Senin, 19 September 2011

Cersil : Pendekar Super Sakti [Kho Ping Ho] 6

“Kalau begitu minggirlah dan biarkan kami membunuh Si Pembesar anjing....” Phoa Ciok Lin berseru.

“Tidak boleh. Dia itu adalah Cihu-ku, terpaksa aku harus melindunginya demi kebahagiaan Cici dan keponakanku.”

“Han Han!” Kim Cu berkata men­dahului sumoi dan suhengnya. “Kalau engkau masih keluarga pembesar ini, mengapa kau membunuhi para pengawal­nya?”

Han Han menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Karena kulihat mereka membunuh para pengungsi.”

“Nah, itu bagus sekali!” Kim Cu ber­kata girang. “Engkau menyaksikan sendiri betapa jahatnya penjajah Mancu, Han Han! Mereka membunuhi rakyat jelata, mereka membasmi keluargamu, bukan? Juga keluargaku, keluarga sumoi dan suheng ini! Mereka itu jahat, patut di­basmi dari tanah air kita! Minggirlah dan biarkan aku membunuh pembesar ini. Biar dia Cihu-mu, akan tetapi dia ini anjing Mancu. Tentu saja kami tidak akan mengganggu Cici dan keponakanmu.”

“Benar apa yang dikatakan Kim-sumoi, Han Han. Minggirlah. Engkau pun musuh bangsa Mancu. Mereka itu sudah terlampau banyak membunuh rakyat yang tidak berdosa, telah menginjak-injak ta­nah air dan rakyat kita. Jangan sampai seorang pemuda seperti engkau menjadi seorang pengkhianat dan penjilat anjing Mancu.”

Mata Han Han berkilat ketika ia menentang pandang mata Gu Lai Kwan. “Aku bukan sute kalian dan hanya meng­ingat akan perhubungan di antara kita dahulu, terutama sekali mengingat akan budi kebaikan Nona Kim Cu, maka aku melayani kalian bicara. Bolehkah aku bertanya, sudah banyak pulakah kalian membasmi orang-orang Mancu termasuk mereka yang mau bekerja sama dengan pemerintah Mancu?”

Tiga orang ini mengira bahwa setelah membunuhi puluhan orang pengawal itu, Han Han lalu menjadi sombong. “Ha-ha, sungguh pertanyaan lucu!” jawab Gu Lai Kwan. “Tentu saja sudah banyak! Sedikitnya seratus orang telah tewas di tanganku ini!”

“Demikian pula dengan Nona Kim Cu­ dan Nona Phoa Ciok Lin?” Han Han me­lanjutkan pertanyaannya. Dua orang gadis itu mengangguk, pandang mata Kim Cu makin bingung dan khawatir. Ia merasa tidak senang kalau harus bermusuh de­ngan Han Han.

Han Han tersenyum, senyum yang mengandung penuh arti. “Mungkin Cihu-ku ini sudah banyak membunuh orang. Akan tetapi aku pun sudah banyak membunuh orang dan kalian bertiga sudah mengaku telah membunuh ratusan orang! Entah siapa yang lebih jahat di antara kita pembunuh-pembunuh ini dan aku sangsi apakah ada yang baik di antara kita!”

Sejenak tiga orang muda itu bingung mendengar ucapan itu. “Akan tetapi, yang kami bunuh adalah orang-orang Mancu yang jahat sedangkan yang di­bunuh orang-orang Mancu adalah rakyat yang tidak berdosa!” bantah Gu Lai Kwan penasaran.

“Gu Lai Kwan, aku hendak melihat mana ada orang yang tidak berdosa....!” Han Han menarik napas panjang, teringat akan cerita cicinya tentang kakeknya, yang menjadi pemerkosa wanita nomor satu di dunia!

“Han Han! Tak usah banyak cakap, mau tidak engkau minggir dan membiar­kan aku membunuh anjing Mancu itu?”

Han Han menggeleng kepala.

“Engkau mau menjadi pengkhianat?” bentak Phoa Ciok Lin yang seperti su­hengnya amat membenci orang-orang Mancu dan sudah bersumpah hendak membunuh semua orang Mancu untuk membalas dendam keluarganya yang habis terbasmi orang Mancu.

“Terserah bagaimana penilaian kalian. Aku tetap tidak membiarkan kalian mem­bunuh Cihu-ku dan keluarganya. Sebaiknya kalian pergi saja.”

“Wah, agaknya engkau memiliki se­dikit kepandaian dan menjadi sombong!” bentak Gu Lai Kwan. “Minggirlah, atau terpaksa aku akan merobohkanmu lebih dulu!”

“Han Han, minggirlah. Mengapa eng­kau berkeras?” Kim Cu berkata, suara­nya setengah memohon. Akan tetapi Han Han memandang gadis itu dan berkata,

“Menyesal sekali, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu, Nona Kim Cu.”

“Kalau begitu mampuslah!” Gu Lai Kwan menerjang maju, mengirim pukulan keras sekali ke dada Han Han. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Gu Lai Kwan ini merupakan seorang di an­tara empat murid yang diambil Toat-beng Ciu-sian-li sebagai murid, dioper dari tangan Ma-bin Lo-mo, di samping Han Han, Kim Cu dan Phoa Ciok Lin. Murid-murid Ma-bin Lo-mo sudah hebat, menerima pelajaran ilmu kesaktian Swat-im Sin-ciang. Akan tetapi sebagai murid Toat-beng Ciu-sian-li, tentu saja tingkat kepandaian tiga orang itu lebih hebat daripada murid-murid Ma-bin Lo-mo. Mereka juga telah menguasai Swat-im Sin-ciang, akan tetapi ilmu yang mereka kuasai baru setengahnya ini seperti yang hanya dapat dicapai oleh semua murid Ma-bin Lo-mo, telah diperhebat oleh pelajaran yang mereka terima dari Toat-beng Ciu-sian-li. Dari nenek ini mereka menerima ilmu silat-ilmu silat tinggi, juga telah menguasai ilmu pukulan yant disebut Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) yang telah digabung dengan Swat-im Sin-ciang se­hingga pukulan yang didasari tenaga sin-kang dingin itu kini mengandung racun yang mematikan. Ketika menyerang Han Han, Gu Lai Kwan yang belum mengenal kelihaian Han Han, tidak mengeluarkan pukulan ini, melainkan memukul dengan sin-kang yang kuat akan tetapi tidak me­ngandung hawa beracun.

Melihat datangnya pukulan yang amat kuat ini, Han Han dapat mengukur dari sambaran hawanya, maka dengan berani ia menerima pukulan itu dengan dadanya! Kim Cu menahan seruannya yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya ketika melihat betapa Han Han menerima pu­kulan suhengnya begitu saja dengan dada. Pukulan itu mengandong tenaga sin-kang yang kuat dan isi dada dapat remuk ter­guncang dan dapat menyebabkan kemati­an. Namun ia tidak keburu mencegah lagi, hanya memandang dengan mata ter­belalak. Adapun Phoa Ciok Lin yang menyaksikan sikap sucinya ini mengerutkan kening dan diam-diam ia maklum bahwa Kim Cu menaruh hati kepada pemuda berambut panjang bersinar mata aneh itu.

“Bukkk!”

“Ayaaaaa....!” Gu Lai Kwan berseru kaget dan tubuhnya terjengkang ke bela­kang. Tentu ia akan terbanting roboh kalau saja ia tidak cepat mempergunakan gin-kangnya berjungkir balik ke belakang sehingga ia dapat berdiri lagi dengan mata terbuka lebar. Pukulannya tadi keras sekali, akan tetapi Han Han telah menerima dengan dada terbuka dan sama sekali tidak bergeming, malah tenaga pukulannya membalik sehingga ia ter­jengkang!

“Lai Kwan, lebih baik engkau dan kedua orang Nona ini pergi saja dan ja­ngan mengganggu aku,” kata Han Han yang tidak ingin bentrok dengan bekas saudara-saudara seperguruannya itu. Akan tetapi ucapannya ini menambah kemarah­an Lai Kwan yang menganggap Han Han memandang rendah kepadanya.

“Manusia sombong! Tidak tahu bahwa aku tadi telah berlaku lunak kepadamu. Kalau benar-benar ingin berkelahi, nah, kauterimalah pukulan ini!” Setelah berkata demikian, Lai Kwan melompat ke depan sambil mengeluarkan pekik me­nyeramkan, kedua tangannya mendorong ke depan ketika tubuhnya masih melam­bung di udara. Itulah pukulan gabungan Swat-im Sin-ciang dan Toat-beng Tok-ciang yang amat hebat!

Pukulan yang mendatangkan suara berciutan itu amat hebatnya dan Han Han tentu saja mengenal pukulan lihai. Dia tidak berani menerima dengan tubuh­nya seperti tadi, apalagi kini kedua ta­ngan yang mendorong itu menuju ke arah pusarnya. Ia masih berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Cepat ia menggerakkan tangan kirinya, diayun dari kanan ke kiri dengan gerakan menang­kis, diam-diam mengerahkan inti tenaga Im-kang yang lebih kuat daripada Swat-im Sin-ciang. Dua tenaga mujijat ber­temu dan tentu saja Lai Kwan bukan lawan Han Han dalam hal tenaga sakti.

Sedangkan Ma-bin Lo-mo sendiri tidak sanggup menandingi Han Han, apalagi Lai Kwan. Pemuda murid Toat-beng Ciu-sian-li ini merasa seolah-olah tubuhnya dibawa angin puyuh, kedua lengannya yang mengirim dorongan tadi terbanting ke kanan, dan tubuhnya tak dapat ia cegah lagi ikut terbanting sehingga ia roboh terguling-guling sampai belasan kaki jauhnya!

“Aiiihhhhh....!” Yang berseru ini adalah Kim Cu dan Phoa Ciok Lin, berseru saking heran dan kagetnya. Mereka tentu saja maklum dan mengenal pukulan su­heng mereka, dan tahu betapa kuatnya pukulan itu. Akan tetapi Han Han dapat menangkis dengan pengerahan tenaga sin-kang dan akibatnya suheng mereka terpelanting sampai belasan kaki jauhnya!

“Singgggg....!” Ciok Lin sudah mencabut pedangnya.

“Singgggg....!” Kim Cu juga mencabut pedang.

Lai Kwan sudah meloncat bangun, terengah-engah dan bergidik, menggoyang pundaknya. Ia merasa betapa hawa dingin menyerang dadanya dan ia hanya mengira bahwa pukulannya yang mengandung Swat-im Sin-ciang tadi membalik oleh tangkis­an Han Han yang memiliki sin-kang amat kuat. Ia masih tidak tahu bahwa Han Han telah memiliki inti sari Swat-im Sin-ciang yang luar biasa kuatnya. Me­lihat kedua orang sumoinya sudah men­cabut pedang, Lai Kwan juga mencabut pedangnya dan melangkah maju.

“Ah, kiranya engkau telah memiliki kepandaian tinggi. Pantas menjadi begini sombong!” kata Lai Kwan. “Akan tetapi karena engkau seorang pengkhianat dan pembela anjing Mancu, engkau akan mati di tangan kami!”

Ucapan itu disusul oleh gerakan pedang yang amat cepat. Pedang di tangan Lai Kwan berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan mata. Berturut-turut tampak sinar bergulung-gulung ketika Kim Cu dan Ciok Lin menggerakkan pedang mereka. Memang tiga orang muda ini telah menerima ilmu pedang yang amat lihai dari guru mereka. Tiga sinar pedang bergulung-gulung seperti tiga ekor naga sakti, mengurung tubuh Han Han. Pemuda ini melihat berkelebatnya gu­lungan sinar pedang yang amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing, terkejut juga dan ia mempergunakan gin-kangnya untuk berkelebat dan mengelak ke sana ke sini. Diam-diam Kim Cu kagum bukan main. Ternyata bahwa Han Han kini telah menjadi seorang sakti, tidak saja memiliki sin-kang yang lebih kuat dari­pada Lai Kwan, bahkan memiliki gin-kang yang istimewa sehingga serangan mereka bertiga selalu mengenai tempat kosong!

“Pergilah kalian! Aku tidak ingin mem­bunuh kalian!” Berkali-kali Han Han ber­seru keras. Memang dia takut sekali kalau-kalau ia kesalahan tangan lagi membunuh tiga orang ini. Hal ini amat tidak ia kehendaki, terutama sekali ia takut kalau-kalau ia salah tangan me­lukai Kim Cu! Akan tetapi seruan-seruannya tidak dipedulikan tiga orang itu yang menjadi makin penasaran, bahkan seruan Han Han itu dianggap oleh mereka se­bagai tanda memandang rendah. Mereka mempercepat gerakan pedang mereka dan kini Han Han menjadi sibuk. Memang, kalau tiga orang itu hanya mengandalkan tenaga sin-kang, kiranya mereka takkan dapat berbuat banyak terhadap Han Han yang jauh lebih kuat, juga dalam hal kecepatan gerakan, Han Han menang jauh. Akan tetapi karena mereka meng­gunakan pedang dan ilmu pedang mereka merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang amat hebat gerakannya, Han Han yang belum matang ilmu silatnya itu menjadi bingung. Biarpun ia dapat meng­elak cepat, akan tetapi karena dikeroyok tiga dan tidak mengenal perubahan-perubahan gerakan tiga batang pedang yang menyambar-nyambar ganas, tidak dapat ia menghindarkan diri dari sambar­an-sambaran pedang sehingga dalam be­lasan jurus berikutnya, pahanya tergores pedang dan pundaknya juga terluka oleh tusukan ujung pedang. Melihat pedang mereka berhasil, Lai Kwan dan Ciok Lin lebih bernafsu lagi, hanya Kim Cu yang berseru.

“Han Han, pergilah. Untuk apa me­lindungi anjing Mancu dan mengorbankan diri sendiri?”

Seruan ini berkesan di hati Han Han dan ia kembali mencatat sikap baik dari gadis itu terhadapnya. Akan tetapi mana mungkin ia membiarkan cici-nya, cihu-nya, dan keponakannya dibunuh? Dia menjadi bingung sendiri. Semenjak dahulu ia ber­sumpah dan mengambil keputusan di hatinya untuk membunuh perwira-perwira Mancu yang telah membasmi keluarga­nya, tujuh orang jumlahnya dan terutama sekali perwira muka kuning dan perwira brewok yang ternyata adalah Giam-ciang­kun ini. Akan tetapi sekarang bagaimana? Ia malah melindungi nyawa perwira yang setiap saat dahulu tak pernah ia lupakan sebagai musuh nomor satu itu, melin­dunginya dari ancaman bekas suhengnya dan kedua sucinya! Bahkan ia terpaksa harus menentang dan bertanding melawan Kim Cu, gadis yang demikian berbudi terhadapnya! Ia menjadi bingung, akan tetapi apa yang harus ia lakukan?

“Mampuslah!” Kembali pedang Lai Kwan berkelebat menusuk perutnya. Han Han kaget dan dengan hawa pukulan tangan menangkis sehingga pedang itu me­leset, tidak jadi menusuk perut akan tetapi masih melukai pahanya dengan goresan pedang.

Mulailah ia marah sekali. Mereka ini tidak tahu betapa sejak tadi dia menga­lah, hanya mengelak dan sama sekali tidak balas menyerang. Kebingungan hati­nya, ditambah rasa nyeri dari luka-luka itu, menimbulkan kemarahannya dan tiba-tiba ia memekik keras, tubuhnya mundur tiga langkah kemudian ia mendorongkan kedua tangannya ke depan sambil menge­rahkan tenaga Swat-im Sin-ciang!

Tiga orang murid Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah memiliki ilmu Swat-im Sin-ciang, mengenal gerakan ini dan cepat mereka pun melakukan gerakan serupa untuk meniaga diri. Akan tetapi, betapa kaget hati Ciok Lin dan Lai Kwan ketika mereka merasa hawa dingin yang luar biasa menyerang mereka, membuat me­reka terhuyung ke belakang dengan muka pucat, kemudian roboh terguling dengan tubuh menggigil kedinginan!

“Swat-im Sin-ciang....!” Kim Cu berseru kaget dan heran, juga khawatir melihat keadaan kedua orang saudara seperguruannya. Dia sendiri tidak dipukul oleh Han Han, maka dia tidak terluka.

Kini dengan cepat ia menerjang maju, pedangnya menusuk dada. Han Han me­nangkis dengan hawa pukulan Swat-im Sin-ciang, dan hawa dingin yang menyam­bar dari samping, membuat Kim Cu meng­gigil dan terhuyung. Han Han melangkah maju dan menyambar pedang dari tangan Kim Cu. Gadis itu berdiri terbelalak memandang dengan mulut melongo ketika melihat Han Han yang sudah marah se­kali itu melampiaskan kemarahannya pada pedang itu yang dipatah-patahkan­nya dengan jari tangan seperti orang mematahkan sebatang lidi saja!

“Kim Cu, engkau tahu bahwa aku tidak ingin memusuhi kalian. Harap eng­kau mengerti dan suka membawa pergi kedua orang saudaramu.”

Sejenak Kim Cu memandang wajah Han Han penuh kekecewaan, mengingat­kan Han Han akan pandang mata Kim Cu beberapa tahun yang lalu ketika Kim Cu melepasnya pergi bersama Lulu. Ke­mudian dengan gerakan lunglai Kim Cu membalikkan tubuh, memeriksa Ciok Lin dan Lai Kwan yang sudah bersila dan menghimpun tenaga menyembuhkan luka mereka. Kim Cu membangunkan mereka, menggandeng mereka, sekali lagi meman­dang kepada Han Han, kemudian mem­bawa kedua orang saudaranya pergi. Ter­dengar oleh Han Han isak tertahan keluar dari dada gadis itu!

Ia menghela napas dan setelah ba­yangan Kim Cu dan kedua saudaranya lenyap di antara pohon-pohon, ia membalikkan tubuh menghadapi Giam-ciang­kun dan isterinya.

“Sungguh berbahaya....!” Giam-ciang­kun berkata lirih. “Dan ilmu kepandaian­mu hebat bukan main.... Sie-taihiap.” Panglima yang baru saja terbebas dari maut untuk kedua kalinya, pertama di tangan Han Han dan yang kedua kalinya di tangan murid-murid Toat-beng Ciu-sian-li itu, amat cerdik dan masih belum berani menyebut Han Han sebagai adik iparnya, berkata penuh kagum.

“Ah, untung ada engkau, Adikku!” kata Sie Leng sambil memeluk adiknya dan mengucurkan air mata. “Kalau tidak, tentu kami sekeluarga telah terbunuh oleh mereka. Han Han, kepandaianmu luar biasa. Mari kau ikut bersama kami ke kota raja, dengan kepandaianmu se­perti itu tentu engkau akan mudah men­dapatkan kedudukan tinggi.”

“Betul sekali!” Giam-ciangkun berkata. “Aku yang menanggung bahwa engkau tentu akan diangkat menjadi panglima pengawal istana!”

Han Han termenung lalu berkata, “Memang aku hendak pergi ke kota raja, untuk mencari seorang penjahat keji.”

“Siapakah dia, Han-te (Adik Han)? Aku akan dapat membantu mencarinya,” kata Giam-ciangkun penuh gairah.

“Tentu Cihu (Kakak Ipar) tahu siapa dia. Dia bernama Ouwyang Seng....”

“Ah....!” Giam-ciangkun teringat akan semua rencana yang diatur oleh Puteri Nirahai di dalam rapat di rumah Pange­ran Ouwyang Cin Kok. Akan tetapi ia pura-pura bertanya, “Tentu saja aku mengenalnya. Dia putera Pangeran Ouwyang Cin Kok. Apakah yang telah ia lakukan terhadapmu, Adikku?”

Han Han tidak peduli akan sikap yang amat baik dan mesra dari kakak iparnya yang betapapun juga masih tidak disukai­nya itu. “Aku mencarinya karena dia telah menculik Adikku!”

“Eh-eh, Han Han. Adikmu siapa? Engkau tidak mempunyai adik. Anak orang tua kita hanya aku dan engkau!” kata Sie Leng heran.

“Kumaksudkan Adik angkatku, namanya Lulu.”

“Lulu? Seperti nama seorang anak perempuan bangsa Mancu....”

“Memang, Leng-cici. Dia.... seorang puteri keluarga perwira Mancu yang te­was dalam perang. Dia diculik Ouwyang Seng.”

Giam-ciangkun tersenyum. “Harap kau jangan khawatir, Adikku. Aku yang me­nanggung bahwa Adikmu itu tidak akan diganggu. Tidak mungkin ada orang berani mengganggu dia, apalagi dia puteri perwira Mancu. Kurasa Ouwyang-kongcu menculiknya justeru karena mendengar bahwa Adik angkatmu itu puteri Mancu, maka dia menculiknya untuk menyelamat­kannya. Bisa jadi dianggap amat mem­bahayakan keselamatan Lulu kalau berada di sampingmu. Biarlah, aku yang akan menemui Ouwyang-kongcu dan pasti Adik­mu selamat di kota raja.”

Hati Han Han menjadi lega mende­ngar ini. Mungkin benar juga apa yang dikatakan iparnya ini. Lulu seorang pu­teri Mancu, mana mungkin Ouwyang Seng berani mengganggunya? Tentu ada sebab lain mengapa Ouwyang Seng menculik Lulu.

“Baiklah, aku akan ikut bersamamu ke kota raja, Leng-cici.”

Sie Leng girang bukan main dan be­rangkatlah mereka naik kereta yang di­kemudikan oleh Giam-ciangkun sendiri sedangkan Han Han duduk di dalam ke­reta bersama Sie Leng yang menghujan­kan pertanyaan yang dijawab singkat saja oleh Han Han. Betapapun juga, hati Han Han masih belum terbiasa oleh kenyataan bahwa encinya menjadi isteri musuh besarnya. Akan tetapi karena Sie Leng benar-benar merasa bahagia dapat ber­temu dan berkumpul dengan adiknya, sikapnya jelas membayangkan kebahagia­an dan keharuan sehingga hati Han Han tidak tega untuk menyatakan ketidak­puasan hatinya.

“Leng-cici, aku masih heran mendengar ceritamu tentang Kakek kita tadi.” Ia berkata kemudian. “Benarkah Kakek kita yang bernama Sie Hoat itu berjuluk Jai-hwa-sian dan menjadi tokoh jahat di dunia kang-ouw?”

Sie Leng mengangguk. “Ibu pernah bercerita kepadaku dengan pesan agar hal itu jangan kuceritakan kepada siapa­pun juga, tidak pula kepadamu. Apaiagi tidak boleh terdengar oleh Ayah. Jus­teru Ayah yang melarang keras cerita itu diketahui orang lain.”

“Akan tetapi aku masih merasa heran. Kalau Kakek merupakan seorang tokoh besar dunia kang-ouw yang dijuluki Dewa, tentu kepandaiannya hebat. Mengapa Ayah seorang begitu lemah? Kalau Ayah sepandai Kakek, tentu tidak sampai mengalami nasib demikian menyedihkan. Cici, apakah engkau mengetahui cerita selengkapnya?”

Sie Leng menghela napas panjang. Bicara tentang keluarganya merupakan pengalaman pahit yang menyakitkan hati, karena hal itu mengingatkan dia bahwa suaminya yang tercinta merupakan se­orang di antara mereka yang membasmi keluarganya. Kemudian ia berkata, “Aku pun hanya mendengar cerita dari Ibu. Akan tetapi engkau sekarang sudah dewasa, sebaiknya kalau kuceritakan kepadamu, sungguhpun cerita Ibu itu pun tidak lengkap dan tidak jelas karena urusan itu selalu dirahasiakan oleh Ayah.”

Sie Leng lalu bercerita seperti yang ia dengar dari ibunya. Puluhan tahun yang lalu, kakek mereka, yaitu ayah dari ayah mereka yang bernama Sie Hoat terkenal sebagai seorang tokoh dunia hitam yang amat ditakuti orang dan berjuluk Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga), yaitu seorang penjahat besar yang biasanya suka menculik wanita-wanita, tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang, kemudian diper­kosanya. Kalau hatinya puas dengan wa­nita itu, maka wanita itu tidak akan dibunuh, bahkan diberi hadiah banyak benda berharga mahal hasil curian di istana-istana pangeran atau hartawan. Akan tetapi kalau wanita itu mengecewakan hatinya, apalagi melawan, lalu di­bunuhnya secara keji, ditelanjangi dan disayat-sayat tubuhnya.

Karena banyak tokoh kang-ouw yang berusaha menentangnya tewas pula di tangan penjahat cabul yang amat lihai ini, maka namanya makin terkenal dan dia ditakuti oleh tokoh-tokoh kang-ouw. Wanita yang memuaskan hatinya pun hanya beberapa kali saja didatangi, kemudian ia tinggalkan begitu saja karena tokoh jahat ini tidak pernah mau mengikatkan diri kepada seorang wanita. Ada dikabarkan di antara para tokoh kang-ouw bahwa dia sesungguhnya mempunyai isteri dan anak, akan tetapi tidak ada seorang pun yang tahu betul akan hal ini. Di antara para wanita yang memuaskan hatinya dan yang ia datangi sampai belasan kali hanya seorang gadis puteri seorang sastrawan she Phang. Orang tua gadis yang bernasib malang ini tahu dari puterinya bahwa puterinya menjadi kor­ban Jai-hwa-sian, akan tetapi apakah yang dapat mereka lakukan? Dengan hati perih mereka itu hanya dapat menutup rapat rahasia itu. Akan tetapi betapa sedih hati mereka ibu ayah dan anak itu ketika terdapat kenyataan bahwa gadis itu mengandung, sebagai akibat gangguan Jai-hwa-sian selama belasan kali itu. Jalan satu-satunya yang dapat mereka tempuh hanyalah pindah secara diam-diam dari dusun mereka ke tempat lain dan di tempat baru ini puteri mereka diperkenalkan sebagai seorang janda mu­da yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan mengandung.

Demikianlah, gadis she Phang itu kemudian melahirkan seorang putera. Kakeknya, sastrawan Phang, yang kha­watir kalau-kalau anak keturunan Jai-hwa-sian itu akan mewarisi watak ayah­nya, lalu memberinya nama Sie Bun An dan semenjak kecil anak itu dididik kesusastraan oleh kakeknya, sama sekali tidak diperbolehkan belajar ilmu silat. Ibu anak itu meninggal dunia tidak lama kemudian karena menanggung penderitaan batin yang hebat, karena sebenarnya gadis she Phang ini sudah jatuh cinta kepada Jai-hwa-sian yang memang tam­pan dan pandai merayu wanita.

Setelah dewasa, kakeknya mencerita­kan Sie Bun An tentang riwayat ibunya, maka tahulah Sie Bun An bahwa dia ada­lah putera penjahat besar Sie Hoat yang berjuluk Jai-hwa-sian! Hal ini membuat pemuda yang semenjak kecil dididik ke­susastraan dan mempelajari filsafat itu membenci ayahnya dan sama sekali tidak pernah bercerita kepada lain orang. Ia amat maju dalam pelajarannya sehingga mendapat sebutan siucai setelah lulus ujian kota raja. Dia lalu dikawinkan dan hidup sebagai siucai di Kam-chiu.

“Demikianlah riwayat yang kudengar dari Ibu kita, Han Han. Siapa kira, biar­pun Ayah kita tidak mewarisi kepandaian Kakek kita itu, sekarang engkau memiliki ilmu silat yang begitu tinggi. Kiranya engkau yang mewarisi kepandaiannya, akan tetapi kuharap engkau tidak akan mewarisi wataknya.”

Han Han menghela napas panjang. Teringat ia akan ucapan-ucapan Gak Liat Si Setan Botak yang tertawa bergelak ketika mendengar bahwa kakeknya bernama Sie Hoat dan menyebut kakeknya itu sebagai Jai-hwa-sian! Pantas saja Gak Liat mentertawakannya karena kakek itu memperkosa Bhok Khim dan ia mencoba untuk menentangnya. Memang menterta­wakan kalau cucu Jai-hwa-sian mencela perbuatan Gak Liat, karena perbuatan Gak Liat memperkosa Bhok Khim itu masih belum apa-apa kalau dibandingkan dengan perbuatan Jai-hwa-sian terhadap ratusan, bahkan ribuan orang wanita!

“Hemmm, aku merasa malu untuk mengaku menjadi cucu seorang jahanam keji seperti Jai-hwa-sian, Cici.” Suara Han Han begitu dingin sehingga Sie Leng sendiri mengkirik mendengarnya. Ia ter­ingat akan perbuatan Giam Cu kepada­nya dan ia mulai merasa ragu-ragu apa­kah adiknya ini tidak amat membenci suaminya! Juga ia merasa ngeri kalau mengingat bahwa si pemerkosa ibu mere­ka adalah Giam Kok Ma, seorang pang­lima yang berada di kota raja pula!



***



Han Han kagum menyaksikan rumah encinya yang seperti istana, lengkap de­ngan perabot rumah yang serba mewah dan rumah itu sendiri amat besar, penuh dengan pelayan. Dia diperlakukan dengan sikap hormat sekali oleh cihunya dan karena pada dasarnya Han Han adalah seorang yang perasa dan mudah tunduk oleh sikap lunak, ia menjadi makin tidak enak hatinya. Mau membalas kebaikan cihu-nya, ia selalu teringat akan terbasmi­nya keluarganya, mau bersikap kasar, cihu-nya amat hormat kepadanya dan ia juga merasa kasihan kepada cicinya yang amat mencinta suaminya. Yang merupa­kan hiburan hatinya adalah Kwi Hong, keponakannya yang mungil dan pandai bicara. Ia sering kali bermain-main de­ngan keponakannya itu, akan tetapi ka­lau teringat kepada Lulu, hatinya men­jadi murung lagi.

Seperti telah dijanjikannya, cihu-nya itu setiba di kota raja lalu mengunjungi rumah Pangeran Ouwyang Cin Kok dan dengan girang sekali ia menceritakan pengalamannya, tentang pertemuannya dengan Sie Han, pemuda perkasa yang aneh dan yang menjadi bahan percakapan dalam sidang tempo hari.

“Ah, kiranya dia adalah Adik isterimu sendiri? Ha-ha-ha, bagus sekali kalau begitu!” Pangeran Ouwyang Cin Kok bertepuk-tepuk tangan saking gembiranya.

“Akan tetapi wataknya amat aneh dan sukar diselami, Ong-ya, bahkan isteri hamba yang menjadi kakaknya sendiri pun menyatakan bahwa perubahan amat aneh dan amat besar terjadi pada adik­nya sehingga hampir ia tidak mengenal watak adiknya. Pula, ada sebuah hal yang amat membahayakan sehingga ham­ba khawatir kalau-kalau dia akan meng­amuk. Kepandaiannya benar-benar menakjubkan sekali. Hamba khawatir....”

“Hemmm, tentang kepandaiannya, aku sudah mendengar dari puteraku. Betapa­pun pandainya, jago-jago sakti kita akan mampu menundukkannya.”

“Tentang Ouwyang-kongcu inilah yang mengkhawatirkan hati hamba. Menurut pernyataannya, Adik angkatnya yang bernama Lulu, puteri Mancu itu, diculik oleh Ouwyang-kongcu dan dia marah sekali, mengancam hendak membunuh Kongcu kalau Adiknya tidak dibebaskan dalam keadaan selamat.”

Pangeran Ouwyang Cin Kok mengerut­kan alisnya dan menghela napas panjang.

“Aahhh, sungguh kedua orang bocah itu mendatangkan banyak kerepotan saja! Adik isterimu itu aneh dan sudah men­datangkan banyak pusing, kini Adik ang­katnya itu pun tidak kalah anehnya. Me­mang Lulu itu itu anak perwira yang menjadi korban penyerbuan kaum pem­berontak beberapa tahun yang lalu. Anak itu disangka mati, kiranya muncul se­bagai Adik angkat iparmu! Ouwyang Seng sudah berhasil menculiknya dan karena Kaisar merasa kasihan akan nasib anak itu, mengingat pula akan jasa orang tua­nya, Lulu diperbolehkan tinggal di dalam istana sebagai dayang istana. Akan tetapi celaka sekali, baru beberapa hari saja bocah itu telah menghilang, minggat entah ke mana! Kini Ouwyang Seng yang bingung pergi mencarinya, karena lenyap­nya Lulu tadinya dianggap mengacaukan rencana memancing Han Han ke kota raja. Siapa tahu dia telah ikut bersama­mu. Kini Han Han mendari Lulu, benar-benar memusingkan!”

Giam-ciangkun juga menjadi bingung. “Wah, kalau begitu bagaimana baiknya? Han Han tentu tidak akan mempercayai keterangan itu dan hal ini bisa berba­haya.”

“Jangan khawatir. Katakan saja terus terang bahwa Lulu minggat dari istana. Kalau tidak percaya boleh suruh dia me­nyelidiki ke istana. Sementara itu, eng­kau harus dapat membujuknya dan mem­perkenalkannya kepada para tokoh penga­wal dan pembantu. Sementara menanti kembalinya Gak-locianpwe dan keponakanku Puteri Nirahai, juga puteraku, kita harus dapat membujuknya. Kalau perlu, kita menggunakan akal untuk membuat dia tidak berdaya.”

Mereka berunding, bahkan Pangeran Ouwyang Cin Kok lalu memanggil tokoh-tokoh yang berada di kota raja, di antara­nya adalah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek, kakak ­beradik Tikus Kuburan Bhong Lek dan Bhong Poa Sik, Hek-giam-ong, Pek-giam-ong dan Hiat-ciang-sian-li Ma Su Nio yang ketiganya adalah murid-murid Setan Botak Gak Liat dan beberapa orang panglima pe­ngawal, termasuk Giam Kok Ma Ciangkun, panglima bermuka kuning yang dahulu memperkosa dan membunuh ibu Han Han. Kemudian diambil keputusan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh ini kepada Han Han di rumah Giam-ciangkun karena di situ terdapat Sie Leng yang dianggap da­pat menundukkan Han Han apabila pemuda itu bersikap menentang. Sebelum pertemuan itu dibubarkan, diam-diam Giam Cu ber­bisik kepada Giam Kok Ma yang menjadi pucat sekali mukanya. Panglima muka ku­ning ini mendengar betapa Han Han mencarinya dan tentu akan membunuhnya kalau berjumpa, mengingat bahwa Giam Kok Ma inilah yang dahulu memperkosa dan membunuh ibu Han Han. Panglima muka kuning ini lalu pulang ke rumahnya dengan muka makin kuning dan jantung berdebar-debar gelisah.

Setelah tiba di rumahnya, Giam Cu disambut oleh isterinya dan Han Han yang ingin segera mendengar bagaimana kabarnya tentang diri adiknya. Giam-ciangkun menarik napas panjang dan ber­kata, “Wah, Han-te. Adik angkatmu itu benar-benar membikin pusing kita semua.”

“Bagaimanakah? Di mana Lulu?”

“Tepat seperti dugaanku, karena Lulu adalah puteri perwira, Ouwyang-kongcu sama sekali tidak berani mengganggunya dan memang tidak berniat mengganggu­nya. Bahkan Lulu dihadapkan kepada Kaisar sendiri yang mengingat akan jasa-jasa Ayahnya lalu mengangkat Lulu men­jadi dayang istana, yaitu para siuli yang meniadi pelayan dalam dan sebagai puteri-puteri yang terhormat. Akan tetapi, en­tah mengapa, setelah mendapat kemuliaan itu, baru beberapa hari saja tahu-tahu Lulu telah minggat dari istana. En­tah ke mana perginya tak seorang pun mengetahuinya!”

Wajah Han Han yang tadinya bergem­bira dan lega itu kini berubah menjadi suram. Ia memandang tajam kepada Gam-ciangkun dan berkata, “Apakah Cihu menceritakan hal yang sebenarnya?”

“Han Han, Cihu-mu tidak pernah berbohong!” Sie Leng berkata menegur adiknya.

“Tidak mengherankan kalau Han-te kurang percaya. Akan tetapi aku berani bersumpah dan kalau hal itu pun masih kurang meyakinkan hatimu, boleh saja Han-te melakukan penyelidikan sendiri ke istana dan bertanya-tanya. Kurasa tidak semua petugas istana dapat melakukan kebohongan yang sama.”

Han Han duduk melamun. Ia percaya karena apa perlunya berbohong kepadanya? Pula, setelah tinggal di situ beberapa hari lamanya, ia mendapat kenyataan bahwa cihu-nya benar-benar mencinta cicinya dan bahwa benar-benar cicinya hidup bahagia di situ. Ia menghela napas panjang.

“Kalau begitu, aku pun tidak bisa lama tinggal di sini. Aku harus pergi mencari jejak Lulu. Tidak mungkin aku dapat membiarkan adikku itu merana seorang diri. Aku merasa yakin bahwa pasti dia minggat untuk mencariku.”

“Ah, mengapa terburu-buru, Adik Han Han! Istana sendiri telah berusaha men­carinya dan banyak penyelidik telah disebar untuk mencari Lulu, bahkan ada perintah dari Kaisar sendiri untuk me­manggil gadis itu. Kurasa, sebagai seorang gadis Mancu, dia tidak akan be­rani membangkang terhadap perintah Kaisar. Lebih baik engkau menanti di sini, pasti akan dapat ditemukan. Semen­tara itu, engkau yang memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi apakah tidak ingin berkenalan dengan tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw yang berada di sini? Aku telah mengundang mereka dan mereka ingin benar berkenalan denganmu. Di antara mereka terdapat seorang tokoh sakti dan aneh berjuluk Sin-tiauw-kwi yang kabarnya murid keturunan tokoh sakti Hek-giam-lo dari Khitan. Ada lagi kakak beradik yang berjuluk Tikus Kuburan, juga mereka memiliki ilmu yang luar biasa lihainya. Di samping itu, lebih baik kau tunggu tokoh yang paling hebat di antara kita semua, yaitu Puteri Nirahai yang memiliki ilmu kepandaian mujijat biarpun dia hanya seorang gadis muda, dia memiliki ilmu keturunan dari pen­dekar wanita sakti Mutiara Hitam di Khitan!”

Hati Han Han tertarik juga mende­ngar ucapan itu, terutama sekali men­dengar nama Puteri Nirahai. Bukankah itu puteri Mancu yang amat lihai, yang telah mengatur siasat mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai? Kalau Nirahai memiliki ilmu keturunan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, berarti gadis Mancu itu masih mempu­nyai hubungan perguruan dengan Siang-mo-kiam Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa, dua orang sakti Sepasang Pedang Iblis yang saling bunuh sendiri itu karena mereka adalah murid-murid Mutiara Hi­tam. Selain ingin ia bertemu dengan orang-orang sakti yang disebut cihu-nya itu, juga memang kalau dipikir, ke mana ia harus mencari adiknya yang telah melarikan diri dari istana? Adiknya memang nakal, diberi kemuliaan di istana tidak betah dan malah minggat tanpa pamit. Ia tertawa di dalam hatinya. Ka­lau Lulu tidak menghendaki, biar kaisar sendiri tidak akan dapat menahannya! Adiknya memang nakal dan lucu, tentu sekarang sedang bingung mencari-carinya, padahal dia sudah berada di kota raja! Kaisar mempunyai kaki tangan di mana-mana, tentu lebih mudah mencari adik­nya itu.

Melihat pemuda aneh itu agaknya sudah dapat terbujuk, Giam-ciangkun menjadi girang dan mengatur rencana untuk mempertemukan Han Han dengan para tokoh lain, bahkan mulai membujuk-bujuk Han Han betapa senangnya kalau pemuda itu suka menjadi pengawal atau jagoan kerajaan.

“Engkau akan cepat mendapat ke­majuan, namamu akan dikenal di seluruh negeri, akan mendapat kehormatan besar bahkan siapa tahu kelak akan mendapat kehormatan menjadi pengawal pribadi kaisar sendiri.” Demikian antara lain Giam-ciangkun membujuk adik iparnya.

Han Han menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau menjadi panglima penga­wal kalau pekerjaannya hanya membunuhi orang-orang, Cihu. Selain aku tidak mempunyai cita-cita menjadi pembesar, juga agaknya tidak mungkin aku menjadi pem­besar Mancu karena aku masih harus membunuh enam orang perwira Mancu.”

Giam-ciangkun mengerutkan alisnya yang tebal. “Apakah maksudmu, Han Han?”

Han Han memandang cihu-nya dengan tajam. Kini ia mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua dengan cihunya. “Cihu tentu mengerti bahwa aku telah bersumpah untuk membunuh tujuh orang perwira yang dahulu membasmi keluarga orang tuaku. Cihu sendiri karena sudah menjadi suami Ciciku dan kulihat me­mang Cihu saling mencinta dengan Cici, maka aku tidak akan mengganggumu. Akan tetapi enam orang perwira lainnya, terutama sekali perwira muka kuning yang telah memperkosa dan membunuh mendiang Ibuku, tak dapat aku mengampuninya begitu saja. Sebelum aku dapat membunuh enam orang perwira itu, tidak mungkin aku menjadi petugas kaisar.”

Wajah panglima tinggi besar yang penuh jenggot terpelihara baik-baik itu berubah pucat. “Aihhhhh, Adik Han Han. Apakah engkau tidak dapat melupakan hal itu? Apakah engkau tidak dapat menerima kenyataan dan menganggap peristiwa itu sebagai peristiwa dalam perang yang lajim terjadi?”

Han Han menggeleng kepalanya. “Perang atau tidak, perbuatan manusia dapat dibedakan bagaimana yang jahat dan bagaimana pula yang baik. Kalau orang tuaku tewas dalam pertempuran, aku pun tidak begitu bodoh untuk mencari pembunuh-pembunuhnya, akan tetapi orang tuaku tidak terbasmi selagi bertempur, melainkan dibasmi secara keji tanpa alasan. Tidak, Cihu. Tidak mungkin aku mengampuni enam orang perwira yang lain!”

Giam-ciangkuan tidak berkata apa-apa lagi, akan tetapi Han Han maklum bahwa perasaan cihunya tersinggung, akan tetapi dia tidak mempedulikannya. Bahkan pada malam harinya, karena ia telah menaruh curiga akan sikap cihunya yang ia tahu menaruh ganjelan hati terhadap dirinya, dengan mempergunakan kepandaiannya, Han Han dapat menyelinap mendekati jendela kamar cicinya dan mendengar percakapan lirih yang terjadi di dalam kamar itu. Bagi orang yang tidak memiliki sin-kang tinggi sehingga daya tangkap telinganya amat tajam, tidak mungkin mendengarkan percakapan di dalam kamar yang dilakukan sambil berbisik-bisik itu.

“Sungguh celaka. Adikmu itu tentu akan menimbulkan malapetaka besar. Dia masih mendendam kepada Giam Kok Ma dan lima orang perwira lainnya yang dulu menyerbu rumahmu. Dia bersumpah untuk membunuh mereka.”

“Aih, anak itu memang keras hati sekali. Aku tidak peduli kalau mereka berenam itu dibunuh, akan tetapi kalau dia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, tentu dia akan dikejar-keiar dan ditangkap. Bagaimana baiknya, suamiku?”

“Satu-satunya jalan untuk menghindar­kan pembunuhan adalah memberi tahu mereka agar cepat-cepat meninggalkan kota raja dan jangan menampakkan diri sebelum Han Han pergi dari kota raja. Kurasa, kalau terlalu lama anak itu ber­ada di sini, akhirnya pasti akan timbut malapetaka. Wataknya aneh sekali.”

Cicinya menghela napas panjang. “Be­tapa berat rasa hatiku harus berpisah kembali dengan saudara kandungku yang hanya satu-satunya itu. Akan tetapi agak­nya ucapanmu itu benar sekali dan ter­serahlah apa yang hendak kaulakukan asal Han Han terbebas daripada bahaya.”

“Aku akan mengirim surat sekarang juga kepada Giam Kok Ma, agar dia ber­sama lima orang kawan lain itu melari­kan diri.”

Han Han cepat menyelinap pergi, jan­tungnya berdebar keras. Ia agak terharu mendengar ucapan cicinya, juga ia per­caya bahwa cihunya tidak akan mencelakainya, akan tetapi mendengar bahwa cihunya hendak mengirim surat kepada perwira yang bernama Giam Kok Ma, ia girang sekali. Kiranya enam orang musuh besarnya yang lain itu berada di kota raja pula! Tentu Giam Kok Ma itu pun seorang di antara enam orang perwira itu.

Perwira rendahan yang diutus Giam-ciangkun membawa surat itu sama sekali tidak tahu bahwa di belakangnya ada orang yang membayangi perjalanannya seperti setan. Ia tidak tahu sama sekali bahwa bayangan yang mengikutinya itu terus ikut memasuki halaman istana Pang­lima Giam Kok Ma dan bayangan yang bukan lain adalah Han Han itu menyeli­nap ke dalam gelap setelah tiba di ista­na itu.

Bahkan ketika perwira utusan itu menyampaikan surat kepada Panglima Giam Kok Ma yang membaca surat itu dengan muka berkerut-kerut, Han Han mengintai dari lubang di atas genteng dan sinar mata Han Han berapi-api keti­ka ia mengenal panglima yang mukanya kuning itu. Itulah dia si keparat yang dahulu memperkosa ibunya! Mukanya terasa panas dan kalau menurutkan nafsunya, ingin ia pada saat itu juga me­lompat ke dalam kamar dan membunuh musuh besarnya itu. Akan tetapi Han Han menahan kemarahannya. Lebih baik menanti sampai mereka semua berkum­pul, pikirnya. Kalau kubunuh dia sekarang, aku masih harus mencari yang lima orang lainnya dan hal itu tidak akan mudah. Apalagi cihunya sama sekali tidak suka membantunya dalam hal pembalasan den­dam ini dan hal ini pun ia maklumi, bah­kan cihunya tentu saja akan memberi kabar secara diam-diam kepada rekan-rekannya untuk melarikan diri.

Han Han memang telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa, akan tetapi betapapun juga dia hanya seorang pemuda yang kurang pengalaman. Mana mungkin ia dapat menandingi kecerdikan tokoh-tokoh istana? Dia sama sekali tidak tahu, bahkan menduga sedikit pun tidak bahwa sesungguhnya semua ini telah diatur dan direncanakan oleh para tokoh itu, di bawah pimpinan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Tidak tahu bahwa semua itu adalah pelaksanaan siasat me­reka. Karena Giam-ciangkun maklum bahwa di dalam hatinya Han Han tidak senang kepadanya dan bahwa pemuda ini merupakan ancaman baginya untuk se­lama hidupnya, maka ia telah mengatur rencana bersama Ouwyang Cin Kok dan para tokoh lainnya. Kalau mereka me­nanti kembalinya Gak Liat, Puteri Nirahai dan Ouwyang Seng, tentu akan me­makan waktu lama dan siapa tahu dalam waktu itu apa yang akan dilakukan pe­muda aneh itu, dan apa pun yang dilaku­kannya, menimbulkan kengerian dalam hati mereka, mengingat betapa mudahnya Han Han membunuh puluhan orang pengawal.

Kebetulan sekali dua hari sebelum Han Han mendengarkan percakapan an­tara cihu dan cicinya, muncul seorang nenek yang luar biasa di waktu malam di dalam gedung istana Pangeran Ouwyang Cin Kok. Munculnya seperti iblis saja, tahu-tahu telah berada di ruangan dalam tanpa diketahui oleh para pengawal yang menjaga. Hanya setelah dia lewat di kamar yang dijadikan kamar tidur Sin-tiauw-kwi Ciam Tek saja maka kehadir­annya diketahui.

“Rebahlah!” Tiba-tiba terdengar suara kaku di belakangnya dan nenek itu me­rasa betapa ada angin pukulan yang he­bat luar biasa mendorongnya dari belakang. Nenek ini bukan lain adalah Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Maklum bahwa ada orang berkepandaian tinggi menyerangnya dari belakang, nenek ini memutar tubuhnya. Pemutaran tubuhnya ini didahului oleh menyambarnya anting-anting panjang berbentuk rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya. Rantai gelang itu menyambar ke depan menangkis pukulan Sin-tiauw-kwi Ciam Tek.

“Tranggggg....!” Pukulan yang dilakukan Sin-tiauw-kwi adalah pukulan Hek-in Sin-ciang, dari kedua telapak tangannya mengebul asap hitam, hebatnya bukan main. Ketika ujung rantai gelang bertemu dengan tangan Si Burung Hantu, sebuah gelang terlepas, akan tetapi bukan terlepas runtuh, melainkan terlepas dan meluncur ke arah tubuh Si Burung Hantu, menyambar jalan darah memati­kan di tenggorokan!

Kedua orang tokoh sakti itu sama-sama terkejut, Toat-beng Ciu-sian-li terkejut ketika tangkisan senjatanya yang aneh itu mengakibatkan sebuah gelang putus, maka ia membuat gelang itu me­luncur menyerang lawan sambil meloncat mundur. Adapun Sin-tiauw-kwi Ciam Tek terkejut bukan main bahwa serangannya yang amat ampuh itu selain dapat di­hindarkan lawan, juga lawan yang lihai itu malah berbalik menyerang dengan senjata rahasia yang aneh itu. Cepat ia miringkan kepalanya dan mulutnya yang runcing meniup gelang itu sehingga menyeleweng dan masuk ke dalam dinding!

Mendengar suara ribut-ribut, sebentar saja ruangan itu penuh dengan para pe­ngawal yang mengepung nenek itu. Kakak beradik Tikus Kuburan yang mengenal nenek itu berseru dengan kaget, “Ah, kiranya Toat-beng Ciu-sian-li yang da­tang?”

Nenek yang tadinya menyapu para pengawal yang mengurungnya dengan pandang mata mengejek, kini memandang kakak beradik itu dan berkata, “Eh-eh, agaknya kedua Tikus Kuburan juga ke­sasar sampai di sini. Orang-orang she Bhong, aku memenuhi undangan Setan Botak yang menyatakan bahwa Pangeran Ouwyang Cin Kok membutuhkan bantuan orang pandai, akan tetapi beginikah pe­nerimaan Pangeran Ouwyang Cin Kok terhadap tamunya? Siapa kira Pangeran Ouwyang memelihara anjing galak yang mukanya seperti burung sekarat!” Ia me­lirik kepada Sin-tiauw-kwi yang men­dengus saja mendengar ucapan menghina itu.

Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah bangun pula tadi bersembunyi dari tempat rahasia, ketika mendengar bahwa nenek yang mengerikan itu adalah Toat-beng Ciu-sian-li, dan melihat bahwa jago­an-jagoannya telah berada di situ, kini berani muncul dan ia segera berkata.

“Ah, harap locianpwe suka memaaf­kan orang-orangku. Karena kedatangan locianpwe tanpa memberi tahu dan pada tengah malam secara begini mengejutkan, maka orang-orangku tidak mengenal lo­cianpwe. Silakan duduk.”

Toat-beng Ciu-sian-li sejenak memandang wajah pangeran itu, lalu tertawa dan minum araknya dari guci arak yang selalu diselipkan di pinggang, kemudian tertawa lagi sehingga kepalanya bergo­yang-goyang dan anting-antingnya yang besar dan amat panjang itu mengeluarkan bunyi berkerincingan.

“He-he-he, Pangeran Ouwyang dapat menghargai orang pandai, itu bagus! Eh, Ouwyang Ong-ya, anjingmu ini selain galak juga lihai sekali. Siapakah dia?” Ia menudingkan telunjuknya ke arah Sin-tiauw-kwi yang sudah berdiri dengan sebelah kaki.

“Apakah locianpwe belum mengenalnya? Dia berjuluk Sin-tiauw-kwi.”

Nenek itu membelalakkan kedua matanya. “Wah-wah, kiranya inikah Si Bu­rung Hantu? Luar biasa sekali, pantas dengan namanya, memang engkau buruk seperti burung hantu. Aku ingin sekali mencoba kepandaianmu!”

“Hemmm, nenek tua bangka. Bukankah engkau ini seorang di antara selir-selir Suma Kiat? Aku pun ingin mencoba gebukan-gebukanmu beberapa jurus! Ka­pan saja dan di mana saja!”

Mendengar ini, di dalam hatinya Pa­ngeran Ouwyang Cin Kok mengomel. Ce­laka sekali orang-orang sakti yang wa­taknya aneh ini. Kalau dibiarkan tentu akan saling gebuk dan rumahnya men­jadi arena perkelahian di antara pem­bantu-pembantunya sendiri. Bisa berabe! Cepat ia tertawa dan meloncat ke depan.

“Harap ji-wi suka menangguhkan pibu itu untuk lain kali saja. Sekarang ada urusan yang amat penting yang kuharap­kan akan mendapat bantuan Ciu-sian-li. Marilah kita bicara di dalam ruangan belakang. Silakan, locianpwe.”

Demikianlah pangeran yang cerdik ini berunding dengan tokoh-tokoh itu dan hasil perundingan ini merupakan siasat yang dija­lankan Giam-ciangkun terhadap Han Han. Di luar tahu pemuda itu sendiri, Toat-beng Ciu-sian-li yang lihai membayangi pemuda ini, terus membayanginya ketika Han Han mengikuti utusan yang membawa surat Giam-ciangkun kepada rekannya, si panglima muka kuning, Giam Kok Ma. Ini sudah termasuk rencana mereka. Kalau Han Han langsung turun tangan terhadap Giam Kok Ma, tentu ia akan berhadapan dengan Toat-beng Ciu-sian-li. Kalau tidak dan pemuda ini mengikuti Giam Kok Ma seperti yang mere­ka duga, hal ini pun sudah mereka persiap­kan untuk menyambut pemuda itu!

Ketika Han Han mengintai dari atas genteng di gedung Giam Kok Ma, ia mendengar musuh besarnya itu berkata.

“Baikiah, sampaikan kepada Giam-ci­angkun bahwa aku sudah mengerti akan isi suratnya dan besok pagi-pagi aku akan menghubungi rekan-rekan yang terancam.”

Mendengar ini, Han Han lalu mening­galkan gedung dan bersembunyi di atas sebatang pohon sambil menjaga. Pada keesokan harinya, ia melihat Giam Kok Ma, musuh besarnya itu, meninggalkan gedung menunggang kuda dikawal oleh enam orang pengawal. Ia cepat meloncat turun dan mempergunakan gin-kangnya mengikuti dari jauh. Larinya cepat sekali sehingga biarpun panglima bersama pengawal-pengawalnya itu membalapkan kuda, ia masih dapat mengikuti mereka. Jauh di luar kota, rombongan itu me­masuki sebuah hutan dan ternyata di pinggir hutan itu terdapat sebuah ba­ngunan yang indah, agaknya sebuah ru­mah peristirahatan pembesar Mancu. Ia melihat Giam Kok Ma memasuki rumah itu, sedangkan para pengawal lalu me­nuntun kuda ke kandang kuda dan masuk di bagian belakang gedung itu.

Han Han cepat melayang naik ke atas genteng. Dari atas ia mencari-cari na­mun tidak melihat bayangan musuhnya. Ia mencari terus dan akhirnya khawatir kalau-kalau kehilangan musuhnya, ia me­loncat turun masuk ke dalam melalui jendela dan tiba di sebuah ruangan yang luas. Baru saja kakinya menginjak lantai, sebuah pintu terbuka dan yang muncul adalah.... Giam Cu cihunya.

“Eh, Adik Han Han! Mengapa engkau berada di sini?” Panglima brewok ini bertanya dengan wajah kaget dan heran.

“Cihu, ini rumah siapakah?” Han Han balas bertanya, suaranya juga heran akan tetapi keren dan dingin.

“Ini rumahku, rumah peristirahatan!” jawab cihunya. “Dan sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, Adikku. Memang aku sedang memanggil berkumpul tokoh-tokoh pengawal istana di sini untuk mem­perkenalkannya kepadamu. Siapa tahu, engkau malah sudah datang ke sini! Ba­gaimana engkau bisa sampai ke sini?”

“Cihu, aku mengejar musuh besarku, perwira muka kuning! Ke mana dia? Harap Cihu jangan mencampuri, suruh dia keluar bersama musuh-musuhku yang lain!”

“Eh-eh, Adik Han Han. Mengapa eng­kau memaksa diri hendak menyebabkan kekacauan? Harap kau suka memandang mukaku, dan mengingat Encimu. Kalau engkau melakukan hal-hal yang menga­caukan di sini, dan membunuh panglima-panglima kerajaan, berarti engkau akan mendatangkan malapetaka kepadaku.”

“Mengapa mereka datang ke rumah Cihu di sini? Mau apa? Apa artinya ini semua?”

“Adikku, mereka adalah panglima-panglima kerajaan, tentu saja mereka pun sudah biasa mengadakan pertemuan dengan aku dan para tokoh pengawal. Ah, lebih baik kuperkenalkan kau de­ngan para pengawal.” Pada saat itu, beberapa buah pintu terbuka dan mun­cullah tiga orang yang amat aneh ke­adaannya. Han Han memandang tajam dan ia pun siap dan waspada, maklum bahwa tiga orang yang muncul ini bukan­lah orang-orang sembarangan dan ia mulai curiga terhadap cihunya.

“Sam-wi locianpwe, inilah Adik iparku yang gagah perkasa dan yang telah mem­persiapkan tenaganya untuk membantu kerajaan. Inilah pendekar muda Sie Han.” Giam-ciangkun memperkenalkan, kemudi­an berkata kepada Han Han, “Adikku, locianpwe itu adalah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek yang amat lihai dari Khitan. Adapun kedua orang locianpwe ini adalah kedua Saudara Bhong yang berjuluk Sepasang Tikus Kuburan, juga memiliki ilmu kepandaian yang lihai sekali.”

Han Han memandang mereka, ter­utama sekali Si Burung Hantu yang amat aneh keadaannya itu. Burung Hantu me­mandang Han Han dengan mata disipit­kan, jelas sekali memandang rendah, kemudian berkata.

“Ehemmm, Adik iparmu ini lumayan juga, Giam-ciangkun!” Mungkin karena ketika bicara mulutnya terbuka dan me­ngeluarkan bau yang seperti sampah, dua ekor lalat terbang menyambar ke arah mulutnya. “Heh, segala macam lalat mengganggu saja!” kata Si Burung Hantu dan dua kali tampak sinar berkelebat-ke­lebat ketika manusia aneh ini menggerak­kan senjatanya yang seperti sabit dan.... tubuh dua ekor lalat kecil itu jatuh ke lantai, terbelah menjadi dua!

Han Han yang melihat ini diam-diam merasa ngeri dan kaget sekali, maklum bahwa manusia yang seperti burung itu benar-benar amat sakti. Akan tetapi dia tidak mau peduli, lalu berkata kepada Giam-ciangkun, “Cihu, aku tidak ingin berkenalan dengan para lo­cianpwe ini, melainkan ingin segera berha­dapan dengan musuh-musuhku. Suruh mereka keluar, atau terpaksa aku akan mencari mereka sendiri di dalam rumah ini!”

“Heh-heh, bocah yang menjadi iparmu ini sungguh tidak memandang mata kepada kami, Ciangkun. Siapakah yang menjadi musuh-musuh mereka yang dicarinya di sini?” tanya Bhong Poa Sik yang kepalanya botak dan ubun-ubunnya ada “telur”nya.

Giam-ciangkun menarik napas panjang. “Hemmm, inilah yang menyusahkan hati­ku, Sam-wi Locianpwe. Adik iparku ini mempunyai dendam pribadi terhadap re­kan kita Giam Kok Ma dan lima orang panglima lain dan berkeras hendak mem­bunuh mereka. Bagaimana aku harus berbuat? Dia ini adalah Adik iparku sen­diri, sedangkan membunuh enam orang rekan panglima sama saja dengan pemberontakan. Adikku Han Han, pikirlah baik-baik. Sebaiknya engkau menghapus semua dendam pribadi yang tidak ada gunanya itu dan marilah menikmati ke­muliaan di kerajaan bersama para lo­cianpwe ini. Percayalah, Kaisar amat bijaksana dan dapat menghargai seorang pandai.”

Han Han mengerutkan keningnya dan menggeleng kepala. “Tidak bisa, Cihu. Dari pada menjadi seorang anak yang puthauw (durhaka), yang tidak mau mem­balas kematian keluarga orang tuaku, lebih baik aku menempuh segala bahaya sampai mati!”

“Hem, bocah sombong. Engkau hendak membunuhi enam orang panglima kerajaan? Wah-wah, nanti dulu! Apa kaukira hadirnya orang macam aku di sini tiada gunanya? Lawan dulu sabitku, baru boleh kau coba-coba melanjutkan niatmu yang jahat!” Sin-tiauw-kwi mengejek dan kakinya yang hanya sebelah yang berdiri itu meloncat-loncat seperti burung, maju mendekati Han Han.

“Orang muda, dengan adanya kami di sini, mana mungkin engkau akan mem­bunuh panglima kerajaan? Jangan mimpi di siang hari!” bentak Bhong Lek yang sudah maju pula bersama adiknya.

Han Han mengerutkan keningnya dan memandang kakak iparnya, lalu berkata, suaranya dingin sekali. “Hemmm, begini­kah kehendakmu, Cihu?”

Bertemu pandang dengan adik iparnya, Giam-ciangkun merasa bulu tengkuknya berdiri. Pandang mata Han Han seolah-olah menembus dan dapat menjenguk isi hatinya, maka sambil menggerakkan pun­daknya dan mengalihkan pandang ia men­jawab, “Engkaulah yang menyusahkan aku, Han Han. Tentu saja tidak seorang pun di sini yang akan membiarkan eng­kau membunuh orang, apalagi hendak membunuh enam orang panglima. Bahkan aku sendiri mau tidak mau harus men­cegahmu, karena kalau aku membiarkan­mu, berarti aku seorang pemberontak pula. Mengapa kau tidak mau sadar?”

Han Han memutar otaknya dan ter­ingatlah ia akan semua kejadian semen­jak malam tadi. Ia ingat akan percakap­an antara cihunya dan cicinya, kemudian teringat akan perbuatan Giam Kok Ma sehingga perwira itu pergi ke tempat ini. Ternyata cihunya sudah berada di sini pula bersama tokoh-tokoh ini. Bukankah semua ini sudah diatur lebih dulu? Duga­an ini menimbulkan amarah di hatinya, maka ia mengangkat muka membusung­kan dada.

“Keputusanku sudah jelas! Aku akan mencari Si Keparat Panglima Muka Kuning yang bernama Giam Kok Ma itu dan lima orang sekutunya yang dulu meng­hancurkan keluarga orang tuaku. Kalau ada yang hendak menghalang, dia itu pun harus kuenyahkan!”

“Heh-heh, orang muda yang sombong!” Dua orang Tikus Kuburan sudah menu­bruk maju untuk menangkap Han Han. Mereka memandang rendah sekali. Pe­muda itu masih bocah, biarpun keadaan­nya aneh dan sikapnya luar biasa dingin dan beraninya, namun mempunyai kepan­daian apakah?

Han Han yang sudah marah itu mem­balikkan tubuh dan menggerakkan kedua tangannya mendorong. Karena maklum akan kelihaian dua orang kakek ini, se­kaligus ia telah mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang pada kedua lengannya.

“Hayaaaaa....!” Dua orang itu terkejut setengah mati ketika ada hawa panas menyambar dan menyesakkan dada mereka, membuyarkan semua tenaga sin-kang mereka yang mereka pergunakan untuk menahan pukulan, akhirnya mereka tidak kuat dan terpaksa melempar tubuh ke belakang, terus bergulingan menjauh­kan diri! Mereka meloncat bangun de­ngan wajah pucat dan mata terbelalak.

“Ehemmm, kiranya engkau mempunyai sedikit kepandaian!” Si Burung Hantu membentak, akan tetapi sebelum ia turun tangan, terdengar suara ketawa.

“Hi-hi-hi, burung yang jelek, jangan rampas korbanku! Serahkan bocah ini kepadaku!” Tubuh Toat-beng Ciu-sian-li melayang turun dan tahu-tahu ia telah berhadapan dengan Han Han.

Karena merasa pernah menjadi murid wanita ini, Han Han terkejut sekali dan otomatis ia menjura dengan hormat sam­bil berkata, “Subo, harap jangan men­campuri urusan pribadiku!”

“Heh-heh-hi-hik, kalian semua telah mendengarnya, kan? Dia adalah muridku dan karena dia telah melakukan dosa melanggar peraturan-peraturan perguruan, maka dia sepenuhnya menjadi hakku.”

Sin-tiauw-kwi tertawa. “Heh-heh, aku bukanlah orang yang suka mencampuri urusan guru dan murid. Toat-beng Ciu-sian-li, muridmu ini sombong dan tidak benar, memang perlu sekali akan peng­ajaranmu!”

Teat-beng Ciu-sian-li menghadapi Han Han sambil menyeringai. “Bocah iblis murid durhaka. Apakah engkau tidak lekas berlutut minta ampun kepada gurumu?”

Han Han mengerutkan alisnya. Ia melihat cihunya sudah duduk dengan tenang di atas kursi menghadapi meja, juga sepasang Tikus Kuburan sudah meng­ambil tempat duduk sedangkan Sin-tiauw-kwi sudah berdiri dengan satu kaki, sikap mereka semua seperti orang-orang yang hendak menonton pertunjukan menarik. Han Han menduga bahwa memang dia hendak diadu dengan bekas gurunya ini, atau memang mereka hendak mencela­kakannya dalam usaha mereka melindungi enam orang musuh-musuhnya yang hen­dak ia basmi. Ia menjadi penasaran akan tetapi sedikit pun tidak gentar. Ia meng­hadapi Ciu-sian-li dan berkata lantang.

“Locianpwe, aku menghormatimu sebagai bekas guru, akan tetapi sekarang aku bukanlah muridmu lagi. Tentang kesalahanku dahulu telah melarikan diri darimu karena aku memang tidak suka menjadi muridmu. Sekarang, karena se­dang menghadapi urusan pribadi hendak membasmi musuh-musuh keluargaku, ha­rap kau orang tua suka mengalah dan membiarkan aku membereskan urusan pribadiku. Kalau sudah selesai aku mem­basmi musuh-musuhku barulah kita bicara tentang urusan kita.”

“Eh, Si keparat bocah tak mengenal budi! Tak usah banyak bicara hayo lekas berlutut di depanku!”

Akan tetapi bentakan ini malah men­datangkan rasa penasaran di hati Han Han. Selama ia keluar dari Pulau Es, dia selalu dimusuhi orang, baik oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang disebut golongan putih maupun oleh tokoh-tokoh golongan hitam. Rasa penasaran ini membuat ia marah dan nekat.

“Toat-beng Ciu-sian-li, engkau mem­punyai pendirian, aku pun punya! Aku akan membasmi musuh-musuhku dan si­apa pun yang menghalangiku, biar engkau sekalipun, akan kulawan!”

“Wah-wah, baru sekarang aku melihat murid lebih galak dari gurunya!” kata Sin-tiauw-kwi sambil tertawa.

“Tutup mulutmu, Burung Buruk!” Ciu-sian-li membentak. “Kaukira aku tidak dapat menguasai muridku? Han Han, sekali lagi, engkau tidak mau taat?”

“Terserah kepadamu, aku tidak menganggapmu sebagai guru lagi.”

Toat-beng Ciu-sian-li mengeluarkan suara teriakan melengking dan tiba-tiba rantai gelang yang dijadikan anting-anting telinganya itu menyambar dari kanan kiri, yang kiri menyambar kepala Han Han, yang kanan menyambar ke arah dada.

Sambaran kedua benda itu cepat dan kuat sekali, mengeluarkan bunyi berde­sing dan Han Han yang tidak keburu mengelak, mengerahkan tenaganya dan menghantam ke arah dua ujung rantai gelang itu dengan kedua telapak tangan­nya.

“Plak-plak!”

“Bukkk!” Tanpa disangka-sangka oleh Han Han, pukulan nenek itu sudah menyusul pada saat ia menggerakkan tangan menangkis sehingga dadanya kena didorong oleh tangan kiri nenek itu. Tu­buh Han Han roboh bergulingan, dadanya ampek dan napasnya sesak. Akan tetapi ia menahan napas dan meloncat bangun. Juga nenek itu terkejut bukan main ka­rena tangkisan kedua tangan pemuda itu membuat rantai gelangnya kehilangan dua buah mata gelang yang pecah terkena hantaman tangan Han Han.

“Bocah keparat, berani engkau me­lawan Toat-beng Ciu-sian-li!” Nenek itu memekik dan tubuhnya sudah melayang naik dan meluncur ke arah Han Han de­ngan terjangan dahsyat sekali. Kedua tangan nenek itu mengirim pukulan-pukulan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa). Hawa pukulan kedua tangannya bercuitan bunyinya dan tercium bau amis sebelum pukulan itu datang. Melihat ini, Han Han maklum bahwa ia menghadapi lawan yang lebih lihai daripada Gak Liat atau Ma-bin Lo-mo, maka ia cepat mengerahkan tenaga­nya dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan dan menggunakan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang.

“Wusssss.... plak-plak....!” dua pasang telapak tangan bertemu dan akibat­nya kembali Han Han terjengkang dan bergulingan. Akan tetapi nenek itu berdiri menggigil dan mulutnya berseru berkali-kali, “Luar biasa.... luar biasa....!”

Memang ia merasa heran setengah mati mendapat kenyataan betapa kekuatan Im-kang bocah itu lebih hebat daripada Swat-im Sin-ciang Ma-bin Lo-mo sendiri!

“Heh-heh-heh, Dewi Pemabuk! Apakah engkau kewalahan menghadapi muridmu sendiri?” Si Burung Hantu mengejek sam­bil tertawa.

Nenek itu melengking tinggi karena marahnya, tubuhnya berkelebat cepat ke depan dan segera Han Han dihujani se­rangan dengan kedua tangan yang ber­gantian memukul, kedua kaki yang ber­gantian menendang, dan sepasang anting-anting raksasa yang menyambar-nyambar dari kiri kanan! Hebat bukan main sepak terjang nenek ini sehingga secara ber­turut-turut Han Han terdesak, beberapa kali menerima pukulan dan hantaman senjata rantai gelang sehingga ia ter­guling-guling dan merasa tubuhnya sakit-sakit semua.

Sepasang Tikus Kuburan bertepuk-tepuk tangan saking gembira dan me­mang mereka kagum bukan main. Sudah lama mereka mendengar nama besar Toat-beng Ciu-sian-li, akan tetapi baru sekarang mereka menyaksikan kelihaian nenek itu. Tadi mereka sudah mengenal kehebatan tenaga bocah itu, kini me­lihat betapa nenek itu mendesak dan menghimpit, sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada Han Han, tentu saja mereka menjadi kagum sekali. Adapun Giam-ciangkun yang menyaksikan betapa adik isterinya terancam bahaya maut hanya tenang-tenang saja karena sesung­guhnya ia menganggap Han Han sebagai ancaman bagi dirinya sendiri.

Seperti yang pernah dilakukan oleh Ma-bin Lo-mo dan Gak Liat, nenek ini pun tidak ingin membunuh Han Han ka­rena dia sudah mendengar dari tiga orang muridnya tentang keadaan diri Han Han yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Dia pun diam-diam menduga bahwa Han Han tentu telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es, maka ia ingin memaksa anak muda itu untuk membuka rahasia tentang Pulau Es, ingin menangkapnya dan membawanya pergi. Di samping ini, juga ia ingin memamerkan kepandaiannya kepada para jagoan kerajaan, maka ia sengaja mempermainkan Han Han dan mengeluar­kan kepandaiannya yang memang menga­gumkan sekali. Kalau ia kehendaki, tentu ia telah dapat membunuh Han Han de­ngan pukulan-pukulan Toat-beng-tok-ciang yang dikerahkan dengan tenaga sepenuh­nya.

Untuk ke sekian kalinya, ketika de­ngan nekat Han Han menubruk, meng­gunakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang de­ngan tangan kanan dan pukulan Swat-im Sin-ciang dengan tangan kiri, yang amat mengagumkan hati nenek itu, Toat-beng Ciu-sian-li mencelat ke atas se­hingga kedua pukulan itu luput, kemudian dari atas kakinya menendang, mengenai dada Han Han sehingga tubuh pemuda ini terlempar sampai di sudut ruangan itu. Han Han terbanting pada dinding, ta­ngannya meraba kaki meja hiasan tinggi yang menjadi tempat pot bunga. Ia meloncat bangun dan mematahkan kaki meja itu. Seperti juga kursi yang diduduki Giam-ciangkun, kaki meja itu terbuat daripada akar pohon yang bengkak-beng­kok dan nyeni, begitu ia patahkan men­jadi sebatang tongkat dan dengan sen­jata sederhana ini Han Han maju lagi menghadapi Si Nenek sakti dengan ke­marahan meluap-luap. Ia maklum bahwa kepandaiannya kalah jauh, akan tetapi kemauannya yang keras membuat ia ne­kat dan pantang menyerah, kalau perlu ia akan mempertaruhkan nyawanya di tangan bekas gurunya ini.

“Ha-ha-ha-ha, biar engkau berubah menjadi tiga orang, tak mungkin engkau dapat menangkap Toat-beng Ciu-sian-li, bocah sombong!” Bhong Lek yang mukanya kaya tikus mengejek.

“Heh-heh, biar dia berkepala tiga dan berlengan enam, takkan mampu menang!” Bhong Poa Sik mengejek pula.

Mendengar ini, nenek itu terkekeh. “Jangankan hanya menjadi tiga, biar menjadi tiga puluh sekalipun aku masih sanggup mempermainkannya!”

Han Han makin marah, merasa dianggap rendah sekali. Ia teringat akan kemampuannya yang luar biasa, yang hampir berhasil ketika ia pergunakan dalam menghadapi Setan Botak dan Si Muka Kuda tempo hari. Mendengar itu, ia pun lalu berkata dengan suara lantang, sinar matanya menyambar-nyambar seperti kilatan halilintar dan suaranya yang mengandung khi-kang kuat itu didasari kekuatan kemauan mujijat yang amat berpengaruh.

“Nenek sombong! Lihat, aku sudah menjadi tiga orang! Engkau mau bisa apa?” Sambil berkata demikian ia me­nyerang dengan pukulan tongkat kaki meja ke depan dan terbelalaklah semua orang ketika melihat betapa Han Han benar-benar telah menjadi tiga orang! Tiga orang muda berambut riap-riapan, ketiganya memegang tongkat dan me­nyerang Toat-beng Ciu-sian-li dari tiga jurusan!

“Hehhh....! Mimpikah aku?” Si Burung Hantu berkata gagap dengan mata makin menjuling.

“Demi segala iblis di neraka!” Si Mu­ka Tikus Bhok Lek berseru dengan mata terbelalak.

“Ajaib.... se.... se.... setan....!” Adiknya juga berseru.

“Ilmu hitam apakah ini....?” Giam-ciangkun juga berseru, jantungnya seperti berhenti berdetik.

“Ayaaaaa....!” Toat-beng Ciu-sian-li menjadi bingung dan menjerit, pung­gungnya terkena hantaman tongkat.

Akan tetapi tubuhnya kebal dan sung­guhpun ia merasa punggungnya nyeri, namun ia tidak terluka dan kembali ia melengking nyaring, tubuhnya mencelat ke atas dan ia menghindarkan pukulan tangan kanan kedua orang “Han Han” yang berada di belakangnya sambil menggerakkan rantai gelang telinga kanannya menyerang ke arah dada Han Han yang bergerak ke depannya.

“Pranggg....!” Dengan telapak tangan kanannya Han Han menampar ujung ran­tai itu sehingga dua buah gelang pecah-pecah sambil memegang tongkat dengan tangan kiri. Dalam pandang mata empat orang yang menjadi penonton, dua orang “Han Han” yang lain juga memindahkan tongkat ke tangan kiri dan mereka me­nerjang berbareng.

“Eh.... hiiihhhhh....!” Toat-beng Ciu-sian-li selama hidupnya belum pernah mengalami hal seperti itu. Ia kembali meloncat ke atas untuk menghindarkan diri dan tiba-tiba ia menggerakkan ta­ngan. Kiranya ia sudah melolos tiga buah gelang rantainya dan melontarkannya ke arah tiga orang lawannya. Memang an­ting-anting luar biasa itu selain menjadi “perhiasan” dan senjata ampuh, juga da­pat ia pergunakan sebagai senjata raha­sia, yaitu dengan cara melolos gelang-gelangan rantainya.

Han Han cepat mengelak sambil me­nangkis dengan tongkatnya. “Trakkk!” Tongkatnya patah dan remuk dan ternyata bahwa tongkat kedua orang “ba­yangannya” juga patah dan remuk. Kini dia dan bayangan-bayangannya itu me­ngeroyok dengan tangan kosong. Melihat ini Giam-ciangkun segera berseru, “Ilmu sihir! Dia hanya seorang, yang dua ha­nyalah bayangan!”

Toat-beng Ciu-sian-li bukan seorang bodoh. Dia seorang datuk golongan hitam yang sakti. Maka ia segera sadar bahwa tidak mungkin ada manusia yang dapat mengubah diri menjadi tiga orang, ma­ka ia mengerahkan kekuatan batinnya dan seketika pandangannya menjadi terang. Lawannya hanya seorang saja, be­kas muridnya yang telah memperoleh ke­majuan luar biasa sekali, terutama telah memiliki tenaga sin-kang yang mentakjubkan.

Akan tetapi rasa gentar dan bingung tadi dipergunakan baik-baik oleh Han Han. Selagi lawannya bingung, ia me­ngerahkan tenaganya di kedua tangan dan begitu tubuh nenek itu turun, ia me­nubruk ke depan, memukul dengan do­rongan dahsyat. Kini ia menggunakan inti tenaga Im-kang yang ia latih selama bertahun-tahun di Pulau Es, menurut petunjuk kitab-kitab Ma-bin Lo-mo dan kitab-kitab Sepasang Pedang Iblis dan dengan pukulan seperti itu Han Han mampu memukul air menjadi beku dan menjadi sebongkah salju sebesar kerbau!

“Ihhhhh....!” Toat-beng Ciu-sian-li merasa betapa hebatnya hawa pukulan yang amat dingin itu. Baru terkena ha­wanya saja, ia merasa semua darah di tubuhnya seperti membeku, maka mak­lumlah nenek ini bahwa kalau ia terkena pukulan itu, tentu ia tidak akan kuat menahan dan akan tewas! Maka ia me­ngerahkan tenaganya dan tiba-tiba tubuh­nya lenyap. Pukulan Han Han mengenai lantai di belakang tempat nenek itu tadi berdiri, membuat lantai itu bergetar dan semua perabot yang berada di belakang­nya hancur semua. Kiranya nenek itu mempergunakan tenaganya yang mujijat dan tubuhnya telah amblas ke lantai! Dia selamat, akan tetapi ketika ia meloncat keluar dari lantai yang mencetak tubuh­nya merupakan lubang sedalam satu kaki, ia kelihatan pucat dan dari ujung bibirnya menetes darah. Ia hanya kena serempet saja, namun cukup membuat ne­nek ini terluka!

“Ha-ha-ha, nenek setan arak, biar ku­bantu engkau!” Tiba-tiba terdengar seru­an keras dan tahu-tahu Gak Liat Si Se­tan Botak telah berada di belakang Han Han, lalu secepat kilat ia memukul pung­gung Han Han dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Han Han merasa betapa hawa panas menyambarnya dari belakang. Ia mengerahkan sin-kang melindungi tubuh­nya sambil membalik, namun terlambat. Pukulan ampuh mengenai punggungnya dan biarpun tubuhnya dilindungi sin-kang yang kuat, tidak urung ia terlempar juga dan roboh pingsan di depan kaki Toat-beng Ciu-sian-li.

“Ha-ha-ha! Aku sudah membantumu. Engkau pun harus membantu kami, mem­bantu kerajaan, Toat-beng Ciu-sian-li!” kata pula Gak Liat.

Nenek itu memandang tubuh yang tergolek pingsan di depan kakinya, meng­usap darah dari ujung bibirnya dan me­narik napas panjang. “Sebetulnya aku tidak membutuhkan bantuanmu, Setan Botak. Akan tetapi aku memang sudah berjanji untuk membantu kalian asal Kaisar dapat menghargai tenaga orang. Sekarang aku ada urusan pribadi dengan bocah ini. Sampai jumpa! Lain kali aku datang lagi!” Ia mengempit tubuh Han Han yang lemas dan hendak pergi.

“Ha-ha-ha, takkan ada gunanya kau membujuk dia untuk bicara tentang Pulau Es, Ciu-sian-li. Dia keras kepala, engkau takkan berhasil!” kata pula Gak Liat.

Toat-beng Ciu-sian-li menengok dan berkata, suaranya dingin, “Siapa hendak bicara tentang Pulau Es? Dia bekas mu­ridku yang durhaka, harus diberi hukuman untuk memberi contoh kepada murid-murid lain!” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyap.

Giam-ciangkun bernapas lega, merasa seolah-olah sebuah batu berat yang se­lalu menekan di dalam dadanya telah ikut terbawa pergi oleh nenek sakti itu. “Aaahhhhh, sungguh berbahaya....” katanya sambil menyapu peluh yang mem­basahi lehernya. Pintu terbuka dan mun­culiah Giam Kok Ma, mukanya yang kuning kini berubah putih dan ia bertanya terengah-engah, “Be.... betulkah apa yang kulihat tadi? Dia.... iblis cilik itu.... berubah menjadi tiga? Celaka.... jangan-jangan hanya satu yang dibawa pergi, yang dua lagi....” Panglima muka kuning ini memandang ke seluruh ruangan dengan mata jelilatan, takut kalau-kalau ia akan menemukan dua orang Han Han lagi di tempat itu, yang pasti akan mem­bunuhnya.

Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa, lalu duduk di atas kursi dan berkata.

“Ciangkun, tidak usah khawatir. Dia memang memiliki sedikit ilmu sihir. Bu­kan tubuhnya berubah menjadi tiga, ha­nya dia mempengaruhi pandangan dan kemauan kita sehingga kita melihatnya seperti tiga orang. Setan cilik itu betul-betul amat berbahaya kalau dibiarkan hidup. Dia memiliki banyak ilmu yang aneh-aneh. Untung dia telah tertawan oleh Toat-beng Ciu-sian-li dan aku me­ngenal betul siapa Ciu-sian-li. Iblis cilik itu pasti tidak akan hidup lagi. Ha-ha-ha!”

“Syukurlah kalau begitu,” kata Giam Cu dan Giam Kok Ma dengan hati lega.

“Tenaga sin-kangnya tidak lumrah manusia,” kata kedua orang Saudara Bhong.

Gak Liat hanya tertawa, tidak mau bicara banyak karena dia sendiri masih ngeri kalau mengingat betapa dia dengan Ma-bin Lo-mo sampai terluka ketika melawan bocah itu, dan lebih-lebih lagi, ketika hendak membunuhnya tiba-tiba muncul tokoh yang paling disegani, paling dihormati, juga paling ditakuti di dunia ini. Koai-lojin!

“Ehmmm.... sayang sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk menghajar bocah sombong itu!” tiba-tiba Sin-tiauw-kwi berkata sambil menggoyang senjata sabit di tangannya.

“Ha-ha-ha, Sin-tiauw-kwi burung jelek. Percuma menyesal, dia tentu akan mam­pus di tangan Ciu-sian-li. Kalau kau ingin memperlihatkan kepandaianmu, boleh kau coba-coba dengan aku.”

“Boleh! Sekarang pun boleh!” kata Si Burung Hantu dan ia menggerakkan ta­ngan kirinya ke arah seekor lalat yang selalu banyak beterbangan di sekitar tubuhnya yang mungkin karena tertarik baunya yang apek dan penguk. Begitu ia memutar-mutar tangannya, ada angin berpusingan keras dan betapapun lalat itu hendak terbang, ia tidak mampu keluar dari pusingan angin itu dan hanya ter­bang bingung berputar-putar di depannya!

Demonstrasi sin-kang yang seperti main-main ini sesungguhnya hebat, memper­lihatkan betapa Si Burung Hantu sudah menguasai sin-kang sampai cukup tinggi sehingga mampu menggunakan tenaga yang dibikin halus seperti itu!

“Ha-ha-ha! Beraninya hanya sama lalat!” Setan Botak tertawa dan meng­gerakkan tangannya mendorong ke arah lalat yang beterbangan berputaran itu. Lalat itu jatuh dan.... hangus!

“Huh!” Si Burung Hantu mendengus. “Hwi-yang Sin-ciang boleh jadi dapat menghanguskan seekor lalat, akan tetapi aku tidak takut!” katanya menentang.

Melihat ini, Giam-ciangkun lalu bang­kit berdiri dan menengahi mereka, hati­nya kesal menyaksikan ulah kedua orang sakti yang aneh, seperti kanak-kanak yang saling tidak mau mengalah. “Sudah­lah, harap ji-wi locianpwe suka meng­hentikan main-main yang berbahaya ini. Gak-locianpwe, bagaimanakah dengan hasil perjalanan locianpwe?”

“Seperti ciangkun telah melihat sen­diri, Toat-beng Ciu-sian-li sudah me­nyanggupi untuk membantu kita. Biarpun omongan nenek tua bangka itu belum tentu dapat dipegang, akan tetapi saya yakin, bahwa dia tidak akan sudi mem­bantu kaum pemberontak. Tentang Ma-bin Lo-mo, memang Si Muka Kuda yang menjemukan itu sukar sekali diurus. Akan tetapi saya mempunyai daya upaya untuk membubarkan murid-muridnya yang selalu dia tanamkan bibit kebencian kepada pemerintah baru dalam hati mereka. Hemmm, Si Muka Kuda itu mengira bah­wa tidak ada orang mengetahui rahasia­nya. Dia lupa bahwa tidak mudah orang menyembunyikan rahasia dari Kang-thouw-kwi, heh-heh!”

“Bagus! Rahasia apakah itu locian­pwe? Murid-murid Ma-bin Lo-mo sudah banyak mendatangkan banyak kepusingan pada para penjaga di perbatasan. Kalau kita dapat menundukkan mereka, berarti semua tenaga anti pemberontakan dapat dikerahkan menghadapi Se-cuan saja.”

“Rahasia besar Ma-bin Lo-mo, rahasia busuk, ha-ha-ha!” Gak Liat tertawa, me­nyambar guci arak di atas meja lalu minum arak sampai terdengar bunyi me­ngelogok di tenggorokannya. “Setiap orang muridnya adalah putera-puteri keluarga yang terbasmi habis. Semua muridnya percaya dan mengira bahwa keluarga mereka terbasmi oleh pasukan Mancu. Padahal tidak seorang pun keluarga mereka terbasmi oleh pasukan Mancu. Yang membunuh keluarga mereka adalah Ma-bin Lo-mo sendiri. Ha-ha-ha!”

Sepasang Tikus Kuburan terkejut. Mereka juga mengenal siapa adanya Ma-bin Lo-mo, seorang bekas menteri Kera­jaan Beng-tiauw yang tentu saja anti Kerajaan Mancu. Mereka mendengar be­tapa di In-kok-san, di puncak Pegunungan Tai-hang-san, kakek itu melatih puluhan orang murid yang kini telah menjadi orang-orang muda berilmu yang di mana-mana memusingkan petugas kerajaan karena mereka itu selalu melakukan ke­kacauan. Mereka ini mendengar bahwa para murid In-kok-san memusuhi Keraja­an Mancu karena mereka adalah keturun­an para keluarga yang terbasmi oleh pasukan Mancu dalam perang.

“Eh, Gak-locianpwe. Benarkah itu?”

Kang-thouw-kwi melototkan matanya kepada kedua orang saudara Bhong ini. “Mengapa tidak benar? Orang lain boleh ditipu, akan tetapi aku tidak! Aku mengetahui rahasia Ma-bin Lo-mo. Dia me­milih calon murid, laki-laki atau perem­puan yang memiliki tulang dan bakat baik, kemudian ia membasmi keluarga calon murid itu, mengatakan bahwa yang membasmi adalah orang-orang Mancu dan ia membawa murid itu ke In-kok-san dan selain memberi kepandaian, juga me­nanamkan kebencian terhadap pemerintah Ceng. Dalam usahanya membentuk baris­an orang-orang muda yang membenci pemerintah baru itu ia dibantu oleh Si Muka Tengkorak Swi Coan, Si Muka Bopeng Ouw Kian dan Kek Bu Hwesio. Kalau murid-murid itu tahu akan tipu muslihat guru mereka, ha-ha-ha, hendak kulihat apa yang akan dapat dilakukan Si Muka Kuda. Ha-ha-ha!”

“Akan tetapi, betapa mungkin dapat menginsafkan para muridnya, locianpwe?”

“Hal itu memang sukar, akan tetapi saya rasa Puteri Nirahai akan dapat mencari akalnya. Tentang siasat, sebaik­nya kita serahkan kepada Sang Puteri yang seratus kali lebih cerdik daripada saya si tua bangka. Dan tentang gadis Mancu yang menjadi adik angkat Han Han, agaknya Ciangkun tentu sudah men­dengar dari murid saya Ouwyang-kongcu.”

“Ouwyang-kongcu memang sudah pu­lang bersama Lulu, akan tetapi gadis itu hanya menimbulkan keributan saja. Dia telah diterima di istana, bahkan telah diangkat menjadi siuli, akan tetapi baru beberapa hari saja dia sudah minggat entah ke mana. Kini Ouwyang-kongcu sedang berusaha mencarinya dan belum pulang.”

“Wah, sungguh merepotkan. Dan Puteri Nirahai, apakah sudah pulang?”

“Belum,” jawab Giam-ciangkun. “Mari­lah kita kembali ke kota raja. Kita harus memberi laporan kepada Pangeran Ouw­yang Cin Kok, dan aku sendiri masih menghadapi kesukaran. Hemmm.... tak tahu aku bagaimana harus menyampaikan kepada isteriku tentang adiknya.”

Giam Kok Ma berkata, “Sebaiknya kalau dikatakan bahwa Adik iparmu itu pergi tanpa pamit mencari Lulu. Bukan­kah alasan itu yang paling baik?”

Giam Cu mengangguk-angguk. “Hemm, agaknya benar begitu. Memang tidak ada alasan lain.”

Kembalilah mereka beramai ke kota raja. Giam Kok Ma menjadi girang bukan main dan baru pada malam hari itu ia dapat tidur setelah beberapa malam se­menjak diberi tahu Giam Cu bahwa dia dan rekan-rekannya diancam oleh Han Han ia sama sekali tidak dapat tidur nyenyak tidak dapat makan enak!



***



Di dalam kempitan seorang sakti seperti Toat-beng Ciu-sian-li, apalagi dua jalan darahnya telah ditotok, biarpun sudah sadar Han Han tidak mampu ber­buat apa-apa. Melihat dirinya dikempit dan dibawa lari cepat sekali, Han Han berkata.

“Toat-beng Ciu-sian-li, setelah aku kalah, mengapa susah payah membawa aku pergi? Lebih baik kaubunuh sajalah aku, habis perkara!”

Mendengar ini, Toat-beng Ciu-sian-li melemparkan tubuh Han Han ke atas tanah lalu berkata. “Enak saja mem­bunuhmu! Engkau telah berdosa, telah melanggar peraturan di In-kok-san. Eng­kau harus dihukum! Ataukah engkau da­pat bicara sesuatu untuk meringankan hukumanmu?”

Han Han tersenyum pahit. “Aku tahu isi hatimu, Ciu-sian-li. Engkau telah menyaksikan kelihaianku dan engkau menghendaki agar supaya aku bicara tentang Pulau Es, bukan?”

“Benar, benar....!” Ciu-sian-li berkata penuh gairah. “Bicaralah, dan aku akan memperingan hukuman, bahkan mungkin saja aku mengampunimu, tergantung dari berharga atau tidaknya bicaramu.”

Han Han berpikir dan hatinya kecewa bukan main. Beginikah wataknya orang-orang pandai di dunia ini? Gak Liat, Siangkoan Lee dan nenek ini adalah orang-orang sakti yang berkepandaian tinggi, sukar dicari bandingnya namun toh mereka masih belum puas akan apa yang mereka miliki, masih amat rakus akan ilmu orang lain! Tidak salah ucapan orang pandai di jaman dahulu bahwa kalau menurutkan nafsu, manusia ini ingin memeluk dunia, ingin menyamai kekuasaan Tuhan! Kalau ia bicara tentang Pulau Es, nyawanya akan diampuni, tidak akan dibunuh! Benarkah ini? Andaikata benar dan ia menunjukkan Pulau Es kepada nenek ini, padahal dia sendiri sangsi apakah dia akan sanggup mencari pulau itu, berarti dia mengkhianati penghuni Pulau Es! Padahal dia dan Lulu telah menerima budi yang bukan main besarnya dari penghuni Pulau Es! Apakah artinya hidup menjadi pengkhianat? Dia sudah menjadi anak puthauw, belum mampu membalas kemati­an orang tuanya, apakah kini mau di­tambah menjadi pengkhianat lagi? Biar­pun kakeknya seorang jahat, dia akan berusaha agar tidak menjadi orang yang tidak berharga! Lebih baik mati sebagai seorang yang mempertahankan kebenaran daripada hidup sebagai seorang manusia yang rendah budi!

“Tidak ada yang dapat kubicarakan tentang Pulau Es,” katanya tegas.

“Hemmm, bocah keras kepala. Apakah engkau ingin kusiksa?”

“Sesukamulah. Sehebat-hebatnya siksa­an hanya akan berakhir dengan kematian, dan aku tidak takut mati, Ciu-sian-li. Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi sudah menyiksaku habis-habisan, mereka pun hanya melelahkan diri sendiri. Sia-sia. Lebih baik kaubunuh saja aku, habis per­kara. Engkau tidak pusing, aku pun tidak jemu!” Memang luar biasa sekali ketabah­an yang tidak lumrah manusia ini dan memang dia tidak hanya menggertak atau pura-pura saja. Ia akan mampu menghadapi maut dengan mata terbuka.

“Hemmm, enaknya. Engkau akan ku­bawa ke In-kok-san, akan kuberi hukuman agar menjadi contoh bagi semua murid yang murtad!”

Han Han tidak mau menjawab lagi, hanya memandang nenek itu dengan sinar mata tidak acuh sama sekali. Nenek itu mendengus marah, menyambar lagi tubuh Han Han dan mengempitnya lalu mem­bawanya lari cepat sekali seperti ter­bang.

Para murid di In-kok-san kini telah menjadi pejuang-pejuang muda yang ga­gah berani dan biarpun mereka itu tidak bekerja sama, juga jumlah mereka hanya beberapa puluh orang saja, namun su­dah cukup mendatangkan kepusingan bagi pemerintah Mancu. In-kok-san kini hanya merupakan tempat di mana kadang-kadang para murid itu pulang, karena memang tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Setelah mereka tamat belajar dan mulai membantu perjuangan menentang peme­rintah penjajah, In-kok-san menjadi sunyi. Bahkan Ma-bin Lo-mo jarang sekali berada di puncak itu. Hanya Toat-beng Ciu-sian-li dan tiga orang muridnya yang selalu berada di situ, karena berbeda dengan Ma-bin Lo-mo yang mendidik murid-muridnya untuk memusuhi pemerin­tah Mancu, Toat-beng Ciu-sian-li tidak mementingkan soal politik, dan tekun melatih tiga orang muridnya, yaitu Kim Cu, Phoa Ciok Lin dan Gu Lai Kwan. Biarpun demikian, tiga orang muridnya yang semenjak dibawa ke In-kok-san oleh Ma-bin Lo-mo memang sudah membenci bangsa Mancu karena keluarga, mereka terbasmi oleh bangsa Mancu, apalagi karena semua murid Ma-bin Lo-mo yang berada di situ juga saudara-saudara se­perguruan mereka, maka tiga orang muda ini tentu saja tidak mau tinggal diam melihat perjuangan para murid Ma-bin Lo-mo. Sering kali mereka bertiga me­ninggalkan In-kok-san untuk mengganggu pembesar-pembesar Mancu, membunuhi mereka, terutama sekali kepala kampung-kepala kampung atau pembesar-pembesar baru di dusun-dusun. Toat-beng Ciu-sian-li yang melihat betapa tiga orang muridnya juga ikut-ikut berjuang, tidak ambil peduli dan menganggap itu sebagai latih­an yang baik bagi mereka.

Akan tetapi betapa kaget, penasaran dan marah hati nenek ini ketika hari itu ketiga orang muridnya melaporkan bahwa mereka bertemu dengan Han Han yang melindungi seorang Panglima Mancu yang hendak pulang ke kota raja dan betapa mereka bertiga telah kalah melawan Han Han! Tiga orang muridnya yang ia bang­gakan itu, yang tentu saja ketiganya memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi daripada semua murid Ma-bin Lo-mo, kalah oleh murid durhaka yang melarikan diri itu? Nenek itu marah, penasaran, dan juga di sudut hatinya timbul keheran­an dan dugaan bahwa Han Han telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian yang ter­dapat di Pulau Es. Maka ia lalu turun dari In-kok-san menuju ke kota raja. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat yang mem­bujuk-bujuknya untuk membantu istana dengan menjanjikan kemuliaan kepada nenek itu. Toat-beng Ciu-sian-li tertarik, maka ia dianjurkan oleh Gak Liat untuk langsung menghadap Pangeran Ouwyang Cin Kok seperti telah direncanakan. Ka­rena memang dia hendak mencari murid­nya yang murtad di kota raja, maka nenek itu menyanggupi dan seperti telah diceritakan, dia bertemu dengan Pange­ran Ouwyang Cin Kok dan betapa girang hatinya ketika ia mendengar pula, bahwa Han Han berada di kota raja. Maka ia lalu ikut menjalankan siasat memancing Han Han keluar kota raja kemudian menangkap pemuda itu dan membawanya ke In-kok-san. Mula-mula memang ia hendak membujuk Han Han untuk bicara tentang Pulau Es, akan tetapi setelah hatinya yakin bahwa ia takkan berhasil membujuk pemuda aneh yang memiliki kekerasan hati luar biasa itu, ia mengambil keputusan untuk mengancam Han Han de­ngan hukuman-hukuman dan kalau pe­muda itu tetap menolak, ia akan meng­hukum mati di depan murid-muridnya agar para muridnya tunduk kepadanya.

Ketika Toat-beng Ciu-san-li tiba di In-kok-san mengempit tubuh Han Han, tiga orang muridnya menyambutnya dengan berbagai macam perasaan. Gu Lai Kwan menjadi girang sekali bahwa orang yang pernah mengalahkannya dan membuatnya penasaran kini telah ditawan gurunya. Phoa Ciok Lin juga tersenyum puas karena gadis bermata tajam ini menganggap Han Han sebagai musuh, pembela seorang Panglima Marcu. Adapun Kim Cu memandang Han Han dengan mata terbelalak dan hatinya seperti ditusuk pedang karena ia merasa kasihan sekali dan merasa ngeri betapa bekas sahabatnya yang paiing baik ini akan mengalami hukuman yang mengerikan! Akan tetapi karena ia tak mungkin dapat menolongnya, ia hanya memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Juga belasan orang murid Ma-bin Lo-mo yang kebetulan berada di In-kok-san memandang dan saling berbisik membicaraken Han Han yang tentu saja mereka kenal sebagai seorang murid yang murtad dan menyeleweng, minggat dari In-kok-san.

Nenek itu menoleh kepada para murid yang bergerombol memandang itu dan berkata, “Murid murtad sudah tertangkap, mari kalian saksikan dia dihukum!”

Nenek itu langsung membawa Han Han ke sebuah kamar yang kosong dan buruk, yaitu kamar penyiksaan atau kamar tempat hukuman bagi para murid murtad. Di situ hanya terdapat sebuah dipan bambu kecil di tengah kamar. Toat-beng Ciu-sian-li melempar tubuh Han Han ke atas dipan.

“Ikat kedua tangannya!” Nenek itu memerintah dan Gu Lai Kwan cepat maju, mengambil tambang yang terbuat dari serat yang ulet dan kuat, meneli­kung kedua lengan Han Han ke belakang dan membelenggunya, melibat-libat kedua lengan dan tubuhnya dengan erat sekali. Han Han tidak dapat berdaya karena ia berada dalam keadaan tertotok. Ia hanya sekilas saja melayangkan pandang mata­nya kepada para murid itu dan mengenal mereka. Akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Kim Cu, sejenak pandang mata mereka melekat, dan Han Han menjadi terharu ketika dapat melihat betapa gadis itu memandangnya dengan muka pucat dan sinar mata penuh kekhawatiran dan iba. Ia menarik napas panjang dan mengharap supaya hukuman segera dilaksanakan karena dalam ke­adaan tertotok seperti itu ia tidak akan terlalu menderita rasa nyeri.

Akan tetapi harapannya ini buyar ketika nenek itu menotoknya dua kali untuk membebaskan jalan darahnya. Maka mulailah ia merasa nyeri-nyeri tubuhnya dan ketika ia berusaha menggerakkan kedua tangan, ia mendapat kenyataan bahwa tambang yang mengikatnya itu kuat sekali. Pula, apa artinya memberon­tak? Dia tidak akan dapat melawan Toat-beng Ciu-sian-li, apalagi di situ terdapat belasan orang murid nenek itu dan murid-murid Ma-bin Lo-mo yang rata-rata me­miliki kepandaian tinggi dan yang tentu akan mengeroyoknya. Karena ia tidak mau menjadi tontonan, ia lalu miringkan tubuhnya ke kanan, membelakangi para murid In-kok-san dan menyerahkan nasibnya kepada Thian. Bermacam pikiran memasuki benaknya. Dia menghadapi maut yang sekali ini tak mungkin akan dapat ia hindarkan lagi. Dia akan mati! Apakah artinya mati? Apakah bedanya antara mati dan hidup? Dari mana ia datang sebelum hidup? Dalam pengertian manusia yang amat terbatas, setelah lahir dan hidup baru ada, dan sebelum dilahirkan sebagai manusia, dia tidak ada. Betapa akal budi dapat menyelami keadaan sebelum lahir? Dan betapa pula dapat menyelami keadaan sesudah mati? Betapapun juga, sebelum lahir dia mesti ada, karena tidak mungkin ada terlahir dari tidak ada. Kalau sebelum terlahir itu dia ada tentu sesudah mati juga ada, yaitu keadaan yang menjadi rahasia bagi manusia, yang tak terselami akal manu­sia selagi hidup. Jadi, kematian hanya akan mengantarkannya menembus pintu rahasia itu, kembali kepada KEADAAN sebelum dia terlahir. Kalau demikian, sama halnya dengan kembali ke asalnya, yaitu asal sebelum terlahir, mengapa mati takut? Han Han tersenyum, hatinya besar, sedikit pun tidak ada rasa khawatir di hatinya dan ia memejamkan matanya, seperti tidur, atau lebih tepat lagi seperti dalam keadaan samadhi karena memang dia bersamadhi untuk menyambut uluran tangan maut yang sudah berada di am­bang pintu.

Keadaan di dalam ruangan itu sunyi senyap, semua murid memandang dengan jantung berdebar. Mereka adalah orang-orang gagah yang sudah banyak meng­hadapi pertempuran, sudah banyak mem­bunuh musuh tanpa berkedip. Akan tetapi selalu, apabila ada seorang murid In-kok-san menjalani hukuman, jantung me­reka berdebar tegang, karena nasib se­perti yang dialami si murid terhukum sewaktu-waktu dapat menimpa pula diri mereka sendiri.

“Kim Cu, kauisi guci arakku yang kosong ini!” Toat-beng Ciu-sian-li berkata sambil melontarkan guci araknya yang kosong kepada si murid. Lontaran ini sengaja ia lakukan dengan tenaga sin-kang sehingga bagi orang yang tidak memiliki sin-kang kuat dan tidak terlatih, menerima lontaran guci ini saja cukup untuk membuatnya roboh dengan nyawa melayang meninggalkan badan! Akan tetapi dengan tubuh miring, Kim Cu dapat menerima guci itu dengan baik, lalu lari pergi untuk mengisi guci arak itu dengan arak simpanan gurunya. Setelah mengisi guci arak, ia berlari kembali dan menyerahkan guci arak kepada gurunya.

Toat-beng Ciu-sian-li menenggak guci araknya. Beberapa tetes arak mengalir keluar dari mulutnya karena agaknya sudah ketagihan sekali dan tergesa-gesa minum araknya. Kemudian ia menurunkan guci dari mulut dan berkata, suaranya bengis menyeramkan.

“Murid-muridku, juga murid Ma-bin Lo-mo, semua murid-murid In-kok-san. Lihat baik-baik, Sie Han ini adalah se­orang murid yang murtad, yang telah minggat dan melakukan banyak hal yang melanggar peraturan Perguruan In-kok-san. Oleh karena itu, hari ini kalian akan menyaksikan dia dihukum. Akan tetapi sebelum hukuman dilakukan, aku masih memberi kesempatan kepadanya untuk membuka suatu rahasia. Apabila dia suka bicara, mungkin sekali aku akan meng­ampuninya. Heh, Han Han, sekarang tibalah saat terakhir bagimu! Masihkah eng­kau berkeras kepala dan tidak mau bi­cara tentang rahasia itu kepadaku?”

Hening sejenak di situ. Keheningan yang mencekam perasaan. Semua murid ingin mendengarkan jawaban Han Han. Kim Cu yang makin pucat mukanya itu terdengar berkata, seperti orang mimpi, sehingga dapat diketahui bahwa dia bicara di luar kesadarannya, suara yang keluar dari hatinya yang terguncang, suara yang gemetar.

“Han Han.... kau bicaralah....!”

Gadis itu terkejut sendiri mendengar suara hatinya keluar dari mulutnya, me­mecah kesunyian. Ketika ia sadar bahwa semua mata kini ditujukan kepadanya, wajahnya menjadi merah dan ia menun­dukkan mukanya.

Han Han yang berada dalam keadaan samadhi itu seperti mimpi. Ia melihat bayangan ibunya. Ibunya menghampirinya, mengulurkan kedua tangan dengan pandang mata penuh kasih sayang. Tiba-tiba terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li tadi yang disusul suara Kim Cu. Bayangan ibunya melangkah mundur, kemudian membalikkan tubuh dan berdiri membelakanginya seperti orang berduka, menundukkan muka. Karena Han Han ingin agar kematian segera menjemputnya, agar ia dapat mengikuti ibunya yang memiliki sinar mata demikian penuh kasih sayang, yang tak pernah ia temui dalam pandang mata siapa pun di dunia ini, melebihi kemesraan pandang mata Lulu, ia lalu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Toat-beng Ciu-sian-li dan anjuran Kim Cu. Ia masih memejamkan matanya dan menujukan perhatiannya kepada tubuh ibunya yang berdiri membelakanginya dan pundak ibunya bergerak-gerak seperti orang me­nangis.

Toat-beng Ciu-sian-li marah sekali. Pemuda itu sungguh menggemaskan. Men­jawab dengan mulut pun tidak mau, ha­nya menggeleng kepala.

“Gu Lai Kwan, ambil golok alat meng­hukum!” bentaknya.

Gu Lai Kwan meloncat ke sudut di mana terdapat sebatang golok. Golok ini memang dipersiapkan di tempat itu ber­sama alat-alat lain untuk menghukum murid murtad. Semua orang murid di situ tahu belaka bahwa murid murid yang melarikan diri akan dihukum dengan pem­buntungan kaki! Mereka memandang dan makin tegang ketika Gu Lai Kwan ber­diri di dekat gurunya, membawa golok yang diminta.

“Lai Kwan, aku menunjuk engkau sebagai pelaksana hukuman. Kaupergunakan golok itu untuk memenggal leher Sie Han!”

Suara nenek ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah para murid menjadi pucat. Gu Lai Kwan sendiri yang tadinya berseri wajahnya karena dia di­beri kehormatan sebagai pelaksana hu­kuman, terbelalak mendengar ucapan gurunya itu. Dia memang penasaran dan marah kepada Han Han. Akan tetapi tadinya dia tidak mengira bahwa dia akan diperintahkan memenggal leher Han Han.

“Le.... lehernya, subo....?” tanyanya, seolah-olah ia khawatir kalau ia salah mendengar perintah gurunya.

Toat-beng Ciu-sian-li memandang muridnya ini dengan mata mendelik. “Le­hernya, kau dengar? Lehernya! Penggal lehernya! Bocah keparat ini harus mati!” Setelah berkata demikian, nenek itu mengangkat guci araknya dan minum arak menggelogok dengan mata mengerling ke arah dipan untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman dan menikmatinya sambil minum araknya!

Gu Lai Kwan mengangkat golok itu ke atas mukanya sungguh-sungguh dan kini sinar matanya mengandung kekejaman. Ia hanya pelaksana dan ia harus men­taati perintah gurunya. Semua murid yang menyaksikan itu mengikuti setiap gerakan tangan Gu Lai Kwan yang mengangkat golok ke atas dengan hati ber­debar-debar. Kemudian Lai Kwan menge­rahkan tenaga pada lengannya, berseru keras, “Haiiittttt!” Golok itu berubah menjadi sinar putih menyilaukan mata yang menyambar dari atas ke bawah, menuju leher Han Han yang rebah miring ke kanan membelakanginya.

“Ohhhhh, jangan....!” Jeritan ini keluar dari mulut Kin Cu dan gadis ini sudah menyambitkan sebuah senjata ra­hasia berbentuk bola baja berduri yang menyambar cepat sekali ke arah golok yang sedang melayang menuju ke leher Han Han.

“Tranggggg....!” Golok yang tadinya melayang turun ke arah leher Han Han itu terpukul senjata rahasia, menyeleweng ke kiri, menyambar kaki kiri Han Han.

“Crokkkkk!”

“Ibuuuuu....!”

Kaki kiri Han Han terbabat golok, buntung di atas lututnya dan darah me­ngucur deras, kaki yang buntung ter­lempar ke bawah dipan.

“Ibuuuuu....! Jangan tinggalkan anakmu, Ibu....!” Han Han menjerit, dengan mata masih terpejam karena ia melihat bayangan ibunya melangkah pergi, makin lama makin jauh dan makin kecil, se­hingga akhirnya lenyap.

“Ibuuuuu....!” Sekali lagi Han Han menjerit dan ia roboh pingsan.

Ketika ia siuman kembali, ia melihat Kim Cu berlutut di dekat dipan dan gadis itu menotok punggung dan pangkal pahanya untuk menghentikan darah yang mengucur keluar dari pahanya yang bun­tung. Han Han merasa betapa kaki kirinya perih dan nyeri sekali, akan tetapi ia tidak mengeluh dan maklumlah ia bahwa dia tidak dibunuh, melainkan dibun­tungi sebelah kaki kirinya!

Ruangan itu sudah tidak terlalu penuh orang lagi. Semua murid Ma-bin Lo-mo telah disuruh pergi oleh Toat-beng Ciu-sian-li yang marah sekali menyaksikan betapa muridnya yang paling ia sayang, Kim Cu, telah melakukan hal yang amat memalukan dan memarahkan hatinya. Kini yang berada di situ hanya Toat-beng Ciu-sian-li dan tiga orang muridnya. Lai Kwan berdiri di sudut ruangan de­ngan kening berkerut, hatinya mendongkol terhadap Kim Cu yang telah membuat pelaksanaan tugasnya tidak sempurna. Juga ia mendongkol karena Kim Cu yang diam-diam dicintanya itu membela Han Han. Phoa Ciok Lin berdiri di sudut lain, memandang ke arah Kim Cu dan gurunya berganti-ganti. Hatinya gelisah karena ia maklum bahwa sucinya itu tentu tidak akan dapat terbebas dari hukuman atas perbuatannya tadi. Nenek itu masih me­nenggak araknya, matanya mengeluarkan sinar berapi memandang Kim Cu yang agaknya tidak mempedulikan semua itu dan berusaha menghentikan darah yang mengucur dari paha Han Han.

Suasana yang amat sunyi itu menim­bulkan kegelisahan di hati Han Han. Pertama, dia tidak jadi mati! Ke dua, kakinya buntung dan apa yang dapat ia lakukan dengan kaki yang hanya tinggal sebelah itu? Ke tiga, ia amat cemas memikirkan nasib Kim Cu, gadis yang telah menolongnya dan di depan gurunya berani menolong menghentikan darahnya dan berusaha pula membebat luka di pa­hanya dengan robekan ujung baju!

“Kim Cu, mengapa engkau berani menangkis golok Lai Kwan? Mengapa engkau berani menggagalkan hukuman penggal kepala bocah itu?” tiba-tiba Nenek itu bertanya, suaranya dingin se­kali, perlahan dan lambat, namun malah mendatangkan pengaruh yang menyeram­kan, mengandung ancaman yang mengeri­kan.

Han Han tersentak kaget, memandang Kim Cu. Hatinya penuh haru dan tak terasa lagi dua butir air mata menitik dari kedua matanya. Jadi gadis ini tidak hanya menolongnya setelah kakinya bun­tung, bahkan gadis ini telah menolong nyawanya, menangkis golok Lai Kwan yang tadinya hendak memenggal lehernya!

“Duhai.... Kim Cu, mengapa kaulakukan itu....?” Ia berbisik lirih sambil memandang gadis itu dengan mata basah. Kim Cu mendengar bisikan ini dan me­noleh, memandang kepadanya. Mata gadis ini pun basah air mata, dan sejenak me­reka berpandangan. Han Han merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh sekali memancar keluar dari pandang mata gadis itu, yang membuat jantungnya se­perti ditusuk, yang membuatnya terharu sekali.

“Kim Cu! Jawablah!” Toat-beng Ciu-sian-li membentak sambil menghentakkan kakinya ke atas lantai. Dia marah sekali sehingga bantingan kakinya pada lantai membuat ruangan itu tergetar.

Setelah melepaskan pandang matanya dari wajah Han Han, Kim Cu bangkit berdiri dan berkata.

“Subo, teecu menangkis golok Gu-suheng karena teecu menjaga nama baik subo, dan nama kehormatan Perguruan In-kok-san. Semenjak dahulu, peraturan di In-kok-san amatlah adil, hukuman di­jatuhkan sesuai dengan dosanya. Han Han memang bersalah, kesalahannya adalah melarikan diri dari In-kok-san. Dan se­menjak dahulu, hukuman bagi murid yang melarikan diri adalah kakinya dibuntung­kan! Akan tetapi subo hendak memeng­gal lehernya, maka terpaksa teecu turun tangan dan sekarang Han Han sudah buntung kaki kirinya, berarti bahwa Thian menyetujui pendapat teecu!”

Nenek itu mengerutkan kening. “Hemmm.... engkau pandai bicara! Akan tetapi mengapa engkau menolongnya dan mengobatinya pula?”

“Subo, betapapun juga, Han Han adalah bekas suteku, bagaimana teecu dapat membiarkan dia menderita seperti ini? Teecu.... merasa kasihan....”

“Heh, bocah tak bermalu! Apa kaukira mudah saja membohongi aku? Apa kaukira mataku buta tak dapat melihat bahwa engkau mencinta pemuda ini?”

Wajah, Lai Kwan merah, matanya beringas. Juga wajah Kim Cu menjadi merah sekali, ia menundukkan mukanya. Han Han memandang bengong, mengeluh dan bangkit duduk.

“Toat-beng Ciu-sian-li, harap jangan menyalahkan Kim Cu. Kalau engkau masih penasaran, bunuhlah aku, masih belum terlambat!”

“Han Han!” Kim Cu menjerit, membalikkan tubuh dan memandangnya. “Ti­dak boleh begitu. Murid yang sudah dihukum, tidak aken dihukum lagi!”

“Keparat! Engkau sudah bukan murid­ku lagi! Dengan kaki buntung, hendak kulihat apakah engkau akan bisa hidup lagi, dan kalau pun hidup, engkau akan bisa berbuat apa? Engkau telah menjadi seorang buntung, seorang penderita cacad yang tidak berguna lagi. Ha-ha-ha! Per­gilah! Kim Cu, engkau masuk kamarmu dan sebelum kusuruh keluar, engkau ti­dak boleh meninggalkan kamarmu!”

Kim Cu memandang Han Han sejenak­ lalu membalikkan tubuh lari dari ruangan itu dengan isak tertahan. Han Han menghela napas, lalu bangkit berdiri dengan sebelah kaki. Seluruh tubuhnya menggigil oleh rasa nyeri yang kiut-miut rasanya, membuat ia pucat sekali menahan rasa nyeri. Seluruh tubuhnya seperti di­tusuk-tusuk dan kepalanya pening, pan­dang matanya berkunang. Terpaksa ia memejamkan mata untuk menghilangkan bintang-bintang yang menari-nari di de­pan matanya, ratusan bintang. Namun, ketika ia memejamkan mata, bintang-bintang itu makin bersinar dan makin cepat bergerak-gerak di depan matanya.

“Ha-ha-ha! Inikah pemuda yang telah mewarisi ilmu dari Pulau Es? Ha-ha-ha, Si Buntung yang tiada guna, lihat betapa lemahnya!”

Mendengar suara ejekan dan ketawa yang amat menusuk perasaan itu, bang­kitlah amarah di hati Han Han. Ia segera mengerahkan tenaganya dan hawa yang hangat mengalir di tubuhnya. Akan tetapi aneh sekali, dahulu kalau dia sudah ma­rah dan mengerahkan sin-kang, selalu timbul sifat beringas dan buas yang membuat ia ingin melihat darah mengalir di tubuh lawan, ingin melihat lawan ter­golek tak bernyawa di depan kakinya. Kini perasaan itu tidak ada, perasaan yang dahulu menyiksa hatinya setelah ia melihat akibat daripada kebuasannya. Kini ia merasa tenang dan setelah ia mengerahkan tenaga, kepeningan kepala­nya berkurang. Ia membuka mata, lalu melangkah. Ia lupa bahwa kakinya tinggal sebuah, maka ia tersuruk ke depan dan roboh menelungkup!

Gu Lai Kwan hanya memandang de­ngan muka keruh. Ia membenci Han Han setelah mendengar pernyataan gurunya bahwa Kim Cu mencinta pemuda yang kini buntung kakinya itu. Adapun Phoa Ciok Lin memandang dengan mata tajam, tidak ada perasaan apa-apa terbayang di wajahnya. Han Han kembali mendengar suara ketawa Toat-beng Ciu-sian-li. Ia mengerahkan tenaga dan bangkit lagi dengan kedua tangannya menekan lantai, lalu berdiri dan dengan hati-hati ia berloncatan dengan sebelah kaki menuju ke pintu, terus keluar dari rumah Perguruan In-kok-san itu. Akan tetapi dalam keadaan menderita nyeri yang hebat itu, ia tidak melihat jurusan dan kiranya ia keluar dari pintu belakang memasuki taman In-kok-san. Ia berloncatan terus dengan sebelah kakinya.

Hari sudah lewat senja. Taman itu mulai gelap. Akan tetapi Han Han ber­loncatan terus, kalau hendak roboh ia menangkap batang pohon, mengaso se­bentar untuk melenyapkan rasa berdenyut-denyut di kaki yang naik ke dada dan kepala. Dipatahkannya sebuah cabang pohon yang rendah, dibuangnya ranting dan daun, dan cabang itu ia pergunakan sebagai tongkat. Ia berloncatan, lambat sekali, terus ke depan. Akhirnya ia roboh juga, setengah pingsan setengah tidur di bawah pohon di luar taman dalam sebuah hutan siong, menggeletak terlentang dan tongkatnya melintang di atas dadanya.

Menjelang subuh, ia terbangun oleh suara kokok ayam hutan. Dilihatnya, cua­ca masih amat gelap, hawanya dingin bukan main. Rasa nyeri pada kakinya sudah banyak berkurang, dapat ditahan­kan, akan tetapi perutnya terasa perih sekali karena lapar. Sudah empat hari empat malam dia tidak makan, semenjak ditangkap Toat-beng Ciu-sian-li. Dan kehilangan darah membuat tubuhnya le­mas. Ia bangkit duduk, bersandar batang pohon, menengadah memandang langit yang hitam penuh bintang. Amat indah pemandangan di angkasa itu. Adakah ibunya di sana, di antara bintang-bintang itu? Alangkah akan senangnya dapat berada di sana di samping ibunya. Jauh daripada penderitaan hidup. Mati sudah pasti tidak seburuk hidup kalau men­derita begini. Yang jelas, tidak akan ia rasakan lagi nyeri-nyeri di tubuh, lapar di perut dan kepusingan karena segala kegagalan yang dialaminya. Kini ia men­jadi seorang tapadaksa, murid buntung yang tentu tidak akan ada gunanya, se­perti yang dikatakan Toat-beng Ciu-sian­li. Apalagi hendak membalas dendam orang tuanya, melangkah pun harus ber­loncatan dibantu tongkat, itu pun tidak tegak! Tugasnya belum selesai sama se­kali. Ia meraba dadanya. Kantung berisi surat-surat peninggalan penghuni Pulau Es masih disimpannya. Surat-surat itu belum dapat ia sampaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Kewajiban ini belum dilaksanakan. Kemudian membalas dendam keluarganya juga sama sekali tidak dapat dilaksanakannya. Seorang di antara tujuh perwira musuhnya telah menjadi cihu-nya. Biarpun kini ia menduga bahwa cihu-nya bersekongkol dengan tokoh-tokoh istana itu, menyerahkannya kepada Toat-beng Ciu-sian-li, tetap saja ia ti­dak mungkin akan dapat membunuh orang yang dicinta cicinya. Dan enam orang perwira lain pun tak mungkin dapat di­balas setelah ia kini menjadi buntung. Di waktu ia belum buntung pun ia tidak mampu membalas. Musuh-musuhnya itu dilindungi orang-orang sakti. Masih ada tugas lagi yang makin sulit dilaksanakan, yaitu mencari Lulu!

Ia mengingat-ingat jalan hidupnya. Teringat ia akan wejangan kakek di Si­auw-lim-si. Perbuatan berguna apakah yang telah ia lakukan? Tidak ada! Bah­kan ia hanya menjadi sebab timbulnya hal-hal yang menyedihkan, yang mengor­bankan nyawa orang. Yang terakhir ini pun ia telah menyebabkan celakanya Kim Cu. Ah, kasihan gadis itu, entah bagaimana nasibnya nanti. Dan gadis itu mencintanya? Tidak mungkin! Mana ada gadis yang mencinta seorang sial seperti dia, apalagi kini dia hanya seorang pemuda buntung! Buntung kakinya! Tiba-tiba ia teringat lagi akan wejangan dan nasihat kankek di kuil Siauw-lim-si. Dia dinasihat­kan untuk membuntungi kaki kirinya di samping harus belajar mengalah kepada orang lain. Membuntungi kaki kiri? Han Han tersenyum duka dan memandang kaki kirinya yang sudah tidak ada. Kini hanya tampak sepotong kaki celana menutupi pahanya yang buntung. Tidak su­sah ia buntungkan, kini sudah ada yang membuntungi kakinya! Agaknya kakek tua di kuil itu sudah tahu bahwa kakinya akan buntung maka menasihatinya agar membuntungi kakinya sendiri, daripada dibuntungi orang lain. Ia tersenyum pahit. Nasihat yang tidak lucu!

Dia belum ditakdirkan mati, masih diharuskan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Baik, dia akan hidup, dan apa pun jadinya, akan ia hadapi, sungguhpun dia ti­dak mungkin dapat mengharapkan untuk melaksanakan tugasnya yang pertawa, yaitu membalas dendam. Timbul rasa rindunya kepada Lulu, adiknya. Kalau saja Lulu berada di sampingnya, tentu akan dapat menghiburnya. Akan tetapi wahai.... alangkah akan hancur hati adiknya itu kalau melihat kakinya buntung! Berpikir demikian, timbul pula rasa iba terhadap dirinya sendiri dan tak kuasa bertahan lagi Han Han mengucurkan air mata. Sampai lama ia menangis seperti ini. Tiba-tiba ia tersentak kaget ketika teringat betapa ia telah menangis meng­guguk. Selamanya belum pernah ia berhal seperti ini! Mengapa ia sampai menangis seperti ini? Ke mana kekerasan hatinya? Ia meloncat bangun, lupa akan buntung­nya dan ia jatuh lagi, mengeluh. Ia merasa seolah-olah telah menjadi seorang manusia lain sekali. Dan ia menjadi geli­sah. Ia termenung, air mata masih mem­basahi pipinya, matanya masih merah bekas banyak menangis. Berjam-jam ia termenung, pikirannya kosong, hanyut terbawa pergi melayang-layang bersama embun pagi yang mulai terusir sinar matahari pagi. Telinganya tidak men­dengar kicau burung yang riang gembira menyambut pagi. Matanya tidak menyak­sikan keindahan sinar surya yang cemer­lang menembus celah-celah daun, men­ciptakan mutiara-mutiara dari titik-titik embun yang bergantungan pada daun pohon. Sambaran seekor burung yang mungkin mengira pemuda ini hanya se­batang tonggak, hampir hinggap di atas rambutnya, menyadarkan Han Han. Ia bergerak dan berdongak. Matanya ter­tawan oleh berkilaunya setetes air embun yang disinari matahari pagi, menjadi sebutir mutiara yang bercahaya.

Ia terpesona. Sesaat ia lupa akar nyeri tubuhnya, lupa akan lapar perutnya. Pandang matanya lekat pada sebutir air yang berubah menjadi mutiara itu, lekat dan seolah-olah ia pun bergantung pada ujung daun itu, bergantung dengan butiran air embun berkilauan, jauh dari derita, jauh dari kepahitan, hanya aman damai dan bahagia. Tiba-tiba butiran mutiara itu runtuh dan lenyap, sebutir pecah menimpa bumi, lenyap tak berbekas. Ujung daun itu kosong, tidak ada apa-apa lagi, tidak ada mutiara-mutiara berkilau.

Han Han tersentak kaget, penuh kecewa. Hemmm, seperti itulah hidup. Hanya setetes air yang berkilauan untuk beberapa lama saja. Kemudian apabila saatnya tiba, akan gugur dan lenyap tanpa meninggalkan bekas! Ia menghela napas panjang. Dia adalah ibarat mutiara air embun yang gugur sebelum waktunya. Lenyap sudah kilauannya, lenyap kebaha­giaannya sebelum mati! Seperti air em­bun berkilau tiba-tiba kehilangan cahaya­nya karena matahari tertutup mendung. Hanya tinggal air yang bergantung di daun pohon, tidak ada indahnya, tidak ada cahayanya, hanya menanti saat gugur ke bumi. Seperti dia! Hidup tiada guna, buntung, sukar bergerak, hanya menanti datangnya maut menjemput!

“Han Han....!” Suara yang halus merdu penuh iba itu memanggilnya seperti berbisik.

Han Han menoleh dan melihat Kim Cu telah berdiri di situ, membawa sebuah buntalan. Gadis yang cantik manis, rambutnya yang hitam halus itu terurai kusut, matanya masih basah bekas tangis, pakaiannya juga kusut, wajahnya agak pucat, pandang matanya penuh iba di­tujukan kepada wajah Han Han, kemudian perlahan-lahan menurun, ke arah paha yang buntung.

“Kim Cu.... engkau.... datang ke sini....?” Han Han menegur penuh kekhawatiran. “Tentu Gurumu akan marah....”

Kim CU berlutut dekat Han Han dan berkata, “Jangan banyak bicara dulu, mari kau makanlah ini. Kubawakan ma­kanan dan minuman, dan obat bubuk untuk menambah darah, obat untuk mengobati lukamu....”

Melihat gadis itu dengan jari-jari tangannya yang kecil-kecil meruncing membuka buntalan, mengeluarkan roti dan sedikit daging, sebotol minuman air hangat, menghidangkannya di depannya, Han Han mengikuti segala gerakannya dengan hati penuh keharuan.

“Han Han, makanlah dulu....” Gadis itu mengangkat muka. Mereka berpan­dangan. Kim Cu terisak, menggigit bibir menahan tangis. “Han Han.... kau.... kau menangis....?” Ia melihat dua butir air mata turun perlahan dari kedua mata pemuda yang terbuka lebar.

“Kim Cu....” Suara Han Han menggetar. “Mengapa....?”

Kim Cu memandang, juga air mata­nya berderai, “Kau hendak berkata apa....?”

“Mengapa engkau sebaik ini kepadaku....?”

Dengan air mata masih berderai Kim Cu memandang, bibirnya yang dirapatkan itu bergerak-gerak menggigil, seperti hendak menangis, akan tetapi ia lalu memaksa senyum, senyum yang malah menggurat perasaan hati Han Han.

“Makanlah dulu, Han Han. Engkau pucat sekali, matamu merah.... makanlah dulu, baru nanti kita bicara....”

Han Han mengangguk, lalu mengambil roti dan memakannya. Ia lapar sekali, dan roti itu terasa lezat, akan tetapi ia makan perlahan sambil kadang-kadang memandang wajah Kim Cu yang berlutut di situ, berusaha untuk menjenguk isi hati gadis itu. Kim Cu kadang-kadang memandang, akan tetapi kalau pandang mata mereka bertaut, ia lalu menunduk­kan mukanya dan merangkapkan sepuluh jari tangannya.

Roti yang dibawa Kim Cu itu hampir habis. “Engkau tidak makan? Marilah....”

Kim Cu menggeleng kepala perlahan. “Makanlah, habiskan. Aku tidak lapar, engkau tentu lama tidak makan....”

Roti itu habis dan Han Han minum air hangat, menyapu bibirnya dengan ujung lengan baju. “Kim Cu, banyak terima kasih kuucapkan padamu. Bukan hanya untuk roti dan minuman ini....”

“Sssttttt, nanti dulu. Minumlah obat ini. Obat ini manjur sekali, penambah darah dan peringan rasa nyeri, kemudian akan kugantikan obat ini pada lukamu.”

Han Han minum obat bubuk itu de­ngan air hangat, kemudian ia melihat betapa Kim Cu membuka balut pahanya. Ia merasa nyeri ketika balut yang me­lekat dengan darah kering pada lukanya itu diambil. Akan tetapi ia tidak mengeluh. Hatinya penuh rasa haru dan terima kasih melihat betapa gadis itu member­sihkan luka di pahanya tanpa rasa jijik sedikit pun, kemudian menaruhkan obat bubuk dan membalutnya kembali dengan kain bersih yang sengaja dibawanya untuk keperluan itu.

Setelah selesai membalut luka itu, Han Han berkata, “Kim Cu, percayalah, aku selama hidupku takkan dapat me­lupakan kebaikan hatimu, karena engkau telah menolong nyawaku, telah melepas budi kepadaku dan terutama sekali, eng­kau telah mengorbankan dirimu....”

“Jangan katakan itu, Han Han. Mana mungkin aku membiarkan dirimu dibunuh hanya karena kesalahanmu yang kecil itu? Engkau masih muda, engkau masih banyak harapan dalam hidup, mengapa harus dibunuh secara sia-sia?”

Han Han menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri, bersandar pada batang pohon, tangan kiri menekan tongkat ca­bang pohon. “Aaahhhhh, harapan apalagi yang ada padaku? Aku telah menjadi murid tapadaksa.... tiada gunanya....” Kembali ada dua titik air mata meloncat keluar ke atas pipi Han Han.

Kim Cu memandang penuh iba hati, kemudian ia mendekati Han Han, meng­gunakan ujung ikat pinggangnya dari sutera untuk menghapus air mata itu. “Ah, Han Han, kasihan sekali engkau....” Sambil berkata demikian, Kim Cu me­mandang dengan mata basah.

Han Han makin terharu, air matanya deras mengucur dan ia segera memeluk dan mendekap muka Kim Cu ke dadanya. Gadis itu terisak-isak dan Han Han me­nengadah ke angkasa, mengejap-ngejapkan mata untuk menahan membanjirnya air matanya. Sampai lama keduanya berdekapan, Kim Cu membasahi dada Han Han dengan air matanya, kedua lengan­nya melingkari pinggang Han Han, se­dangkan pemuda itu mengusap-usap ram­but yang hitam halus dan harum itu.

“Kim Cu....” Han Han berbisik dekat telinga gadis itu. “Benarkah dugaan gurumu bahwa engkau.... mencintaku?”

Gadis itu tidak menjawab, hanya ge­rakan mukanya yang mengangguk amat meyakinkan. Hati Han Han terasa perih dan dengan halus ia mendorong kedua pundak gadis itu sehingga menjauh. Gadis itu memandang kepadanya dan cinta kasihnya tersinar keluar dari pandang matanya.

Han Han membuang muka, tubuhnya miring dan kini ia bersandar pada batang pohon dengan pundak kirinya, alisnya berkerut dan mukanya keruh.

“Kim Cu, ini tidak benar! Engkau tidak bisa mencintaku, tidak boleh! Aku kini telah menjadi seorang laki-laki yang buntung kakinya, murid laki-laki yang tidak berguna sama sekali. Engkau hanya akan menyesal kelak, dan akan malu berada di samping seorang pria yang menjijikkan....”

“Ohhh, Han Han, mengapa kau ber­kata demikian?” Kim Cu mengusap air matanya dengan punggung tangan kemudian merangkapkan kedua tangannya de­ngan jari-jari saling cengkeram, suara­nya sungguh-sungguh, menggetar dan penuh perasaan.

“Han Han, kenapa kau menjadi putus asa? Ke mana perginya kekerasan hatimu yang dahulu? Ke mana perginya kejan­tananmu yang menyinar semenjak kita masih kecil dahulu? Dahulu engkau be­gitu keras hati, begitu besar semangat, begitu mengagumkan? Setelah kakimu bun.... eh, hanya tinggal satu apakah engkau menjadi seorang yang tidak ber­guna lagi? Tidak sama sekali! Seharusnya peristiwa yang kaualami ini malah mem­perkuat dan memperkeras batinmu! Perlihatkanlah kepada dunia, kepada seluruh manusia bahwa engkau dapat berbuat lebih baik daripada manusia yang utuh tanpa cacad! Bangkitkan semangatmu, tunjukkan bahwa manusia cacad tidak boleh dihina! Jangan menjadi melempem, Han Han!”

Ucapan yang bersemangat dari Kim Cu ini merupakan cambuk yang mencambuki batin Han Han. Seketika mata­nya memancarkan api, kegairahan hidup­nya timbul kembali. Dia bukanlah seperti mutiara embun yang tidak berdaya, yang akan mudah jatuh gugur hanya karena tiupan angin sedikit saja! Dia seorang manusia, yang berakal budi! Biarpun ca­cad, kalau kemauannya masih ada, meng­apa tidak mungkin menjadi orang berguna?

“Aduh, Kim Cu...., terima kasih....!” Saking gembiranya karena tiba-tiba se­mangatnya timbul kembali, Han Han merangkul gadis itu dan menciumnya. Dia belum pernah berciuman didasari cinta kasih, dan biasanya dia mencium Lulu secara main-main, dengan hidung pada pipi atau dahinya, hanya menyentuh­kan ujung hidungnya sedikit saja pada kulit pipi atau kulit dahi adiknya. Betapa senangnya Lulu menggodanya, mengatakan­ ujung hidungnya dingin seperti es! Akan tetapi entah bagaimana, ciumannya sekali ini, yang dibalas oleh Kim Cu dengan sepenuh hati dan kemesraan, menjadi kecupan cium mulut yang penuh gairah, ciuman yang seolah-olah melekat takkan terlepas lagi.

Mereka saling melepaskan ciuman dan rangkulan, saling memandang dengan mata terbelalak dan napas terengah-engah. Wajah Kim Cu menjadi merah sekali dan agaknya untuk menutupi rasa malu yang tiba-tiba timbul, ia berbisik tergagap, “Han Han, aku.... aku mencintamu....”

Han Han memegang kedua tangan gadis itu. “Percayalah kalau kau bisa percaya kepadaku, engkau seorang gadis yang kujunjung tinggi di dalam hatiku. Engkau murid gadis yang takkan pernah kulupakan! Engkau seorang gadis yang semulia-mulianya bagiku dan.... heiii, Kim Cu, celaka. Engkau harus lekas kembali! Ah, bagaimana engkau berani meninggalkan kamarmu? Bukankah.... bukankah gurumu mengatakan bahwa engkau tidak boleh keluar dari kamar? Ahhh, bagaimana ini? Tentu engkau akan dibunuh guru dan suhengmu kalau engkau pulang nanti....!” Tiba-tiba Han Han yang teringat akan keselamatan gadis ini berkata dengan penuh kekhawatiran.

Akan tetapi gadis itu menggeleng kepalanya dan berkata, “Aku sudah lari dari kamarku. Aku.... aku tidak mau kembali. Aku akan ikut bersamamu, Han Han.”

Han Han terkejut sekali. “Tidak....! Jangan, Kim Cu, jangan! Kalau sampai ketahuan gurumu, dan kakimu.... kakimu dibuntungi seperti aku....”

“Biarlah, dengan begitu keadaan kita akan sama, bukan?” Kim Cu menjawab, suaranya sungguh-sungguh.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan dua orang muda yang sudah memiliki pandangan mata awas dan pendengaran tajam itu cepat menengok. Kagetlah mereka ketika melihat Toat-beng Ciu-sian-li sudah berdiri di hadapan mereka!

“Hemmm.... Kim Cu! Engkau berani menentang perintahku? Engkau sudah begitu tergila-gila kepada bocah ini?”

“Subo, aku mencinta Han Han!” kata Kim Cu dengan berani.

“Toat-beng Ciu-sian-li, jangan salah­kan dia. Hukumlah aku kalau pertemuan ini kauanggap suatu pelanggaran!” kata Han Han.

Toat-beng Ciu-sian-li memandang marah. Ia merasa kecewa sekali bahwa Han Han tetap berkeras tidak mau bi­cara tentang Pulau Es, dan ia lebih kecewa lagi melihat betapa murid yang paling disayangnya, Kim Cu, mencinta pemuda itu dan berani menentang perin­tahnya.

“Kalian saling mencinta, ya? Hem, baik. Kalian tidak akan terpisah lagi satu sama lain. Hayo ikut bersamaku!” Nenek itu berkata dengan bengis. Kim Cu dan Han Han saling berpandangan, dan Kim Cu yang merasa tiada gunanya melawan gurunya, berkata kepada Han Han.

“Marilah, Han Han. Apapun yang akan terjadi, aku rela asal bersamamu.” Ia memegang tangan Han Han, mengajaknya pergi mengikuti gurunya. Han Han yang merasa terharu dan tidak berdaya me­lindungi gadis itu, tidak berkata apa-apa dan berloncatan dengan sebuah kaki­nya, dibantu dengan tongkat dan dibim­bing oleh Kim Cu. Mereka berdua mak­lum bahwa mereka berada di tangan nerek itu, mungkin menghadapi bahaya maut, akan tetapi wajah Kim Cu berseri, sedikit pun tidak takut asal ia bersama orang yang dicintanya. Mati pun bukan apa-apa lagi bagi seorang yang sedang diamuk cinta. Han Han tidak berani mengaku dalam hatinya bahwa ia men­cinta Kim Cu, sungguhpun ia amat suka dan berterima kasih kepada gadis ini sehingga ia akan rela mengorbankan nya­wa untuk melindungi gadis ini. Ia hanya merasa cemas, bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan gelisah me­mikirkan keselamatan Kim Cu. Betapapun juga, aku akan menggunakan segala sisa tenaga dan kemampuanku untuk melin­dungi Kim Cu, demikian pikir dan tekad­nya ketika ia berloncatan bersama Kim Cu yang menggandengnya di belakang tubuh nenek yang mengerikan itu.



***



Kita tinggalkan dulu Han Han dan Kim Cu yang terancam bahaya maut di tangan Toat-beng Ciu-sian-li, bagaikan dua ekor domba yang dituntun ke pen­jagalan oleh nenek itu, dan mari kita ikuti perjalanan Lulu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lulu diculik oleh Ouwyang Seng dan dibawa ke kota raja. Terhadap pemuda bangsawan yang lihai ini, Lulu tidak berdaya dan setibanya di kota raja, Ouwyang Seng berkata kepadanya.

“Dengarlah, bocah yang binal! Aku Ouwyang Seng atau Ouwyang-kongcu, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok dan aku tidak mempunyai niat buruk kepada­mu.” Ia masih belum membebaskan gadis itu dari totokan.

“Beginikah orang yang tidak berniat buruk? Kenapa kau culik aku dan me­notokku sampai tidak mampu betgerak?”

Ouwyang Seng tertawa. Gadis ini berani dan penuh semangat. Kalau saja bukan gadis Mancu, kalau saja tidak diketahui keadaannya oleh Puteri Nirahai, tentu ia akan dapat menikmati wanita selincah ini.

“Kalau kau berjanji tidak akan melawan, aku akan membebaskanmu. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk ikut denganku ke kota raja, dan tidak mem­bikin ribut. Ketahuilah, aku sudah tahu bahwa engkau seorang gadis Mancu dan engkau akan kuhadapkan ke istana kai­sar.”

Lulu mengangguk dan berkata. “Baik­lah. Bebaskan aku.” Dia cerdik sekali dan dia akan mencari kesempatan baik untuk membebaskan diri, tentu saja dia tidak akan nekat menggunakan kekerasan kare­na ia tahu bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda yang tampan akan tetapi jahat ini.

Ouwyang Seng membebaskan totokan­nya dan Lulu mengomel, “Engkau kejam sekali. Sampai kaku-kaku tubuhku, dan kauapakan Kokoku Han Han?”

“Dia bukan Kakakmu, engkau gadis Mancu dan puteri perwira, bukan?”

“Bagaimana engkau bisa tahu?”

“Pendeknya aku tahu, dan eh, siapa namamu?”

“Katanya sudah tahu. Kenapa tanya nama?”

Ouwyang Seng gemas. Kalau bukan gadis Mancu, tentu sudah ditubruknya dan digigitnya bibir manis yang lincah itu.

“Dengarlah. Kami telah mencari-cari­mu dan engkau berhak untuk hidup mulia di kota raja. Sudah lama kami mencarimu dan aku membawamu ke sini dengan niat baik. Katakan siapa namamu.”

“Namaku Lulu. Sie Lulu!”

Kembali Ouwyang Seng tertawa. “Ma­na bisa kau memakai nama keturunan Sie? Apakah orang tuamu she Sie? Tak bisa kau mengambil she (nama keturunan) seperti orang memungut batu di pinggir jalan!”

“Kokoku she Sie, tentu saja aku pun she Sie,” bantah Lulu merengut.

“Sudahlah, baik kau she Sie. Lulu, engkau harus menghadap Ayahku dulu, kemudian baru kau akan kami bawa ke istana.”

Lulu tidak membantah dan mengikuti Ouwyang Seng ke gedung Ouwyang Cin Kok. Ketika pangeran ini melihat puteranya berhasil membawa Lulu, ia menjadi girang sekali. Pangeran ini sendiri lalu membawa Lulu menghadap kaisar dan menceritakan keadaan gadis itu. Ketika Lulu menghadap kaisar, dia merasa takut sekali dan menundukkan muka tidak be­rani memandang. Keadaan di istana yang begitu megah dan mewah membuat ia merasa dirinya kecil. Kaisar menegurnya dalam bahasa Mancu dan biarpun agak kaku, Lulu dapat menjawab dan dia menceritakan tentang orang tuanya yang di­bunuh para pemberontak, betapa kemudi­an ia terlantar dan akhirnya diambil adik angkat oleh Han Han. Dia tidak berceri­ta tentang Pulau Es karena seperti juga Han Han, dia mengerti bahwa pulau itu harus dirahasiakan kepada orang lain.

Kaisar merasa suka dan kasihan ke­pada Lulu, maka gadis itu lalu diangkat menjadi siuli dan untuk ini ia harus belajar tata susila dan peraturan-peraturan dari seorang petatih. Sejak hari itu, Lulu tinggal di istana. Akan tetapi hati dara ini selalu berduka, sungguhpun hal itu ia sembunyikan. Karena itu, ketika ia men­dapat kesempatan, pada suatu malam ia berhasil minggat dari istana. Bagaimana mungkin ia dapat hidup senang, biar di dalam istana indah sekalipun kalau ia jauh dari kakaknya?

Lulu memang cerdik. Ia maklum bah­wa larinya tentu akan menimbulkan ge­ger dan ia tentu akan dicari dan dikejar oleh para pengawal istana. Maka ia berlari terus malam itu dan pada keesokan harinya, ia melepaskan semua perhiasan emas permata yang harus ia pakai ketika dia dilatih menjadi siuli, kemudian ia menjual sebagian perhiasan itu, membeli pakaian pria dan ia berganti pakaian pria. Biarpun telah menyamar sebagai seorang pemuda remaja yang terlalu tampan, ia masih tidak mau menghenti­kan larinya dan ia pun melarikan diri ke jurusan selatan. Ia hendak pergi mencari kakaknya dan di dalam hatinya ia kha­watir sekali. Kakaknya diserang oleh orang-orang seperti Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi yang lihai. Masih hidupkah kakaknya?

Ia memasuki kota Tiong-bun pada suatu sore dan melihat banyak orang berduyun-duyun menuju ke selatan kota, ia mendekati seorang kakek dan ber­tanya mengapa banyak orang pergi ke jurusan itu. Si kakek menjawab bahwa mereka hendak menonton pertunjukan silat yang dibuka oleh rombongan ahli silat perantauan. Lulu tertarik sekali dan ikut menuju ke tempat itu. Di ujung selatan kota, di pinggir jalan yang sunyi, ia melihat sebuah panggung yang tinggi­nya hanya satu setengah meter dan dari jauh sudah terdengar suara tambur dipukul dan tampak olehnya seorang gadis kecil berusia kira-kira dua belas tahun bermain silat pedang.

Ilmu silat memang merupakan seni budaya yang amat indah. Keindahannya terletak pada gerak tari yang terdapat dalam setiap gerakan kaki tangan, gerak tarian yang indah namun menyembunyi­kan unsur-unsur bela diri yang kokoh kuat dan daya serang yang lihai dan praktis. Cadis cilik itu tentu saja belum matang gerakan-gerakannya, lebih mem­beratkan kepada gerak tariannya sehingga tampak indah gemulai ketika ia bermain pedang. Ilmu pedang yang dimainkan gadis itu adalah ilmu pedang yang bersumber pada ilmu pedang Hoa-san-pai, indah gemulai dan memang gadis itu memiliki bakat menari yang baik, Lulu sampai melongo menonton pertunjukan itu. Dia tidak pernah mimpi bahwa ilmu pedang dapat dimainkan seindah itu. Dia pun tidak tahu bahwa kalau ia bermain ilmu silat, gerakannya lebih indah dari­pada gadis itu sehingga dahulu kakaknya sering kali menggodanya dan mengatakan bahwa dia bukan bersilat melainkan me­nari.

Yang menabuh tambur adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun, wajah­nya membayangkan kedukaan besar, sungguhpun kedukaan itu ditutupi dengan senyum-senyum melihat betapa banyak orang yang menonton kelihatan tertarik sekali kepada permainan silat pedang anak perempuan itu. Selain kakek itu, ada pula seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan laki-laki ini berdiri bertolak pinggang memandang gerakan anak pe­rempuan itu dengan pandang mata penuh penilaian. Ada seorang lagi yang duduk di dekat kakek itu, dia ini adalah se­orang wanita berusia tiga puluh tahun kurang, memegang gembreng kecil yang ditabuhnya perlahan-lahan mengikuti ira­ma tambur. Tambur dan gembreng ini menambah keindahan tarian pedang gadis itu.

Gadis cilik itu mengakhiri permainan pedangnya dengan gerakah indah, pedang­nya berkelebat dari kanan ke kiri, ber­henti di depan dada dan diacungkan ke atas, tangan kiri dirangkapkan kepada tangan kanan merupakan penghormatan, tubuhnya membungkuk ke empat penjuru dan senyum manis menghias bibirnya yang mungil.

Tepuk tangan dan sorak-sorai meledak menyambut permainan pedang gadis cilik itu yang tersenyum-senyum dan mem­bungkuk-bungkuk lagi sebagai tanda teri­ma kasih. Lulu ikut pula bertepuk tangan dan bersorak memuji, karena dia benar-benar kagum sekali.

Kini kakek itu maju dengan terse­nyum-senyum, tidak mempedulikan hujan uang kepingan yang dilemparkan ke atas panggung. Juga Lulu mengambil seraup uang kepingan dan melemparkannya ke atas panggung.

“Cu-wi sekalian, terima kasih banyak atas perhatian cu-wi terhadap permain­an pedang yang masih buruk dari cucu­ku. Hendaknya cu-wi sekalian ketahui bahwa kami sekeluarga mengadakan per­tunjukan silat di kota ini, bukan semata-mata untuk mencari dana sungguhpun tidak sekali-kali kami kurang menghargai kebaikan hati cu-wi sekalian yang telah sudi menyumbang. Tujuan kami yang terutama adalah mencari sahabat dan kenalan dari satu golongan, yaitu para penggemar ilmu silat. Oleh karena itu, kami harap sudilah kiranya di antara cu-wi yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi suka naik ke panggung dan me­lebarkan pandang mata, meluaskan pe­ngalaman, dan menambah pengertian kami dengan ilmu silat. Kini saya hendak menyuruh anak perempuan saya, kemudi­an mantu laki-laki saya, dan terakhir saya sendiri akan mainkan beberapa ma­cam pukulan tangan kosong dan juga dengan senjata. Kami mohon sudilah suka menemani kami sehingga kami dapat berkenalan dengan cu-wi sekalian. Teri­ma kasih.”

Pidato singkat kakek itu disambut dengan suara riuh dan tepuk tangan, tanda setuju. Bahkan ada yang saling to­wel, saling menyuruh teman untuk naik ke panggung memenuhi permintaan kakek itu. Mereka dorong-mendorong, dan yang merasa memiliki sedikit ilmu silat tidak berani naik ke panggung, mereka hendak melihat-lihat dulu bagaimana macamnya dan tingginya tingkat kepandaian mereka, yaitu keluarga tukang silat itu.

Atas isyarat kakek itu, wanita yang tadi memukul gembreng menyerahkan gembrengnya kepada suaminya, dan dia sendiri lalu mempererat ikat pinggang­nya, kemudian ia maju beberapa langkah sampai di tengah panggung, mengangkat kedua tangan ke dada sebagai penghor­matan ke empat penjuru, kemudian mu­lailah ia bersilat. Seperti juga puterinya, wanita ini bersilat tangan kosong, gerakannya halus gemulai namun kini berbeda dengan gerakan puterinya, gerakannya penuh dengan sambaran tenaga yang cukup kuat. Gerakan tangan kakinya ter­atur baik dan jelas bahwa dia telah me­nguasai ilmunya dengan mahir sekali.

Wanita itu menghabiskan gerakannya sampai lima belas jurus, kemudian ber­henti dan menghadapi para penonton, berkata dengan suara manis dan sopan.

“Di antara cu-wi sekalian yang sudi memberi pelajaran kepadaku, dipersilakan naik.”

Sampai lama tidak ada yang naik karena memang mereka yang mengerti ilmu silat melihat dasar gerakan wanita itu, menjadi gentar. Benar bahwa naik berarti hanya menguji kepandaian, akan tetapi kalau kalah, apalagi deh seorang wanita, tentu akan menjatuhkan nama­nya. Maka kembali saling dorong dan sa­ling membujuk teman yang mengerti ilmu silat.

Setelah wanita itu mengulangi sampai tiga empat kali ajakannya tadi, tiba-tiba mdayanglah tubuh seorang laki-laki yang bermuka hitam dan gerakannya kasar. Ia berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Ketika kakinya turun ke panggung, panggung itu tergetar, tanda bah­wa tubuhnya berat dan tenaganya besar. Ia menyeringai dan berkata kepada wa­nita yang menyambutnya dengan kedua tangan dirangkapkan ke dadanya.

“Aku bernama Louw Cang, penduduk kota Ciang-kwi-an di sebelah utara kota ini. Aku hanya mengerti sedikit ilmu silat, akan tetapi di kotaku aku berjuluk Hek-bin-liong (Naga Muka Hitam). Se­karang mendengar kesempatan untuk menguji kepandaian silat, dan tertarik akan ilmu silat yang lihai dari Hujin (Nyonya), saya ingin belajar kenal!” Ke­tika mengucapkan kata-kata “belajar kenal” matanya bermain dan sikapnya ini memancing suara ketawa banyak orang.

“Terima kasih atas perhatian Louw-enghiong yang saya percaya tentu me­miliki kepandaian yang lihai sekali. Sila­kan!” Nyonya itu sudah memasang kuda-kuda dan menghadapi calon lawannya dengan sikap tenang sekali.

“Nyonya, lihat seranganku!” Louw Cang menerjang maju dan sekali ber­gerak saja Lulu tahu bahwa orang kasar ini hanya memiliki tenaga besar, akan tetapi tidak memiliki kepandaian yang berarti. Agaknya hal ini dapat diketahui oleh kakek dan mantunya, maka mereka menonton dengan acuh tak acuh. Nyonya muda itu pun tahu bahwa lawannya tidak begitu hebat kepandaiannya, maka cepat ia mengelak ke kiri. Cara ia mengelak sengaja diperlambat sehingga Si Muka Hitam yang tadinya sudah mengira bahwa pukulan pertamanya tentu akan mengenai pundak, ketika tiba-tiba dielakkan, tu­buhnya terdorong ke depan sampai ter­huyung.

Kalau nyonya itu menghendaki, selagi tubuh lawan terhuyung tentu dengan mudah ia akan dapat mengirim pukulan atau tendangan dari belakang. Akan te­tapi mereka itu tidak akan mencari mu­suh, maka ia juga menanti saja. Si Muka Hitam membalikkan tubuhnya lagi, dan kembali ia menerjang dengan pukulan yang lebih keras, kini mengarah dada! Kembali nyonya itu mengelak. Penasaran­lah hati laki-laki itu. Ia cepat membalik­kan tubuh lagi dan menerjang seperti kerbau gila, pukulannya bertubi-tubi dan ia mengerahkan tenaganya sehingga ke­tika sampai sepuluh kali dielakkan, tu­buhnya penuh keringat, napasnya megap-megap.

Nyonya itu merasa sudah cukup meng­elak terus, apalagi kini tubuh lawannya yang berkeringat itu mengeluarkan bau yang tidak enak, maka ia mengambil keputusan untuk menyudahi saja pertem­puran itu. Apalagi, dari bunyi tambur yang dipukul ayahnya, ia tahu bahwa ayahnya pun memberi tanda kepadanya untuk mengakhiri pertandingan. Maka ketika laki-laki lawannya itu kembali memukul dengan keras, ia miringkan tubuhnya, menangkap pergelangan tangan yang memukulnya dari samping, memu­tarnya dengan gerakan pergelangan tangannya sehingga tubuh laki-laki itu ter­paksa berputar, kaki Si Wanita menen­dang perlahan ke arah belakang lutut sambil mendorong tangan yang menangkap pergelangan tangan. Tak dapat di­cegah lagi tubuh Si Naga Muka Hitam itu terdorong ke depan dan robohlah ia, robohnya miring di atas panggung!

Tepuk sorak para penonton menyambut kemenangan nyonya yang lihai itu. Akan tetapi Si Muka Hitam sudah me­loncat bangun kembali. Dia adalah se­orang kasar yang tak tahu diri, dan karena ia menjadi jagoan di kotanya maka ia merasa bahwa kepandaiannya sudah amat tinggi. Kini dengan mudah dirobohkan oleh seorang wanita, hatinya menjadi penasaran, apalagi karena robohnya tidak mengakibatkan luka atau rasa nyeri. Ia sama sekali tidak mau mengerti bahwa nyonya itu telah menjaga mukanya dan tidak merobohkannya secara hebat.

“Aku belum kalah!” bentaknya seolah-olah hendak membantah sorak-sorai para penonton yang menganggap nyonya itu sudah menang. “Jagalah seranganku!” Ia menerjang lagi dan sorakan penonton berhenti karena mereka maklum bahwa kini pertandingan tentu akan berlangsung lebih hebat melihat betapa Si Muka Hi­tam itu agaknya sudah marah sekali. Dugaan mereka itu memang benar karena kini Si Muka Hitam menerjang dengan nekat, mengeluarkan jurus-jurus mematikan dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Seperti tadi, nyonya itu mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk mengelak dengan meloncat ke kanan kiri. Akan tetapi berbeda dengan tadi, dia tidak mau mengulur waktu untuk menyudahi pertandingan dan diam-diam ia merasa gemas melihat laki-laki yang tak tahu diri ini. Ia pun maklum bahwa kalau tidak diberi sedikit hajaran, Si Muka Hitam ini tentu akan nekat terus.

“Hyaaatt!” Si Muka Hitam menendang dengan kaki kanan, ketika dielakkan, ia menurunkan kaki kanan itu jauh ke depan se­hingga tubuhnya mendoyong ke depan, kepalan tangan kanannya yang besar itu me­nonjok dari bawah mengarah pusar lawan­nya. Wanita cantik itu maklum akan datang­nya pukulan maut, cepat tubuhnya menge­lak ke kiri dan melihat kaki kanan Si Muka Hitam, ia mendapat kesempatan, sambil mengelak kakinya menyambar, ujung sepa­tunya menendang dengan pengerahan lwee-kang ke arah lutut Si Muka Hitam.

“Krekkk!” Tak dapat dihindarkan lagi, sambungan lutut Si Muka Hitam tercium ujung sepatu nyonya yang lihai itu.

“Ayaaa.... hwaduhhh.... uggghhh....!” Si Muka Hitam itu mengaduh-aduh, me­nyeringai dan mengangkat kaki kanannya ke atas, memegangi kaki itu dengan kedua tangan sambil berloncatan dengan kaki kiri terputar-putar. Rasa nyeri yang amat hebat membuat ia lupa diri dan merintih-rintih, rasa nyeri menusuk-nusuk dari lutut sampai ke jantung.

Karena para penonton yang menyaksikan sikapnya tadi sudah merasa tidak senang kepadanya, kini menyaksikan pen­deritaan Si Muka Hitam mereka tidak merasa kasihan bahkan menjadi geli dan terdengar suara ketawa riuh-rendah. Akhirnya Si Muka Hitam sadar bahwa dia menjadi bahan tertawaan.

“Maafkan saya, Louw-enghiong.” Nyonya itu berkata kepadanya setelah men­dapat teguran pandang dari ayahnya. Ka­kek itu cepat menghampiri Louw Cang dan menotok kaki yang terluka itu di betis dan paha, kemudian menyerahkan sebungkus obat kepada Si Muka Hitam sambil berkata.

“Harap Louw-enghiong memaafkan kami dan obat ini akan menyembuhkan sambungan lututmu.”

Akan tetapi Si Muka Hitam yang kini tidak lagi menderita terlalu nyeri se­telah kakinya ditotok, memandang de­ngan mata melotot, kemudian membalik­kan tubuh tanpa mau menerima obat itu, dan tanpa pamit ia melangkah ke pinggir panggung. Akan tetapi mukanya menye­ringai lagi ketika ia melangkahkan kaki karena begitu digerakkan untuk berjalan, lututnya terasa sakit lagi. Ia menggigit bibir dan tidak berani meloncat turun, kemudian menuruni panggung dengan memanjat tiangnya yang tidak tinggi, setelah tiba di atas tanah ia lalu pergi dengan kaki pengkor, terpincang-pincang sehingga dari belakang tampak pantatnya berjungkat-jungkit dan tubuhnya miring-miring amat lucu bagi para penonton yang makin tidak suka akan sikapnya.

Setelah nyonya itu mundur, kakek itu menghadapi para penonton dan menjura sikap tenang. “Kami merasa amat menyesal atas kejadian tadi, akan tetapi para sahabat yang lihai dalam ilmu silat tentu mengerti bahwa kejadian itu bukan karena kesalahan anak saya yang didesak-desak. Kami mengharap munculnya para sahabat yang benar-benar ingin berkenal­an dan mengisi kekurangan dalam penge­tahuan ilmu silat, Kami persilakan!” Ia menjura dan mundur kembali, menabuh tamburnya perlahan-lahan dan lambat-lambat.

Tiba-tiba terjadi kegaduhan di antara para penonton sebelah kiri, dan tampak para penonton bergerak mundur dan ming­gir untuk memberi jalan kepada beberapa orang perwira Mancu dan para pengikutnya yang melihat pakaiannya adalah pe­rajurit-perajurit yang berpangkat, sedikit­nya kepala regu. Ada tiga orang perwira dan sepuluh orang anak buahnya men­dekati panggung itu. Setelah saling bi­cara dalam bahasa Mancu yang dime­ngerti oleh Lulu, murid di antara para perwira itu, yang hidungnya melengkung seperti hidung burung kakatua, dengan gerakan ringian meloncat ke atas panggung.

Lulu memandang penuh perhatian, hatinya merasa tidak senang mendengar percakapan mereka tadi sebelum naik ke panggung, karena mereka itu membicara­kan kecantikan nyonya tadi dan mengan­dung niat hati tidak baik, menganggap para rombongan silat itu sebagai “pelanggar hukum”.

Melihat majunya seorang perwira Mancu, kakek penabuh tambur itu kelihatan tenang saja, malah memberi isya­rat mata kepada mantunya untuk meng­gantikannya menabuh tambur. Kemudian ia sendiri melangkah maju menyambut perwira hidung bengkok itu sambil men­jura penuh hormat dan berkata.

“Maaf, Tai-ciangkun. Apakah ciangkun juga begitu baik hati untuk berkenalan dengan kami dan memberi petunjuk da­lam ilmu silat kepada kami?”

Perwira itu mengangkat dadanya yang bidang dan dengan muka angkuh ia ber­kata, suaranya nyaring, “Kakek, apakah engkau tidak tahu akan peraturan dan tidak tahu bahwa kalian telah melanggar hukum?”

Para penonton mendengar suara keras ini menjadi tegang dan gelisah. Juga mantu, anak perempuan dan cucu Si Kakek itu memandang gelisah. Akan tetapi kakek itu tetap tenang saja ketika menjawab.

“Maaf, ciangkun. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada peraturan yang melarang rombongan silat seperti kami membuka pertunjukan silat untuk ber­kenalan dengan para ahli silat dan untuk meluaskan pengalaman.”

“Hemmm, semua orang tahu bahwa telah dikeluarkan larangan bagi rakyat untuk membawa senjata tajam. Apakah engkau tidak tahu atau barangkali ber­pura-pura tidak tahu?”

Kembali kakek itu menjura. Keadaan di situ sunyi, tidak ada suara terdengar di antara para penonton yang menjadi gelisah, bahkan sebagian dari para penon­ton diam-diam telah meninggalkan tem­pat itu, karena khawatir kalau terbawa-bawa. Apalagi mereka yang merasa telah “melanggar hukum”. Pada waktu itu, pemerintah Mancu mengeluarkan larangan dan peraturan-peraturan yang menghina penduduk pribumi. Pertama, pribumi dilarang membawa senjata, rambut diharus­kan bertumbuh panjang dan dikuncir ke belakang seperti buntut, dan pakaian para pribumi harus “mencontoh” pakaian Mancu! Tentu saja peraturan ini tidak dapat ditaati secara serentak, dan pe­merintah Mancu pun cukup bijaksana dan cerdik untuk tidak terlalu menekan, me­lainkan perlahan-lahan rakyat pribumi dipaksa ke arah pelaksanaan perintah-perintah itu. Yang terpenting adalah pelarangan membawa senjata tajam yang tentu saja dimaksudkan agar pribumi tidak dapat mengadakan pemberontakan. Maka di antara para penonton yang be­lum menyesuaikan pakaian dan rambut­nya, diam-diam pergi meninggalkan tem­pat itu ketika Si Perwira Hidung Bengkok mempersoalkan hukum ini.

“Maaf, Tai-ciangkun,” Si Kakek men­jawab dengan sikap penuh hormat sung­guhpun tidak menjilat, “kami mengerti akan peraturan itu dan tidak ada niat kami untuk melanggarnya. Kami membawa senjata hanya sebagai perlengkapan dalam permainan silat yang kami pertunjukkan. Tanpa senjata, bagaimana kami dapat mempertunjukkan ilmu silat? Cucu saya itu hanya bisa menari pedang, kalau tidak membawa pedang tentu tidak akan dapat menari. Adapun mengenai rambut dan pakaian, hal ini pun terpaksa kami sesuaikan dengan pertunjukan kami. Bagi kami, pertunjukan silat kami selain untuk menarik sahabat-sahabat untuk berkenal­an, juga merupakan rombongan kesenian dan tentu saja dibutuhkan pakaian dan tata rambut yang sesuai dan ringkas. Harap ciangkun sudi memaafkan. Kalau tidak sedang mengadakan pertunjukan silat, tentu kami akan mengubah cara kami berpakaian, dan akan kami tinggal­kan semua senjata di rumah.”

Perwira itu tertawa dan melirik ke arah nyonya cantik yang berdiri di sudut sambil memandang penuh perhatian. “Ha-ha-ha, engkau pandai bicara, Kakek! Aku pun hanya mengingatkan kalian saja, kalau berniat buruk, tentu sudah tadi-tadi kusuruh tangkap kalian! Kalian mencari kenalan ahli silat? Hemmm, kebetulan sekali, aku pun pernah belajar ilmu silat. Tadi kulihat puterimu itu amat lihai ilmu silatnya sehingga mudah saja mengalahkan Si Muka Hitam. Biarlah aku mencoba-coba kelihalannya. Bagaimana?”

Kakek itu mengerutkan keningnya, “Ah, anak perempuan saya hanya me­miliki ilmu silat pasaran saja, mana ada harganya menandingi Tai-ciangkun? Harap ciangkun jangan main-main.” Kakek itu tersenyum.

“Siapa main-main? Hayo suruh dia maju, hendak kulihat bagaimana kelihai­annya!”

Kakek itu menjadi serba salah. Dia tidak khawatir kalau-kalau anaknya akan kalah, akan tetapi bertanding menghadapi seorang perwira berbeda dengan orang biasa. Kalau lawannya orang biasa, kalah atau menang bukanlah merupakan hal aneh lagi. Akan tetapi kalau melayani perwira ini, kalau anaknya menang si perwira tentu akan merasa tersinggung kehormatannya dan tentu akan mengandalkan kekuasaannya mencelakakan mereka. Akan tetapi kalau anaknya mengalah, tentu saja berbahaya bagi keselamatan anaknya.

“Biarlah saya yang akan maju melayani Tai-ciangkun beberapa jurus,” ka­tanya. Kalau dia yang maju, tentu saja dia akan mengalah dan tidak mengapa menerima satu dua pukulan dari ciangkun ini, asal keluarganya tidak terganggu.

Akan tetapi, perwira hidung bengkok itu malah menjadi marah. Ia bertolak pinggang dan alisnya diangkat, matanya melotot. “Heh, kalau orang lain boleh bertanding melawan perempuan itu, meng­apa aku tidak? Apakah kauanggap aku tidak cukup berharga untuk bertanding melawan anakmu? Kakek, hati-hatilah engkau dengan sikapmu.”

Wanita itu melangkah maju dan berkata, “Ayah, biarkan saya melayani Tai-ciangkun ini beberapa jurus.”

Kakek itu menghela napas dan mundur, kembali kepada tamburnya, sedang­kan mantunya yang memandang dengan wajah tidak berubah akan tetapi sinar matanya mengandung kekhawatiran, lalu mainkan gembreng. Wanita itu melangkah perlahan ke tengah panggung, dipandang oleh si perwira yang menelan ludah me­lihat langkah-langkah lemah gemulai dan pinggang ramping yang meliuk-liuk ketika wanita itu mendekat. Wanita itu benar-benar cantik, amat menarik karena wa­jahnya yang berkulit halus itu tanpa dihias bedak sama sekali. Bentuk tubuhnya masih ramping padat dan matang seperti biasa tubuh wanita yang sudah tiga puluh kurang lebih usianya dan su­dah mempunyai seorang anak.

Wanita itu menjura dengan hormat dan berkata dengan suara halus, “Tai-ciangkun hendak memberi pelajaran silat kepada saya? Silakan.”

Sejenak perwira itu memandang ka­gum, terpesona oleh kecantikan aseli wanita itu, kemudian tertawa menyeri­ngai. Orang yang ketawa atau se­nyumnya dibuat-buat, tidak sewajarnya dengan niat agar menarik dan wajahnya berubah tampan, akan kecelik karena se­nyum atau tawa yang tidak sewajarnya dan dibuat-buat itu akan membuat mukanya makin buruk dan senyumnya seperti monyet menyeringai.

“Heh-heh, Nona terlalu merendah. Akulah yang minta diberi pelajaran silat Nona yang lihai itu.” Ia sengaja menye­but nona bukan dengan niat tidak meng­hormat, sebaliknya malah ingin menye­nangkan hati orang karena perwira ini maklum bahwa murid wanita akan gem­bira kalau disebut nona, sebaliknya seorang nona akan cemberut kalau disebut nyonya. Akan tetapi wanita itu adalah seorang ibu yang baik, seorang isteri yang setia, maka mendengar sebutan yang ia tahu disengaja ini, ia menjawab.

“Saya bukan gadis, ciangkun, melainkan seorang ibu. Di sana itu suami saya dan anak perempuan itu adalah anak saya.”

Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini dan perwira itu menyeringai makin lebar, wajahnya agak merah. “Ah, baiklah, Nyonya. Marilah kita main-main sebentar!” Ia lalu melangkah maju dan menampar dengan tangan kirinya. Gerakannya seperti orang main-main, akan tetapi nyonya itu terkejut ketika merasa betapa tamparan ini membawa angin pukulan yang amat kuat. Ia tidak berani memandang rendah dan cepat menggerakkan kakinya mundur mengelak, kemudian tubuhnya meliuk ke kiri dan dari samping kakinya mencuat ke arah lambung perwira itu dengan sebuah tendangan kilat.

“Aihhhhh, cepat sekali!” Si perwira berseru, akan tetapi tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kanan yang dimiringkan untuk membabat kaki yang menendang.

Wanita itu cepat menarik kembali kakinya dan kini menggunakan kesem­patan selagi perwira itu membabatkan tangannya, ia telah mendoyongkan tubuh ke depan dan mengirim pukulan ke arah muka si perwira yang terbuka.

Perwira itu sengaja berlaku lambat dan membiarkan tangan lawan meluncur ke arah mukanya. Setelah dekat sekali sehingga kiranya tidak mungkin bagi lawan untuk menarik kembali tangannya seperti yang dilakukannya dengan ten­dangan tadi, tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat dari bawah, menyambar ke atas dan tahu-tahu pergelangan ta­ngan kanan wanita yang memukul itu telah ditangkapnya! Terdengar seruan kaget dari suami nyonya itu, juga para penonton menahan seruan mereka. Si wanita sendiri menjadi terkejut karena tidak disangkanya perwira itu memiliki kecepatan seperti itu. Tangan kanannya telah ditangkap dan ia tidak mampu melepaskannya, maka cepat ia memukul ke arah pelipis lawan dengan tangan kiri, dengan pukulan yang melengkung dari luar. Seperti tadi, perwira itu seperti tidak mengelak, dan setelah pukulan tangan kiri dekat, kembali tangan kanan­nya menyambar dan menangkap pergelangan tangan kiri lawan yang terus ia bawa ke tangan kiri. Jari-jari tangan kirinya yang panjang kini mencengkeram kedua pergelangan tangan nyonya itu menjadi satu!

“Ohhh.... le.... lepaskan tanganku....!” Nyonya itu berseru dan meronta, ber­usaha melepaskan tangannya yang kedua­nya telah terbelenggu oleh jari-jari tangan yang kuat itu. Namun usahanya sia-­sia dan si perwira tertawa-tawa bahkan mengulur tangan kanannya mencengkeram ke arah dada!

Kakek itu terkejut, maklum bahwa nyawa puterinya terancam maut. Akan tetapi ternyata perwira itu tidak men­cengkeram untuk membunuh, melainkan mencengkeram dengan halus dan me­remas-remas dada wanita itu secara kurang ajar sekali sambil tertawa-tawa!

“Lepaskan isteriku!” Tiba-tiba laki-laki yang sejak tadi memandang penuh kemarahan, meloncat maju. Ia masih ingat bahwa ia tidak boleh menyerang perwira itu, karena hal ini akan mem­bahayakan keluarganya, maka ia meng­ulur tangan untuk menarik tubuh isteri­nya yang sedang mengalami penghinaan dari perwira tak tahu malu itu. Akan tetapi perwira itu membentak.

“Pergilah!”

Tangan kiri yang membelenggu kedua tangan nyonya itu mendorong sehingga tubuh si wanita terhuyung ke belakang, sedangkan tangan kanan yang tadi meremas-remas buah dada kini menghantam ke arah kepala laki-laki suami wanita itu.

“Ahhhh....!” Laki-laki yang diserang secara tiba-tiba itu cepat menangkis, akan tetapi dengan cepat sekali tangan si perwira itu menyambar pundaknya.

“Krekkk!” Patahlah tulang pundak suami nyonya itu dan tubuhnya terpelan­ting roboh.

Kakek itu meninggalkan tamburnya, mengangkat bangun mantunya dan ke­mudian menghadapi si perwira yang ber­tolak pinggang, menjura dan berkata.

“Kepandaian Tai-ciangkun sungguh hebat sekali dan kami merasa beruntung dan berterima kasih telah mendapat pe­lajaran dari Ciangkun. Kekalahan ini merupakan pengalaman dan pelajaran bagi kami dan sekarang kami mohon untuk mengundurkan diri meninggalkan kota ini.”

“Ha-ha-ha, nanti dulu, Kakek Tua. Kita telah bertanding dan bukankah kau tadi mengatakan bahwa niat kalian untuk menarik persahabatan? Aku telah bertanding dengan puterimu, berarti aku telah menjadi sahabat pula, bukan? Nah, kulihat ilmu silat puterimu hebat. Malam nanti kami serombongan perwira hendak mengadakan malam gembira, maka se­bagai sahabat, aku minta supaya puteri­mu sekarang juga ikut dengan aku untuk bantu meramaikan malam gembira itu.”

Wajah kakek itu menjadi pucat. “Maaf, Tai-ciangkun.... hal itu mana bisa dilakukan....?”

“Tentu saja bisa kalau mau!” jawab Si Perwira.

“Aku tidak mau, Tai-ciangkun. Harap ingat bahwa aku adalah seorang isteri, seorang ibu....”

“Ha-ha-ha, beginikah harganya per­sahabatan kalian?” Perwira itu mengejek dan dua orang perwira lain yang berada di bawah tertawa.

“Kami sudah bosan dengan gadis-gadis, sekali waktu diselingi seorang ibu muda tentu menggembirakan, ha-ha-ha!”

Melihat sikap mereka, kakek itu maklum bahwa bahaya tak dapat dihindarkan lagi. Maka ia lalu berkata, nadanya te­gas, “Maaf, Tai-ciangkun. Kami sekeluar­ga tidak dapat memenuhi permintaanmu itu.”

Perwira itu menggerakkan alisnya dan memandang kakek itu dengan mata di­sipitkan.

“Apakah ini berarti bahwa aku harus mengalahkan engkau dulu?”

Kakek itu maklum bahwa perwira berhidung bengkok ini lihai sekali. Me­lihat caranya mengalahkan puterinya dan merobohkan mantunya dengan sekali pukul ia tahu bahwa dia sendiri bukan tandingan si perwira. Akan tetapi, demi menjaga kehormatan puterinya dan nama baik keluarganya, ia memandang tajam dan berkata.

“Terserah penilaian Ciang-­kun!”

“Hemmm, engkau orang tua tidak memilih hidup enak, malah memilih kematian. Kalau begitu, bersiaplah kau untuk mampus!” Perwira itu melangkah maju dan pada saat itu berkelebat ba­yangan orang dan terdengar bentakan halus.

“Tunggu dulu....!”

Perwira hidung bengkok itu menahan serangannya dan melangkah mundur, ke­mudian berdiri dan terpesona ketika melihat seorang pemuda remaja yang amat tampan telah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, sikapnya angkuh sekali seperti seorang jenderal, akan tetapi wajah yang tampan itu agaknya tidak bisa membayangkan kemarahan maka kelihatannya cerah dan berseri. Sepasang mata yang lebar dan bercahaya terang seperti sepasang bin­tang itu seolah-olah menembus dada menjenguk jantung. “Pemuda” ini bukan lain adalah Lulu yang tak dapat menahan kemarahannya lagi menyaksikan lagak dan perbuatan perwira itu.

“Eh, engkau ini siapakah dan mengapa menahan aku menghajar Kakek tak tahu diri ini?” Si Perwira akhirnya berkata setelah pandang matanya puas meneliti seluruh tubuh pemuda yang berdiri ang­kuh di depannya itu.

“Engkau yang tak tahu diri!” Lulu membentak, mengejutkan hati semua orang termasuk kakek yang berdiri di belakangnya itu. Akan tetapi mereka semua makin terkejut dan khawatir lagi ketika pemuda tampan itu melanjutkan kata-katanya sambil menudingkan telunjuknya seperti hendak menusuk hidung yang bengkok itu, “Engkau ini perwira macam apa, heh? Mengandalkan kepandaian untuk menghina wanita dan me­mukul rakyat, mengandalkan kedudukan untuk menindas rakyat! Dumeh (mentang-­mentang) menjadi perwira, apakah engkau lantas boleh menggunakan kekuasaanmu untuk bertindak sewenang-wenang? Apa­kah engkau dijadikan perwira untuk menginjak-injak rakyat? Seharusnya prajurit menjadi penjaga keamanan, akan tetapi engkau malah menjadi pengacau keaman­an! Seharusnya perajurit menjadi pelindung rakyat! Akan tetapi engkau malah menjadi pengganggu rakyat! Kalau rekan-­rekanmu di bawah itu tahu diri dan me­ngenal kewajiban, tentu engkau sudah diseret turun dari panggung ini dan me­nerima hukuman dari atasanmu!”

Tidak hanya para penonton dan rom­bongan silat itu yang tercengang keheran­an, juga Si Perwira sendiri berikut teman-­temannya memandang dengan melongo. Sikap pemuda ini seperti seorang jenderal memarahi anak buahnya yang menyele­weng saja! Perwira hidung bengkok men­jadi curiga dan wajahnya berubah pucat. Ia menduga-duga akan tetapi tidak mengenal pemuda ini, maka ia lalu ber­tanya.

“Eh, pemuda yang lancang mulut. Siapakah engkau sebetulnya?”

“Aku rakyat biasa yang tidak sudi melihat adanya perwira macam engkau ini menghina rakyat yang tidak berdosa!”

Sejenak perwira itu memandang, kemudian tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, pemuda liar macam engkau ini sungguh menggemaskan! Hemmm, ingin kupukul bibirmu sampai berdarah!” Ia menoleh kepada teman-teman di bawah panggung. “Bagaimana kalau aku tangkap pemuda liar ini agar malam nanti dia menjadi badut meramaikan malam gem­bira kita?”

“Akur! Akur!” teriak dua orang perwira dan para anak buahnya. Perwira hidung bengkok itu kembali menghadapi Lulu dan berkata mengejek.

“Kalian orang-orang Han memang sombong! Kalau aku menghina orang-orang Han, engkau mau apa?”

Kemarahan Lulu membuat mukanya menjadi merah. Dia muak menyaksikan sikap perwira bangsanya sendiri! Ayahnya dahulu juga seorang perwira Mancu, akan tetapi ia merasa yakin bahwa ayahnya tidak jahat seperti orang ini.

“Mau apa? Mau apa kautanya? Mau apa lagi kalau tidak menghancurkan hidungmu yang bengkok itu!” bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya menerjang maju, kedua tangannya bergerak cepat, yang kiri menyodok perut yang kanan mencengkeram leher!

“Wah-wah, ganas....!” Perwira yang memandang rendah gadis itu mengejek. Tangan kanan gadis itu datang lebih dulu ke lehernya, cepat ia tangkis dan tangan kiri gadis yang menyodok perutnya, hendak ditangkapnya seperti yang ia lakukan pada nyonya tadi. Akan tetapi, tiba-tiba ia mengeluarkan jerit mengerikan karena tangan kanan Lulu yang ditangkis itu tidak membalik, melainkan meluncur ke atas dan pada detik berikutnya, tangan gadis itu sudah menampar hidungnya yang bengkok!

“Dessss!” Perwira itu menjerit dan darah muncrat-muncrat dari hidungnya yang benar-benar telah hancur, bukit hidungnya lenyap dan remuk bersama tulang mudanya, dan kini hanya tinggal dua buah lubang yang penuh darah! Lulu mengayun kakinya dan tubuh perwira yang besar itu tertendang, terguling dari atas panggung, menimpa teman-temannya dalam keadaan pingsan!

“Pembunuh! Pemberontak! Tangkap!” bentak dua orang perwira lainnya dan bersama sepuluh orang anak buah mereka, dengan marah mereka meloncat ke atas panggung dengan golok terhunus. Gegerlah tempat itu. Para penonton lari berserabutan saling tabrak, di antara mereka yang tidak keburu lari menjadi korban hantaman golok anak buah per­wira yang seperti biasa dalam keadaan seperti itu memperlihatkan “kegagahan­nya” menyerang orang-orang yang tidak mampu membalas.

Kini dua belas orang perajurit itu telah menerjang ke panggung. Melihat betapa “pemuda” yang perkasa itu ter­ancam, kakek bersama puterinya cepat maju dengan pedang di tangan mem­bantu. Bahkan kakek itu berseru, “Siauw­hiap (Pendekar Muda), pakailah pedang ini!”

“Untuk melawan penjahat-penjahat keji berkedok tentara ini, perlu apa meng­gunakan pedang, Lopek?” Lulu menyam­but mereka dengan tendangan-tendangan kilat dan dua orang perajurit pengawal roboh kembali ke bawah panggung. Kare­na maklum bahwa pemuda itu lihai, dua orang perwira segera memutar golok dan menyerang Lulu yang menggunakan ke­gesitan tubuhnya untuk berkelebat meng­hindarkan serangan-serangan golok mere­ka. Kakek dan puterinya menghadapi pengeroyokan anak buah mereka, sedang­kan anak perempuan kecil, cucu kakek itu, berdiri di sudut panggung dengan muka pucat.

Biarpun dalam hal ilmu silat Lulu belum dapat dikatakan seorang ahli, namun dia memiliki sin-kang yang amai kuat sehingga gerakannya cepat luar biasa dan tenaga dalamnya juga sukar dicari tandingannya. Hujan bacokan dua buah golok di tangan dua orang perwira itu selalu dapat ia elakkan dengan mudah. Dua orang perwira ini sebetulnya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, seperti juga Si Perwira Hidung Bengkok tadi. Kalau saja Si Hidung Bengkok itu tadi tidak memandang rendah Lulu, kiranya dia tidak akan begitu mudah dan cepat dirobohkan oleh Lulu, dan kehilangan hidungnya.

Kakek dan puterinya bersilat dengan ilmu pedang Hoa-san-pai, gerakan mereka cepat dan indah. Dalam waktu beberapa menit saja mereka telah merobohkan dua orang pengeroyok. Lulu akhirnya berhasil pula menendang perut seorang perwira yang segera berjongkok menekan-nekan perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas itu. Karena kini ia hanya menghadapi seorang lawan, Lulu dapat mempermainkannya. Sambil mengelak, tangannya menampar dan sudah empat kali ia membuat perwira itu terhuyung-huyung. Ketika kelima kalinya ia mengelak sambil menyodok, jari tangan kirinya berhasil menyodok tulang iga. Terdengar tulang patah dan tubuh perwira itu terguling, mulutnya berteriak-teriak kesakitan. Lulu kini menyerbu para pengeroyok kakek dan puterinya.

Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan ramai dan datanglah sepasukan perajurit Mancu yang jumlahnya tiga puluh orang lebih. Kiranya seorang di antara anak buah perwira-perwira itu tadi cepat lari melapor ke markas ketika menyaksikan betapa fihaknya kewalahan menghadapi pemuda liar dan rombongan tukang silat itu. Melihat datangnya bala bantuan lawan yang besar jumlahnya, kakek itu berkata.

“Siauwhiap, harap melarikan diri saja. Tidak perlu engkau mengorbankan ke­selamatanmu untuk kami....”

“Eh, omongan apa itu? Apa kaukira aku takut mati, Lopek?”

Kakek itu melongo. Pemuda itu lihai sekali, omongannya kasar dan wataknya ganas. Terpaksa ia tidak membujuk lagi dan kini ia menyambar tubuh cucunya, dikempit dengan lengan kiri sedangkan tangan kanan yang memegang pedang menyambut datangnya para pengeroyok yang lebih banyak itu. Mereka terkurung dan panggung yang mereka injak bergo­yang-goyang, hampir tidak kuat menahan demikian banyaknya orang yang bergerak-gerak dalam pertandingan keroyokan kacau-balau itu.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan belasan orang berpakaian pengemis menyerbu para perajurit dari luar sehing­ga keadaan pasukan pengeroyok menjadi kacau. Para pengemis ini rata-rata me­miliki kepandaian tinggi sehingga ketika menyerbu, banyak fihak tentara Mancu yang roboh.

“Lekas kalian meloncat dan meme­gang kuda ini!” Seorang di antara para pengemis itu berseru kepada rombongan tukang silat dan Lulu. Pada saat itu, puteri kakek itu terluka oleh sebuah bacokan di pundaknya dan terhuyung-huyung. Lulu cepat menyambarnya dan membawanya meloncat ke atas punggung seekor kuda yang sudah disiapkan oleh para pengemis. Kakek itu memondong cucunya, sedangkan mantunya yang patah tulang pundaknya sudah pula membonceng kuda bersama seorang pengemis. Sambil memutar-mutar golok dan pedang, rom­bongan pengemis ini membuka jalan dan membalapkan kuda meninggalkan kota Tiong-bun ke arah timur dan tak lama kemudian mereka sudah memasuki sebuah hutan.

Atas isyarat pimpinan rombongan pengemis itu, mereka berhenti dan si kepala rombongan yang bertubuh tinggi kurus itu berkata, “Pasukan besar tentu akan mengejar kita. Sebaiknya rombong­an dibagi menjadi tiga untuk menyesat­kan mereka. Aku sendiri bersama sahabat-sahabat yang perlu ditolong ini akan menemui pangcu!” Singkat saja ia bicara dan teman-temannya sudah mengerti semua. Mereka membagi kuda, Lulu du­duk di atas seekor kuda bersama anak perempuan kakek itu, kakek itu duduk bersama pengemis tinggi kurus sedangkan anaknya bersama mantunya sekuda. Para pengemis lainnya dipecah menjadi dua rombongan, yang serombongan membelok ke kiri, yang serombongan ke kanan, sedangkan pengemis tinggi kurus bersama keluarga tukang silat dan Lulu melanjut­kan perjalanan memasuki hutan.

Belum lama mereka melanjutkan perjalanan, malam telah tiba dan di dalam hutan itu gelap sekali. “Terpaksa kita harus berhenti dan bermalam di sini. Aku mengetahui sebuah gua yang tersembunyi dan aman di depan. Mari!” kata pengemis kurus itu yang sejak tadi tidak pernah membuka mulut.

Gua itu tersembunyi di balik rumpun alang-alang yang tebal dan tinggi. Mereka lalu turun dari kuda, dan pengemis itu menyembunyikan tiga ekor kuda itu dan agak jauh dari gua, kemudian mere­ka semua memasuki gua dan tanpa ba­nyak cakap pengemis kurus itu membuat api unggun di dalam gua, mengeluarkan roti kering dan air, mengajak semua orang makan dan minum hidangan yang bersahaja itu.

Setelah makan minum sekedarnya dan melihat betapa suami isteri itu pucat menahan sakit, pengemis tinggi kurus itu bertanya, “Ji-wi terluka?”

Tukang penjual silat, kakek itu men­jawab, “Mantuku patah tulang pundaknya dan anakku perempuan terluka bacokan, tidak berbahaya akan tetapi tentu saja nyeri.”

“Jangan khawatir, Lopek. Aku mem­bawa obat minum untuk tulang patah. Akan tetapi untuk menyambungnya dengan baik, harus menanti sampai kita bertemu dengan pangcu besok, dia ada­lah seorang ahli menyambung tulang patah.”

Pengemis kurus itu mengeluarkan bungkusan obat, sebungkus diberikan ke­pada nyonya itu dan sebungkus lagi ke­pada suaminya. Suami isteri yang sudah berpengalaman itu menghaturkan terima kasih dan merawat sendiri luka-luka me­reka. Melihat sikap pengemis yang pakai­annya compang-camping, tidak banyak bicara akan tetapi yang menolong rom­bongan kakek itu dengan sungguh-sungguh, diam-diam Lulu menjadi kagum sekali dan timbul rasa suka di hatinya. Akan tetapi karena dia belum mengenal penge­mis itu, tidak tahu dari partai apa, juga sesungguhnya ia sama sekali belum mengenal rombongan kakek yang mengada­kan pertunjukan silat, ia diam saja dan hanya mendengarkan.

“Bagaimana Lopek sampai diserbu ge­rombolan anjing-anjing Mancu itu?” Tiba-tiba pengemis itu bertanya tanpa me­mandang si kakek, dan menambah kayu api unggunnya. Lulu memandang tajam, melihat betapa wajah pengemis itu keruh dan suaranya penuh kebencian ketika menyebut “anjing-anjing Mancu.”

Kakek itu menghela napas panjang dan memangku kepala cucunya, yang kelihatan lelah dan mengantuk itu. “Ahhh, kami dari keluarga yang amat malang. Kami sedang melakukan perjalanan me­nyelidik, mencari anakku perempuan ke dua yang dilarikan orang. Karena ada larangan membawa senjata tajam, kami sengaja menyamar sebagai rombongan pertunjukan silat agar leluasa membawa senjata. Siapa kira di kota Tiong-bun hampir saja kami celaka kalau tidak di­tolong oleh Siauwhiap ini.”

“Lopek salah sangka. Dia ini adalah seorang Lihiap yang mengagumkan,” kata Si Pengemis dengan tenang tanpa me­mandang Lulu. Tentu saja Lulu terkejut sekali dan makin kagum. Pengemis ini benar-benar memiliki mata yang awas! Kakek itu sendiri juga terkejut.

“Lihiap? Seorang dara remaja? Ahhh, hebat.... ah, maafkan mataku yang sudah lamur, Lihiap.”

Tiba-tiba terdengar bisikan nyonya cantik itu kepada suaminya, “Apa kata­ku? Dan engkau masih cemburu melihat aku boncengan dengan dia sekuda! Apa kaukira semua laki-laki sejahat perwira Mancu itu?”

“Sssttttt....!” Suaminya menegur dan mukanya menjadi merah sekali. Lulu me­nahan hatinya yang geli dan ingin ter­tawa. Kiranya suami itu menjadi cem­buru ketika ia menolong isterinya dan berboncengan di atas kuda! Betapa lucu­nya!

“Lokai (Pengemis Tua), pandangan matamu awas sekali, sungguh aku ka­gum!” kata Lulu yang melepas penutup kepalanya. Rambutnya yang hitam panjang kini terurai dan ia biarkan saja ka­rena ia merasa tidak perlu lagi menya­mar setelah rahasianya terbuka.

“Tidak percuma aku merantau di dunia kang-ouw sampai puluhan tahun, No­na. Lopek, harap suka melanjutkan ceritamu. Siapakah yang melarikan puterimu?”

“Siapa lagi kalau bukan anjing Mancu!”

Kembali Lulu terkejut. Hatinya terpukul berkali-kali. Hari ini ia telah me­nyaksikan kejahatan perwira-perwira Man­cu dan anak buahnya, dan kini ia lagi-lagi mendengar akan kejahatan bangsa­nya. Hatinya tidak enak dan ia meman­dang api unggun, menutup mulut mem­buka telinga mendengarkan penuturan kakek itu.

Kakek itu bernama Gak Mong, seorang duda yang tinggal di kota Bwee-hian dekat kota besar Cin-an bersama dua orang puterinya dan seorang mantu serta seorang cucu. Puterinya yang bung­su bernama Gak Siok Ci, seorang dara remaja berusia delapan belas tahun. Pe­kerjaan kakek ini adalah piauwsut yaitu pengawal barang-barang berharga yang ­dikirim jauh. Dalam pekerjaan ini, ia dibantu oleh kedua orang puterinya dan seorang mantunya yang kesemuanya me­miliki ilmu silat yang lumayan. Gak Ki­ong adalah seorang murid luar dari Hoa-san-pai dan karena pergaulannya yang luas ditambah ilmu pedangnya yang lihai, maka sampai bertahun-tahun ia bekerja dengan lancar dan selalu dapat mengawal barang-barang kiriman dengan selamat.

Akan tetapi, malapetakia terjadi keti­ka pada suatu hari ia mengawal sekereta penuh bahan pakaian menuju ke utara. Ia ditemani oleh seluruh keluarganya karena selain mengawal barang berharga yang membutuhkan pengawalan yang kuat, juga sekalian mengajak keluarganya pesiar ke utara, apalagi pada waktu itu perang telah selesai di bagian ini dan perjalanan cukup aman.

Sekali ini perjalanannya mendapat gangguan, bukan oleh perampok melain­kan oleh sepasukan tentara Mancu yang dipimpin seorang perwira bermata satu (mata kirinya buta). Kereta bahan pakaian itu dijadikan rebutan oleh anggauta pasukan. Tentu saja keluarga Gak ini melakukan perlawanan, namun perwira itu ternyata merupakan perwira kelas satu yang memiliki ilmu golok yang hebat, apalagi dibantu oleh puluhan orang anak buahnya, maka keluarga Gak itu dikalahkan dan terluka, kecuali Gak Siok Ci dara remaja yang cantik jelita itu, yang ditawan dan dibawa pergi oleh si perwira mata satu!

Terpaksa keluarga itu pulang dengan hati penuh kedukaan. Untuk mengganti barang kawalan yang habis itu terpaksa pula Kakek Gak menjual semua rumah, tanah dan barang miliknya, kemudian mereka semua lalu meninggalkan tempat tinggal mereka dan merantau ke utara dengan maksud mencari anak perempuannya yang hilang.

“Sampai berbulan-bulan kami merantau, namun tidak dapat menemukan jejak anakku. Perwira mata satu itu lihai sekali, maka kurasa dia tentu berada di dekat kota raja. Apapun yang terjadi, kami bertekad untuk mencari anakku dan membalas dendam kepada perwira keparat itu!” Kakek Gak mengakhiri penu­turunannya sambil mengepal tinju.

“Perwira mata satu? Tinggi besar dan senjatanya golok besar?” Tiba-tiba pe­ngemis itu menepuk pahanya dan berseru, “Jangan-jangan dia itu Twa-to-kwi (Setan tolok Besar) Liok Bu Tang....!”

“Serrrrr....!”

Sebatang anak panah menyambar dari luar gua dan Lulu yang bermata tajam cepat menggerakkan tangan menangkap anak panah itu. Pengemis kurus itu me­madamkan api unggun dan berbisik, “Bersembunyi mepet dinding gua....!”

Dari luar gua terdengar suara ketawa bergelak, “Ha-ha-ha! Jembel busuk Kwat Lee, benar sekali ucapanmu. Twa-to-kwi Liok Bu Tang telah berada di sini. Engkau boleh berjuluk Bu-eng Sin-kai (Pengemis Sakti Tanpa Bayangan) akan tetapi sekali ini bukan saja bayanganmu juga orangnya, akan menjadi tawananku atau menjadi setan penasaran. Ha-ha-ha! Pemberontak-pemberontak keji, me­nyerahlah. Gua telah dikepung puluhan orang bala tentaraku!”

Pengemis tinggi kurus yang bernama Kwat Lee itu berbisik, “Tidak ada pilihan lain. Tinggal di sini berarti mati konyol. Kalau menyerbu keluar, dikeroyok, akan tetapi belum tentu kita mati semua. Ma­sing-masing mencari jalan keluar sendiri, lebih baik seorang dua orang ada yang selamat dan bebas daripada semua mati. Lihiap, kau mengambil jalan kiri. Gak-lopek, engkau dan puteri serta mantumu mengambil jalan kanan, kaupondong cucu­mu. Aku akan mengambil jalan depan!”

Kembali Lulu kagum bukan main. Pengemis ini memilih jalan yang paling berbahaya bagi diri sendiri!

Dari luar gua terdengar suara ketawa yang tadi. “Ha-ha-ha! Engkau ketakutan, jembel busuk? Aku tahu bahwa engkau berada di dalam gua bersama Keluarga Gak. Eh, Gak-piauwsu, engkau dan ke­luargamu hendak mencari si manis Siok Ci anakmu? Boleh, kalian boleh berjumpa dengan dia di neraka. Dan pemuda hijau yang ikut bersama kalian juga akan mam­pus. Ha-ha-ha!”

“Aahhhhh, adikku Siok Ci.... engkau.... sudah mati....” Nyonya itu menangis. Ayahnya membentak.

“Dia sudah mati lebih baik! Mengapa engkau menangis? Kita pun menghadapi kematian! Orang gagah tidak menangis menghadapi kematian di tangan musuh!”

Seketika nyonya itu menghentikan tangisnya, mengepai tinju dan berseru, “Anjing-anjing Mancu, rasakan pembalas­anku!”

Lulu kagum sekali. Orang-orang Mancu itu.... ah, ia malu sekali. Mendengar bahwa ia disebut “pemuda hijau”, cepat Lulu menutupi rambut yang digelungnya dengan kain kepalanya, kemudian ia ber­kata, “Bu-eng Sin-kai, biarlah aku yang mengambil jalan depan!” Ucapannya te­gas dan sedikit pun tidak membayangkan kegentaran. Pengemis itu di dalam gelap memandang ke arahnya dengan kagum.

“Lihiap, engkau tidak bersenjata?”

“Aku bisa merampas senjata dari mereka.”

“Baiklah, engkau mengambil jalan depan. Aku mengambil jalan kiri bersama mantu Gak-piauwsu yang patah tulang pundaknya. Gak-piauwsu, engkau bersama puterimu dan cucumu mengambil jalan kanan.”

Tiba-tiba keadaan menjadi terang ketika pasukan yang mengepung itu me­nyalakan banyak sekali obor dan me­megang obor di tangan kiri, diangkat tinggi-tinggi sedangkan tangan kanan memegang senjata tajam. Di antara sinar obor, tampaklah perwira tinggi besar yang memegang golok besar pula, mata­nya yang tinggal sebelah bercahaya me­ngerikan.

Mereka yang berada di dalam gua sudah siap, Bu-eng Sin-kai sudah meme­gang senjatanya, yaitu sebatang tongkat bambu kuning yang kedua ujungnya di­pasangi baja runcing. Gak Kiong kakek itu memegang pedangnya di tangan kanan dan cucunya dipondong di lengan kiri. Puterinya juga sudah memegang pedang. Mantunya, yang lumpuh lengan kanannya karena tulang pundaknya patah, meme­gang pedang dengan tangan kiri, ber­jongkok dekat dengan Kwat Lee, Si Pengemis Kurus yang berjuluk Bu-eng Sin-kai itu.

“Siap! Kita menyerbu keluar. Satu, dua, tiga....!”

Meloncatlah mereka keluar, Lulu yang memiliki gin-kang istimewa itu melompat paling dulu menerjang ke depan, di tengah-tengah. Sedangkan Bu-eng Sin-kai didampingi mantu Gak-piauwsu menerjang ke kiri. Kakek Gak bersama puterinya menerjang ke kanan.

“Tangkap pemberontak! Bunuh....!” Terdengar teriakan riuh-rendah dan sinar obor bergerak-gerak menyilaukan mata ketika pasukan itu mengepung dan bergerak ke depan.

Karena mendengar cerita Kakek Gak, dan mendengar pula ucapan perwira mata satu, timbul kebencian di hati Lulu terhadap perwira ini. Maka begitu ia menerjang ke luar dan disambut oleh dua orang tentara Mancu, dengan mudah ia merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan, berhasil merampas sebatang pedang kemudian ia meloncat ke depan perwira yang memegang golok besar itu dan terus menusuk dengan pedang rampasannya ke arah perut yang gendut itu.

“Ha-ha-ha, pemuda hijau berani bertingkah?” Perwira mata satu itu meng­gerakkan goloknya dengan pengerahan tenaga dan ia yakin bahwa sekali tang­kis, kalau tidak mematahkan pedang lawan sedikitnya ia tentu akan mampu membuat pedang itu terlepas.

“Heh....? Ahhhhh....!” Ia meloncat ke belakang sambil mengelebatkan golok­nya saking kaget karena pedang yang tadi menusuk dan ditangkisnya itu tiba-tiba menyeleweng, mengelakkan tangkis­annya dan terus membacok lehernya! Tahulah perwira ini bahwa “pemuda” itu tak boleh dipandang ringan.

“Hemmm, Twa-to-kwi Liok Bu Tang, dumeh matamu cuma satu engkau berani memandang sebelah mata kepadaku?” ejek Lulu yang menerjang terus dengan hebatnya. Gerakannya memang gesit sekali dan ilmu pedangnya amat indah. Di bawah sinar api obor, pedang rampas­annya berubah menjadi gundukan sinar bundar seperti payung yang melayang maju ke arah Liok Bu Tang.

“Setan alas! Kaukira aku takut padamu?” Biarpun mulutnya berkata demi­kian dan goloknya diputar cepat untuk menangkis dan balas menyerang, namun kenyataannya perwira ini merasa lega ketika empat orang tangan kanannya, yaitu perwira-perwira rendahan yang menyaksikan pula kelihaian Lulu, maju mengeroyok gadis itu dan membantunya.

Adapun Bu-eng Sin-kai Kwat Lee yang menerjang ke kiri bersama mantu Kakek Gak, juga menghadapi pengeroyok­an belasan orang tentara. Kwat Lee dengan tongkat bambunya mengamuk hebat, sebentar saja sudah berhasil me­robohkan empat orang pengeroyok. Ada­pun mantu Kakek Gak itu biarpun hanya dapat menggunakan tangan kiri, namun ia masih dapat mempertahankan setiap serangan yang dapat ia elakkan atau tangkis. Namun hatinya gelisah dan beberapa kali ia menoleh ke kanan di mana ia melihat isterinya dan ayah mertuanya, yang menggendong puterinya juga di­keroyok banyak orang.

Lulu marah bukan main menghadapi pengeroyokan para perwira Mancu ini. Lenyap sama sekali perasaan tidak enak bahwa ia memusuhi bangsa sendiri dan kini yang terasa di hatinya hanyalah bahwa ia menentang orang-orang yang jahat, membela orang-orang yang benar. Berkat latihan-latihannya di Pulau Es, gin-kangnya jauh melebihi para pengero­yoknya dan ketika ia mendapat kesem­patan, ketika tubuhnya melayang tinggi, dari atas ia menukik ke bawah, pedang­nya berbentuk gulungan sinar seperti payung melindungi tubuhnya dan tangan kirinya memukul ke arah seorang pe­ngeroyok dengan pengerahan tenaga sin-kangnya.

“Plakkkkk!” Orang itu roboh dengan kepala retak dan tewas di saat itu juga. Lulu merasa kecewa bahwa yang tewas itu ternyata bukan Si Mata Satu, karena dari atas tadi ia hanya menyerang pe­ngeroyok terdekat.

“Keparat! Kepung, bunuh!” teriak perwira mata satu dengan marah ketika melihat seorang pembantunya tewas.

Diam-diam ia pun merasa gentar karena tidak menyangka bahwa “pemuda hijau” itu ternyata demikian lihainya. Atas teriakannya ini, dua orang perwira rendahan maju menggantikan seorang yang roboh. Kini Lulu dikeroyok oleh enam orang termasuk Si Mata Satu! Ia me­ngertak gigi, memutar pedang dan ber­gerak seperti halilintar cepatnya dan kembali dua orang telah kena sabetan pedangnya sehingga yang seorang putus lengannya, yang seorang lagi pecah pe­rutnya. Begitu roboh dua orang, penggan­ti mereka sudah cepat muncul dan kem­bali Lulu dikeroyok dengan kepungan ketat.

Pengemis kurus Kwat Lee juga meng­amuk secara hebat. Empat orang korban­nya kini bertambah menjadi delapan orang, kesemuanya perajurit-perajurit Mancu yang sungguhpun tidak selihai para perwira yang mengeroyok Lulu ke­pandaiannya, namun karena jumlahnya amat banyak, maka ia tidak dapat maju dan akhirnya terhalang oleh tumpukan mayat-mayat lawan yang dirobohkannya.

Pertandingan sudah berjalan hampir dua jam. Mantu Kakek Gak yang me­nengok lagi ke kanan mengeluarkan teri­akan ngeri ketika ia melihat isterinya roboh oleh tusukan tombak dari belakang. Ia tidak mempedulikan lagi larangan Kwat Lee lalu meloncat dan lari menuju ke kanan. Ia melihat isterinya roboh mandi darah dan pada saat ia hendak menubruk isterinya, Kakek Gak berteriak keras dan ketika mantunya menengok, ternyata ayah mertuanya itu roboh bersama-sama puterinya, keduanya men­jadi sasaran bacokan banyak golok dan pedang!

Dengan buas laki-laki ini meloncat dan mengamuk dengan pedang di tangan kirinya. Kemarahannya, kesedihan, dan dendam yang meluap-luap membuat ge­rakan pedangnya berlipat ganda kekuatan­nya dan berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok sebelum ia sendiri roboh dengan tubuh penuh luka. Habislah riwa­yat keluarga Gak yang gagah perkasa itu!

Kini tinggal Lulu dan Kwat Lee yang melanjutkan perlawanan. Pengemis ini mengerti bahwa keluarga Gak tak dapat ditolong lagi, maka ia cepat menggeser kedudukannya dan akhirnya berhasil men­dekati Lulu. Setelah dekat ia berteriak.

“Lihiap! Kita mengadu punggung, sa­ling melindungi!”

Lulu mengerti maksud pengemis itu dan ia pun lalu berdiri membelakangi Kwat Lee dan biarpun punggung mereka tidak sampai bersentuhan, masih terpisah kira-kira satu meter, namun dengan keduduk­an mereka itu, tidak ada pengeroyok yang akan dapat menyerang mereka dari belakang sehingga bagi mereka akan lebih dapat melakukan pertahanan yang kuat.

Liok Bu Tang si Mata Satu sudah men­jadi marah bukan main. Terlalu banyak ia kehilangan anak buah, dan hasilnya hanya dapat membunuh keluarga Gak yang empat orang jumlahnya, empat orang itu pun yang seorang anak kecil dan seorang lagi sudah patah tulang pun­daknya. Sungguh memalukan! Tidak ku­rang dari lima belas orang anak buahnya tewas.

Si Mata Satu dan perwira rendahan yang tinggal empat lagi, dibantu oleh dua puluh lebih anak buahnya, kini mengurung Lulu dan Kwat Lee. Lebih ma­rah lagi hati Si Mata Satu ketika men­dengar pengemis itu menyebut lihiap kepada “pemuda” itu. Hanya seorang gadis remaja!Para pengepung mengangkat senjata, mengurung dan mencari kesempatan baik, atau menunggu komando. Lulu dan Kwat Lee melintangkan senjata di depan dada, siap melawan mati-matian. Keadaan amat menegangkan. Mata kedua orang yang dikeroyok ini tidak berkedip, memandang para pengurung di bawah sinar obor yang kini dipegang oleh puluhan orang tentara yang tidak ikut mengeroyok, karena tidak kebagian tempat dan hanya berdiri di lingkungan luar dengan obor di tangan kiri dan senjata di tangan kanan.

“Serbu....!” Si Mata Satu memberi aba-aba seperti kalau biasanya ia mem­beri komando pasukannya menyerbu ba­risan musuh.

“Trang-trang-trang-cring-cring....!” Sua­ra bertemunya senjata nyaring memekak­kan telinga dan tampak bunga api mun­crat-muncrat disusul teriakan-teriakan orang dan robohnya beberapa orang pe­ngeroyok. Kenbali kedua orang yang ge­rakannya amat cepat tadi berdiri diam karena para pengeroyok juga diam dan agak menjauh, namun pengurungan tetap ketat. Kembali mereka seperti patung, saling pandang dan menanti kesempatan. Keadaan lebih menegangkan daripada tadi.

“Lihiap, berapa ekor kaurobohkan?”

Lulu hampir tertawa. Benar-benar luar biasa sekali pengemis ini. Dikepung seperti itu, terancam maut, masih sem­pat bertanya yang merupakan kelakar yang menyegarkan untuk mengusir ketegangan.

“Lima.... ekor!” jawabnya, lupa bahwa yang disebut lima ekor itu adalah lima orang perajurit bangsanya.

“Aku hanya empat ekor, kalah satu ekor. Wah, engkau hebat, Lihiap.”

Melihat sikap tenang dan mendengar percakapan mereka, seperti hampir me­ledak saking marahnya dada Liok Bu Tang. Ia marah sekali dan menganggap anak buahnya tidak becus. Mengeroyok dua orang saja sampai sekali gebrakan roboh sembilan orang!

“Serbu dan serang terus sampai han­cur tubuh mereka!” teriaknya sambil memutar golok. Kembali terdengar suara nyaring bertemunya senjata dan sekali ini pertandingan benar-benar amat hebat. Fihak pengeroyok terlalu banyak dan biarpun sewaktu-waktu si pengemis kurus masih sempat bertanya berapa ekor yang dijatuhkan Lulu, namun jumlah korban mereka makin berkurang dan mereka menjadi lelah sekali. Berjam-jam mereka dikeroyok dan jumlah lawan tidak pernah berkurang karena begitu ada yang roboh, tentu ada pula yang menggantikannya. Mereka berdua tidak hanya mandi keringat, juga mandi darah, sebagian besar darah lawan, sebagian kecil darah mere­ka sendiri yang keluar dari luka-luka bekas bacokan senjata para pengeroyok. Paha kiri Bu-eng Sin-kai Kwat Lee telah terbacok golok Si Matu Satu, hampir mengenai tulangnya, juga dada kanannya somplak dagingnya terkena bacokan pe­dang. Darah membasahi seluruh dada dan kaki kiri. Akan tetapi pengemis ini tak pernah mengeluh, terus mengamuk de­ngan tongkat bambunya. Lulu juga terluka, pundaknya tertusuk mengeluarkan darah dan pangkal pahanya di belakang, di bawah pinggul, kena diserempet pe­dang sehingga kulitnya terkupas dan me­ngeluarkan darah pula. Seperti pengemis yang sikapnya amat gagah dan mem­bangkitkan semangat itu, Lulu tidak mau mengeluh dan terus mengamuk.

“Jangan khawatir, Lihiap. Biarpun mati, kita sudah mempunyai banyak pe­ngawal! Kita sudah untung besar!” demikian pengemis itu berkata gembira.

Lulu kagum bukan main. “Sin-kai, aku akan bangga mati di samping seorang gagah perkasa seperti engkau!” kata Lulu sambil menusukkan pedangnya sampai tembus di dada seorang perajurit. Akan tetapi keti­ka ia mencabut podangnya, terdengar suara “krekk” dan pedangnya patah! Ternyata pedangnya itu terselip di tulang iga lawan dan ketika ia cabut, tertekuk dan patah.

Pada saat itu, golok Liok Bu Tang menyambar ganas. Lulu terkejut mendengar desing angin golok dari samping ini. Cepat ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan sampai jauh, keti­ka meloncat bangun tangan kanannya menghantam kepala seorang lawan sampai pecah dan tangan kirinya merampas pe­dang orang itu. Dia telah bersenjata lagi!

“Bukan main! Gerakammu luar biasa indah dan lihainya, Lihiap!” Bu-eng Sin-kai Kwat Lee memuji akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini ia sudah dihujani serangan dari para pengeroyok yang mengepungnya. Biarpun napasnya sudah terengah-engah, terpaksa ia mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya. Kini keadaan kedua orang gagah ini menjadi lemah karena gerakan Lulu yang menggelundung tadi memisahkan dia dengan Kwat Lee sehingga kini para pengeroyok membuat gerakan mengurung menjadi dua rombongan. Dikurung seperti itu tentu saja lebih berbahaya dan lebih sukar melindungi tubuh, juga membutuh­kan pengerahan tenaga lebih banyak un­tuk memutar senjata ke belakang dan untuk berloncatan.

Saking lelahnya ditambah kehilangan darah, Lulu dan Kwat Lee sudah hampir tidak kuat menggerakkan senjata mereka lagi. Mereka hanya mengandalkan kelincahan mereka yang otomatis, berloncatan ke sana ke sini untuk menghindarkan diri dari sen­jata lawan yang datang bagaikan hujan.

Melihat keadaan dua orang yang dikeroyok itu, Liok Bu Tang si Mata Satu yang merasa sakit hati dan penasaran, ingin menawan dua orang itu. Ia lalu menerjang dengan golok besarnya, meng­hantam tongkat di tangan Kwat Lee. Terdengar suara keras dan tongkat pengemis itu mencelat entah ke mana. Ta­ngannya yang sudah kehabisan tenaga tidak mampu lagi mempertahankan han­taman golok yang amat kuat itu. Liok Bu Tang kini menyerang Lulu dan seperti juga pengemis itu, dalam pertemuan tenaga, sungguhpun kekuatan sin-kang gadis ini sebetulnya lebih hebat, namun karena tenaganya habis, pedangnya patah dan terpaksa ia membuang pedang bun­tung dari tangannya.

“Jangan bunuh mereka. Tangkap hidup-hidup!” Liok Bu Tang berseru girang. Dia amat marah dan membenci kedua orang itu dan kalau membunuh mereka, ia anggap terlalu enak bagi mereka. Tidak, mereka harus disiksa dulu dan gadis remaja yang cantik itu.... ah, dia sendiri yang akan “menanganinya”.

Perintah Si Mata Satu itu menyela­matkan nyawa Lulu dan Kwat Lee. An­daikata tidak ada perintah itu, dalam keadaan bertangan kosong, dikeroyok begitu banyak tentara bersenjata, dalam keadaan sudah amat lelah, tentu mereka takkan dapat bertahan lama. Kini para pengeroyok itu menyimpan senjata mere­ka dan menyerbu dengan tangan kosong. Tentu saja Lulu dan Kwat Lee tidak mau menyerah begitu saja dan menyambut mereka dengan hantaman-hantaman. Kem­bali mereka merobohkan beberapa orang sebelum Kwat Lee terkulai roboh saking lelahnya, sedangkan Lulu sudah merasa pening kepalanya, pandang matanya ber­kunang akan tetapi ia masih bertahan terus.

Pada saat itu terdengar suitan keras sekali dan para pengeroyok tiba-tiba menjadi kacau-balau oleh serbuan delapan orang berpakaian pengemis. Namun delapan orang itu ternyata lihai bukan main, apalagi seorang di antara mereka, se­orang kakek jembel yang sudah tua se­kali dan tubuhnya kurus kering tinggi, rambut dan jenggotnya yang sudah putih itu riap-riapan dan kakinya telanjang. Dengan senjata sebatang tongkat butut pengemis tua ini di samping tujuh orang temannya mengamuk dan setiap orang yang dekat dengannya tentu roboh.

Ketika Twa-to-kwi Liok Bu Tang melihat kakek tua ini, dia terkejut dan cepat meloncat mendekati Lulu, meng­gerakkan goloknya membacok. Lulu yang sudah lelah sekali, mengelak ke kiri, akan tetapi sebuah pukulan dari belakang mengenai punggungnya dan ia roboh menelungkup. Ketika ia menggerakkan ke­pala menoleh, ia melihat Si Mata Satu mengangkat golok disabetkan ke arah lehernya. Lulu tidak berdaya lagi, dan ia membelalakkan mata menanti datangnya maut yang tak terhindarkan lagi itu.

“Tranggggg....!” Golok itu terpental dan Si Mata Satu cepat melompat tinggi dan terus kabur. Kakek tua renta yang menangkis golok dengan tongkat bututnya itu mengamuk dan menyambar tubuh Lulu yang sudah pingsan. Gadis ini begitu kaget dan juga bersyukur bahwa pada detik terakhir ia tertolong, maka tekanan batin karena kaget dan girang ini mem­buat tubuhnya yang sudah lelah dan le­mah kehilangan banyak darah tak kuat bertahan dan ia pingsan.

Lulu tidak tahu bahwa dia dan Kwat Lee tertolong, dan akhirnya dibawa lari delapan orang pengemis lihai itu ke da­lam hutan-hutan di kaki Gunung Lu-liang­-san. Dalam keadaan pingsan ia bermimpi bertanding dikeroyok banyak orang di samping kakaknya, dan hatinya girang bukan main karena amukan kakaknya membuat semua pengeroyok lari tunggang ­langgang!

Kita tinggalkan dulu Lulu yang di­tolong oleh para pengemis dan dibawa pergi untuk dirawat luka-lukanya dan mari kita mengikuti pengalaman Han Han ber­sama Kim Cu. Telah diceritakan di bagi­an depan betapa kedua orang muda itu diajak pergi oleh Toat-beng Ciu-sian-li menuruni Puncak In-kok-san. Agaknya nenek yang memiliki watak sadis ini sengaja membawa Han Han dan Kim Cu melalui lereng-lereng gunung yang terjal dan sukar. Tentu saja Han Han yang baru saja buntung kakinya dan masih lemah, menderita kurang darah dan nyeri, sengsara sekali harus mengikuti nenek itu melalui jalan yang sukar. Ia terpincang-pincang dibantu tongkatnya dan untung di sampingnya ada Kim Cu yang selalu menggandeng dan membantunya apabila melalui jalan yang amat sukar. Cinta kasih gadis ini yang jelas tampak dalam sikap dan pembelaannya, benar-benar amat mengharukan hati Han Han.

Ketika mereka tiba di sebelah hutan, tiba-tiba nenek itu berhenti, menenggak araknya dan menarik napas panjang. “Aaahhhhh, tidak sangka engkau mati di sini....!”

Han Han dan Kim Cu yang juga berhenti, memandang nenek itu dan mengira bahwa tentu nenek itu akan turun tangan membunuh mereka di tempat sunyi itu. Mereka hanya menanti nasib, karena maklum bahwa melawan pun tidak akan ada gunanya. Akan tetapi di dalam hati dua ordng muda itu terkandung tekad yang sama. Han Han mengambil keputus­an untuk menggunakan sisa hidupnya ini untuk membela Kim Cu dan kalau nenek itu turun tangan hendak membunuh Kim Cu, ia akan melawannya, biarpun kaki­nya tinggal satu. Demikian pula Kim Cu, dia akan membela Han Han kalau hendak dibunuh gurunya dan ia akan melawan gurunya!

Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi! Suara itu halus dan terdengar seperti amat jauh, akan tetapi kata-kata­nya jelas terdengar oleh mereka bertiga.



“Cinta....!

Betapa besar kekuasaanmu

menyelimuti seluruh alam mayapada

menunggang angin menyelam air

terkandung dalam api tanah dan kayu

engkaulah penggerak perputaran ngo-heng

engkaulah imbangan Im-yang!



Cinta bertahta di langit

langit hanya memberi tanpa meminta

nafsu bertahta di bumi

memberi sedikit akhirnya

minta kembali seluruhnya!”



Mendengar kata-kata dalam nyanyian itu, diam-diam Han Han terkejut. Kata-kata yang luar biasa, dan tidak merupa­kan pelajaran apa pun juga. Seorang tosukah orang itu? Ataukah seorang hwe­sio? Agaknya bukan. Kim Cu yang mendengar suara itu pun terheran dan me­mandang gurunya, jelas bahwa gadis ini pun tidak mengenal suara siapa yang bernyanyi itu.

Toat-beng Ciu-sian-li menghentikan langkahnya, memandang ke depan dengan kening berkerut. Sepasang mata nenek ini berkilat dan ia menenggak arak dari gucinya sebelum berkata dengan suara melengking tinggi.

“Bukankah Im-yang Seng-cu di depan itu? Kalau benar, lekas keluar jika ada urusan dengan aku, jangan sembunyi-sembunyi seperti tikus!”

Terdengar suara ketawa dan tiba-tiba muncullah seorang kakek yang wa­jahnya kelihatan berseri dan bersih kare­na tidak ada kumis jenggotnya, pakaian­nya kuning sederhana namun bersih, ka­kinya telanjang dan tangan kirinya me­megang sebatang tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga. Han Han ter­kejut dan girang ketika mendengar di­sebutnya nama kakek ini, karena ia ter­ingat kepada sahabat-sahabat baik yang dijumpainya di rumah Pek-eng-piauwkiok di kota Kwan-teng, yaitu Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li. Maka tanpa disadarinya ia berseru.

“Ah, jadi locianpwe inikah Guru Sin Kiat dan Soan Li?”

Mendengar seruan ini, kakek itu me­mandang Han Han, kelihatan tercengang dan meneliti Han Han dari atas sampai ke bawah, pandang matanya berhenti pada kaki buntung itu. Akan tetapi mu­lutnya tidak berkata sesuatu kepada Han Han, bahkan dia lalu menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li dan berkata.

“Sian-li, apakah selama belasan tahun ini Sian-li baik-baik saja?”

Nenek itu mendengus dan mengerut­kan kening, kemudian memandang tajam dan bertanya, “Im-yang Seng-cu, mau apa engkau berkeliaran di sini?” Nadanya penuh teguran dan jelas bahwa pertemu­an ini tidak menyenangkan hatinya.

Im-yang Seng-cu tertawa dan merogoh bajunya, mengeluarkan sebungkus hioswa sambil berkata, “Kebetulan saja aku ber­temu dengan Sian-li di sini dalam per­jalananku hendak menjenguk dan menyembahyangi kuburan sahabatku Jai-hwa-sian.”

“Jai-hwa-sian...? Dia.... dia.... Kong-kongku....!” Han Han berseru, terheran-heran. Benarkah kongkongnya yang berjuluk Jai-hwa-sian telah mati dan kuburannya berada di tempat ini?

Ucapan Han Han ini sungguhpun tidak ada artinya bagi Kim Cu, namun ternyata mengejutkan Toat-beng Ciu-sian-li dan Im-yang Seng-cu. Kakek itu kini memandang Toat-beng Ciu-sian-li dan suaranya tidak ramah lagi ketika ber­tanya.

“Sian-li, apa artinya ini? Kulihat pe­muda ini baru saja menderita buntung kakinya dan kalau dia cucu Jai-hwa-siang engkau hendak apakan dia?”

“Im-yang Seng-cu, berani engkau men­campuri urusanku?” Toat-beng Ciu-sian-li membentak, suara dan pandang mata­nya mengancam, rantai panjang di kedua telinganya bergerak-gerak seperti hidup.

“Mana berani aku lancang mencam­puri urusanmu, Sian-li? Akan tetapi urus­an yang menyangkut diri cucu sahabatku Jai-hwa-sian, tidak bisa tidak harus kucampuri. Kalau aku diam saja, aku malu bertemu dengan kuburannya!”

“Im-yang Seng-cu, dengar baik-baik. Aku sama sekali tidak tahu bahwa bocah ini adalah cucunya, dan dia ini adalah muridku yang murtad, melarikan diri dari perguruan maka telah menerima hukuman. Adapun gadis ini juga muridku yang membelanya, maka kini keduanya harus dihukum mati.”

Im-yang Seng-cu memandang Kim Cu dan Han Han bergantian. Pantas saja begitu bertemu dengan Han Han tadi ia tercengang menyaksikan persamaan pe­muda itu dengan sahabatnya yang telah tewas. Kiranya bocah ini adalah cucu Jai-hwa-sian! Dan mata kakek ini yang awas dapat pula melihat kenekatan di dalam sikap dua orang muda itu, melihat pula pandang mata penuh cinta kasih. Ia tersenyum dan menjawab.

“Toat-beng Ciu-sian-li, engkau tahu bahwa aku cukup menghormatimu sebagai golongan lebih tua, akan tetapi engkau pun cukup maklum bahwa tak mungkin aku membiarkanmu mengulangi perbuatanmu dahulu terhadap cucu sahabatku Jai-hwa-sian. Eh, bocah berkaki buntung! Siapakah namamu?”

Han Han tidak mengharapkan pertolongan siapapun juga, dia mengaku cucu Jai-hwa-sian tadi pun karena tanpa disadari dan saking kagetnya mendengar disebutnya nama itu. Kini mendengar pertanyaan itu, diam-diam ia tersenyum. Ia dapat mengenal orang dan biarpun kakek ini bertanya secara kasar, namun ia dapat menangkap maksudnya yang baik, maka dengan tenang ia menjawab, “Namaku Sie Han, locianpwe.”

Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh mengejek. “Dia she Sie dan mengaku cucu Jai-hwa-sian, hi-hi-hik! Im-yang Seng-cu, setua ini engkau mudah tertipu se­orang bocah!”

Akan tetapi kakek itu tidak mempedulikan ejekan Toat-beng Ciu-sian-li, dan sambil menatap tajam wajah Han Han, ia bertanya lagi, “Siapakah nama Jai-hwa­-sian yang kausebut Kong-kongmu itu?”

“Namanya Sie Hoat.”

“Hi-hi-hi, heh-heh! Kebohongan yang dipaksakan, sungguh menggelikan!” kembali nenek itu mengejek, lalu menenggak arak dari gucinya.

“Dan siapa nama Ayahmu?” Im-yang Seng-cu bertanya lagi.

Han Han mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah seorang pesakitan yang diperiksa untuk kemudian dijatuhi hukuman, dan seolah-olah ia hendak meng­gunakan nama Jai-hwa-sian untuk me­nyelamatkan diri. Biarpun Jai-hwa-sian itu kakeknya seperti yang diceritakan Sie Leng kepadanya, namun ia tidak suka kepada kakeknya yang amat jahat itu. Dia tidak sudi mencoba untuk menolong nyawanya dengan menggunakan nama kakeknya.

“Dengarlah, locianpwe dan juga eng­kau, Toat-beng Ciu-sian-li. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku hendak meng­gunakan nama Jai-hwa-sian untuk menyelamatkan diri dengan mengaku sebagai cucunya! Aku hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya yang juga belum lama kudengar dari Enciku. Ayahku bernama Sie Bun An yang dulu tinggal di kota Kam-chi dan menurut Enciku, Ka­kekku bernama Sie Hoat berjuluk Jai-hwa-sian. Dan biarpun dia itu Kakekku, aku tidak sudi menyelamatkan diri dengan berlindung di belakang namanya.”

Im-yang Seng-cu memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar, diam-diam ia kagum sekali melihat sikap dan mendengar ucapan Han Han.

Teringatlah ia akan sahabatnya itu dan ia menarik napas panjang.

“Tak salah lagi.... tak salah lagi, ia mewarisi kenekatan dan keganasan Keluarga Suma.... akan tetapi mewarisi kekerasan hati dan kegagahan Keluarga Kam....! Sian-li, terpaksa aku menentang kalau engkau hendak membunuh mereka!”

Toat-beng Ciu-sian-li mendengus. “Hemmm, Im-yang Seng-cu, engkau tidak tahu diri! Andaikata benar Han Han ini cucu Jai-hwa-sian dan ada alasanmu melindunginya, akan tetapi Kim Cu ada­lah muridku dan kalau aku hendak mem­bunuhnya sebagai muridku sendiri, setan manakah yang berhak mencampuri?”

“Bukan setan, melainkan akulah yang akan menentangmu, Ciu-sian-li!” Tiba-tiba Han Han berkata. “Engkau tidak boleh membunuh Kim Cu. Dia tidak ber­dosa. Kalau mau bunuh, kau bunuhlah aku dan bebaskan Kim Cu!”

“Kalau subo hendak membunuh Han Han, terpaksa teecu akan menentang dan melawan subo untuk membelanya!” Tiba-tiba Kim Cu juga berseru sambil menggandeng pemuda itu.

Toat-beng Ciu-sian-li kelihatan kaget, mukanya merah sekali dan matanya ter­belalak. Sejenak keadaan sunyi dan te­gang, kemudian terpecah oleh suara ke­tawa Im-yang Seng-cu, “Ha-ha-ha-ha. Cinta, betapa besar kekuasaanmu....!” Tubuhnya bergerak dan ia sudah meloncat di dekat Han Han menghadapi nenek itu, lalu berkata, “Sian-li, apakah engkau masih berkeras dan hendak mencoba-coba melawan kami bertiga?”

Kemarahan Toat-beng Ciu-sian-li me­muncak, matanya berkilat menyambar-nyambar ke arah tiga orang itu berganti-ganti. Akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh yang hanya menuruti nafsu amarahnya. Tidak, Toat-beng Ciu-sian-li amat cerdik dan otaknya yang sudah masak itu penuh dengan perhitungan. Ia mengenal siapa adanya Im-yang Seng-cu yang biar­pun merupakan tokoh murtad dari Hoa-san-pai, namun memiliki ilmu kepandaian hebat karena tokoh ini memetik banyak sekali ilmu-ilmu silat tinggi dari luar yang ia gabung dengan ilmu silat Hoa-san-pai, sehingga mungkin tingkat kepan­daiannya sekarang tidak berada di bawah tingkat supeknya sendiri yaitu Thian Cu Cinjin ketua Hoa-san-pai. Andaikata ia masih dapat mengatasi Im-yang Seng-cu dan tingkatnya masih menang sedikit, akan tetapi di situ masih ada Kim Cu yang telah mewarisi sebagian besar ke­pandaiannya, belum dihitung lagi Han Han yang biarpun buntung namun sesung­guhnya memiliki kepandaian yang aneh dan luar biasa. Masih bergidik nenek ini kalau mengingat betapa ketika ia ber­tanding melawan Han Han di kota raja, pemuda itu dapat “memecah diri” men­jadi tiga orang, kepandaian yang hanya ia dengar dalam dongeng saja, seperti yang dimiliki Sun Go Kong, atau Kauw Cee Thian Si Raja Monyet tokoh dalam dongeng See-yu! Kalau mereka ini maju dan sampai kalah, hal ini benar-benar akan amat memalukan. Kemarahannya dapat ia tekan dengan pertimbangan yang cerdik, dan wajah yang keruh itu tiba-tiba berseri-seri, kemudian terdengar ia menarik napas panjang dan berkata.

“Im-yang Seng-cu, engkau yang penuh dengan muslihat dan akal bulus! Engkau tahu bahwa aku tidak akan pernah mau membunuhmu, mengingat betapa engkau dahulu adalah seorang bocah yang dika­sihi mendiang suamiku. Biarlah mengingat akan suamiku, aku memaafkanmu. Tentang bocah yang dua orang ini, hi-hi-hik, aku khawatir apakah? Han Han telah buntung, tiada gunanya dan kalau Kim Cu lebih senang hidup sengsara di sam­pingnya daripada mati sebagai murid yang berbakti, terserah. Kalau aku meng­hendaki, kelak mereka akan dapat lari ke manakah? Engkau pun tidak mungkin melindungi mereka selamanya. Hi-hi-hik!” Setelah berkata demikian, Toat-beng Ciu-sian-li melangkah pergi, rantai panjang di kedua telinganya mengeluarkan bunyi berkerincingan.

Setelah nenek itu pergi, Han Han tidak dapat menahan lagi keinginan tahu­nya dan ia bertanya, “Locianpwe, apakah artinya ucapan locianpwe tentang Keluarga Suma dan Keluarga Kam tadi? Dan apakah benar kuburan Kakekku ber­ada di sini?”

“Engkau mau tahu? Mari ikut bersamaku.” Setelah berkata demikian, Ka­kek itu membalikkan tubuh melangkah pergi menuju ke selatan. Han Han ter­pincang-pincang dibantu tongkatnya meng­ikuti dan Kim Cu cepat menggandeng lengan pemuda itu untuk membantunya. Han Han yang merasa sentuhan tangan Kim Cu menoleh. Mereka berpandangan sejenak dan Han Han melihat betapa sepasang mata gadis itu basah dengan air mata, air mata kebahagiaan bahwa mere­ka telah bebas daripada bencana! Betapa dengan kasih sayang yang mesra pandang mata gadis itu kepadanya. Han Han terharu dan sejenak jari tangannya menggenggam tangan gadis itu. Akan tetapi mereka segera melanjutkan lang­kah agar tidak tertinggal oleh kakek yang berjalan terus tanpa pernah me­nengok kepada mereka.

Kakek itu keluar dari hutan, melalui pantai sebuah telaga kecil dan memasuki hutan di sebelah telaga. Hutan ini amat sunyi dan kecil, pohon-pohon di situ jarang sekali. Tak lama kemudian tibalah kakek itu di depan sebuah gundukan ta­nah kuburan, mengeluarkan hio (dupa), menyalakannya dan bersembahyang. Bung­kusan itu hanya terisi tiga batang dupa. Kakek itu mengacungkan dupa menyala di atas tadi, mulutnya berkemak-kemik seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan bayangan orang yang dikubur di situ, kemudian menancapkan tiga batang dupa berasap itu di atas tanah, di depan batu nisan yang sederhana. “Inilah kubur­an Jai-hwa-sian,” katanya sambil melang­kah mundur dan berdiri sambil terme­nung seolah-olah ia hendak merenungkan masa lalu ketika orang yang kini tinggal kuburannya saja itu masih hidup.

Semenjak ia mendengar cerita encinya betapa jahatnya orang yang menjadi ka­keknya dan berjuluk Jai-hwa-sian itu sehingga encinya sendiri mengakui bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah orang jahat, Han Han merasa tidak suka kepada kakeknya. Kini, melihat kuburan­nya, ia maju menghadapi batu nisan dan karena ia melihat ukiran-ukiran huruf yang sudah hampir tak terbaca pada batu itu, ia lalu duduk di atas tanah depan kuburan. Dengan teliti ia memandang ukiran huruf-huruf itu dan membaca: MA­KAM JAI-HWA-SIAN SUMA HOAT.

Berdebar jantung Han Han membaca nama itu. Suma Hoat? Mengapa she-nya Suma, bukan Sie? Teringat ia akan arca di In-kok-san yang harus disembah-sembah para murid In-kok-san, arca guru Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang bernama Suma Kiat! Dan teringat pula ia akan dongeng yang dituturkan Kim Cu bahwa sukong mereka itu mempunyai seorang putera yang bernama Suma Hoat dan yang menghilang entah ke mana!

Melihat wajah pemuda itu, Kim Cu cepat menghampiri dan ikut membaca tulisan itu. Tiba-tiba gadis itu meloncat mundur dan menoleh kepada Im-yang Seng-cu sambil berkata.

“Ahhh.... ini kuburan supek yang menjadi putera sukong Suma Kiat! Kira­nya sudah meninggal dan dikubur di sini!”

“Ini bukan kuburan Kakekku. Kakek­ku she Sie, bukan she Suma!” kata Han Han, penasaran.

Im-yang Seng-cu yang berdiri dengan tongkat di tangan kiri tersenyum, lalu menundingkan telunjuk kanannya kepada Han Han sambil berkata, “Dan memang sesungguhnya engkau bukan she Sie, me­lainkan Suma. Engkau bukan Sie Han, akan tetapi Suma Han!”

Wajah Han Han menjadi pucat. De­ngan limbung ia bangkit berdiri, dibantu tongkatnya dan memandang kakek itu dengan mata tajam penuh selidik. Diam-diam Im-yang Seng-cu menaruh hati iba kepada pemuda ini. “Marilah kita duduk dan dengarkan penuturanku, Suma Han.”

Han Han dapat menekan gelora ba­tinnya dan dengan muka masih pucat ia duduk di depan kuburan itu. Kim Cu yang memegang lengan Han Han duduk di sebelahnya sedangkan Im-yang Seng-cu duduk pula di atas batu, menghadapi mereka. Ia menarik napas panjang, mengangguk-angguk dan berkata.



“Benar, engkau adalah Suma Han. Ini adalah kuburan Kakekmu yang bernama Suma Hoat, putera tunggal Suma Kiat yang menjadi Guru Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Jadi Suma Kiat adalah Kakek Buyutmu, sedangkan Toat-beng Ciu-sian-li tadi, yang menjadi selir Suma Kiat, adalah Nenek Buyutmu.” Han Han mendengar kata-kata ini seperti dalam mimpi.

“Akan tetapi, locianpwe. Kalau benar aku keturunan Suma, mengapa Ayahku bernama keturunan Sie?” ia membantah, ragu-ragu.

“Hal itu tidak mengherankan dan mudah saja diduga. Suma Hoat, Jai-hwa-sian itu, semoga Tuhan mengampuni sahabatku itu, sungguhpun seorang jantan gagah perkasa, ditakuti lawan, memiliki kelemahan. Ia tidak dapat menahan nafsunya apabila bertemu wanita sehingga banyaklah ia mengganggu wanita, per­buatan sesat yang dilakukannya karena kesadarannya menjadi buta oteh nafsu berahi, sehingga ia dijuluki Jai-hwa-sian. Jangankan wanita biasa penduduk desa, biarpun puteri dalam istana kaisar tentu akan didatanginya kalau hatinya sudah tertarik! Mungkin sekali, dan hal ini aku tidak meragukan, Ayahmu terlahir dari seorang di antara wanita-wanita yang diganggunya. Karena Kakekmu yang ber­she Suma itu banyak dimusuhi orang, dan mungkin karena keluarga Nenekmu tidak suka menggunakan she Suma, maka Ayah­mu, putera Suma Hoat, diberi she Sie. Aku yakin akan kebenaran dugaanku ini, melihat betapa wajahmu mirip sekali dengan sahabatku, terutama pandang matamu. Dia tampan, banyak wanita jatuh hati kepadanya, akan tetapi dia hanya mengejar wanita yang menarik hatinya.”

Kakek itu lalu bercerita tentang Jai-hwa-sian Suma Hoat. Menurut Im-yang Seng-cu, Suma Hoat adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, karena seperti juga Im-yang Seng-cu sendiri, Suma Hoat merupakan se­orang petualang dan perantau yang selalu memperdalam ilmu-ilmunya dan tidak segan-segan untuk mencangkok ilmu dari lain cabang. Mereka bersahabat ketika keduanya berusaha mencari kakek sakti Koai-lojin. Keduanya berhasil bertemu kakek sakti seperti dewa itu dan diberi petunjuk sehingga mereka menjadi makin lihai. Juga mereka berdua sering kali berjuang bahu-membahu menentang ke­jahatan-kejahatan. Sayang sekali, Suma Hoat tidak dapat mengendalikan nafsu berahinya seperti nafsu-nafsu lain yang sudah dapat ia kendalikan, bahkan ia menjadi hamba nafsu berahi ini yang sering kali menggelapkan pikirannya, membuat ia nekat mendapatkan wanita yang disukanya, baik wanita itu gadis, janda maupun isteri orang!

“Darah Suma yang mewariskan watak seperti itu,” kata pula Im-yang Seng­-cu. “Semenjak nenek moyangnya dahulu, Keluarga Suma ini selalu dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw karena watak mereka yang tidak baik, semenjak Pangeran Suma Kong nenek moyangmu. Akan tetapi, di tubuh Kakekmu ini mengalir pula darah keluarga pendekar yang turun-temurun menggemparkan dunia, yaitu Keluarga Kam, keturunan dari Kam Si Ek, seorang Jenderal Kerajaan Hou-han yang gagah perkasa lahir batin dan yang menurunkan pendekar sakti Suling Emas. Engkau masih mempunyai darah Keluarga Kam ini pula, Han Han. Mudah-­mudahan saja kalau terjadi pertempuran dalam sanubarimu antara kedua darah keturunan ini, watak Keluarga Kam yang akan menang.”

Han Han tertegun, wajahnya pucat. Cerita ini terlalu hebat baginya. Kini dia tidak merasa heran lagi mengapa kadang-­kadang ada dorongan dan rangsangan liar dalam hatinya, apalagi kalau dia menge­rahkan sin-kang, seolah-olah ia menjadi buas kalau belum melihat musuh meng­geletak tak bernyawa di depan kakinya. Agaknya itulah dorongan watak Suma. Terkutuk!

“Kalau dia begitu jahat, kenapa lo­cianpwe bisa menjadi sahabatnya?”

“Kelemahannya hanya menghadapi wanita, kalau tidak sedang dikuasai nafsu berahinya, dia seorang pendekar yang gagah. Karena itu, sungguhpun banyak pendekar di dunia kang-ouw yang me­musuhi, tidak sedikit pula yang menjadi sahabatnya, termasuk aku sendiri.”

Han Han penasaran. “Kalau begitu banyak sahabat baiknya seperti locianpwe sendiri, mengapa tidak ada yang menasi­hatinya seperti locianpwe sekarang menasihati saya?”

Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya, tergetar jantungnya ketika ia bertemu pandang dengan pemuda itu. Pandang mata itu! Mata setan! Mata iblis! Belum pernah ia melihat mata orang seperti mata pemuda ini. Celaka, pikirnya, kalau sampai pemuda ini menyeleweng, tentu akan menjadi tokoh dunia yang terjahat di antara semua keturunan Suma yang pernah hidup, pikirnya.

“Siapa berani menasehatinya setelah apa yang ia lakukan terhadap Kian Ti Hosiang yang di waktu itu menjadi tokoh Siauw-lim-pai?”

Han Han teringat akan hwesio tua di Siauw-lim-pai yang amat mengesankan hatinya itu dan segera bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya terhadap hwesio Siauw-lim-pai itu?”

Im-yang Seng-cu menghela napas. “Waktu itu sungguh ia sedang gelap mata. Kian Ti Hosiang adalah seorang berilmu tinggi, tidak hanya memiliki ilmu silat yang sukar dicari bandingnya, juga me­miliki ilmu batin yang amat tinggi. Hwe­sio itu menemui Jai-hwa-sian yang hendak mengganggu puteri seorang pembesar yang terkenal bijaksana, memberinya wejangan-wejangan. Jai-hwa-sian marah dan menantang hwesio itu. Kian Ti Ho­siang mempersilakan ia menyerang asal Jai-hwa-sian berjanji untuk menghentikan perbuatannya yang sesat. Dan Jai-hwa-sian menyerangnya, tanpa ada per­lawanan sama sekali dari orang berilmu itu! Kian Ti Hosiang mengorbankan diri­nya untuk menyadarkan Jai-hwa-sian dan hwesio itu dipukul sampai lumpuh kedua kakinya!”

“Ahhh....! Keparat! Jahat benar dia!” Han Han memaki dan mengepal tinjunya. Kiranya, hwesio tua yang mengesankan hatinya itu lumpuh kedua kakinya karena dipukul kakeknya sendiri, sengaja me­ngorbankan diri untuk menyadarkan ke­sesatan kakeknya yang jahat!

“Hemmm, dia adalah Kakekmu sen­diri!” Im-yang Seng-cu memperingatkan sambil mengerutkan keningnya.

“Dia boleh seribu kali Kakekku, akan tetapi kalau dia melakukan perbuatan­-perbuatan sesat seperti itu, aku tetap akan mengutuknya!” kata Han Han yang marah sekali. Kemudian ia menggerakkan tongkat di tangannya, memukul ke arah batu nisan.

“Bresssss....!” Batu nisan itu hancur berkeping-keping terkena pukulan tongkat Han Han. Im-yang Seng-cu terbelalak menyaksikan betapa pemuda itu dengan senjata hanya sebatang ranting dapat menghancurkan batu nisan, padahal ia melihat sendiri bahwa ranting itu hampir tidak menyentuh batu nisan. Jelas bahwa pemuda itu telah menghancurkan batu nisan dengan tenaga sin-kang yang amat luar biasa kuatnya.

“Kenapa engkau merusak nisan Kakekmu sendiri yang kubuat dengan sengaja agar namanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar