betapa pulau itu sesungguhnya tedapat ular merah yang amat berbahaya, akhirnya saya dan Adik saya berhasil melarikan diri keluar dari pulau itu. Ketika tadi.... ataukah kemarin.... saya melihat locianpwe di pinggir sungai, segera saya mengenal locianpwe. Bukankah locianpwe ini ada­lah orang yang patungnya berada di Pu­lau Es? Saya ada melihat tiga buah pa­tung di sana, patung seorang pria tam­pan gagah yang ada bekas tusukan pada dahinya, patung seorang wanita cantik yang pandang matanya menyeramkan, dan ke tiga adalah patung wanita cantik yang.... eh, seperti locianpwe....”

“Buntung kakinya?” Nenek itu bertanya dan suaranya agak menggetar.

Han Han mengangguk sambil menatap wajah nenek itu. Setelah kini sikap di­ngin nenek itu lenyap oleh perasaan terharu, tampaklah olehnya sifat lemah lembut seperti yang terdapat pada muka patung. Kiranya wanita yang pada dasarnya berwatak lembut ini sengaja menutup watak aselinya dengan muka dingin, dan hal ini hanya terjadi pada orang yang mengalami penderitaan batin yang amat hebat.

Tiba-tiba nenek itu mengangkat muka dan ternyata ia telah dapat menguasai getaran perasaannya, matanya bersinar dingin kembali dan ia berkata, “Benar, akulah patung wanita kaki buntung itu! Dan karena engkau telah mengetahui rahasia ini, telah pula menemukan tempat persembunyianku, lebih kuat lagi alasanku untuk membunuhmu! Bersiaplah, engkau untuk mati!” Wanita kaki buntung itu menggerakkan tangan hendak me­nyerang.

Han Han maklum bahwa dia bu­kanlah lawan wanita ini, namun telah menjadi wataknya untuk tidak menyerah begitu saja kepada siapapun juga, apalagi kalau dia hendak dibunuh. Timbul rasa penasaran di hatinya dan biarpun tubuh­nya lemah dan rasa nyeri di kakinya belum lenyap, ia bersikap nekat hendak melawan dan membela diri. Timbul pula rasa marah. Telah dengan susah payah ia membawa surat-surat peninggalan pria penghuni Pulau Es, dan sekarang secara kebetulan ia bertemu dengan seorang di antara tiga patung di Istana Pulau Es, akan tetapi tanpa dosa apa-apa ia akan dibunuh!

“Nanti dulu, Locianpwe!” Ia berseru, suaranya nyaring sekali karena ia me­ngerahkan khi-kang sehingga nenek itu terkejut dan menahan pukulannya. “Saya tidak merasa mempunyai kesalahan apa-apa, mengapa locianpwe hendak mem­bunuh saya? Bukankah perbuatan itu kejam dan ganas sekali? Kalau locian­pwe memaksa diri hendak membunuh saya, sebagai seorang manusia terpaksa saya akan melawan locianpwe! Akan tetapi, karena saya pasti akan tewas di tangan locianpwe biarlah saya menyerah­kan surat-surat peninggalan penghuni Pulau Es kepada locianpwe agar tugas saya ini ada yang melanjutkan. Apalagi karena locianpwe adalah seorang anggauta keluarga penghuni Pulau Es, tentu lebih tahu kepada siapa surat-surat itu harus diserahkan!” Sambil berkata dengan nada keras, Han Han mengeluarkan kan­tung yang berisi surat-surat yang ia te­mukan dalam laci meja di kamar pria penghuni Istana Pulau Es, kemudian dilemparkannya kantung itu kepada Si Ne­nek yang cepat menyambar dengan tangannya.

“Plakkk....! Aihhhhh....!” Tubuh nenek itu tiba-tiba lenyap dan Han Han memandang dengan mata terbelalak. Tadi ketika melontarkan kantung surat-surat itu ia sengaja mengerahkan seluruh te­naga sin-kangnya. Nenek itu menerima lontaran kantung dengan mudah dan tu­buh Si Nenek seperti sehelai daun kering tertiup angin badai, melayang terbang keluar pintu dan beberapa detik kemudi­an sudah meluncur lagi memasuki pon­dok, berdiri di atas kaki tunggalnya dan memandangnya dengan terbelalak. Mereka sama-sama terheran karena peristiwa ini menunjukkan bahwa Si Nenek mengagumi kehebatan tenaga sin-kang Han Han, sebaliknya selama hidupnya baru sekali ini Han Han menyaksikan gin-kang yang sedemikian tingginya sehingga gerakan nenek itu seperti orang menghilang saja!

Akan tetapi betapa herannya hati Han Han ketika melihat nenek itu berdiri dengan muka pucat memandang surat-surat dalam kantung yang telah dibuka­nya, bibir nenek itu gemetar, air mata mengalir turun dari kedua matanya, ta­ngannya dengan jari-jari menggigil meng­ambil surat satu demi satu, lalu tiba-tiba ia menciumi surat-surat itu, men­dekap di dadanya dan terdengar jeritnya lirih.

“Aduh.... Suheng Han Ki Koko.... (Kanda Han Ki)....!” Nenek itu menekuk lutut kaki tunggalnya dan mendeprok lalu menangis tersedu-sedu, amat mengenas­kan.

Han Han melongo, apalagi dalam tangisnya, nenek itu berkali-kali menye­but nama Han-koko (Kakak Han), meng­ingatkan ia akan suara tangisan dan panggilan adiknya, Lulu!

“Kakanda Han.... kalau memang mencinta mengapa tidak dari dahulu berterus terang....? Kalau benar engkau mencinta aku seorang.... ah, kalau aku tahu.... masa aku akan mengalah begitu saja, membiarkan suci membuntungi kakiku....? Aduh, Han-koko.... Han-suheng.... betapa kejamnya engkau....!”

Han Han tetap berdiri seperti patung memandang nenek itu, jantungnya ber­debar penuh ketegangan, juga penuh ke­haruan. Nenek itu seperti seorang anak kecil, menangis terisak-isak dan bicara sendiri seperti orang gila. Satu demi satu surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah itu dibacanya, dan tiap kali mem­baca sebuah surat ia menangis makin sedih. Akhirnya semua surat habis dibaca nenek itu, surat-surat itu berserakan di atas tanah lantai pondok dan Han Han melihat betapa air mata nenek itu membuat beberapa huruf hitam menjadi lun­tur dan kotor. Nenek itu sendiri masih terisak-isak, seolah-olah dia telah lupa kepada Han Han dan tenggelam dalam kedukaan yang amat hebat. Wajah yang kurus itu sepucat mayat, kosong tak ada gairah hidup. Sepuluh jari tangannya mencengkeram dan membuka, seperti orang sekarat, tanda bahwa jantungnya seperti diremas-remas oleh penderitaan batin.

Han Han merasa kasihan sekali. Setelah menanti lebih dari dua jam dan nenek itu masih saja belum dapat me­nguasai kesedihannya, ia lalu menjatuh­kan diri berlutut lagi sambil berkata.

“Locianpwe, ampunkanlah saya kalau penyerahan surat-surat itu mendukakan hati locianpwe.... kalau saya tahu.... ah, lebih baik saya buang saja surat-surat itu. Saya tidak ingin melihat locianpwe berduka seperti ini....”

Nenek itu menoleh dan memandang Han Han seperti orang bingung, seperti heran mengapa ada seorang pemuda di situ. Akan tetapi ia segera teringat kem­bali dan kini pandang matanya menyapu surat-surat yang berserakan di atas lan­tai. “Mengapa aku tidak berduka? Dela­pan puluh tahun lamanya aku berada di sini, menyiksa diri dan hati, menanam kebencian yang menjangkau langit, menyimpan sakit hati sedalam laut dan kini, surat-surat itu membuka rahasia, me­nyatakan bahwa semua penderitaanku selama puluhan tahun ini sesungguhnya sia-sia belaka, hanya muncul sebagai akibat salah faham! Dia mencintaku seorang....! Ha-ha-heh-heh-hi-hik! Ingin aku melihat wajah Maya Suci kalau dia mem­baca surat ini. Sebuah saja! Hi-hi-hik!” Nenek itu kini tertawa-tawa dan Han Han merasa amat terharu, seperti di­tusuk jantungnya karena nenek itu ter­tawa seperti setan menangis!

“Ahhhhh! Apa artinya semua ini?” Tiba-tiba Si Nenek mencelat dan seketika Han Han bingung karena kembali nenek itu lenyap dari pandang matanya. Ketika ia mencari-cari dengan pandang matanya, bayangan putih berkelebat seperti kilat menyambar dan tahu-tahu nenek itu su­dah berada kembali di tempat itu, ta­ngannya memegang obor dan dibakarnya­lah semua surat-surat yang berserakan di atas lantai. Ia kini tersenyum-senyum, tertawa-tawa melihat api yang membakar surat-surat itu menyala-nyala di sekelilingnya, kemudian ia melempar obor itu keluar pondok dan berkata.

“Han-koko, biarlah rahasia ini tetap tersimpan dalam hati kita. Biarlah kelak kita bicarakan cinta kasih antara kita kalau kita saling berjumpa di akhirat!” Dalam ucapan ini terkandung kasih sa­yang yang amat besar, suara nenek itu terdengar merdu dan penuh getaran ka­sih, membuat Han Han menjadi makin terharu hatinya.

Setelah surat-surat yang terbakar itu habis menjadi abu, nenek itu mengibas­kan tangannya dan abu surat itu melayang keluar pondok, sehingga lantal itu kini bersih, sedikit pun tidak ada bekas-bekas surat yang dibakar. Nenek itu lalu memandang Han Han yang masih berlutut, suaranya kembali terdengar dingin.

“Siapa tadi namamu?”

Han Han masih merasa tegang dan heran mendengar betapa nenek itu menyebut nama si penulis surat sebagai “Kanda Han”, nama yang sama benar dengan namanya sungguhpun kemudian sebutan-sebutan lain membuat ia tahu bahwa laki-laki penulis surat itu tentulah suheng dari nenek ini yang bernama Han Ki. Maka ia lalu menjawab.

“Nama saya Sie Han, locianpwe.”

“Hemmm, benar namamu itu yang tadi mendatangkan rasa benci di hatiku dan membuat aku ingin membunuhmu. Akan tetapi sekarang tidak lagi, aku tidak membenci nama Han. Tidak! Eh, orang muda, sungguh keadaanmu meng­herankan hatiku. Engkau sudah menemu­kan Pulau Es, mempelajari ilmu di sana sehingga tenaga sin-kangmu luar biasa sekali. Kemudian engkau membawa surat-surat itu yang memang ditujukan kepadaku dan.... dan kakimu juga buntung. Siapa yang membuntungi kakimu?”

“Yang membuntungi adalah Toat-beng Ciu-sian-li....”

“Wah-wah! Bu Ci Goat perempuan tak tahu malu itu? Hemmm, mengapa?”

Karena maklum bahwa wanita tua yang menjadi seorang di antara penghuni Pulau Es ini adalah seorang yang amat sakti, maka Han Han tidak berani ber­bohong!

“Dahulu, di waktu masih kecil, saya pernah menjadi muridnya dan karena saya tidak senang, melarikan diri darinya, setelah berjumpa kembali saya lalu dihukum potong kaki.”

“Bu Ci Goat sungguh tak tahu diri! Tidakkah dia tahu bahwa engkau telah menjadi ahli waris Pulau Es?”

Han Han yang tidak mengerti, apa hubungannya nenek ini dengan Toat-beng Ciu-sian-li yang disebut Bu Ci Goat itu, mengangguk.

“Sudah tahu bahwa engkau telah men­jadi murid kami bertiga, masih dia be­rani mengganggu? Apakah engkau kalah olehnya?” Nenek itu membentak, agak­nya penasaran dan marah.

Mendengar itu, giranglah hati Han Han. Kiranya nenek yang aneh ini telah menganggapnya sebagai murid! Jelas bahwa nenek itu tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya, maka ia cepat berkata.

“Teecu (Murid) melawan sekuatnya, akan tetapi selain Toat-beng Ciu-sian-li amat lihai, juga Kang-thouw-kwi Gak Liat membantunya sehingga teecu ter­tawan dan kaki teecu dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li.”

“Biar dikeroyok dengan Si Setan Bo­tak sekalipun, sebagai murid Istana Pulau Es, amat memalukan kalau engkau sam­pai kalah!” Nenek itu berkata penasaran.

“Maafkan atas kebodohan teecu, lo­cianpwe. Teecu telah beruntung sekali menemukan kitab-kitab rahasia Pulau Es dan mempelajarinya, akan tetapi karena teecu tidak menerima petunjuk langsung dari locianpwe bertiga, bagaimana teecu dapat mewarisi ilmu kepandaian tinggi? Mohon petunjuk locianpwe.”

Sejenak nenek itu memandang Han Han, kemudian menghela napas panjang. “Hemmm, setelah menemukan Pulau Es dan mempelajari kitab-kitab di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Kemudian engkau dengan setia membawa surat-surat peninggalan suheng­ku dan menyampaikannya kepadaku, berarti engkau adalah orang sendiri yang patut mendengar riwayat kami. Sekarang kakimu buntung, sama dengan kakiku, padahal selama delapan puluh tahun aku menciptakan ilmu silat yang khusus un­tuk seorang yang sebelah kakinya bun­tung, kalau tidak kuajarkan kepadamu, habis kepada siapa lagi? Akan tetapi sebelum itu engkau sebagai murid tung­gal harus mengenal siapakah sebetulnya guru-gurumu, siapakah penghuni-penghuni Pulau Es yang selama ini menjadi rahasia dan tidak dikenal, sungguhpun setiap orang kang-ouw mengharapkan kemurahan penghuni-penghuni Pulau Es untuk meng­ulurkan tangan memberi satu dua ilmu pukulan kepada mereka. Dari manakah tokoh-tokoh macam Setan Botak men­dapatkan Hwi-yang Sin-ciang, Si Muka Kuda mendapatkan Swat-im Sin-ciang kalau tidak dari Pulau Es!”

Han Han terkejut. “Teecu mendengar mereka itu menerima petunjuk dari se­orang manusia dewa bernama Koai-lojin....”

“Dialah suhumu yang pertama, Sie Han. Koai-lojin adalah suhengku, adalah penulis surat-surat yang kausampaikan kepadaku.”

“Ahhhhh....!” Han Han makin terkejut dan terheran-heran.

“Dengariah baik-baik, muridku. Akan kuceritakan secara singkat kepadamu rahasia besar itu. Guru kami, manusia dewa Bu Kek Siansu pada akhir kali muncul sebagai manusia, menggembleng kami bertiga di Pulau Es. Hanya tiga orang murid beliau, pertama adalah Kam Han Ki yang menjadi keponakan pende­kar sakti Suling Emas. Ke dua adalah seorang puteri suku bangsa Khitan yang cantik jelita bernama Maya, masih ke­turunan dari Ratu Khitan sendiri. Adapun orang ke tiga yang menjadi murid manu­sia dewa itu adalah aku sendiri, Khu Siauw Bwee.” Sampai di sini nenek itu menghela napas dan pandang matanya merenung jauh. Han Han merasa betapa jantungnya berdebar-debar. Nama-nama yang disebutkan itu membuat ia kaget, heran, kagum dan mengkirik karena nama-nama itu pernah ia dengar dari murid­-murid Ma-bin Lo-mo, dan dianggap se­bagai nama tokoh-tokoh dalam dongeng!

“Kami bertiga menerima gemblengan Bu Kek Siansu guru kami, tidak hanya dalam ilmu silat, melainkan juga ilmu sastra dan ilmu batin. Tentu saja aku tidak dapat menandingi kelihaian suciku Maya, apalagi suhengku Kam Han Ki. Akhirnya tiba saatnya guru kami meninggalkan kami dengan pesan agar kami bertiga meninggalkan Pulau Es dan hidup berpencar, berpisahan karena kalau kami bertiga berkumpul, akan timbul bencana di antara kami, bencana yang ditimbulkan oleh nafsu!”

“Ahhhhh, teecu ingat akan bunyi syair yang diukir pada dinding istana Pulau Es....!” Tanpa disadarinya Han Han berseru karena memang ia teringat akan syair itu, ditimbulkan oleh ucapan nenek buntung tentang malapetaka yang ditim­bulkan nafsu.

“Syair apa? Ketika aku pergi, tidak ada terdapat syair di dinding! Bagaimana bunyinya?”



Betapa ingin mata memandang mesra

betapa ingin jari tangan membelai sa­yang

betapa ingin hati menjeritkan cinta

namun Siansu berkata: bebaskan diri­mu

daripada ikatan nafsu!

Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?

Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang

dunia takkan pernah tercipta

betapapun juga,

cinta segi tiga tak membahagiakan

menyenangkan yang satu

menyusahkan yang lain

akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan

ikatan persaudaraan dilupakan

akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.

Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!



Ketika Han Han mengucapkan syair ini dengan suara lantang dan jelas, nenek itu memandangnya dengan bengong dan menggantungkan pandang mata pada bibir Han Han yang bergerak-gerak. Kemudian, setelah Han Han menghabiskan syair, keadaan menjadi sunyi dan nenek itu kembali menarik napas panjang.

“Ahhh, seolah-olah aku mendengar dia sendiri membacakan tulisan syairnya! Dialah yang menulis itu, Sie Han dan dapat kubayangkan betapa dia menulisnya dengan hati bercucuran darah. Kasihan Han Ki suheng!”

“Apakah yang terjadi di antara subo (Ibu Guru) bertiga?” Han Han yang makin terseret dan tertarik kini merasa dirinya dekat dengan nenek itu dan otomatis ia tidak lagi menyebut locianpwe melainkan menyebut subo!

“Apa yang terjadi? Telah tersurat dalam syair Koai-lojin Kam Han Ki tadi! Engkau tidak perlu tahu, muridku, urusan itu adalah urusan yang menyangkut kepribadian dan akan tetap menjadi rahasia kami.” (Baca:ISTANA PULAU ES).

“Ahhhh....!” Han Han tak dapat menahan seruan kecewa ini.

Nenek itu tersenyum dan makin jelaslah kini persamaan antara wajah keriputan ini dengan wajah cantik jelita dari patung di dalam Istana Pulau Es. “Asmara gagal hanya merupakan cerita sedih. Engau yang masih bersih dan hatimu belum disentuh tangan asmara yang jahil perlu apa tahu akan hal itu? Pendeknya, terjadi kekusutan dalam per­talian saudara kami bertiga, atau lebih tepat, antara Maya Suci dan aku. Dari dua orang kakak beradik seperguruan yang saling mencinta, kami berubah men­jadi dua orang musuh, seperti dua ekor harimau memperebutkan kelinci. Kami bertanding dan aku lengah, sebelah kakiku buntung....”

“Yang mana, subo? Teecu tidak dapat membedakan, yang kanan ataukah yang kiri?”

Kembali nenek itu tersenyum dan kini Han Han merasa yakin bahwa sesungguh­nya nenek buntung yang mengaku bernama Khu Siauw Bwee ini sesungguhnya merupakan seorang yang amat halus budi dan peramah, hanya menjadi “beku” di luarnya, mungkin karena penderitaan batin yang hebat.

“Yang kiri, Sie Han. Kelak kalau engkau sudah mempelajari ilmu ciptaanku, engkau pun akan dapat mengubah kaki buntung menjadi kaki tunggal. Setelah kakiku buntung sebelah, Maya Suci men­jadi menyesal seperti gila, lalu mem­bunuh diri.”

“Membunuh diri?” Han Han terbelalak, teringat ia akari patung wanita yang luar biasa cantiknya, yang telah mendatangkan perasaan aneh di dadanya ketika memandang patung itu, perasaan cinta dan tergila-gila.

“Begitulah agaknya, dia melempar dirinya ke dalam jurang yang amat curam. Dan demikianlah, kami tiga murid Bu Kek Siansu yang tadinya rukun dan setia penuh kasih sayang, menjadi terpecah-pecah. Maya suci mungkin mati mungkin tidak, akan tetapi selama delapan puluh tahun aku tidak lagi mendengar tentang dia. Juga aku tidak pernah tentang mendengar tentang dia.... ah, surat-suratnya....” Sepasang mata itu menjadi basah akan tetapi mulutnya tersenyum bahagia.

Han Han termenung. Teringat ia akan segala penuturan Im-yang Seng-cu ten­tang nenek-moyangnya. Dia adalah cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat, Si Dewa Pe­merkosa Wanita, manusia cabul dan se­sat. Dalam darahnya mengalir darah Suma yang terkutuk dan jahat. Akan tetapi, juga mengalir darah keturunan keluarga Kam, keluarga pendekar sakti Suling Emas. Dan kini, penghuni Pulau Es yang merupakan manusia setengah dewa, manusia rahasia yang disebut oleh orang-orang kang-ouw dengan sebutan Koai-lojin (Orang Tua Aneh), ternyata bernama Kam Han Ki, keponakan Suling Emas, jadi ada hubungan darah dengan dia sendiri! Dorongan perasaan Han Han membuat ia menggerak-gerakkan bibir hendak memperkenalkan diri, akan tetapi ia teringat bahwa hal itu adalah urusan pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan nenek yang menjadi gurunya ini. Pula, dia sudah mengambil keputusan, untuk selanjutnya menggunakan she Sie tidak mau memakai she Suma yang amat dibencinya itu. Lebih baik dia tidak mengaku kepada siapapun juga bahwa dia masih keturunan keluarga Suma yang sama sekali tidak boleh dibanggakan.

Nenek itu kini tersenyum lagi. “Orang-orang di dunia kang-ouw tidak ada yang mengenalku dan tentu menganggap aku telah tewas karena selama delapan puluh tahun aku bersembunyi di sini. Demikian pula dengan Maya Suci, mungkin dia sudah mati karena tidak pernah muncul di dunia. Hanya suheng yang melanjutkan sepak terjang guru kami. Dahulu, guru kami Bu Kek Siansu selalu merantau dan melakukan hal-hal yang luar biasa, melindungi yang benar dan menyadarkan yang salah. Dahulu, nama Bu Kek Siansu kadang-kadang disebut Koai-lojin, dan sekarang pun suheng disebut orang Koai-lojin sehingga tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Koai-lojin (Orang Tua Aneh). Mungkin juga suhu, mungkin juga suheng!”

“Subo, apakah.... apakah sukong Bu Kek Siansu itu masih hidup? Teecu pernah mendengar dongeng bahwa beliau telah menjadi seorang kakek tua renta di jamannya pendekar sakti Suling Emas. Kalau begitu, berapakah usianya?”

Nenek itu menggeleng-geleng kepala. “Tidak ada manusia yang mengetahuinya. Beliau boleh jadi masih hidup, boleh jadi sudah tiada. Dan tidak ada perlunya bagi kita untuk mengetahui akan hal itu. Yang penting sekarang, engkau akan kulatih dengan ilmu silat yang kuciptakan selama puluhan tahun di sini, ilmu yang khusus untuk seorang yang berkaki satu. Mari, kau ikutlah!”

Han Han tidak berani bertanya-tanya lagi dan segera bangkit lalu berloncatan dibantu tongkatnya keluar dari pondok mengikuti gurunya. Nenek itu memang buntung seperti dia, namun gerakannya cepat dan lincah sekali, jauh melebihi gerakan orang yang tidak buntung kaki­nya. Dia berloncatan dengan payah di­bantu tongkatnya, akan tetapi nenek itu berloncatan tanpa dibantu tongkat, dan kakinya seperti ada pernya, menotol­-otol tanah tanpa mengeluarkan suara dan tubuhnya begitu ringan seperti terbang saja, makin lama makin jauh dan cepat loncatannya.

Dengan susah payah Han Han mengikuti nenek itu dan baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa daerah tempat tinggal nenek itu merupakan daerah yang amat aneh, dacrah penuh batu-batu licin hitam, akan tetapi anchnya, di antara batu-batu itu dapat tumbuh pohon-pohon dan yang jarang terdapat di daerah tanah biasa. Nenek itu berhenti di sebuah telaga yang mempunyai air jernih kebiruan, akan tetapi juga penuh pula dengan batu-batu yang licin menghitam, permukaannya mengkilap tertimpa cahaya matahari.

Setelah Han Han dapat menyusulnya dan pemuda ini berdiri di dekatnya, ne­nek buntung itu lalu berkata, “Berapa lama engkau berada di Pulau Es?”

“Kurang lebih enam tahun, subo.”

“Apa saja yang kaupelajari selama itu?”

“Maaf, subo. Teecu memang bodoh. Kitab-kitab di sana terlalu tinggi bagi teecu, bahkan setiap kali teecu berusaha melatih diri dengan petunjuk kitab di sana, teecu jatuh sakit dan peredaran darah teecu menjadi kacau. Yang cocok hanya kitab-kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan kitab-kitab Siang-mo-kiam.”

“Eh, Siang-mo-kiam? Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa? Kau ketemu denggn mere­ka dan menerima warisan kitab mereka pula? Mereka adalah murid-murid pen­dekar sakti wanita Mutiara Hitam, kau tahu?” Khu Siauw Bwee, nenek itu, ma­kin heran dan terkejut saja mendengar pengakuan Han Han tadi.

Secara singkat Han Han lalu menutur­kan pengalamannya ketika bertemu de­ngan Sepasang Pedang Iblis yang saling bunuh dan yang menyerahkan kitab kepadanya, kemudian menceritakan pula betapa selama enam tahun di Pulau Es, dia hanya mencurahkan tenaga dan per­hatiannya untuk melatih sin-kang, sedang­kan dalam hal ilmu silat, biarpun ia membaca banyak kitab-kitab di situ, namun karena tidak ada yang membimbing, dia tidak dapat memetik hasilnya.

Mendengar ini, nenek itu menggeleng-geleng kepala penuh takjub. “Dan tanpa kepandaian silat, hanya mengandalkan sin-kang saja, engkau berani menentang orang-orang macam Kang-thouw-kwi, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li? Gila benar! Akan tetapi ada untungnya bagimu, Sie Han. Ilmu ciptaanku ini ada­lah khusus untuk orang buntung sehingga orang yang berkaki dua tidak akan mungkin dapat mempelajarinya dengan sempurna. Andaikata engkau sebelum buntung sudah mempelajari banyak ilmu silat, tentu saja ilmu silat biasa bukan untuk orang buntung, agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mempelajari ilmuku ini, karena engkau akan terpengaruh oleh ilmu-ilmu silat biasa. Aku sendiri, karena sebelum buntung telah menjadi seorang ahli silat yang sukar dicari bandingnya, baru setelah delapan puluh tahun dapat menciptakan ilmu ini. Engkau masih ko­song dan telah memiliki dasar sin-kang yang kuat. Bagus sekali. Engkau akan cocok sekali dan dapat jauh lebih mudah mempelajarinya dari siapapun juga. Nah, sekarang aku hendak mencoba dulu kekuatan sin-kangmu. Engkau telah kuat menangkis pukulanku, akan tetapi aku masih belum yakin akan ukuran kekuat­anmu, apakah perlu ditambah atau tidak. Masukkan tanganmu di dalam air ini dan kerahkan sin-kangmu melawanku.”

Han Han meniru gurunya yang duduk di atas batu. Gurunya telah memasukkan tangan kirinya ke dalam air, sebatas siku. Ia pun lalu mengulur tangan kanan­nya, dimasukkan ke dalam air telaga di dekat batu yang didudukinya itu. Ter­kejutlah ia ketika merasa betapa air itu amat dinginnya. Tadinya, ia mengira bahwa memang air telaga itu dingin, akan tetapi ketika merasa betapa air itu makin lama makin dingin, tahulah dia bahwa rasa dingin itu adalah akibat pe­ngerahan tenaga sakti Im-kang dari guru­nya yang lihai.

“Pertahankan dan lawanlah!” Gurunya berkata dan tiba-tiba air itu menjadi begitu dinginnya sampai membeku dan berubah menjadi es sehingga tangan Han Han tidak dapat dicabut kembali! Han Han terkejut dan cepat ia ­mengerahkan tenaga sin-kangnya. Dia maklum bahwa gurunya mempergunakan Im-kang dan untuk melawannya ia lalu mengerahkan sin-kangnya, menggunakan tenaga Yang-kang. Seperti telah diketahui, dahulu Han Han melatih Yang-kang menurut ilmu Hwi-yang Sin-ciang dari Si Kepala Botak Gak Liat dengan merendam tangan di air masakan batu bintang yang mendidih, bahkan di dalam api, kemudian ia memperdalam dan memperkuat sin-kangnya di Pulau Es. Biarpun bertahun-tahun melatih diri dengan sin-kang, kiranya tingkat Han Han tidak akan mungkin dapat melawan tingkat Khu Siauw Bwee murid Bu Kek Siansu ke tiga ini kalau tidak terjadi ketidakwajaran dalam tubuh Han Han sebagai akibat malam terkutuk ketika ibu dan encinya diperkosa para perwira Man­cu itu. Karena ia dibenturkan ke dinding pada saat ia dalam keadaan marah, men­dendam dan batinnya tertekan, terjadi kekacauan susunan syaraf dalam tubuhnya yang mendatangkan kekuatan-kekuatan mujijat.

Air yang tadinya membeku dan amat dingin itu, kini makin lama makin men­cair dan hawa dingin perlahan-lahan ber­ubah menjadi hangat, bahkan tak lama kemudian, setelah mengerahkan seluruh tenaga sehingga mukanya berubah merah, air itu mulai mendidih! Hanya air di sekitar kedua tangan mereka saja, yaitu yang dekat batu, yang terpengaruh sin-kang Han Han yang amat hebat.

Khu Siauw Bwee diam-diam menjadi kaget, heran dan kagum sekali. Akan tetapi nenek ini masih belum puas dan tiba-tiba ia mengubah sin-kangnya, me­ngerahkan Yang-kang sehingga air itu menjadi makin panas mendidih yang tak­kan tertahankan oleh kulit manusia biasa.

“Lawanlah yang ini!” serunya dengan pandang mata berseri saking girangnya.

Ketika merasa betapa air itu men­jadi amat panas dan wajah gurunya yang tadi agak pucat kehijauan ketika me­ngerahkan Im-kang kini berubah menjadi merah, tahulah Han Han bahwa gurunya sudah mengubah sin-kangnya, menjadi Yang-kang. Maka dia pun cepat meng­ubah sin-kangnya, menjadi tenaga dingin yang amat kuat untuk melawan tenaga panas gurunya.

Pertandingan adu tenaga sakti ini berjalan amat lama, namun akhirnya nenek itu merasa puas dan harus meng­akui bahwa muridnya ini memiliki dasar kekuatan sin-kang yang tidak lumrah! Ia menghentikan ujiannya lalu berkata.

“Sekarang kaulihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat yang kuciptakan semenjak kakiku buntung.” Nenek itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking dan.... lenyaplah dia dari atas batu di depan Han Han! Pemuda ini terkejut dan cepat memandang ke depan.

“Aihhhhh....!” Ia melongo dan matanya terbelalak, mulutnya ternganga keti­ka akhirnya ia dapat menemukan gurunya dengan pandang matanya. Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat melihat dengan jelas dan hanya melihat sinar dan ba­yangan berkelebatan dari batu ke batu, cepatnya bukan main, seperti kilat me­nyambar. Bayangan gurunya itu seperti sebuah mainan bola yang dilontarkan kian kemari, dari sebuah batu melayang ke batu lain, akan tetapi tidak ada sedetik lamanya hinggap di sebuah batu karena begitu menotolkan kaki turun terus men­celat lagi ke jurusan lain, kadang-kadang ke belakang, ke depan, ke kiri dan ada kalanya ke atas. Kecepatannya melebihi gerakan seekor burung walet! Makin di­pandang, makin pening dan berkunang pandang mata Han Han. Tiba-tiba sinar berkelabatan lenyap dan gurunya telah berdiri kembali di sampingnya, di atas batu sambil tersenyum, sedikit pun tidak kelihatan lelah.

“Bagaimana kaulihat?”

Han Han menjatuhkan diri berlutut. “Hebat luar biasa.... akan tetapi, bagaimana teecu akan dapat mempelajari ilmu sehebat itu, subo?”

“Bisa, tentu saja bisa, apalagi engkau memiliki kemauan keras dan memiliki sin-kang yang lebih dari cukup.”

“Teecu amat bodoh, subo. Dua buah kitab dari suhu dan subo Siang-mo-kiam saja yang sudah teecu hafalkan di luar kepala, hanya dapat teecu petik tentang pelajaran sin-kangnya, sedangkan pelajaran ilmu silat pedangnya teecu sama sekali tidak dapat melatihnya,” kata Han Han menggeleng kepala.

“Karena engkau belum punya dasar, Han-ji (Anak Han). Akan tetapi setelah engkau berlatih dengan ilmuku, kelak engkau akan dapat mempelajari ilmu silat yang bagaimanapun juga. Dengar baik-baik. Ilmu ciptaanku ini kuberi nama Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Badai dan Kilat). Aku menciptakannya menjadi gerakan-gerakan kilat yang berdasarkan ilmu gaya yang hanya dimiliki dan di­rasakan oleh orang buntung berkaki satu seperti kita. Karena kaki kita buntung dan hanya sebuah, tiap kali kita bergerak lalu menghentikan gerakan kita tidak dapat langsung berdiri tegak seperti orang berkaki utuh. Kita akan terdorong oleh gerakan kita sendiri sehingga terhuyung ke depan, ke belakang atau ke kanan kiri menurut gerak dorongan dari mana kita datang, selalu bergoyang-goyang untuk mempertahankan keseim­bangan tubuh. Sebuah bola pun akan lama sekali baru dapat diam, dan begitu bergerak, bola itu akan bergoyang-goyang ke kanan kiri sampai dapat keseimbangan baru diam. Nah, gaya inilah yang kupakai sebagai landasan sehingga terciptalah Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun ini. Ilmu ini hanya dapat dikuasai dan dirasakan oleh manusia kaki satu, sukar diselami dan dipelajari oleh orang yang kakinya utuh.”

Han Han mengangguk-angguk. Pemuda ini memang pada dasarnya memiliki ke­cerdikan yang menonjol, apalagi perubah­an mujijat dalam dirinya membuat ia memiliki kekuatan otak yang tidak lu­mrah manusia maka sekali mendengarkan ia sudah dapat menangkap inti sari yang dimaksudkan oleh penjelasan Khu Siauw Bwee.

“Karena ada tenaga mendorong oleh gerakan pertama, maka timbullah daya tolak yang dapat kita pergunakan untuk bergerak lagi, atau menyambung gerak­an pertama kita itu. Gerakan berlandas­kan daya tolak ini lebih hebat karena kita dapat meminjam gerak dorongan ditambah gin-kang kita sendiri, maka begitu kita menggunakan daya tolak un­tuk melakukan gerakan ke dua, gerakan kita akan menjadi lebih cepat. Gerakan ke tiga, ke empat dan selanjutnya akan makin cepat. Seperti sebuah bola karet yang kita ketukkan ke atas lantai dengan tangan, makin lama akan melambung makin cepat, demikian pula gerak silat dari Soan-hong-lui-kun ini memiliki ke­cepatan yang tak terbatas. Karena itu, hal yang paling sukar dan paling penting dikuasai adalah penggunaan jurus-jurus yang akan menahan gerakan daya tolak berantai ini. Karena kalau hal ini tidak kaukuasai benar-benar, engkau akan menjadi permainan dari kekuatan daya tolak berantai itu sehingga engkau sendiri tak­kan dapat menghentikan gerakanmu se­hingga tentu saja engkau akan mudah celaka di tangan lawan! Soan-hong-lui-kun ini kubagi menjadi tujuh puluh dua jurus, dan nanti mulai jurus ke tiga pu­luh tujuh, separuh dari ilmu silat ini, engkau akan mulai kulatih dengan pe­nguasaan gerakan yang timbul dari daya tolak berantai ini.”

Demikianlah, mulai saat itu, Han Han digembleng oleh nenek buntung yang luar biasa itu, sedikit demi sedikit, sejurus demi sejurus. Han Han memiliki kemauan yang hebat dan ketekunan yang mentak­jubkan, sehingga biarpun nenek itu sen­diri amat bersemangat melatih muridnya, ia masih kadang-kadang menggeleng ke­pala penuh kagum menyaksikan ketekun­an dan keuletan muridnya. Seperti juga dalam hal kekuatan sin-kang, ia harus mengakui bahwa dalam hal kebulatan tekad dan besarnya kemauan, ia tidak dapat menandingi muridnya ini! Makin sayanglah ia kepada Han Han, apalagi ketika muridnya itu ia minta mencerita­kan riwayatnya, ia merasa betapa riwayat hidup muridnya itu malah lebih menge­naskan daripada riwayatnya sendiri. Ia melihat munculnya seorang manusia yang lebih besar daripada dia, dan bertekad untuk menurunkan semua kepandaiannya kepada Han Han.

Makin lama Han Han berlatih di ba­wah gemblengan Khu Siauw Bwee, makin terbukalah matanya bahwa sebetulnya, sebelum ia berlatih silat di bawah bimbingan gurunya yang baru, ia telah mem­punyai banyak ilmu, hanya ilmu-ilmu itu terpendam dan hanya diketahui teorinya belaka. Kini, ia mulai dapat melatih semua ilmu yang pemah ia pelajari, bah­kan permainan pedang dari kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis yang bernama Siang-mo Kiam-sut, yaitu peng­gabungan dari ilmu Pedang Iblis Jantan dan Iblis Betina, kini dapat ia mainkan dengan tongkatnya!

Setahun lamanya Han Han tekun me­latih diri dengan Ilmu Soan-hong-lui-kun. Ketekunannya sungguh tidak lumrah manusia. Dia tidak peduli akan siang atau malam, pagi maupun sore, terus berlatih, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar, hanya tidur kalau matanya sudah tak mau dibuka, dan ha­nya mengaso kalau tubuhnya sudah tidak dapat digerakkannya lagi saking lelahnya. Dengan semangat dan ketekunan seperti ini, tidaklah mengherankan kalau dalam waktu setahun saja sudah dapat mengu­asai ilmu silat itu dan pada pagi hari itu tubuhnya sudah tampak berkelebatan dari batu ke batu dan dia sudah berlatih Il­mu Silat Soan-hong-liu-kun. Tubuh yang berkelebatan seperti hampir tidak tam­pak, karena terlalu cepat. Baru saja tampak di atas batu sini, tahu-tahu su­dah lenyap dan berada di batu sebelah sana, terus bergerak dan terus berpindah, tongkat di tangan kiri dan cara ia me­loncat seperti terbang saja, makin lama makin cepat.

Biarpun dia sedung berlatih dengan gerakan-gerakan kilat, pandang matanya yang amat tajam dapat melihat berkelebatnya bayangan yang telah berdiri di atas batu dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Han Han makin bersemangat dan ia mulai bersilat lagi, mengulang dari jurus pertama sampai jurus terakhir, tujuh puluh dua jurus ia mainkan sebaik-baiknya.

Diam-diam Khu Siauw Bwee kagum dan terkejut bukan main. Pemuda yang menjadi muridnya itu benar-benar amat luar biasa! Ilmu yang ia ciptakan, selama puluhan tahun, kini dapat dikuasai murid­nya dalam waktu setahun saja!

“Bagus, muridku Han Han! Bagus se­kali! Engkau telah berhasil menguasai Soan-hong-lui-kun hanya dalam waktu setahun! Dengan ilmu ini, kiranya akan jarang dapat ditemukan orang yang akan mampu menandingimu. Betapapun juga, di dunia terdapat banyak orang lihai dan sayanglah kalau semua ilmu yang pernah kaupelajari teorinya tidak kaulatih prak­teknya. Karena itu, mulai sekarang kau­latihiah semua ilmu yang kauketahui, ditambah ilmu silat yang pernah kaupe­lalari, agar kau menguasai semua silat tinggi sehingga kelak tidak canggung menghadapi lawan berat.”

Han Han berlutut di depan gurunya. “Terima kasih atas semua petunjuk subo dan teecu akan mentaati semua perintah subo.”

Demikianlah, mulai hari itu, Han Han melatih ilmu silat-ilmu silat tinggi yang pernah ia pelajari dari kitab-kitab di Pulau Es, juga Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut ia sempurnakan latihannya di bawah petunjuk gurunya.



***



Daerah Mancuria bagian timur laut adalah menjadi pusat suka bangsa Khitan yang pada masa itu telah hampir musnah dan masuk menjadi bangsa Mancu yang makin berkembang dan berkuasa. Banyak di antara keluarga bekas Kerajaan Khi­tan menjadi pembesar-pembesar Mancu, dan karena kaum wanita Khitan banyak yang cantik jelita, maka sebagian besar di antara mereka ini menikah, sebagian besar secara paksa, dengan para Pange­ran Mancu. Betapapun juga, diam-diam suku bangsa Khitan, terutama sekali kaum bangsawannya yang masih berdarah keluarga bekas Kerajaan Khitan, masih memiliki keangkuhan dan mengangkat tinggi derajat mereka sebagai bangsa Khitan!

Di kaki Pegunungan Cang-kwang-cai-san, di mana mengalir air Sungai Sungari yang bersumber dari gunung itu, ter­dapatlah sebidang tanah pekuburan yang berisi kuburan keluarga Kerajaan Khitan. Di sini pula dikubur jenazah tokoh-tokoh besar, bukan hanya besar bagi bangsa Khitan, melainkan juga tokoh-tokoh be­sar yang dikenal di dunia kang-ouw. Di sinilah terdapat kuburan pendekar-pen­dekar sakti Suling Emas dan isterinya yang bernama Yalina, Ratu Khitan. Bah­kan di situ pula kuburan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, puteri Suling Emas dan Ratu Yalina, di samping kuburan keluarga kerajaan dan para tokoh terpen­ting dari Kerajaan Khitan. Akan tetapi, di antara semua kuburan kuno, yang paiing menyeramkan adalah kuburan ayah ibu dan puteri mereka, yaitu kuburan Suling Emas, Ratu Yalina dan Mutiara Hitam. Hanya kuburan keluarga Suling Emas inilah yang masih terpelihara baik-baik sekalipun kini suku bangsa Khitan telah lenyap dan dilebur menjadi bangsa Mancu.

Sunyi sekali keadaan di tanah kuburan itu. Tanah dan pohon-pohon di sekeliling­nya kelihatan gundul dan di mana-mana mulai tampak air membeku keputihan, karena musim salju hampir tiba. Air Sungai Sungari yang mengalir tepat di depan tanah kuburan, kelihatan malas karena hampir membeku oleh hawa di­ngin. Keadaan amat sunyi, tidak ada tampak seekor pun burung, seolah-olah alam di sekeliling kuburan ikut mati seperti mereka yang dikubur di situ. Salju yang mulai terbentuk mengecat seluruh tempat menjadi keputih-putihan, putih bersih menambah sunyi.

Dilihat sepintas lalu, semua orang tentu akan mengira bahwa tempat sunyi seperti itu tidak ada penghuninya. Akan tetapi, kadang-kadang tampak asap mengepul dari genteng pondok yang cukup kokoh dan megah, yang berdiri di antara batu-batu nisan di tanah kuburan itu. Dan melihat dupa yang selalu berkelap-kelip di depan bongpai (batu nisan) keluarga Suling Emas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di situ tidaklah tanpa penghuni seperti orang kira.

Dan sesungguhnyalah. Pondok itu da­hulu dibuat oleh keluarga Kerajaan Khi­tan menjadi tempat para penjaga tanah kuburan. Bahkan tanah kuburan itu sen­diri tidak selalu sunyi ketika Kerajaan Khitan masih jaya. Akan tetapi, semen­jak bangsa Khitan terdesak dan dilebur menjadi bangsa Mancu yang makin ber­kuasa sehingga Kerajaan Khitan pun le­nyap, di tempat ini tidak dilakukan pen­jagaan lagi seperti dahulu, tidak pula dikunjungi keluarga raja yang berziarah. Bahkan kuburan itu tentu akan terlantar dan rusak kalau saja tidak muncul se­orang kakek tua bongkok yang menjaga tanah pekuburan keluarga Suling Emas itu. Dan sejak kakek bongkok ini menjaga di situ, kuburan keluarga Suling Emas menjadi terawat baik dan tidak pernah sedetik pun kakek itu meninggal­kan tanah pekuburan yang dijaganya de­ngan penuh kesetiaan. Kakek ini men­jadi satu-satunya orang yang tinggal di daerah dingin bersalju ini, dan asap yang kadang-kadang nampak berkepul adalah asap dari dapur di kala ia memasak ma­kanan.

Semenjak kakek bongkok menjaga tanah kuburan itu, tempat itu menjadi tempat angker dan keramat, ditakuti orang karena kakek bongkok itu ternyata amat galak dan juga amat lihai sehingga siapa pun yang berani mendatangi tanah kuburan tentu akan dibunuhnya! Mula-mula, begitu mendengar akan runtuhnya suku bangsa Khitan dan tanah kuburan keluarga Suling Emas itu tidak terjaga lagi oleh tentara Khitan, banyak orang-orang kang-ouw mencoba datang ke ta­nah kuburan itu karena mereka men­dengar bahwa pusaka peninggalan keluar­ga Suling Emas berupa kitab-kitab dan senjata-senjata, terutama senjata Suling Emas sendiri berupa sebatang suling ter­buat daripada emas dan sebuah kitab, berada di tempat itu. Mereka ini berusaha untuk mendapatkan pusaka peninggalan. Akan tetapi banyak sekali tokoh kang-ouw datang ke tempat itu untuk mengantar nyawa. Banyak yang tewas di tangan kakek bongkok dan banyak pula yang dipukul mundur dan terpaksa melarikan diri membawa luka-luka berat.

Semenjak itu, tidak ada lagi orang yang berani coba-coba mengganggu ku­buran keluarga Suling Emas, bahkan bang­sa Mancu dan suku bangsa lainnya tidak ada yang berani mendekati tempat itu. Selama puluhan tahun ini, hanya ada dua buah tempat yang selalu menarik perhatian orang-orang kang-ouw, yaitu Pulau Es, dan kuburan keluarga Suling Emas. Akan tetapi kedua-duanya amat sukar didatangi. Yang pertama, Pulau Es, sungguhpun kabarnya menjadi tempat tinggal Koai-lojin yang tak mau mengganggu orang bahkan suka membagi ilmu kepada siapa saja, namun amat sukar dicari karena tersembunyi di antara pulau-pulau yang banyak terdapat di utara, di samping sukarnya pelayaran di lautan yang kadang-kadang penuh es dan salju itu.

Yang ke dua adalah tanah kuburan ini yang biarpun lebih mudah dicari, namun dijaga oleh kakek bongkok yang memiliki kesaktian yang sukar dilawan dan galaknya melebihi harimau menjaga anak-anaknya! Akan tetapi, pada suatu pagi yang cerah, tampak sebuah joli (tandu) yang dipikul dua orang laki-laki tinggi besar berlari cepat menempuh hujan salju rintik-rintik menuju ke tanah kuburan di tepi Sungai Sungari. Dari jauh sudah tampak tanah pekuburan keluarga Suling Emas yang sunyi. Dua orang pemikul tan­du itu adalah orang-orang Mancu yang bertubuh kuat, namun mereka kelihatan lelah dan napas mereka terengah-engah ketika mereka tiba di tepi sungai, masih agak jauh dari tanah kuburan

“Berhenti di sini!” Terdengar suara nyaring merdu dari dalam joli. Dua orang pemanggul joli berhenti dan menurunkan joli. Tirai joli tersingkap dan tampaklah wajah seorang gadis yang amat cantik jelita, berhidung kecil mancung dengan dagu meruncing dan sepasang mata lebar terbelalak indah dan bening. Tubuh yang ramping itu keluar dan ternyata dia seorang dara jelita yang masih amat muda, tubuhnya yang ramping berpakaian indah, pakaian seorang Mancu dengan baju panjang berlengan pendek sehingga tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sebatas siku. Rambutnya yang hitam panjang dan subur tertutup sebuah topi putih dari bulu biruang, dan di atas topi terhias sehelai bulu burung, tanda bahwa dia adalah seorang pemimpin pengawal Kerajaan Mancu. Rambutnya dikat dengan pita kuning di belakang tengkuk, dan sepasang telinganya terhias anting-anting emas, demikian pula kedua pergelangan tangannya. Ketika turun, dara ini membawa sebatang payung yang gagangnya melengkung dan ujungnya runcing mengkilap. Dara ini bukan lain adalah Puteri Nirahai, Puteri Mancu yang amat lihai sehingga dia menjadi pimpinan para pengawal istana! Kalau melihat mata yang lebar indah, bibir yang tipis merah basah, gerak-geriknya yang lemah gemulai, takkan ada orang mengira bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

“Kalian berdua pergilah sembunyi di balik batu gunung itu dan jangan sekali-kali berani menampakkan diri sebelum kupanggil,” kata pula Nirahai dalam ba­hasa Mancu kepada dua orang itu. Dua orang tinggi besar itu adalah ahli-ahli petunjuk jalan yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian tinggi, kakak ber­adik yang merupakan tokoh-tokoh ter­kenal pula di daerah utara ini. Akan tetapi ketika menerima perintah dari “Sang Puteri” untuk mengantarnya ke pekuburan keluarga Suling Emas, mereka ketakutan setengah mati dan dengan hati berat mereka terpaksa mengantarkan Nirahai. Kini, pada saat rasa takut me­reka membuat wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, mendengar perin­tah Nirahai agar mereka bersembunyi, hati mereka lega dan girang sekali. Setelah memberi hormat mereka berdua lalu melompat dan bersembunyi di bela­kang sebuah batu besar, meninggalkan joli di dekat sungai.

Nirahai bersikap hati-hati dan dia tidak berani lancang menuju ke tanah kuburan. Dengan bersembunyi di balik sebuah batu yang menonjol di pinggir sungai, ia mengintai ke arah pondok di tengah kuburan. Keadaan amat sunyi. Tiba-tiba pandang mata Nirahai yang tajam sekali dapat melihat munculnya sebuah perahu kecil yang melawan arus air sungai. Karena air sungai yang dingin hampir membeku itu arusnya lambat sekali, maka perahu itu bergerak cepat, didayung oleh dua pasang tangan yang kuat. Mereka itu adalah dua orang kakek bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Nirahai tidak mengenal mereka, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka itu tentu bangsa Mongol Utara, melihat dari pakaian mereka yang tebal terbuat dari bulu binatang dan cara mereka menggelung rambut mereka.

Diam-diam Puteri Mancu ini memperhatikan dan ia melihat betapa dua orang Mongol itu tiba-tiba melompat ke darat, seorang di antara mereka memegang se­helai tali panjang yang mengikat ujung perahu. Setelah keduanya mendarat de­ngan sebuah loncatan cepat dan jauh yang membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pandai, si pemegang tali menggerakkan tenaganya dan perahu itu seperti dilontarkan oleh angin menuju ke arah mereka. Kakek ke dua mengangkat tangan kiri menyambut perahu itu de­ngan mudah, lalu meletakkan perahu ke atas tanah. Melihat gerakan mereka, Nirahai maklum bahwa kedua orang ka­kek Mongol itu memiliki tenaga yang besar.

“Haiiiii.... Setan Bongkok....! Keluarlah, kami datang menagih hutangmu se­puluh tahun yang lalu!” Seorang di an­tara dua orang kakek itu berseru, suara­nya nyaring bergema dan ia menggunakan bahasa Mongol yang dimengerti baik oleh Nirahai.

Suara yang keras itu menggema sam­pai lama, kemudian terdengar suara orang batuk-batuk dari dalam pondok di tengah tanah pekuburan, disusul suara orang yang menggunakan bahasa Mongol yang kaku.

“Hemmm, Sepasang Anjing Hitam padang pasir Go-bi! Pergilah sebelum terlambat. Aku tidak suka mengotorkan tempat suci ini dengan darah kalian. Pergilah!”

Mendengar suara itu, Nirahai merasa tegang hatinya, jantungnya berdebar. Dia belum pernah melihat kakek bongkok penjaga tanah kuburan keluarga Suling Emas, akan tetapi sudah mendengar ten­tang kakek itu yang kabarnya memiliki kesaktian hebat, galak dan mati-matian menjaga dan membela kuburan itu. Kini, baru mendengar suaranya saja sudah me­nyatakan bahwa kakek itu seorang yang keras, juga tinggi hati, namun amat menghormati kuburan itu. Nama Sepasang Anjing Hitam dari padang pasir Go-bi juga amat terkenal. Dua orang jagoan Mongol itu merupakan datuk-datuk di daerah padang pasir Go-bi yang amat disegani sehingga setiap rombongan kafilah yang melalui daerah ini tentu akan me­ninggalkan “tanda persahabatan” di de­pan gua-gua di kaki bukit kecil yang disebut Bukit Anjing Hitam, untuk meng­hormati dua orang tokoh itu sehingga rombongan mereka takkan terganggu. Akan tetapi, sekarang kedua orang datuk padang pasir itu tidak dipandang mata sama sekali oleh penjaga kuburan keluar­ga Suling Emas, dan mendengar ucapan kakek dari dalam pondok, jelas bahwa dua orang Mongol tinggi besar itu pernah dikalahkan sepuluh tahun yang lalu.

“Heh, Si Bongkok setan tua bangka yang sombong! Selain sombong, engkau pun pelit sekali. Untuk apakah sekalian pusaka dan kitab peninggalan Keluarga Suling Emas untukmu? Engkau sudah hampir mampus! Berikan kepada kami sebuah dua buah pusaka sebagai peng­ganti nyawamu. Kalau engkau masih pelit, sekali ini kami tidak akan memberi ampun kepadamu!” Kakek Mongol yang ada tahi lalatnya di ujung hidung dan bertubuh tinggi besar, berkata dengan suara keras. Sedangkan orang ke dua, yang lebih tinggi, memandang tajam ke arah pondok, siap menghadapi kakek penjaga kuburan.

Setelah ucapan itu keluar dari mulut orang Mongol penuh tantangan, keadaan sunyi sekali dan terdengar suara “gerrriiittttt!” disusul terbukanya pintu pondok. Suara pintu terbuka ini memecah kesunyian dan terdengar menyeramkan, seolah-olah yang terbuka adalah sebuah peti mati.

Kemudian muncullah seorang kakek bongkok di ambang pintu. Setibanya di depan pintu pondok, ia berhenti sebentar dan mengangkat mukanya. Nirahai bergidik ketika melihat betapa sepasang mata tua itu seolah-olah merupakan sinar yang menerangi tempat-tempat yang dipandang mata itu, bahkan ia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya ketahuan ketika pandang mata kakek bongkok itu menyapu ke arah batu besar di mana ia bersembunyi. Nirahai cepat-cepat menarik diri untuk bersembunyi lebih baik, akan tetapi ia mengintai terus.

Kakek itu sebetulnya bertubuh tinggi, akan tetapi karena di punggungnya ter­dapat punuk yang membuat dia tidak dapat berdiri tegak dan membongkok, maka kelihatan pendek. Pakaiannya serba putih dan sederhana, juga sepatunya ber­warna putih. Pakaian itu potongannya seperti pakaian pelayan, akan tetapi putih dan bersih. Wajahnya tampak kurus, alisnya tebal, kumisnya melintang ke kanan kiri dan jenggotnya menutupi dagu. Baik rambutnya, maupun rambut yang tumbuh di pelipis menjuntai ke bawah, sampai kumis dan jenggotnya, sudah ham­pir putih semua. Dia berdiri dengan ke­dua tangan kosong, dan kini perhatiannya ditujukan kepada dua orang Mongol yang melangkah datang menghampiri kakek bongkok.

Mereka saling berhadapan, sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, ha­nya saling memandang. Sikap kakek bong­kok itu tenang akan tetapi pandang ma­tanya jelas membayangkan kemarahan dan juga memandang rendah. Sedangkan dua orang Mongol itu biarpun memaksa diri bersikap tenang, masih saja kelihatan bahwa mereka sebetulnya jerih terhadap kakek bongkok itu. Nirahai diam-diam merasa heran. Kakek bongkok itu sama sekali tidak kelihatan seperti seorang sakti, bahkan kelihatan lebib pantas menjadi seorang pelayan tua yang sudah patut dipensiun! Dara Mancu ini tidak ingat bahwa dia sendiri pun tidak pantas menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, lebih patut menjadi seorang puteri yang lemah lembut dan menggairahkan!

“Orang tua, benar-benarkah engkau mempertahankan semua pusaka itu? Engkau telah mendengar nama Siang-hek-sin-kauw (Sepasang Anjing Hitan Sakti) yang menjadi sahabat seluruh orang gagah di utara dan barat! Kami mengulangi permintaan kami sepuluh tahun yang lalu, hanya ingin meminjam sebuah dua buah kitab peninggalan Keluarga Suling Emas, meminjam selama beberapa bulan saja, pasti akan kami kembalikan!” Orang Mongol yang lebih jangkung berkata dan mendengar nadanya, jelas kini bahwa setelah berhadapan, dua orang Mongol itu bersikap lebih lunak.

“Selagi aku hidup, tak seorang pun manusia boleh menjamah pusaka-pusaka keluarga majikanku. Setelah aku mati pun, rohku akan tetap menjaga di sini. Pergilah!”

Ngeri hati Nirahai mendengar ucapan itu, dan diam-diam gadis ini mencari akal bagaimana ia dapat berhasil meng­hadapi kakek bongkok yang galak itu. Ia mengintai terus dan ingin lebih dulu menyaksikan kelihaian kakek bongkok seperti yang sudah ia dengar akan tetapi belum pernah ia saksikan.



“Setan Bongkok keparat! Kalau begitu terpaksa kami menggunakan kekerasan!” bentak orang Mongol bertahi lalat di hidung. Bersama adiknya, dia lalu siap untuk menyerang.

Tubuh yang bongkok itu makin bongkok, mukanya tunduk, matanya terbuka dan melirik ke atas sehingga dipandang dari depan, sikap kakek itu seperti se­ekor lembu marah memasang tanduk siap menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

“Kalian yang akan mati. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kalian hi­dup!” jawab kakek itu.

“Setan Bongkok, sambutlah!” Tiba-tiba orang Mongol yang bertahi lalat di hidungnya berseru, tubuhnya merendah sampai hampir berjongkok, dan kedua lengannya didorongkan ke depan ke arah kakek bongkok. Terdengar bunyi tulang berkerotokan dan angin yang kuat menyambar ke arah kakek bongkok.

Nirahai terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan atau dorongan kedua lengan orang Mongol itu amat lihai, merupakan pukulan tenaga sin-kang yang kuat sekali. Belum pernah ia melihat atau mendengar pukulan jarak jauh dengan tenaga sakti sampai mengeluarkan bunyi berkerotokan seperti itu!

Kakek bongkok kelihatan tercengang juga, akan tetapi dengan tenang sekali tubuhnya sudah bergerak ke kiri, tahu­-tahu tubuhnya sudah miring mengelak dan lengannya bergerak menangkis, yaitu dengan sambaran angin pukulan menangkis serangan lawan.

“Hemmm.... bukankah ini Thai-lek-kang....?” Terdengar kakek bongkok berseru heran.

“Setan Bongkok mampuslah!” bentak lawan ke dua yang bertubuh tinggi. Tubuh orang Mongol ke dua ini sudah bergerak ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu tubuh itu berpusing makin lama makin cepat, sambil berpusingan cepat sekali tubuh itu menerjang ke arah kakek bongkok. Tubuh orang Mongol itu lenyap, yang tampak hanya bayangan berpusing dan kadang-kadang tampak kaki tangannya bergerak keluar dari bayangan yang berputar cepat seperti kitiran angin itu!

“Ayaaaaa, bukankah ini pun ilmu dari Thai-lek Kauw-ong yang disebut Soan-hong-sin-ciang (Tangan Sakti Angin Ba­dai)?” Kakek bongkok itu berseru kaget dan kembali tubuhnya bergerak dan kini Nirahai merasa kagum karena kakek bongkok itu ternyata dapat bergerak amat lincahnya.

“Ha-ha-ha, Setan Bongkok. Apa kau kira kami selama sepuluh tahun ini ting­gal diam saja? Ha-ha-ha!” Orang Mongol bertahi lalat di hidung menerjang lagi dengan pukulan sakti Thai-lek-kang sam­bil berjongkok, sedangkan adiknya tetap menyerang dengan ilmu silat yang aneh itu, yaitu sambil memutar-mutar tubuh amat cepatnya.

Sejenak kakek bongkok itu terdesak dan menghindar ke sana ke mari sambil mengomel, “Hemmm, Thai-lek Kauw-ong sudah lama mampus, kini ilmu-ilmunya yang jahat muncul lagi! Kim-siauw Locianpwe (Orang Sakti Suling Emas), maaf, terpaksa boanpwe (aku yang ren­dah) mengotorkan pusaka locianpwe!”

Dua orang Mongol itu sudah merasa girang karena serangan-serangan mereka yang benar-benar amat luar biasa dan dahsyat itu berhasil mendesak kakek bongkok. Mereka ingin membunuh pen­jaga kuburan ini agar mereka dapat menggeledah dan mencari pusaka-pusaka peninggalan keluarga Suling Emas di tempat itu. Dengan penuh kepercayaan akan kelihaian ilmu-ilmu mereka yang baru, yaitu ilmu pukulan Thai-lek-kang (Tenaga Sakti Halilintar) dan ilmu Silat Soan-hong-sin-ciang, mereka mendesak lebih keras lagi.

Kedua macam ilmu ini sebetulnya memang sudah lama lenyap dari dunia persilatan. Dahulu ilmu-ilmu ini dimiliki oleh Thai-lek Kauw-ong yang pernah bertanding melawan Suling Emas dan di­kalahkan (baca cerita Mutiara Hitam), dan semenjak Thai-lek Kauw-ong lenyap dari dunia persilatan, ilmu-ilmunya pun turut lenyap. Akan tetapi ternyata kini ilmu-ilmu yang lihai itu telah terjatuh ke tangan Sepasang Anjing Hitam gurun pasir Go-bi dan begitu melihat ilmu-ilmu ini terus mengenalnya membuktikan pe­ngetahuan yang luas kakek bongkok itu yang lihai.

Kedua orang Mongol yang merasa girang karena yakin akan menang itu tiba-tiba mengeluarkan suara kaget disusul jerit melengking yang keluar dari mulut mereka ketika berkelebat sinar kuning menyilaukan mata. Tubuh mereka roboh terpelanting dan ternyata kedua orang Mongol itu telah tewas! Nirahai terbelalak memandang, penuh kagum. Tangan kiri kakek bongkok itu memegang sebatang suling emas, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kipas. Itulah sepasang senjata dari pendekar sakti Suling Emas seperti ia dengar dari dongeng-dongeng lama!

Kakek bongkok sejenak berdiri bongkok memandang dua sosok mayat bekas lawannya, kemudian mencium kipas dan suling bergantian sambil berkata, “Kim-siauw Locianpwe, sampai sekarang pun senjata-senjata pusaka locianpwe masih terlalu ampuh bagi orang-orang jahat!”

Setelah berkata demikian kakek bongkok itu menggerakkan kedua tangan dan lenyaplah suling dan kipas itu di balik baju pelayannya. Kemudian ia mengempit mayat dua orang Mongol itu, membawanya ke dekat perahu mereka tadi. Tali tambang perahu ia gunakan untuk mengikat dua sosok mayat bersama perahunya erat-erat, kemudian sekali angkat dan melontarkan, perahu dengan dua sosok mayat itu terlempar jauh ke tengah sungai dan perlahan-lahan perahu itu ter­bawa arus sungai yang lamban. Kakek bongkok memandang sejenak, kemudian ia kembali ke depan pondok tempat per­tempuran tadi, menggunakan sepatunya menggosok-gosok sampai bersih tetesan darah yang mengotori tempat itu.

Melihat kakek itu menggosok-gosok dan membersihkan tanah yang terkena darah dengan teliti dan hati-hati sekali. Nirahai memperhatikan dan menjenguk dari balik batu. Kakek itu berdiri mem­belakanginya, maka ia berani menjenguk keluar. Ia tidak tahu betapa kakek bong­kok itu sejak tadi sudah menduga akan kehadirannya dan betapa kakek itu kini sambil membelakanginya dan menghapus darah dengan sepatu, sebenarnya mem­perhatikan belakang penuh selidik.

Tiba-tiba tubuh kakek bongkok yang membelakanginya itu bergerak melayang ke belakang seperti seekor burung garuda menyambar kelinci, kakinya menendang dan kedua tangannya mencengkeram. Akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang mengintai itu seorang dara, ia berteriak kaget dan tubuhnya membalik cepat, membuat gerakan poksai (salto) beberapa kali dan meloncat turun ke atas tanah, memandang dengan mata terbelalak kepada Nirahai yang berdiri tenang sambil tersenyum. Mata kakek itu menjelajahi muka dan pakaian Nirahai, kemudian mengerling ke arah joli kosong yang indah akan tetapi tanpa pemanggul itu.

“Nona, mau apakah Nona datang ke tempat terlarang ini?” Kakek itu marah sekali melihat ada orang berani men­datangi tempat yang baginya suci itu, akan tetapi karena pelanggarnya seorang dara muda, ia menjadi tidak enak untuk bersikap kasar. Hanya pandang matanya yang bengis.

Nirahai tersenyum manis. “Orang tua, bukankah engkau penjaga kuburan keluar­ga pendekar besar Suling Emas? Aku datang untuk berziarah, untuk bersem­bahyang di depan kuburan para pendekar.”

“Hemmm, sudah bertahun-tahun tempat suci ini menjadi tempat terlarang, mana mungkin tempat suci ini dikotorkan sembarang orang yang hendak berziarah? Engkau ini gadis muda berani lancang mendatangi tempat terlarang di sini, siapakah engkau?”

Nirahai masih tersenyum, sikapnya sabar akan tetapi sebetulnya matanya ingin sekali dapat menembus baju kakek itu untuk melihat suling emas yang tadi ia lihat sekelebatan ketika kakek ini mempergunakannya untuk merobohkan dua orang Mongol. Suling itulah yang ingin ia dapatkan. Jauh-jauh ia datang dengan susah payah hanya untuk men­dapatkan suling itu. Senjata pusaka dari pendekar sakti Suling Emas! Dengan pu­saka itu, agaknya akan mudah baginya menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang masih belum mau tunduk, bahkan yang kini berpusat di barat, di Secuan, mem­bantu Bu Sam Kwi!

“Kakek yang baik, aku adalah Puteri Nirahai.”

“Puteri? Puteri Mancu? Masih ada hubungan apa dengan mendiang Pangeran Dorgan?” Kakek ini bertanya, alisnya yang banyak putihnya itu berkerut, matanya memandang tajam.

“Mendiang Pangeran Dorgan adalah masih Kakekku, Paman Kakekku. Aku adalah puteri Kaisar yang sekarang.”

Makin tidak enak hati kakek itu dan terpaksa ia lalu membungkuk dengan sikap normat. “Ah, kiranya Paduka ini puteri Kaisar Kang Hsi? Maaf, saya ti­dak dapat menyambut Paduka sepantas­nya karena tempat ini adalah kuburan, tempat suci. Akan tetapi, sungguh saya merasa heran, mengapa Paduka hendak berziarah di tanah kuburan ini? Yang terkubur di sini adalah keluarga Kerajaan Khitan, keluarga pendekar sakti Suling Emas....”

“Engkau benar, orang tua. Ayahku, Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu, memang tidak mempunyai hubungan de­ngan tanah pekuburan ini. Akan tetapi ketahuilah, Ibuku adalah seorang puteri Khitan! Ibuku termasuk seorang di antara puteri-puteri Khitan yang dipersembahkan kepada Kaisar Mancu, sehingga biarpun aku puteri Kaisar Mancu, namun aku pun mempunyai darah keturunan Khitan! Karena itu, kurasa sudah sepatutnya kalau aku berziarah dan bersembahyang di depan kuburan suci ini, Kakek yang baik.”

Kakek bongkok itu mengerutkan alis­nya makin dalam dan ia menggeleng-geleng kepaia. “Kalau Paduka benar pu­teri Kaisar Mancu, mengapa Paduka datang sendiri tanpa pengiring? Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Paduka ini puteri Kaisar Mancu dan keturunan keluarga Kerajaan Khitan?”

Nirahai tersenyum. “Orang tua, andai­kata engkau menjadi seorang keluarga raja, apakah engkau juga akan suka se­tiap keluar dari pintu dikawal banyak orang sehingga gerakanmu tidak bebas, selalu diawasi?”

Kakek bongkok itu memandang se­jenak, tidak menjawab karena ia agaknya bingung dan tidak mengerti apa yang di­maksudkan gadis itu.

“Orang-orang seperti kita yang sudah biasa bergerak bebas lepas seperti burung di udara dan seperti ikan di samudera, mana bisa merasa senang kalau selalu dikawal orang? Itulah sebabnya aku tidak pernah membawa pengawal biarpun aku puteri kaisar. Memang aku tidak bisa membuktikan bahwa aku puteri kaisar, akan tetapi orang tua yang baik, aku sungguh seorang yang berdarah Khitan, dan lebih daripada itu, akulah yang me­warisi ilmu kepandaian pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang kuburannya berada di sini pula.”

Kakek itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam. “Harap Paduka tidak main-main. Kalau yang datang ke sini adalah Sepasang Pedang Iblis, saya tentu tidak akan ragu-ragu menerima sepasang manusia sinting itu sebagai pewaris ilmu mendiang Mutiara Hitam. Sudahlah, Nona. Lebih baik lekas Nona panggil dua orang pemanggul joli Nona dan cepat pergi dari tempat ini. Tempat ini bukanlah tempat pesiar bagi seorang puteri seperti Nona. Kalau orang lain yang berani datang, tentu sudah saya bunuh.”

“Hemmm, seperti yang kaulakukan kepada Sepasang Anjing Hitam dari Go-bi, dua orang Mongol tadi?” Nirahai mengejek.

“Ahhh, Paduka melihatnya?”

“Tentu saja. Sudah kukatakan bahwa aku pun seorang tokoh kang-ouw, bukan seorang puteri lemah yang doyan pelesir dan pesiar, dan aku mewarisi ilmu-ilmu Mutiara Hitam. Dan kedatanganku ke sini untuk merundingkan sesuatu denganmu.”

“Bagaimana saya dapat yakin bahwa Paduka benar-benar pewaris ilmu men­diang pendekar wanita perkasa Mutiara Hitam yang mulia?” Kakek itu berkeras tidak mau percaya.

“Crekkk!” Tangan Nirahai bergerak cepat dan tahu-tahu ia telah menyambar sebatang payung berujung runcing yang tadi ia taruh di dalam joli, kakinya memasang kuda-kuda dan ia berkata sambil tersenyum.

“Bukalah matamu lebar-lebar, orang tua yang keras kepala! Kenalkah engkau dengan senjata ini?”

“Sebuah Tiat-mo-kiam....” kata kakek itu. “Bukan merupakan bukti....”

“Memang bukan, akan tetapi lihat gerakan pedang payung ini!” Nirahai menggerakkan tubuh dan payungnya, bersilat dengan gerakan lincah dan dari ujung payungnya keluar angin yang berbunyi bercuitan ketika menyambar ke depan, terus mengitari sebatang pohon yang sudah kehabisan daun karena dirontokkan hawa dingin dan tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Sinar terang ujung payung yang menyambar-nyambar mengintari pohon tiga kali dan terdengar suara keras ketika cabang dan ranting pohon itu tumbang semua sehingga pohon itu kini kelihatan seperti raksasa dibuntungi tangannya.

“Pat-mo Kiam-hoat....!” Kembali kakek itu berkata.

“Dan engkau mengenal ini?” Nirahai melakukan gerakan dengan tangan kiri­nya, lengan kirinya bergerak seperti me­nari, atau lebih tepat lengan yang kecil penuh berkulit halus itu melenggang-lenggok seperti ular, kemudian dengan telapak tangan terbuka ia tiba-tiba me­mukul atau mendorong arah pohon yang sudah buntung cabang-cabangnya itu.

“Kraaaaakkkkk.... bruuuuukkk....!” Pohon itu tumbang terjebol dengan akar-akarnya!

“Sin-coa-kun....!” Si Kakek Bongkok memandang terbelalak.

Nirahai tertawa. “Kakek tua yang keras kepala, engkau tentu tidak akan merasa yakin benar kalau tidak menguji­nya sendiri. Hayo, keluarkan suling emas dan kipas peninggalan pendekar sakti Suling Emas yang kaupergunakan untuk membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi, dan hadapi payungku!”

Setelah berkata demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya yang berujung runcing. Ujung payung yang seruncing ujung pedang itu tahu-tahu sudah berubah menjadi sinar me­nyilaukan yang menusuk ke arah leher kakek bongkok. Kakek itu mengeluarkan suara, “Hemmm....!” dan dengan mudahnya miringkan tubuh ke kiri mengelak, akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba payung itu terbuka dan jari-jari payung yang terbuat daripada baja itu menyerangnya didahului sambaran angin yang meniup ketika payung terbuka tiba-tiba. Inilah serangan yang hebat! Kakek itu biarpun sudah tua dan bongkok, ternyata masih mampu bergerak cepat dan ia sudah menggulingkan tubuh ke atas tanah sehingga terbebas dari sambaran jari-jari payung.

“Lihat senjata rahasia....!” Nirahai berseru, tangan kirinya bergerak.

“Wir-wir-wir.... ciat-ciat-ciat....!” Kakek itu terpaksa bergulingan ke kanan kiri untuk mengelak sambaran sinar hijau dari jarum-jarum yang menyambar susul-menyusul itu. Ketika melihat sinar hijau dan mencium bau harum, ia meloncat ba­ngun sambil berseru, “Siang-tok-ciam....!”

Nirahai tersenyum ketika melihat kakek itu sudah meloncat sambil mencabut sepasang senjata pusaka peninggalan Suling Emas itu, yaitu sebuah kipas dipegang di tangan kanan sedangkan sebatang suling emas dipegang di tangan kiri. Gadis ini sambil tersenyum memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lututnya ditekuk sedikit, tubuhnya miring menghadapi kakek itu, mengeriing ke kanan, mulut tersenyum, tangan kanannya yang memegang gagang payung bengkok itu menodongkan payung ke depan dada, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka miring berada di depan muka, ibu jarinya hampir menyen­tuh hidung. Dilihat begitu saja, kuda-kuda dara ini seperti orang yang sedang mengejek dan mempermainkan lawan, akan tetapi kakek bongkok itu mengenal kuda-kuda dari Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dan diam-diam ia mengkirik. Ilmu Pedang Delapan Iblis ini adalah ilmu pedang yang amat hebat dan ganas, dan dahulu menjadi ilmu dari seorang tokoh sakti wanita yang menggemparkan dunia persilatan yang hanya didengar oleh kakek bongkok itu dari do­ngeng, yaitu wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi. Setan Cilik Beracun (Tok-siauw-kwi) ini bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas (baca cerita Suling Emas) yang amat lihai ilmunya dan amat ganas sepak terjangnya. Dan kini ternyata ilmu yang hebat ini telah terjatuh ke tangan gadis puteri Kaisar Mancu yang mengaku masih berdarah Khitan ini! Memang hatinya sudah mulai percaya, keraguannya menipis, apalagi ketika ia tadi menyaksikan ilmu pukulan tangan kosong Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ular Sakti) dan senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Beracun Wangi). Betapapun juga, kalau belum mengujinya, kakek ini masih belum yakin.

“Marilah, Kakek yang keras kepala! Engkau hendak menguji apakah benar-benar ilmu yang kaulihat tadi berisi, dan aku pun ingin melihat apakah sepasang senjata yang kaukeluarkan itu benar-benar aseli!” Setelah berkata demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya. Gerakannya cepat dan me­ngandung tenaga sin-kang yang kuat sekali.

“Wuuuttttt, singgggg....!” Pedang yang berbentuk payung itu menusuk.

“Cringgggg....!” Suling di tangan kiri kakek itu menangkis ujung pedang payung dan tampak bunga api berpijar. Keduanya tergetar ke belakang. Nirahai memeriksa ujung payungnya dan terkejut melihat ujung payung yang terbuat dari baja pilihan itu agak lecet! Diam-diam ia memuji suling emas itu yang ternyata benar-benar sebuah senjata pusaka yang amat ampuh, sesuai dengan nama pe­miliknya dahulu, yaitu Pendekar Suling Emas.

Sudah menjadi watak kebanyakan ahli silat kalau bertemu lawan tangguh tim­bul kegembiraannya. Demikian pula de­ngan Nirahai. Sudah lama dia tidak ber­temu lawan yang tangguh dan kini ber­temu kakek penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang lihai, ia menjadi gem­bira, dan cepat ia melanjutkan serangan­nya dengan tusukan bertubi-tubi, menge­rahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.

Kakek bongkok ini dahulunya adalah bekas kacung dari keluarga putera Suling Emas yang bernama Kam Liong, kakak tiri Mutiara Hitam. Kam Liong inilah yang mewarisi senjata kipas dan suling ayahnya. Kacung keluarga Kam Liong ini mengabdi sampai tua dan setelah kuburan keluarga Suling Emas tidak dijaga lagi oleh pengawal-pengawal Kerajaan Khitan yang sudah runtuh, dia lalu turun gunung di mana ia bertapa melewatkan hari tua­nya, dan menjaga tanah kuburan itu de­ngan penuh kesetiaan. Nama bekas ka­cungnya yang kini menjadi kakek bongkok itu adalah Gu Toan. Dia seorang buta huruf akan tetapi berkat kesetiaannya mengabdi keluarga Suling Emas, keluarga itu menyayanginya dan melatihnya de­ngan ilmu-ilmu silat keluarga pendekar besar itu. Gu Toan amat rajin dan tekun. Sungguhpun ia buta huruf dan terhitung golongan orang yang kurang cerdas otak­nya, namun ketekunannya membuat ia dapat menguasai semua ilmu silat ke­luarga itu. Akan tetapi tentu saja latihannya tidak sempurna benar.

Betapapun juga, kalau menghadapi lawan dari luar, kakek ini sukar dicari tandingnya. Kini bertemu dengan Nirahai yang mewarisi ilmu keluarga Suling Emas dan telah melatihnya dengan sempurna, tentu saja kakek itu terdesak hebat. Ia mengenal Pat-mo Kiam-hoat yang dimainkan dengan pedang payung, mengenal pula pukulan Sin-coa-kun yang dilakukan sebagai selingan alam penyerangan Nirahai, akan tetapi karena dia tidak pernah melatih ilmu-ilmu itu secara mendalam, menghadapi terjangan Nirahai itu ia menjadi repot sekali.

“Nona, hentikanlah....!” Tiba-tiba kakek itu mencelat ke belakang dan memandang kagum. “Paduka benar-benar puteri Kaisar yang amat lihai, dan saya mengakui bahwa Paduka telah mewarisi ilmu dari Keluarga Suling Emas. Paduka berhak untuk berziarah dan bersembah­yang di kuburan ini. Silakan!”

Nirahai memanggul senjatanya yang kini hanyalah sebuah payung biasa, sama sekali tidak tampak seperti sebuah sen­jata yang ampuh, dan memandang kakek bongkok itu. Mulutnya yang selalu ter­senyum itu kini kelihatan ditarik keras sehingga wajahnya yang manis nampak sungguh-sungguh.

“Sebetulnya, siapakah engkau ini, Kakek yang lihai?”

“Nama saya Gu Toan dan dahulu saya adalah kacung dari putera Suling Emas. Hanya itu yang dapat saya ceri­takan. Silakan kalau hendak bersembah­yang, Nona.”

“Begini, Kakek Gu. Selain hendak ber­ziarah dan memberi hormat kepada ku­buran keluarga besar ini, aku pun hendak mengajukan sebuah permintaan kepadamu.”

Kakek itu yang masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan tubuh membungkuk, kedua tangan tergantung di kanan kiri pinggang setelah menyimpan kembali sepasang senjatanya, kini meng­angkat muka memandang wajah cantik itu penuh selidik dan bertanya.

“Permintaan apakah itu, Nona? Apa­kah yang dapat saya lakukan untuk Pa­duka?”

“Engkau tentu telah tahu bahwa Ke­rajaan Mancu berhasil menguasai semua daratan di selatan. Akan tetapi, masih ada daerah di barat yang belum mau tunduk, yaitu daerah Se-cuan yang di­kuasai oleh Bu Sam Kwi. Kedudukan musuh ini amat kuat dan hal ini ter­utama sekali ditimbulkan oleh bantuan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Kami mengalami kemacetan dan kesulitan untuk menaklukkan daerah itu, yang merupakan daerah terakhir. Kalau Se-cuan sudah takluk, berarti seluruh daratan Tiongkok berada di kekuasaan Kerajaan Ceng kita....”

“Bukan kerajaan kita, Nona. Ingat, saya adalah seorang bangsa Han....”

Nirahai mengerutkan keningnya. “Hemmm...., apakah engkau anti Mancu dan pro kepada Bu Sam Kwi?”

Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala. “Saya tidak mengenal Bu Sam Kwi, dan saya tidak peduli akan urusan negara, saya hanya bertugas menjaga kuburan suci ini. Dahulu, mendiang pendekar sakti Suling Emas meng­hilangan semua bentuk permusuhan antar suku bangsa, bahkan Kerajaan Khitan berdarah Han pula. Akan tetapi sekarang.... ah, saya tidak tahu tentang urusan kerajaan. Teruskan, apakah yang Paduka kehendaki?”

“Kami ingin menaklukkan Se-cuan tanpa menimbulkan banyak korban di fihak orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Kaisar kami membutuhkan tenaga orang-orang pandai itu, maka kami ingin me­naklukkan mereka tanpa membunuh, bah­kan kalau bisa hendak menarik mereka untuk bekerja sama demi negara dan bangsa seluruhnya. Karena itu, kedatang­anku ke sini untuk minta pinjam senjata pusaka dari mendiang Suling Emas. De­ngan suling sakti milik Suling Emas, kiranya aku akan dapat mempengaruhi para orang gagah itu untuk menakluk dengan damai. Berikanlah suling emas itu padaku, Kakek Gu, untuk kupinjam beberapa lamanya. Kalau sudah selesai tugasku dengan hasil baik, aku bersumpah untuk mengembalikannya kepadamu.”

“Tidak mungkin!” Kakek itu berseru. “Pusaka-pusaka itu adalah benda ke­ramat, yang tidak boleh dibawa pergi oleh siapapun juga dari sini. Nona sudah menyaksikan sendiri terpaksa saya membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi yang hendak merampas pusaka. Dan entah sudah berapa banyak orang-orang yang tewas di tangan saya karena menghendaki pusaka-pusaka itu. Harap Nona membuang jauh keinginan itu dan meninggal­kan tempat ini dengan selamat.”

“Kakek yang keras kepala! Apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan? Engkau tahu sendiri betapa lihainya Pat-mo Kiam-hoatku yang tidak akan dapat kaulawan!” Nirahai sudah menggerakkan payungnya.

“Srettt!” Payung yang tadi dipanggulnya itu kini telah menodong dari depan dadanya ke arah kakek itu.

“Wuuuttttt.... singgggg!” Kipas dan suling emas sudah tercabut keluar oleh kakek itu sambil berkata, “Nona, me­mang Pat-mo Kiam-hoat amat hebat. Di dunia ini terdapat dua ilmu mujijat yang dimiliki mendiang pendekar sakti Suling Emas, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Silat Kipas Pengacau Lautan) dan Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa). Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dahulu diciptakan untuk mengatasi Pat-sian Kiam-hoat, akan tetapi betapa­pun juga, ilmu yang bersih tak mungkin dapat dikalahkan ilmu yang sesat. Dewa yang suci takkan dapat dikalahkan Iblis yang jahat. Saya tidak akan dapat me­nyerahkan suling ini selama nyawaku masih berada di tubuh ini.”

“Bagus! Engkau memang keras kepala!”

Nirahai berseru marah dan payungnya sudah menerjang hebat. Akan tetapi kini kakek itu mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emasnya, dan kipasnya mainkan ilmu Silat Lo-hai San-hoat yang dahsyat. Angin keras bertiup dari kebutan kipas, menyambar-nyambar muka Nirahai dan setiap kali gadis ini terpaksa miringkan muka atau mengelak oleh sambaran kipas, sinar kuning emas dari suling sudah meluncur, mengarah bagian tubuh berbahaya, disusul dengan totokan-totokan gagang kipas.

“Aiiih....!” Nirahai menggunakan gin-kangnya, tubuhnya melesat ke atas dalam usahanya untuk menghindarkan diri. Ke­ringat dingin keluar dari jidatnya dan gadis ini harus mengakui bahwa kakek bongkok itu benar-benar lihai sekali. Ia bersilat dengan hati-hati, menggunakan payungnya sebagai senjata pedang yang menyerang, juga sebagai senjata perisai yang melindungi tubuh. Pertandingan berlangsung seru sekali. Kakek itu me­nang pengalaman dan juga menang ilmu silat, akan tetapi kalah lincah dan kalah dalam hal perkembangan, taktik dan kecerdikan.

Pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dan diam-diam Nirahai harus meng­akui bahwa Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat memang kalah hebat oleh Ilmu Pe­dang Pat-sian Kiam-hoat. Kalau saja kakek itu menguasai ilmunya dengan sempurna, kiranya tadi-tadi ia sudah dirobohkan lawan.

“Ser-ser-serrr....!” Nirahai tiba-tiba menyambit dengan jarum-jarumnya. Ka­rena jarak di antara mereka dekat, ka­kek itu terkejut, memutar kipas dan mengebut jarum-jarum runtuh ke tanah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Nira­hai untuk mengirim tusukan kilat dengan ujung payungnya. Kipas itu terbuka, me­nangkis dan tiba-tiba tertutup, kedua gagang kipas menjepit ujung pedang. Nirahai kaget sekali karena tiba-tiba payungnya tak dapat digerakkan dan tam­pak sinar kuning emas berkelebat depan matanya. Tahulah puteri ini bahwa nya­wanya terancam suling yang ampuh itu.

“Plak-plak....!” Tubuh Nirahai dan tubuh kakek bongkok itu terlempar ke belakang oleh dorongan telapak tangan yang memiliki tenaga hebat tak terta­hankan. Mereka cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang mem­buat mereka terhuyung dan memandang ke depan. Nirahai terbelalak beran melihat bahwa di situ telah berdiri seorang nenek yang masih memiliki wajah cantik sekali, pakaiannya pun indah dan bersih berdiri dengan sikap agung melebihi keagungan permaisuri kaisar sendiri.

“Ya Tuhan.... be.... benarkah Paduka ini....?” Kakek bongkok bergoyang-goyang tubuhnya, matanya terbelalak, wajahnya pucat seolah-olah ia melihat setan di tengah hari.

“Gu Toan, apakah matamu telah men­jadi lamur karena usia tua dan tidak mengenal aku?” Wanita itu berkata, sua­ranya dingin melebihi salju.

“Benarkah.... benarkah Paduka ini.... Maya-siocia (Nona Maya)....?”

Nenek itu tersenyum, bukan dengan mulutnya melainkan dengan matanya. Mata yang amat indah dan sama sekali tidak membayangkan usia tua. “Gu Toan, biar sudah menjadi kakek tua, engkau masih bodoh. Masa aku yang sudah jadi nenek-nenek kausebut siocia? Sungguhpun aku selamanya tidak pernah menikah dan masih seorang Nona, akan tetapi Nona tua....” Ucapan terakhir ini terdengar bernada duka sehingga Nirahai menjadi heran.

“Ahhh.... ampunkan hamba....” Kakek itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. “Hamba kira.... hamba dengar bahwa Paduka....” Ia tidak berani melanjutkan.

“Kaukira aku sudah mati?” Nenek itu melanjutkan dan melihat kakek bongkok yang berlutut itu mengangguk, ia menghela napas panjang. “Memang sudah mati...., apakah bedanya dengan mati kalau batin ini sudah kosong dan semangat ini sudah padam? Hanya tubuh yang tak tahu diri, yang masih belum juga mau mati....” Ucapan ini terdengar perlahan kemudian tiba-tiba ia sadar dan melan­jutkan dengan suara halus namun amat dingin dan penuh wibawa, “Eh, Gu Toan, aku melihat engkau sampai menggunakan sepasang pusaka keramat dan mainkan ilmu simpanan melawan gadis ini. Siapa­kah dia?” Ia bertanya kepada Gu Toan akan tetapi menoleh kepada Nirahai dan sejenak ia terpesona melihat wajah Ni­rahai, karena ia seakan-akan melihat bayangannya sendiri dalam air yang jernih.

“Kau.... kau seorang gadis Khitan....?”

Nirahai yang sejak tadi masih me­mandang dengan hati tegang dan heran, menggangguk tanpa mengalihkan pandang matanya. Ia dapat mengenal orang sakti, yang sekali bergerak dapat membuat dia dan kakek bongkok terpental ke bela­kang. “Saya seorang dara Mancu yang berdarah Khitan pula.”

“Dia adalah puteri Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu,” Kakek bongkok itu menerangkan, “akan tetapi berdarah Khitan dan telah mewarisi Pat-mo Kiam-hoat, Sin-coa-kun-hoat dan Siang-tok-ciam. Datang ke sini untuk meminjam suling emas guna menaklukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang membantu Bu Sam Kwi yang belum mau takluk kepada Kerajaan Ceng. Terpaksa hamba menolak dan kami bertempur....”

Nenek itu masih memandang Nirahai penuh selidik. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan. Nirahai tidak tahu bagaimana caranya, akan tetapi ia ter­kejut sekali karena tahu-tahu tangan itu telah meraih ke arah payung yang di­pegangnya. Tentu saja ia cepat menggerakkan payungnya untuk mengelak, akan tetapi payungnya itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya, seolah-olah pa­yungnya berubah menjadi seekor burung yang amat kuat dan yang terbang me­lepaskan diri dari tangannya. Ketika ia memandang, ternyata nenek itu telah memegang payungnya dan memeriksanya, membuka menutup dan mencobanya de­ngan beberapa gerakan menusuk. Nenek itu mengangguk-angguk dan berkata.

“Lumayan juga senjata ini. Sudah memiliki senjata seperti ini, sudah me­miliki ilmu-ilmu ampuh peninggalan Ke­luarga Suling Emas, mengapa masih ingin meminjam suling emas?” Pertanyaan ini bagaikan ujung pedang ditodongkan di depan dada Nirahai yang masih belum kehilangan kaget dan herannya menyaksi­kan betapa dengan mudahnya nehek itu merampas senjatanya! Karena maklum bahwa nenek ini amat sakti, dan tahu pula bahwa kalau ia salah jawab dan nenek itu menghendaki, sekali pukul saja ia akan tewas dan ia tidak akan dapat melindungi dirinya dari tangan nenek yang luar biasa ini. Maka Nirahai yang cerdik dan juga yang merasa amat ka­gum segera menjatuhkan diri beriutut di depan nenek itu, seperti kakek bongkok, dan berkata.

“Mohon maaf sebanyaknya kepada lo­cianpwe kalau teecu bersalah dalam hal ini. Sesungguhnya teecu secara terpaksa sekali mohon pinjam suling emas itu, karena tugas teecu sebagai pimpinan pasukan pengawal yang bertugas menan­dingi tokoh-tokoh kang-ouw yang menen­tang pemerintah Kerajaan Ceng dan membantu pemberontak Bu Sam Kwi. Kerajaan Ceng menghendaki agar orang-orang gagah itu ditaklukkan dengan jalan damai, karena untuk membangun negara yang banyak menderita karena perang, pemerintah membutuhkan bantuan orang-orang gagah itu.”

“Maka sedapat mungkin, penaklukan Se-cuan akan dilakukan tanpa menimbulkan banyak korban di antara orang-orang gagah yang membelanya. Untuk keperluan itulah maka teecu terpaksa mohon pinjam suling keramat, karena senjata pusaka itu amat besar pengaruhnya terhadap para tokoh kang-ouw yang tentu akan menjunjungi tinggi senjata peninggalan Pendekar Suling Emas dan akan suka berdamai dan menakluk. Bukan sekali-kali teecu hendak memusuhi Kakek Gu, akan tetapi karena dia kukuh tidak mau memberikan, dan teecu terpaksa didorong tugas, maka terjadilah bentrokan tadi.... baiknya locianpwe melerai, karena kalau tidak tentu teecu sudah menjadi korban kekerasan Kakek itu.”

“Hemmm.... hemmm....” beberapa kali nenek itu menggumam dan memandang lebih teliti, kini matanya yang in­dah menyinarkan rasa kagum dan suka, akan tetapi mulutnya yang dulu di waktu mudanya tentu menggairahkan itu masih saja membayangkan sifat dingin mengejek dan memandang rendah dunia ini. “Eng­kau masih muda sekali, cantik jelita dan jelas membayangkan darah Khitan di tubuhmu yang ramping padat. Ilmu ke­pandaianmu sudah lumayan dan kiranya di dunia ramai agak sukar mencari tan­dingan, senjatamu pun baik, tanda bahwa engkau dapat menyelami kitab-kitab pe­ninggalan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam dengan sempurna. Bicaramu lan­car dan dapat melihat gelagat, tanda bahwa engkau pun memiliki kecerdikan yang mengagumkan. Eh, Puteri yang manis, siapakah namamu?”

Hati Nirahai girang sekali mendengar suara nenek itu dan besar kemungkinan ia akan berhasil meminjam suling emas. “Nama teecu Nirahai, locianpwe.”

“Engkau puteri Kaisar Mancu yang se­karang?” Ia berhenti sebentar lalu menyam­bung, “Pangeran Dorgan itu apamukah?”

“Benar, locianpwe, teecu puteri Kaisar yang terlahir dari selir. Ibuku adalah Puteri Khitan, masih gadis telah men­jadi selir Pangeran yang sekarang menjadi kaisar. Mendiang Pangeran Dorgan adalah Paman Kakekku. Karena itu, biar­pun sudah amat jauh, darah Ibuku se­dikitnya masih ada keturunan dari Kera­jaan Khitan, dan pendekar sakti Mutiara Hitam masih Nenek Buyutku....”

“Hemmm, semua manusia di dunia ini kalau ditelusur, tentu masih ada hubung­an keluarga. Tahukah engkau bahwa Mu­tiara Hitam itu adalah Bibiku sendiri, Bibi Luar? Saudara kembarnya yang men­jadi Kaisar Khitan adalah Paman Luarku....”

“Ohhh.... harap maafkan, locianpwe, karena teecu tidak tahu maka bersikap kurang hormat.”

“Sudahlah, tak perlu banyak peradatan, kita tidak dapat membanggakan ke­turunan Khitan yang sudah ambruk! Eng­kau masih lebih beruntung karena ke­turunan Kaisar Mancu yang kini berkembang dan mulai jaya. Sekarang ceritakan keadaan kerajaan dan gerakannya ke selatan. Aku sudah mendengar hal itu dan karena tertarik melihat kejayaan Mancu, aku sampai keluar dari tempat pertapanku. Kebetulan bertemu dengan engkau seorang puteri Kaisar sendiri yang memimpin pasukan pengawal. Nah, ceritakan!”

Nirahai girang bukan main. Dengan gaya bicaranya yang lancar ia lalu men­ceritakan keadaan pemerintah Mancu yang dapat menaklukkan daerah selatan dengan mudah, akan tetapi kini meng­hadapi kesulitan karena Se-cuan yang di­pimpin Bu Sam Kwi masih belum dapat ditaklukkan.

“Akan tetapi teecu percaya,” Nirahai menutup penuturannya, “kalau teecu di­perbolehkan meminjam suling emas, tee­cu akan dapat mempengaruhi para tokoh kang-ouw yang membela Bu Sam Kwi. Teecu kira, partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain, yang sekarang belum mau membantu Ceng, tentu akan tunduk kalau melihat bahwa teecu­ mendapat kehormatan memiliki suling keramat peninggalan Suling Emas yang mereka junjung tinggi.”

Nenek itu mengangguk-angguk, dan tiba-tiba ia bertanya kepada kakek bong­kok, “Eh, Gu Toan, kau lihat baik-baik bocah ini dan katakan, wajah dan bentuk tubuhnya seperti siapakah enam puluhan tahun yang lalu?”

Kakek itu memandang Nirahai dan berkata, “Tadi pun ketika pertama kali dia muncul, hamba sudah kaget dan ter­ingat betapa serupa puteri ini dengan Paduka dahulu. Seperti buah pinang di­belah dua!”

Nenek itu menghela napas. “Benar, akan tetapi betapa buruk nasibku. Ahhh, kuharap saja engkau yang memiliki wajah dan bentuk tubuh seperti aku, tidak akan mengalami nasib seburuk nasibku, Puteri Nirahai!” Ketika Nirahai memandang, nenek itu sejenak kehilangan sifat dingin yang membayang di wajahnya, terganti sinar kedukaan yang mendalam. Memang nenek itu sedang mengenangkan semua pengalamannya puluhan tahun yang lalu, di waktu ia masih muda, semuda Nirahai (baca cerita ISTANA PULAU ES).

“Gu Toan, gadis ini benar. Kau boleh meminjamkan suling itu untuk selama tiga tahun. Akulah yang kelak bertang­gung jawab kalau dia tidak mengembali­kannya dalam waktu tiga tahun!”

“Kalau Paduka yang memerintah, hamba tidak akan membantah,” jawab Kakek itu, yang mengeluarkan suling emas dan menyerahkannya kepada Nira­hai. Puteri ini girang sekali, menerima suling lalu berlutut di depan nenek itu. “Teecu menghaturkan terima kasih, lo­cianpwe. Dan teecu bersumpah untuk mengembalikan pusaka ini selambat-lambatnya tiga tahun. Kakek Gu, terima kasih dan maafkan kekasaranku tadi.” Kakek itu hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab.

“Teecu mohon diri, hendak kembali ke selatan,” Nirahai berkata.

“Nanti dulu, Nirahai, aku masih sangsi apakah suling itu akan membawa hasil. Orang-orang kang-ouw mempunyai watak yang aneh. Sekali mereka itu mengambil keputusan untuk berjuang, mereka me­lupakan apa saja dan kiranya belum ten­tu mereka mau memandang suling itu untuk menghentikan perjuangan mereka. Sebaiknya kalau di samping mencari jalan damai, engkau pun dapat menundukkan mereka dengan kepandaian. Apakah eng­kau akan mampu mempergunakan suling itu untuk menundukkan mereka dengan ilmu silatmu? Dapatkah engkau mainkan suling itu?”

Wajah Nirahai menjadi merah. “Teecu seorang bodoh, dan jika teecu mainkan suling pusaka ini dengan Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat, kiranya tidak lebih hebat daripada kalau teecu menggunakan pedang payung.”

“Hemmm tidak baik kalau begitu. Eh, Nirahai, bagaimana kalau engkau menjadi muridku?”

Tawaran ini tentu saja diterima de­ngan hati girang luar biasa oleh Nirahai.

“Teecu akan merasa bahagia sekali dapat menerima petunjuk locianpwe.”

“Bagus! Engkau kuambil murid, Nirahai. Dan tempat di sini cukup baik bagi­ku untuk menggemblengmu beberapa lama agar engkau dapat menggunakan suling itu tidak saja untuk mempengaruhi mereka, akan tetapi kalau perlu untuk mengalahkan dan menaklukkan mereka.”

Kening Nirahai berkerut. “Teecu akan suka sekali tinggal di sini mempelajari ilmu dari locianpwe, berapa lama pun. Akan tetapi, pada waktu ini teecu mem­punyai tugas. Sebagai puteri Kaisar, ba­gaimana teecu dapat lari dari tugas? Selama pemerintah masih membutuhkan tenaga teecu, tak mungkin teecu mening­galkan kerajaan untuk waktu lama. Kalau locianpwe sudi, bagaimana kalau locian­pwe saja yang ikut bersama teecu ke kota raja dan mengajar teecu di sana? Teecu percaya bahwa Ayahanda Kaisar akan menerima locianpwe dengan segala kehormatan dan rasa bangga di hati.”

Nenek itu mengangguk-angguk dan mempertimbangkan kata-kata muridnya. “Dahulu Pangeran Dorgan pernah bertemu denganku. Ayahmu tentu hanya mende­ngar saja namaku, akan tetapi belum pernah bertemu denganku. Baiklah, aku pun ingin sekali menyaksikan dari dekat kemajuan usaha bangsa Mancu yang me­ngagumkan itu, yang tak pernah dicapai oleh bangsa Khitan. Mari kita berangkat, muridku.”

Nirahai girang sekali. “Harap subo sudi menunggang joli, biar teecu yang mengiringkan.”

Nirahai bertepuk tangan tiga kali dan muncullah dua orang pemikul joli berlarian ke tempat itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi nenek itu yang dahulu terkenal sebagai Puteri Maya, masuk ke dalam joli yang segera digotong oleh dua pemikul­nya atas perintah Nirahai. Dua orang itu merasa heran bukan main mengapa nenek itu amat ringan, seolah-olah joli itu ko­song saja! Nirahai lalu menjura kepada kakek bongkok sebagai penghormatan perpisahan, kemudian mengikuti joli yang diduduki gurunya dengan hati girang bu­kan main. Suling emas ia selipkan di pinggang, di sebelah dalam bajunya. Sung­guh ia amat beruntung, pikirnya. Tidak saja dapat meminjam suling emas itu, bahkan ia telah bertemu dengan seorang nenek sakti luar biasa yang menjadi gurunya! Setelah melalui perbatasan utara dan bertemu dengan dusun, Nirahai membeli seekor kuda. Kini ia mengikuti joli gurunya yang telah diganti orang lain pemikulnya, yaitu diambil dari dua orang penjaga perbatasan yang kuat, dengan menunggang kuda. Gurunya itu amat pendiam, kalau sudah duduk di dalam joli bersila seperti arca, tidak pernah bicara, tidak pernah menjenguk keluar sehingga diam-diam Nirahai merasa kasihan. Untuk menyenangkan hati gurunya, sepanjang jalan Nirahai berusaha untuk menghidangkan masakan-masakan lezat dan menyediakan segala kebutuhan nenek itu. Akan tetapi nenek itu menerima itu dengan sikap dingin.

Pada suatu pagi mereka tiba di luar kota raja. Tembok kota raja sudah tampak dari tempat yang agak tinggi sebelah utara itu dan hati menjadi girang sekali. Sudah beberapa lamanya ia meninggalkan kota raja, akan tetapi perjalanannya yang memakan waktu lama dan amat jauh itu ternyata tidak sia-sia belaka, bahkan hasilnya boleh di­bilang melampaui semua harapannya.

Ketika kudanya berjalan perlahan mengiringkan joli yang dipikul oleh dua orang pemikulnya yang semenjak meninggalkan kuburan keluarga Suling Emas telah berganti sampai sepuluh kali itu, tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda berjalan tergesa-gesa dari depan, agaknya baru saja wanita itu meninggalkan ger­bang pintu kota raja sebelah utara. Ga­dis itu amat cantik, terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan tajam sinarnya, juga wajah yang lonjong dengan dagu meruncing ini menarik sekali per­hatian Nirahai. Sepintas lalu saja ia tahu bahwa gadis itu tentulah mempunyai darah Mancu dan betapa besar persamaan gadis cantik itu dengan dia sendiri. Mung­kin dia lebih jangkung sedikit, akan te­tapi perawakan gadis itu pun ramping, dan wajahnya yang manis itu hampir sama dengan wajahnya sendiri.

Gadis itu pun berdiri sambil memandangnya dengan sinar mata tajam menyelidik. Agaknya gadis itu heran melihat dia memanggul sebuah payung, bahkan ketika rombongannya yang terdiri dari dua orang pemikul joli dan kuda yang ditungganginya lewat, gadis itu menghentikan langkah kakinya dan berdiri di pinggir jalan memandang bengong.

Nirahai tidak mempedulikannya lagi saking girang hatinya sudah hampir tiba di kota raja. Akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan nyaring, “Heiii, berhenti dulu....!” Nirahai menahan kudanya dan menoleh. Kiranya gadis manis tadi kini datang berlari-lari dan meloncat ke depan kudanya, seolah-olah hendak meng­hadangnya. Nirahai tersenyum, kagum setelah kini dekat melihat betapa gadis ini benar-benar cantik jelita, dengan kulit muka yang halus dan berwarna putih kemerahan, sepasang mata yang begitu indah seperti bintang pagi.

“Eh, ada keperluan apakah engkau menghentikan aku?” Nirahai tidak menjadi marah. Biarpun dia seorang puteri kaisar, namun sama sekali Nirahai tidak gila hormat. Apalagi ia maklum bahwa gadis ini tentu belum mengenalnya, maka sikapnya yang kasar itu pun boleh dimaafkan. Sifat ini mungkin terpengaruh oleh kebiasaannya merantau di dunia kang-ouw sehingga sifatnya terlepas dan ia tidak begitu mementingkan kedudukan dan kehormatan sebagai seorang puteri bangsawan tinggi.

Gadis itu bukan lain adalah Lulu! Se­perti telah diceritakan di bagian depan, Lulu meninggalkan lembah Sungai Huang-ho di mana selama setahun ia melatih diri dengan ilmu silatnya, di bawah pe­tunjuk Lauw-pangcu dan terutama sekali Sin Lian yang telah menjadi kakak angkatnya. Dia pergi menuju ke kota raja dan karena ia maklum bahwa keadaannya di kota raja berbahaya, biarpun di situ ia menyamar sebagai pria, dan ketika ia tidak berhasil mendapatkan jejak kakak­nya, ia lalu keluar dari kota raja melalui pintu gerbang utara. Dia baru saja da­tang dari selatan dan tidak pernah men­dengar tentang Han Han, maka sebaik­nya kini melanjutkan usahanya mencari jejak Han Han ke hutan. Akan tetapi baru saja keluar dari pintu gerbang, ia bertemu dengan Nira­hai yang menunggang kuda. Melihat Pu­teri Mancu yang cantik jelita dan gagah perkasa ini, Lulu tertarik sekali maka ia memandang penuh perhatian. Akan tetapi ketika ia melihat payung yang dipegang Nirahai, ia teringat akan cerita para tokoh Hoa-san-pai di Pek-eng-piauwkiok tentang seorang Puteri Mancu amat lihai bernama Puteri Nirahai yang bersenjata payung, teringat akan cerita tentang Teng Lok tokoh Hoa-san-pai yang dalam penyelidikannya bertemu dengan puteri Kaisar Mancu bersenjata payung yang telah membuntungi lengan orang she Teng itu. Puteri Mancu bernama Nirahai yang telah mengadu domba tokoh Hoa-san-pai dengan tokoh Siauw-lim-pai se­hingga akibatnya, Han Han yang difitnah dan menjadi korban, dimusuhi kedua fi­hak.

“Apakah namamu Nirahai?”

Nirahai membelalakkan matanya dan hampir saja ia tertawa bergelak. Per­tanyaan itu begitu tiba-tiba, begitu sederhana dan diajukan tanpa dibuat-buat, pertanyaan dengan sikap paling kurang ajar yang pernah ia alami selama hidupnya. Ia tidak marah, bahkan tersenyum memandang gadis yang bermata lebar itu. Ia mengangguk, ingin mendergar lebih banyak. Suara gadis itu merdu dan nyaring, dan setiap gerakannya membayangkan kejujuran dan kepolosan yang mengharukan.

“Jadi engkaukah yang bernama Nira­hai puteri kaisar, gadis yang mengadu domba tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai? Tentu engkau pula yang telah membunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, bukan?”

Kalau ia menghadapi pertanyaan se­perti itu dari seorang tokoh kang-ouw, tentu Nirahai akan menjadi terkejut dan berhati-hati, akan tetapi menerima pertanyaan begitu langsung dari mulut yang manis dan mata yang lebar itu, sukar bagi Nirahai untuk membohong lagi.

“Bagaimanna engkau bisa tahu?”

“Hemmm, payungmu itu adalah sen­jatamu yang ampuh, bukan? Kau jahat sekali.... jahat sekali dan aku harus membunuhmu!”

Kembali hati Nirahai merasa geli sekali. Ucapan seperti itu agaknya hanya patut diucapkan oleh seorang tokoh be­sar, seperti gurunya. Enak saja gadis ini mengatakan hendak membunuhnya.

“Eh, sabar dulu. Engkau siapakah?”

“Aku Lulu. Perbuatanmu yang curang itu telah membuat Kakakku Han Han banyak menderita. Engkau cantik sekali, sayang.... akan tetapi aku harus membunuhmu karena engkau jahat!”

“Nirahai, siapakah bocah ini?” Nenek itu telah berdiri di luar joli, padahal kedua pemikul joli masih menggotongnya dan kini kedua orang itu terkejut dan berdiri seperti patung. Mereka tidak merasa joli menjadi ringan, tidak melihat nenek itu turun, akan tetapi mengapa tahu-tahu telah berada di luar joli? Seorang di antara mereka menyingkap tirai joli dan memang benar, joli itu kosong. Terpaksa mereka menurunkan joli dan keduanya berjongkok di dekat joli.

Lulu menengok, memandang nenek itu dan ia terkejut. Cepat ia membalikkan tubuh pula memandang Nirahai yang kini telah meloncat turun dari kuda. “Ah, aku pernah bertemu denganmu....! Engkau penghuni Pulau Es.... ya benar....!” Lulu menudingkan telunjuknya ke arah Nirahai.

“Apa? Pulau Es....? Kau gila agaknya....!” Nirahai menjawab, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara angin dan Lulu berteriak kaget karena pundaknya sudah dicengkeram oleh nenek itu yang mem­balikkan tubuh Lulu menghadapinya sam­bil membentak.

“Apa maksudmu? Penghuni Pulau Es? Hayo katakan apa yang kaumaksudkan!”

“Lepaskan tanganmu! Jangan cengkeram pundakku! Nenek jahat engkau....!” Lulu berteriak meronta-ronta, akan te­tapi percuma saja, jari tangan nenek itu seolah-olah telah melekat di pundaknya!

“Lepaskan....! Kalau tidak....”

“Hem, bocah liar. Kalau tidak engkau mau apa?” Nenek itu berkata.

“Kupukul mampus kau!”

Diam-diam nenek itu kagum sekali melihat keberanian Lulu, maka ia menjawab, “Mau pukul? Boleh, pukullah!”

Karena Lulu dapat menduga bahwa nenek ini tentulah kaki tangan Puteri Nirahai dan jahat, terpaksa harus ia lenyapkan dulu sebelum ia menghadapi Nirahai yang ia tahu amat lihai. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya, memukul secara bertubi ke arah perut dan dada nenek itu. Ia menggunakan jurus pukulan ilmu silatnya yang sudah ia latih dan sempurnakan di lembah Huang-ho, dan mengerahkan sin-kangnya yang ia dapat ketika berlatih di Pulau Es.

“Desss! Desssss!” Lulu menjerit kesakitan karena kedua tangannya yang memukul itu seperti memukul air, akan tetapi akibatnya kedua tangan itu terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan seribu batang jarum! Nenek itu pun kaget dan melepaskan pundak Lulu, matanya terbelalak memandang Lulu dan mulutnya berkata dengan suara menggetar.

“Itulah Hong-in-bun-hoat....! Dari mana engkau mempelajarinya? Dan sin-kangmu itu.... apakah Swat-im Sin-ciang?”

Lulu masih meringis kesakitan, akan tetapi ia cemberut menghadapi pertanya­an itu. “Ternyata engkau memiliki ilmu siluman dan pertanyaanmu ngawur tidak karuan. Apa itu Hong-in-bun-hoat? Apa itu Swat-im Sin-ciang? Kalau Kakakku mungkin tahu ilmu-ilmu itu. Aku hanya belajar sedikit di Pulau Es. Eh, yang manakah di antara kalian ini yang ku­lihat patungnya di Pulau Es? Seperti dia....” Ia menuding Nirahai. “Akan tetapi matanya seperti matamu!” Ia me­lihat nenek itu. “Akan tetapi yang mana pun juga di antara kalian, semuanya jahat, memang di antara mereka bertiga di Pulau Es itu, yang satu itu paling jahat....!”

“Apa kau bilang....? Apa kau bilang....?” Nenek itu berkata dengan suara gemetar, tubuhnya terhuyung.

“Subo....!” Nirahai meloncat, mendekati nenek itu. Akan tetapi dengan tangannya nenek itu menolak Nirahai yang hendak menolongnya, kemudian setelah menghela napas tiga kali ia da­pat menguasai hatinya. Sekali melangkah ia telah menggerakkan tangan menangkap tangan Lulu tanpa gadis ini dapat meng­elak sedikit pun. Gerakan nenek itu ce­pat luar biasa dan tidak dapat ia ikuti dengan pandangan matanya. Ia hendak meronta, akan tetapi membatalkan niatnya ketika nenek itu memijat-mijat kedua tangannya yang membengkak me­rah. Lulu juga seorang yang cerdik dan ia mengerti bahwa nenek inilah sebetul­nya orang yang patungnya ia lihat di Pulau Es. Ketika ia tadi melihat wajah dan mata nenek ini, teringatlah ia akan patung itu, hanya karena patung itu can­tik dan muda seperti Nirahai, maka ia mengira bahwa Nirahailah orangnya yang patungnya ia lihat di sana. Kini ia me­ngerti bahwa biarpun ada persamaan dengan patung itu dan Nirahai, akan tetapi sebetulnya patung itu adalah pa­tung Si Nenek lihai ini di waktu muda. Dan ia pun dapat menduga bahwa di­sebutnya patung itu di Pulau Es men­datangkan keharuan besar di hati nenek ini. Tentu nenek ini ingin mendengar banyak-banyak tentang Pulau Es dari dia, maka kini nenek itu bersikap baik, mengobati kedua tangannya yang membengkak karena memukul tubuh Si Nenek. Kalau tidak mempunyai maksud demikian, kira­nya nenek yang seperti iblis ini akan membunuhnya! Ia harus bersikap cerdik, pikirnya. Lulu membiarkan kedua tangan­nya ditekan dan ditotok dan memang hebat sekali, dalam sekejap mata saja sudah sembuh, akan tetapi dia sudah memutar otak mencari akal.

“Siapakah namamu?” Nenek itu ber­tanya sambil melangkah mundur dua langkah dan memandang tajam.

“Namaku Lulu.”

“Engkau gadis Mancu?” Kini nenek itu bertanya dalam bahasa Mancu.

Lulu menjawab dalam bahasa Han, “Aku memang gadis Mancu, akan tetapi lebih suka berbahasa Han.”

Nenek itu mengerutkan alisnya, “Hemmm, sesukamulah. Sekarang cerita­kan bagaimana kau bisa bicara tentang Pulau Es.”

“Aku tidak mau bicara!”

Nenek itu membelalakkan matanya dan dari mata yang lebar itu memancar ­kebengisan yang membuat bulu tengkuk Lulu bangun satu-satu. Akan tetapi dia seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa, maka ia menentang pandang mata itu tanpa berkedip. Matanya jauh lebih lebar dari mata nenek itu dan sinar matanya pun tajam, bening dan polos.

“Kalau aku paksa padamu, kupatahkan satu-satu tangan kakimu, apakah engkau juga tidak mau bercerita?”

Tiba-tiba Lulu tertawa, suara ketawa­nya yang dimaksudkan agar berbunyi mengejek itu malah terdengar merdu nyaring dan menular sehingga Si Nenek terpaksa ikut tersenyum, bahkan Nirahai juga tersenyum lebar. “Heh-heh, kiranya engkau adalah Lulu bocah Mancu yang diambil Adik angkat oleh tokoh muda aneh bernama Han Han itu. Sudah lama kau kami cari-cari, siapa sangka akan bertemu di sini.”

“Hemmm, jadi Ouwyang Seng manusia tak bermalu itu engkau yang suruh? Pan­tas, engkau jahat, kaki tanganmu pun jahat. Tentu iblis-iblis tua yang mengeroyok kakakku, Si Setan Botak dan Si Iblis Muka Kuda itu pun kaki tanganmu, bukan? Hemmm.... cocok sekali!”

Nirahai terkejut. “Aihhh, engkau tahu....?”

“Tentu tahu! Malah aku telah ditawan dan dibawa ke istana, oleh Kaisar sendiri aku dijadikan pelayan istana. Akan tetapi aku lari dari istana....”

Nirahai tertawa lagi. Tak dapat ia menahan geli hatinya. Anak ini polos dan nakal, akan tetapi wajahnya begitu manis dan cerah sehingga sukarlah untuk marah kepadanya.

“Engkau aneh. Bukankah senang sekali menjadi pelayan istana? Engkau gadis Mancu, menjadi pelayan di istana Kaisar sendiri bukankah amat terhormat? Meng­apa engkau melarikan diri?”

“Aku tidak kerasan! Aku akan men­cari kakakku, kalau ia belum dibunuh oleh kaki tanganmu yang jahat!”

Nirahai mengerutkan keningnya. Diam-diam timbul rasa ingin sekali bertemu dengan kakak gadis ini, yang bernama Han Han. Kalau adiknya begini aneh, tentu kakaknya lebih aneh lagi.

“Lulu, lekas kau bercerita tentang Pulau Es, kalau engkau tidak mau, ku­patah-patahkan seluruh tulang di tubuh­mu!” Kembali Nenek Maya menghardik.

Nirahai maklum akan kebengisan se­orang berwatak aneh seperti gurunya. Kalau gurunya mau, sekali turun tangan tentu ancamannya itu akan dilaksanakan tanpa ada yang mampu menghalanginya. “Lulu, anak baik, engkau mengakulah saja.”

Akan tetapi Lulu yang sudah meng­atur siasat itu menjawab, “Aku tidak peduli apakah tulang-tulangku akan di­patahkan ataukah tubuhku akan dihancur­kan oleh dia itu. Aku tidak takut mati. Memang aku tahu bahwa di antara ketiga patung itu, wanita cantik bengis itu yang berhati jahat! Aku baru mau bercerita kalau syaratku dipenuhi.”

Nirahai memang tidak ingin mencela­kai bangsa sendiri. Dan begitu bertemu dengan Lulu, ia sudah merasa suka dan sayang kepada anak yang keras hati dan berwatak kukoai (ganjil) ini. “Apakah syaratnya?”

“Pertama, kalau aku dibawa ke istana, kau harus menjamin agar aku tidak di­hukum karena melarikan diri.”

Nirahai tersenyum. “Baiklah. Kaisar adalah Ayahku sendiri, aku dapat minta­kan ampun untukmu.”

“Ke dua, kalau kakakku tidak ter­bunuh, kau harus menyuruh kaki tangan­mu mencarikan dia untukku. Akan tetapi kalau sudah terbunuh, engkau harus mem­biarkan aku membalas dendam kepada pembunuhnya!” Lulu mengepal kedua tinjunya, matanya memancarkan kemarah­an.

Nirahai mengangguk. “Baik-baik, itu pun sudah adil.” Diam-diam ia merasa bahwa kalau benar Han Han sudah ter­bunuh, tentu pembunuhnya itu amat lihai dan bagaimana gadis ini akan dapat mem­balas dendam?

“Lekas ceritakan tentang Pulau Es!” Nenek itu kini membentak, kehilangan sabar dan sudah melangkah maju setindak ke dekat Lulu. Melihat ini, Nirahai yang merasa sayang kepada Lulu cepat berkata.

“Lulu, syarat-syaratmu telah dipenuhi, lekas engkau bercerita.”

“Masih ada lagi syaratku, yaitu karena aku sudah tinggal di Pulau Es sampai bertahun-tahun dan locianpwe ini adalah seorang di antara penghuni Pulau Es, maka kalau locianpwe suka mengambil aku sebagai murid, baru aku mau menceritakannya!”

“Wirrr....!” Tangan nenek itu bergerak dan biarpun Lulu hendak mengelak, percuma lagi karena rambutnya sudah disambar dan sekali nenek itu mengang­kat tangan, tubuh Lulu tergantung pada rambutnya yang dicengkeram! Lulu me­rasa nyeri, akan tetapi ia tidak menge­luh dan hanya membelalakkan mata dan dia sungguh-sungguh kelihatan seperti seekor kelinci dipegang kedua telinganya dengan matanya yang lebar itu.

“Bocah setan! Mengapa harus meng­ambilmu sebagai murid?” bentak nenek itu.

Diam-diam Lulu ngeri juga. Di tangan nenek ini ia seperti sebuah boneka yang tidak berdaya. Otaknya bekerja cepat. Tadi ia sengaja minta menjadi murid karena kini ia telah cukup tahu betapa pentingnya memiliki ilmu kepandalan tinggi. Dengan ilmu kepan­daian tinggi dia tidak akan mudah di­hina orang seperti berkali-kali ia dan kakaknya mengalaminya dan ia mengenal orang sakti maka kalau ia bisa menjadi murid nenek ini tentu ia akan menjadi amat lihai. Ia pun tahu bahwa ia boleh agak “menjual mahal” karena tahu akan kegairahan hati nenek ini ingin mende­ngar tentang Pulau Es, akan tetapi kalau ia agak keterlaluan menjual mahal dan menahan harga, sekali nenek itu turun tangan ia takkan bemyawa lagi. Cepat ia menjawab.

“Locianpwe yang baik, peristiwa di Pulau Es merupakan rahasia pribadi, dan keadaan Pulau Es pun tidak boleh diceri­takan pada lain orang, demikian pesan kakakku yang mentaati pesan tertulis para locianpwe penghuni pulau itu. Kami berdua telah bersumpah takkan membuka rahasia Pulau Es. Kalau saya tidak menjadi murid locianpwe, berarti locianpwe saya anggap orang luar. Bagaimana saya akan dapat menceritakan tentang pulau rahasia itu? Biar dibunuh sekalipun, kalau locianpwe tidak menjadi guru saya, mana saya berani membuka rahasia?”

Cekalan rambutnya mengendur dan tubuh Lulu dilepaskan kembali. Nenek itu mengangguk. “Engkau sudah sampai di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Baiklah, engkau menjadi muridku bersama Nirahai.”

“Terima kasih, subo!” Lulu dengan girang menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. Nirahai juga girang sekali, berlutut pula di samping Lulu, merang­kul pundaknya dan berkata, “Sumoi yang baik!”

Akan tetapi Lulu melotot kepadanya. “Suci, awas kalau sampai Han-koko kau­bunuh, biar engkau menjadi suciku, eng­kau akan kubunuh pula!”

“Bocah kurang ajar, lekas ceritakan!” kembali nenek itu membentak.

“Subo, urusan rahasia yang sedemikian gawatnya masa boleh diceritakan di tengah jalan seperti ini? Lebih baik di dalam kamar, di istana.... kalau Subo hendak ke sana.”

Saking inginnya segera mendengar cerita itu, Nenek Maya menyambar tubuh Lulu dan sekali berkelebat ia lenyap. Hanya terdengar suaranya, “Nirahai, kami menantimu di dalam istana!”

Nirahai memandang bengong dan menghela napas panjang. Ia kagum sekali akan keberanian Lulu dan diam-diam ia menduga bahwa kelak Lulu akan men­jadi seorang yang hebat. Dia tidak akan heran kalau subonya akan lebih sayang kepada bocah itu. Maka ia lalu memasuki joli dan memerintahkan dua orang pe­manggulnya yang berjongkok dan bengong menyaksikan tingkah orang-orang aneh itu untuk memanggul joli melanjutkan perjalanan ke kota raja.



***



Di luar kota Tai-goan terdapat sebuah dusun yang cukup ramai. Dusun itu bernama Leng-chun, letaknya di sebelah selatan kota Tai-goan dan di tepi Sungai Fen-ho yang mengalir ke selatan dari kota Tai-goan. Karena Sungai Fen-ho ini terus mengalir ke selatan sampai bergabung dengan Sungai Huang-ho yang mengalir ke timur dan sampai ke Terus­an Besar, maka sungai ini merupakan sungai yang “hidup”, yaitu dimanfaatkan oleh rakyat sebagai jalan umum untuk mengangkut barang dan penumpang. Se­lain lebih aman dan murah, juga tidak melelahkan daripada kalau melakukan perjalanan melalui daratan yang banyak diganggu rampok dan melalui gunung-gunung yang sukar dilewati.

Karena ramainya sungai ini, maka dusun Leng-chun merupakan dusun yang makmur pula, banyak dilewati kaum pe­dagang dan banyak pula barang-barang hasil bumi diangkut ke timur meialui dusun ini. Banyaknya kaum pedagang dan pelancong membuat dusun ini ramai dan banyak dibuka rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan, yang sungguhpun kecil-kecil dan sederhana namun cukup memenuhi kebutuhan para saudagar dan pelancong. Dusun kecil ini dengan sendirinya menjadi pusat pertemuan orang-orang dari luar kota sehingga banyak terdapat orang asing yang bicara dengan bermacam dialek.

Pada suatu hari, seorang laki-laki yang aneh memasuki sebuah rumah makan di dusun Leng-chun. Laki-laki ini masih muda, wajahya tampan sekali, sinar matanya aneh dan tajam, namun di antara kedua alisnya banyak guratan yang menjadi tanda bahwa semenjak kecil pemuda ini sudah mengalami banyak penderitaan hidup. Pakaiannya sederhana, serba putih dengan garis-garis biru tua. Yang amat menarik perhatian orang bukanlah pakaiannya karena pakaian itu sederhana, bahkan orang-orang kang-ouw yang suka lewat di tempat ini dengan pakaian mereka yang aneh-aneh pun sudah dianggap biasa oleh penduduk di situ. Rambut itu hitam panjang dibiarkan terurai ke atas pundak dan punggung, sama sekali tidak diikat atau digelung seperti biasa. Bahkan semenjak keluar peraturan dari pemerintah Kerajaan Ceng yang mengharuskan penduduk pribumi menguncir rambut mereka, banyak pen­duduk menguncir rambut lalu menyembunyikan kuncir di bawah topi agar tidak tampak. Akan tetapi pemuda ini mem­biarkan rambutnya terurai, dikuncir pun tidak! Juga kakinya amat menarik per­hatian karena kaki itu tinggal sebuah. Kaki kirinya buntung. Pemuda itu ber­jalan dibantu tongkatnya, sebatang tongkat kayu yang butut, yang dipegang de­ngan tangan kiri dan dipergunakan se­bagai pengganti kakinya. Pemuda itu berjalan perlahan-lahan dan agaknya dia sudah mahir menggunakan tongkat, bukti­nya ia tidak kelihatan pincang, biarpun ia hanya berjalan dengan sebelah kaki.

Pemuda tampan berkaki buntung dan berambut panjang terurai ini bukan lain adalah Han Han. Setelah gurunya yang baru, Nenek Khu Siauw Bwee yang bun­tung pula kakinya, menggemblengnya secara tekun dan sudah membolehkah dia keluar dari daerah tersembunyi itu, Han Han lalu muncul pula di dunia ramai dan pertama-tama yang ia kerjakan adalah mencari adiknya. Pada pagi hari itu ia tiba di Leng-chun, dalam perjalanannya mencari Lulu yang ia mulai dari tempat di mana Lulu diculik Ouwyang Seng, yaitu ke kota raja. Ia dapat menduga bahwa Lulu setelah ditawan oleh pemuda bangsawan itu tentu dibawa ke kota raja, maka ke sanalah ia menuju dan pagi hari itu selagi melewati Leng-chun, perutnya merasa lapar dan ia lalu memasuki se­buah rumah makan. Dia tidak mempunyai uang sekeping pun, akan tetapi perutnya amat lapar dan ia bersedia menukarkan tenaganya untuk beberapa potong bak­pauw atau sepiring nasi, semangkok arak.

“Lopek, maukah lopek memberi aku beberapa potong bakpauw itu? Perutku lapar sekali!”

Ucapan Han Han ini nyaring, tidak malu-malu sungguhpun di situ banyak duduk para tamu menghadapi meja dan ada beberapa orang tamu sudah menoleh ke arahnya ketika mendengar ini. Bebe­rapa orang sudah mengomel, “Hemmm.... di mana-mana ada saja pengemis, seperti lalat saja!”

Han Han mendengar dengan jelas omelan ini, akan tetapi ia tidak peduli, tidak pula marah atau merasa terhina, bahkan menoleh pun tidak ke arah orang-orang yang mengomel itu. Ia hanya meng­hadapi koki rumah makan yang gendut, memakai topi bundar dengan kain lap di pundak dan yang sedang memanaskan bakpauw di sudut rumah makan. Tiap kali koki ini membuka penutup tumpukan bakpauw yang dimasak, bau sedap me­nyengat hidung, membuat Han Han menelan ludah. Sudah lama dia tidak makan masakan enak, apalagi bakpauw. Di se­panjang jalan ia hanya makan buah-buah, daun-daun muda, dan minum air gunung.

Koki gemuk itu menoleh dan mengernyitkan hidung ketika melihat Han Han. Akan tetapi ketika bertemu dengan pan­dang mata yang halus namun tajam me­nusuk itu ia menelan kembali makian yang sudah keluar ke ujung lidah. Sam­bil menggerakkan kedua tangan untuk menyatakan bahwa ia tidak berdaya dalam hal itu, ia berkata.

“Wah, mana bisa, orang muda? Aku bekerja di sini untuk menjualkan bakpauw ini, kalau diminta begitu saja dan kuberi, bisa-bisa gajiku akan dipotong habis oleh majikan. Bakpauw ini bukan untuk disedekahkan kepada orang yang minta.” Dia tidak berani menyebut pengemis, karena koki ini maklum bahwa banyak orang kang-ouw berkeliaran di tempat itu dan melihat pandang mata pemuda ini, benar-benar menimbulkan rasa serem di hati.

Han Han tersenyum ramah. Koki itu makin heran dan curiga. Kalau pengemis mengapa begini tampan dan giginya be­gitu putih bersih dan berderet rapi, serta kelihatan kuat. “Ucapanmu tepat sekali, Lopek. Aku pun bukan sembarangan me­ngemis atau minta dengan percuma. To­long sampaikan kepada majikanmu bahwa karena perutku lapar, aku minta dan setelah kenyang, aku akan membayar makananku dengan tenaga, boleh disuruh bekerja apa saja untuk membayar makan­anku.”

Wah, pemuda ini ternyara benar-benar bukan pengemis, pikir si koki dengan hati lega. Ia merasa bangga akan wawasannya tadi sehingga ia tidak terburu nafsu me­maki dan mengusir pemuda ini sebagai pengemis. “Ah, kalau begitu, tunggulah sebentar!” Dengan gerak langkah kaki lucu, pantatnya yang membusung ke­banyakan daging itu megal-megol seperti larinya seekor bebek, koki itu lari masuk ke dalam dan bicara kepada seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai majikan dan yang kepalanya bo­tak. Si botak itu menghentikan pekerja­annya menghitung-hitung dengan swipoa, lalu miringkan kepala untuk memandang ke arah pemuda kaki buntung yang berdiri di depan pintu. Matanya agak lamur dan juling sehingga kalau melihat orang di tempat agak jauh ia harus miringkan kepalanya, baru kelihat­an agak jelas. Kemudian ia bangkit ber­diri malas-malasan, berjalan keluar di­ikuti koki yang megal-megol.

Sejenak majikan restoran itu meman­dang Han Han dari kepala sampai ke kaki, terutama pada kaki buntung itu, lalu bertanya, “Orang muda, engkau bisa bekerja apakah?”

“Apa saja, asal aku mendapat makan,” jawab Han Han sederhana sambil memandang ke arah tumpukan bakpauw yang ditutup.

“Hemmm.... dengan.... eh, maaf.... kakimu yang buntung sebelah, engkau dapat bekerja apakah?” Majikan restoran itu mengurut-urut dagunya, berpikir-pikir. Dia mau menolong pemuda ini, akan tetapi dia pun tidak mau rugi. Segala sesuatu bagi majikan ini harus ia perhitungkan dengan swipoa, jangan sampai rugi!

“Loya, pagi ini kebetulan sekali A-ji mangkir, kabarnya sakit. Bagaimana kalau dia ini membantu melayani tamu?”

Pandang mata majikannya itu me­nimbang-nimbang. Biarpun kaki kirinya buntung, akan tetapi pemuda ini bersih dan menyenangkan, tidak menjijikkan. Apalagi kakinya yang buntung itu pun tertutup celana buntung sehingga tidak kelihatan. Juga berdirinya dengan kaki satu dibantu tongkat tegak.

“Baiklah, pagi ini engkau boleh makan bakpauw sekenyangmu, siang dan malam nanti makan nasi. Akan tetapi engkau harus membantu kami menjadi pelayan selama sehari semalam. Bagaimana?”

Sebetulnya Han Han merasa keberatan di dalam hatinya. Dia hanya ingin makan pagi itu kemudian melanjutkan perjalan­annya ke kota raja. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah para tamu, ia melihat seorang laki-laki muda bertubuh tegap berwajah gagah duduk bersama seorang temannya yang juga tegap dan gagah. Dan di meja lain tampak empat orang mengelilingi meja dan tertawa-tawa sam­bil mengobrol, akan tetapi sikap empat orang ini seperti mengejek dua orang itu.

Mereka mengobrol sambil memandang-mandang kedua orang itu, tertawa-tawa dan pandang mata mereka menantang sekali. Hatinya tertarik. Agaknya di tem­pat ini banyak orang kang-ouw bertemu dan agaknya ia akan melihat banyak dan mendengar banyak. Ia lalu mengangguk. Tidak mengapalah perjalanannya terlam­bat sehari di tempat ini.

“Baiklah, aku terima syarat itu.”

Setelah majikan itu kembali ke meja­nya, melanjutkan pekerjaannya mainkan swipoa sehingga terdengar ketrokan swi­poa ramai, koki itu tersenyum lebar dan berkata, “Aku senang sekali mendapat bantuanmu. Nah, makanlah bakpauw ini!” Koki itu mengambil dua butir bakpauw dengan sumpitnya yang panjang dan me­letakkannya di atas piring. Han Han menyambar bakpauw itu dan makan de­ngan lahapnya. Ia makan sampai habis lima butir, barulah perutnya kenyang dan seleranya terpuaskan. Setelah minum air teh panas, tiba-tiba terdengar suara laki-laki muda bertubuh tegap memanggil.

“Bung pelayan!”

Koki itu memberi isyarat dengan gerakan dagunya kepada Han Han. Han Han lalu meletakkan mangkok tehnya dan berjalan cepat ke arah meja tamu yang dua orang itu. Si koki memandang lang­kahnya sejenak, lalu menggeleng-geleng kepala dan menggumam seorang diri, “Kasihan....!”

“Ji-wi memanggil pelayan?” Han Han bertanya dengan sikap hormat kepada dua orang itu.

Si pemuda yang bertubuh tegap me­mandangnya sejenak, terutama kepada kakinya yang buntung, lalu bertanya, “Engkau pelayan?”

“Benar, Kongcu, mulai saat ini sampai malam nanti. Kongcu hendak memesan apakah?”

“Tolong ambilkan tambahan sekati bakmi dan seguci arak!”

“Baik, Kongcu!” Han Han memutar tubuh dan atas isyarat koki yang me­manaskan bakpauw ia lalu pergi ke tem­pat yang ditunjuk, yaitu ke bagian dapur di belakang. Ternyata rumah makan yang terdiri dari dua ruangan itu penuh tamu. Ketika ia melewati meja di mana duduk empat orang kasar yang bercambang bauk, seorang di antara mereka melonjor­kan kaki, seperti tidak disengaja akan tetapi sesungguhnya disengaja. Han Han tentu saja dengan mudah dapat melewati kaki itu, akan tetapi ia ingat akan ke­dudukannya sebagai pelayan dan berkata, “Maaf, harap suka memberi jalan, saya hendak lewat.”

Orang itu brewok dan matanya bundar besar yang kini melotot kepada Han Han.

“Apa katamu? Kau tidak bisa menye­but taihiap? Kami adalah pendekar-pendekar besar, tahu?”

Han Han tersenyum. “Maaf, taihiap, karena saya tidak tahu maka....”

Orang itu menarik kakinya. “Sudah, pergilah. Memutari meja kami! Kakimu menjijikkan!”

Han Han membungkuk, lalu terpaksa mengambil jalan mengitari meja itu, berloncatan kecil dibantu tongkatnya, terus ke dapur melaporkan pesanan dua orang itu. Koki di dapur sudah tahu hahwa ada seorang pelayan baru yang menggantikan A-ji yang mangkir. Tanpa bertanya koki ini lalu menyediakan pesanan itu dan Han Han diberi sehelal kain lap yang ia sampirkan di pundak. Kemudian ia membawa baki dengan tangan kanan di atas pundak, menghampiri dua orang pemesannya sambil mengitari meja empat orang brewok. Sambil mengempit tongkatnya, dengan kedua tangan Han Han menghidangkan bakmi di meja dua orang itu.

“Kasihan!” kata pemuda tampan ber­tubuh tegap sambil memandang Han Han. “Kenapa untuk mendapat makan saja engkau yang buntung harus menjadi pe­layan. Sobat, kalau kau perlu makan, makanlah, biar kami yang bayar. Dan ini sedikit uang untuk bekal....”

Han Han membelalakkan mata dan merasa berterima kasih sekali. Dia mengenal orang baik, akan tetapi dia juga tidak mengharapkan pertolongan orang. Ia menjura dan berkata.

“Terima kasih, Kongcu. Kongcu se­orang yang baik sekali. Akan tetapi ma­af, saya hanya menerima bantuan yang dapat saya balas. Majikan restoran ini memberi saya makan, tentu saja saya harus membalasnya sekuat kemampuan saya.” Ia menjura lagi untuk mengambil seguci arak yang dipesan, lalu meletakkannya di atas meja dengan sikap hor­mat, dipandang oleh dua orang gagah itu dengan kagum. Tamu baru datang dan Han Han cepat menyambut dan melayani pesanan mereka. Ia mulai merasa senang juga dengan pekerjaan ini.

“Sungguh mengagumkan!” kata pemuda itu kepada temannya yang juga gagah dan usianya sudah ada empat puluhan tahun. “Biarpun dia pincang kakinya, akan tetapi tidak pincang batinnya, masih mengenal budi! Alangkah banyaknya orang sekarang yang lupa akan budi, lupa akan nenek moyang, lupa akan bangsa sehingga tidak segan menjual negara!” kata-kata pemuda itu penuh semangat.

“Memang, Hiantit. Orang yang pincang dan lemah masih mempunyai semangat dan kejujuran, seperti watak patriot. Sebaliknya, betapa banyaknya orang yang kuat dan gagah akan tetapi sebetulnya lemah dan mabuk oleh harta dan kedudukan, tidak segan membantu penjajah!” kata orang yang setengah tua.

“Omongan seperti kentut!” Tiba-tiba seorang di antara empat orang kasar di meja sebelah, yang dahinya codet, meng­gebrak meja sehingga mangkok-mangkok tergetar dan sebagian isinya tumpah di meja. “Omongan pemberontak! Di waktu kerajaan baru belum membahagiakan rakyat pura-pura menjadi patriot! Ha-ha-ha, betapa banyaknya manusia plin-plan seperti itu!”

Keadaan menjadi tegang. Biarpun tidak secara langsung saling memaki, namun omongan kedua fihak sudah saling mengejek.

“Ciang-lo-enghiong, banyak pendapat yang sesat seperti itu. Orang-orang bi­jaksana jaman dahulu berkata Wi-bin-wi-kok, hiap-ci-tai-cia (membela rakyat membela negara, adalah perbuatan paling mulia). Kalau membaliknya daripada membela negara dan memihak penjajah, itu namanya penjilat dan tidak berharga!” kata pemuda gagah tadi sambil meng­hirup araknya. Mukanya agak merah, mungkin karena terlalu banyak minum, mungkin juga karena marah.

“Memang demikianlah, So-hiantit. Akan tetapi bicara kepada orang yang berotak angin, apa artinya? Sama dengan berteriak di padang pasir, sayang ucapan baik-baik dihamburkan saja. Gentong kosong berbunyi nyaring akan tetapi tidak ada isinya. Huhhh!” kata yang tua.

“Mulut bau busuk! Asal terbuka saja mengeluarkan bau busuk! Eh, Sam-wi Suheng, akan percumalah kita dikenal sebagai Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Besi) kalau tidak mem­bersihkan dusun ini yang agaknya ter­dapat banyak lalat hijau dari Se-cuan! Yang jelas di sini bau dua ekor lalat hijau yang agaknya baru keluar dari ka­kus. Baunya bukan main!” kata seorang di antara empat laki-laki brewok yang hidungnya besar. Si Codet dan dua orang temannya tertawa bergelak sambil me­nuding-nuding ke arah dua orang itu.

Keadaan makin tegang dan banyak tamu tergesa-gesa membayar makanan yang belum habis, bahkan yang baru masuk sudah keluar lagi tidak jadi me­mesan makanan. Majikan restoran ber­jalan ke sana ke mari membawa swipoa­nya, wajahnya pucat. Koki gemuk berdiri di dekat tumpukan bakpauw dengan kaki menggigil.

Melihat ini, Han Han segera meng­hampiri meja empat orang brewok itu dan menjura sambil berkata, “Apakah Su-wi Taihiap hendak memesan makanan tambahan?”

Si Codet menoleh dan menepuk-nepuk pundak Han Han sambil tertawa. “Inilah dia seorang patriot sejati, ha-ha-ha!” Tiga orang kawannya juga terbahak.

Orang ke Tiga yang ada tahi lalatnya di ujung hidung berkata mengejek, “Eh, pelayan patriot, apakah engkau kehilang­an kakimu di medan juang? Ha-ha-ha, agaknya engkau dahulu pelayan di Se-cuan dan karena kekurangan makan lalu lari ke sini!”

Orang ke empat yang matanya sipit sekali menekan perutnya saking menahan ketawa lalu berkata, “Eh, pelayan patriot. Coba katakan, kami adalah Kang-thouw Su-liong, dan kami membenci para pem­berontak di Se-cuan. Pemerintah baru amat bijaksana, dapat menggunakan orang pandai untuk membikin makmur hidup rakyat. Akan tetapi para pemberontak di Se-cuan memancing-mancing perang, mengadakan kekacauan dan membikin sengsara rakyat yang sudah terlalu banyak menderita akibat perang. Katakan, kalau kami memihak kerajaan baru yang bagaikan sinar matahari sehabis hujan memberi harapan baru, tidakkah pendapat kami benar?”

“Kalau berani menyalahkan, kupatah­kan lagi kakimu yang tinggal sebelah!” kata Si Hidung Besar.

Han Han berkata dengan suara tenang, “Menurut pendapat saya yang bodoh, manusia di dunia berhak memiliki pen­dapat masing-masing, asal ada dasar kebenarannya. Kalau Su-wi yang gagah per­kasa membela pemerintah baru meng­ingat kepentingan rakyat, maka pendapat itu adalah benar sekali. Pendapat se­seorang dapat dinilai dari dasarnya, atau pamrihnya. Kalau dasar dan pamrihnya baik, maka pendapat itu adalah baik.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar