Senin, 12 Mei 2014

cersil terbaru hkkl 21b

Adalah pengharapannya Pau Kun Lun, dengan perkenalkan nama dan muridnya, orang nanti menjadi kagum, akan tetapi ia kecele karena, kecuali orang awasi Liong Cie Khie, semua bersikap tawar saja, sebagai juga mereka belum pernah dengar nama “Pau Kun Lun.” Hanya Seorang saja yang romannya sebagai saudagar, berkata : “Kalau begitu, lauko adalah seorang kangou yang ulung ... “
“Empe, apakah kau ada dari kalangan piautiam?“ seorang lain tanya. “Apakah kau pergi ke Long-tiong untuk kunjungi Kim-kah-sin Ciau Tek Cun?”
Pertanyaan ini membuat jago tua itu tidak senang.
“Kim-kah-sin Ciau Tek Cun itu orang macam apa?” tanya ia. “Mustahil dia ada harganya untuk aku kunjungi?”
Meski ia berkata demikian, didalam hatinya Pau Kun Lun menghela napas dan kata: “Tidak heran selama ini Kun Lun Pay terima penghinaan dari segala anak nuda, sampai namaku Pau Kun Lun hampir tak ada orang yang mengetahuinya … Kasihan sekalian muridku, mereka tidak peroleh kebaikan apa juga dariku, bahkan sebaliknya mereka kena aku rembet-rembet ... “
Jago tua ini menjadi mendongkol sendirinya, dadanya sampai berombak, tapi justeru karena ini, dengan agak jumawa ia pikir: “Tidak bisa tidak, aku mesti tempur Kang Siau Hoo. Aku musti bangunkan pula pamornya Kun Lun Pay!”
Pau Cin Hui duduk atas kudanya dengan hati panas. Maka itu, ketika orang ajak ia bicara pula ia kurang mau memperdulikannya.
Mereka berjalan terus sampai lagi kira-kira tiga-puluh lie, diwaktu mana dan jalanan cabang, dengan tiba-tiba ada muncul selorotan dari enam buah kereta serta sepuluh lebih penunggang kuda, melihat mana, orang-orang yang berlalu-lintas lantas pada tahan kereta mereka.
Menampak demikian, Pau Cin Hui nenjadi heran, ketika ia hendak jalan terus, lantas ada orang yang berkata padanya: “Orang tua, jangan maju terus! Bagilah jalan!”
“Inilah heran!” kata Cin Hui. “Mereka datang dari Utara hendak pergi ke Barat, mereka tidak akan ambil jalanan disini, kenapa kita mesti mengalah?”
Sebelumnya menjawab, datang seorang mendekati jago tua ini, untuk pegang lengannya.
”Orang tua, usiamu sudah begini lanjut, mengapa kau masih belum tahu urusan?” tanya orang itu, “Apakah kau tidak lihat itu bendera hitam dengan huruf-hurufnya putih diatas rombongan kereta? Itulah kereta-keretanya Thio Toa-thay-ya dari Pa-tiong! Siapa saja yang menemui rombongan itu ditengah jalan, dia mesti mengalah untuk membagi jalan! Jikalau kau paksa jalan terus, hingga kau dapat candak mereka, katu bakal cari hajaran! …”
Jago tua itu benar-benar tidak mengenti, ia heran sekali.
“Siapa itu Thio Ta-thayya di Su-coan Utara ini?” ia tanya. “Kenapa pengaruhnya demikian besar?”
Sementara itu Cie Khie, dalam kekuatirannya, menjadi girang, ia menoleh kepada gurunya, terus ia berkata: “Suhu, Thio Toa-thayya itu adalah Thio Hek Hou, dia ada punya banyak uang, bugeenya ia peroleh dari wee Ciu Hou dan Tiat Tiang Ceng berdua. Selama sepuluh tahun Long Tiong Hiap undurkan diri, untuk di Sucoan Utara ini, dia adalah orang gagah nomor satu! Suhu, kita harus bersahabat kepadanya, dia sangat berpengaruh, dia bisa bantu kita mengbadapi Kang Siau Hoo!”
Pau Cin Hui angguk-anggukkan kepala.
“Baik, baik,” sahut ia. “Aku hendak temui padanya, untuk lihat dia ada orang macam apa.”
Dan ia terus larikan kudanya ke depan untuk susul rombongan kereta piau itu.
Cie Khie-pun larikan kudanya mengikuti.
Kelakuan mereka ini membuat semua orang menjadi kaget, tetapi mereka tidak berani turut maju, hanya diantaranya ada yang kata : “Ha, tua-bangka itu rupanya ingin rasai hajarua!”

Jilid 22
KETlKA ITU, Pau Kun Lun telah dapat susul rombongan kereta di sebelah depan. Ia dapat lihat tegas belasan penunggang kuda yang menjadi pengiring rombongan, adalah anak-anak muda, semua dari usia dua-puluh lebih, romannya gagah, semua menggantung golok pada pelananya masing-masing.
Tiga pengiring lihat ada orang mendatangi, dengan lantas mereka memutar tubuh untuk mencegat, mata mereka dibuka lebar.
“He, tua-bangka, mau apa kau majukan kudamu kemari?“ mereka menegor.
Cin Hui mendongkol didamprat secara demikian, mukanya menjadi merah-padam. Ia-pun mendelik.
“Eh, jangan sembarangan mencaci orang!“ ia-pun menegor. “Aku hendak menuju ke Barat, ada urusan penting, ini toh ada jalanan umum yang semua orang boleh lalui?“
“Meski kau ada punya urusan penting, kau mesti mengalah, kasih kita lewat lebih dahulu!“ kata tiga pengiring itu. “Jangankan kau, walau-pun orangnya sunbu yang mesti membawa kabar penting, dia tak berani larikan kudanya di sebelah depan kita!”
Lantas mereka maju mendekati, mereka menjoroki orang tua itu supaya tubuhnya terpelanting dari atas kuda.
Pau Kun Lun jadi gusar sekali, dengan sebelah tangan ia sampok tangan mereka itu, hingga justeru merekalah yang terlempar dari atas kudanya.
Atas kejadian itu, lain-lain pengiring perdengarkan suara mereka, dan lerotan kereta-pun segera diberhentikan. Sekejap saja jago Kun Lun Pay ini sudah dikurung, semua penunggangnya telah menghunus golok.
Liong Cie Khie belum dapat candak gurunya, apabila ia lihat keadaan mengancam itu, ia putar kudanya untuk diberi lari balik.
Pau Cin Hui sudah lantas hunus golok Kun-lun-too, ketika ia kibaskan goloknya semua pengurungnya pada mundur. Ia unjuk air muka merah-padam, matanya terbuka lebar, kumis jenggotnya bergerak-gerak.
“Sahabat-sahabat, mari kita bicara terlebih dahulu!“ ia perdengarkan suaranya yang keras. “Aku tahu bahwa kau adalah orang-orangnya Thio Hek Hou dari Pa-tiong. Selama beberapa tahun ini, meski-pun aku tak pernah datang ke Su-coan Utara ini, namun aku pernah dengar namanya Thio Hek Hou itu, maka sekarang aku minta Thio Hek Hou keluar bicara kepadaku!“
Suara jawaban lantas terdengar dari sebuah kereta. Orang itu berumur kurang lebih tiga-puluh tahun, kepalanya botak tubuhnya tiuggi tetapi tegap dan gesit, mukanya hitam, pakaiannya terbuat dari sutera semua. Dia berdini atas keretanya.
“Akulah Thio Hek Hou!“ demikian jawabannya seraya ia tepuk dada. “Tua bangka, kau pentang matamu dan lihat, aku adalah Hek-hou Thio Toa-thayya!“
Cin Hui mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar.
“Oh, kau Thio Hek Hou?“ berkata ia. “Bagus! Aku sudah berusia lanjut, aku tidak ingin bentrok kepadamu, cukuplah asal kau perintah orangmu buka jalan untuk aku lewat!“
Thio Hek Hou, si Harimau Hitam, tertawa dingin.
“Kau bicara secara gampang sekali!“ kata ia. “Kau telah lihat bendera diatas keretaku, sesudah lihat itu, baru kau datang menyusul, maka itu adalah tanda hahwa kau hendak main gila terhadap aku, kau sengaja tidak memandang mata padaku! Tambahan pula kau-pun sudah rubuhkan beberapa saudaraku! Kau sekarang bilang kau hendak lanjutkan perjalananmu! Hm! Mana ada urusan sedemikian sederhana? Hayo beritahukan she dan namamu, aku ingin ketahui kau ada tua bangka campur-aduk asal dari mana? Setelah mendengar namamu, Thio Thayya nanti ajar adat padamu!“
Pau Kun Lun menuding dengan goloknya.
“Thio Hek Hou, kau jangan sembarang mencaci orang!“ ia menegor. “Kau ingin ketahui aku siapa? Kau boleh pergi ke Long-tiong akan tanya keterangan pada Long-tiong-hiap Cie Kie, dia kenal aku! Aku adalah Pau Cia Hui yang selama lima-puluh tahun dalam kalangan Kang-ou dikenal sebagai Pau Kun Lun!“
Mendengar disebutnya nama itu, air mukanya Thio Hek Hou benar-benar berubah, sedang semua pengiringnya yang mengurung, sudah lantas undurkan diri.
“Itulah satu nama yang aku telah dengar lama,“ kata ia kemudian dengan tertawa menghina. “Kiranya Pau Kun Lun. Sekarang baiklah kita bicara secara sedikit sungkan. Seandainya aku dengar namamu pada sepuluh tahun yang lampau, barangkali aku akan lompat mencelat saking kagetnya, akan tetapi sekarang, lauko, namamu sudah luntur! Baiklah kau ketahui, sekarang ini Kun Lun Pay sudah didupak terbalik oleh Kang Siau Hoo. Rupanya kau tak dapat bertahan lebih lama di Tin-pa dan karena itu kau lari kemari! …”
Mendengar itu, Cin Hui malu berbareng gusar, maka sambil geraki goloknya ia maju kearah kereta.
Thio Hek Hou segera loncat turun dari keretanya dan dari salah satu orangnya dia sambuti sebatang toya besi, lalu dengan putar itu ia mendahului menghajar musuhnya yang bercokol diatas kuda.
Jago tua itu keprak kudanya untuk menyingkir dari serangan.
Kira-kira dua-puluh pengiringnya Thio Hek Hou yang tunggang kuda dan jalan kaki sudah maju pula untuk mengurung dan menyerang. Akan teiapi Thio Hek Hou segera cegah mereka.
“Mundur kau semua!” piausu ini berseru seraya angkat toyanya. “Buat hajar tua-bangka ini, perlu apa ramai-ramai sampai turun tangan ?"
Suara itu membuat semua pengiring mundur pula.
Jalanan disitu ada lebar, dengan mundurnya banyak orang, yang membuat satu bundaran, kelihatanlah satu kalangan yang besar.
Pau Kun Lun selagi turun dari kudanya, kelihatan nyata gerakannya yang lambat karena tubuhnya yang besar dan gemuk.
Thio Hek Houw mengawasi sambil bersenyum menghina, ia telah siap dengan toyanya.
“Mari maju !” ia menantang. “Hari ini aku ingin coba-coba tempur Pau Kun Lun! Asal aku menangkan kau satu orang, itu artinya aku telah menangkan semua Kun Lun Pay!”
Sekarang Pau Cin Hui jadi tenang sekali, malah wajahnyapun tidak lagi merah padam sebagai tadi, melainkan tetap ia bersikap keren. ia telah gulung tangan bajunya, setelah mana, ia maju lebih jauh, goloknya bergerak.
Thio Hek Hou lihat orang mulai menyerang, ia turunkan toyanya dari atas ke bawah, untuk tekan Kun-lun-too. setelah mana ia teruskan balas menyerang, sebelah kakinyapun dikasi maju. Toyanya yang berat kembali turun kearah kepala.
Pau Kun Lun tidak berkelit, bahkan ia angkat goloknya menangkis serangan hebat itu, hingga kedua senjata beradu keras dan menerbitkan suara nyaring. Jago itu cekal goloknya seperti biasa, tidak demikian dengan Thio Hek Hou, yang tangannya jadi kesemutan hebat, hingga mau tidak tidak, ia mundur dua tindak. Tapi ia tidak mau unjuk kelemahan, segera ia maju pula, toyanya kembali menyerang.
Pau Cin Hui sambut serangan lawan itu, akan tetapi sekali ini Thio Hek Hou tidak mau adu tenaga, dengan cepat ia menyamber kesamping seraya tubuhnya turut miring, toyanya menyapu kaki.
Atas serangan ini Pau Kun Lun tidak elakkan diri. Ia melainkan angkat sebelah kakinya seraya golok ditudingkan ketanah untuk tangkis sapuan itu.
Hek Hou tarik pulang toyanya, ia berlompat jauh ke depan, dari situ ia hajar punggung lawannya. Ia bisa bergerak dengan gesit.
Pau Cin Hui bisa putar tubuhnya dengan lekas, goloknya dipakai menangkis pula. Ia tidak menantikan lagi, ia terus balas menyerang, dengan tubuhnya yang besar ia maju mendesak.
Golok Kun-lun-too lantas berkelebat-berkelebat diantara sinar matahari, sedang toya yang berat, menyamber-nyamber sambil perdengarkan suara anginnya.
Thio Hek Hou melayani sampai lebih dan sepuluh jurus, setelah itu ia mulai kewalahan. Adalah diluar dugaannya, yang jago tua itu masih tetap gagah. Dengan terpaksa ia lompat keluar kalangan.
Pau Kun Lun tidak mau mengerti, ia memburu. Dalam keadaan seperti itu, ia bisa berlaku sebat, goloknya turun dengan cepat dan berat. Hek Hou menangkis dengan sia-sia, bersama toyanya ia rubuh. Dan selagi ia rebah tengkurap, jago tua itu maju menghampiri padanya, tubuh siapa segera diangkat!
Semua pengiring menjadi kaget, mereka lantas terpecah dua : yang nyalinya kecil mundur dengan segera, yang nyalinya besar maju berniat menolongi pemimpinnya.
Sekarang Pau Kun Lun cekal tubuh Thio Hek Hou dengan kedua tangannya. Ia tidak mundur, malah ia hadapi semua pengiring-pengiring itu. Ia sama sekali tidak niat binasakan Thio Hek Hou, maka juga ketika tadi ia menyerang, ia hanya gunakan belakang goloknya yang mengenai pundak kiri musuhnya, akan tetapi walau-pun demikian, piausu itu tidak sanggup lawan serangan golok yang berat.
Selagi orang berdiam, Pau Kun Lun tertawa, terus ia kata pada pecundangnya : “Maafkan aku, aku telah berlaku lancang! Kau benar kalah tetapi aku kagumi padamu! Buat bilang terus terang, ketika pada sepuluh tahun yang lalu aku kalahkan Long Tiong Hiap, aku tidak gunakan tenaga seperti sekarang aku layani kau!“
Thio Hek Hou masih saja merasakan sakit sekali, seluruh tubuhnya basah dengan keringat, dan kepalanya-pun keringat menetes turun. Ia lantas saja goyang-goyangkan tangan pada semua orang-orangnya.
“Aku kagum, aku kagumi kau, Pau Loo piausu,“ kata ia kemudian. “Aku heran, kau ada demikian gagah, kenapa kau takut terhadap Kang Siau Hoo?“
Ditanya begitu, Cin Hui mukanya menjadi merah dengan tiba-tiba. Tapi segera ia bersenyum ewa.
“Tentang sikapku, nanti pelahan-lahan aku jelaskau kepadamu,” ia berkata. “Sekarang silahkan kau beristirahat terlebih dahulu ... ”
Disamping mereka ada sebuah kereta, jago tua ini angkat tubuhnya Hek Hou diletaki diatas kereta itu, kemudian ia hadapi semua pengiring kepada siapa ia angkat kedua tangannya memberi hormat.
“Maafkan aku!“ kata ia dengan hormat.
Semua orang itu menjadi tercengang, kalau tadi mereka gusar, sekarang mereka jadi sabar. Mereka tidak sangka si orang tua berbuat demikian baik hati terhadap pemimpinnya. Segera mereka menghampiri pemimpin itu, untuk tengok lukanya.
Dari sebuah kereta-pun turun dua orang perempuan muda, akan lihat Hek Hou.
Sampai disitu, Liong Cie Khie larikan kudanya akan menghampiri gurunya.
Pau Kun Lun undurkan diri dari ktreta, ia membungkuk dan jemput goloknya, ia memandang muridnya dan bersenyum, tandanya ia puas sekali. Dengan sabar ia simpan goloknya itu, lalu dengan sebelah tangan ia tarik kudanya, dengan tangan yang lain ia urut kumisnya.
“Rombongan itu hendak menuju kemana?” kemudian ia tanya kusir kereta.
Kusir yang ditanya bernyali kecil, ia ketakutan, ia tidak berani menjawab. Sebaliknya ia sembunyikan diri ke belakang kereta.
Cie Khie jadi gusar, hingga ia deliki mata.
“Kau dengar tidak pertanyaan guruku?” ia menegor. “Lekas jawab!“
“Jangan berlaku keras kepadanya,” Pau Kun Lun larang muridnya.
Ketika itu, dua perempuan muda itu telah pernahkan Hek Hou atas keretanya, sesudah mana, piausu ini kirim satu orangnya akan undang si jago tua.
Pau Kun Lun serahkan kudanya pada muridnya, dengan tangan kosong ia datang menghampiri.
“Baimana kau rasakan lukamu?“ jago tua ini mendahului menanya sambil tertawa.
Tbio Hek Hou menggeleng kepala.
“Tidak apa-apa,” ia menyahut. “Loo-cianpwee, jikalau kita tidak bertempur, kita tidak akan berkenalan. Aku ingin bersahabat denganmu.”
Jago tua itu girang sekali mendengar pengutaraan itu.
“Aku memang gemar bersahabat,” sahut ia. “Bila kau tidak cela aku, aku Pau Cin Hui ada terlebih tua daripadamu, biarlah aku jadi si toako.”
Thio Hek Hou tertawa. Ia rangkap kedua tangannya.
“Bagus, bagus!“ katanya. “Toako, sebenarnya hari ini kita hendak pergi ke Gie-liong, disana aku ada punya dua sahabat karib, yalah Tiang-pat-chio Lau Kiat si Tumbak Panjang dan Hoa-Thayswee Chio Seng si Dato Kembang. Aku niat menyamper mereka, akan bersama-sama pergi bersembahyang ke gunung Ngo Bie San. Tapi sekarang aku ketemu kau, pundakku-pun terluka, aku urungkan saja niatku itu. Jikalau toako tiada punya urusan penting, mari kita pergi ke Gie-liong, aku perkenalkan kau dengan dua sahabatku itu, disana kita berdiam beberapa hari untuk merapatkan persahabatan kita. Maukah toako turut aku?”
Pau kun Lun memang ingin sangat peroleh sahabat, ia menjadi girang sekali.
“Aku suka sekali,” ia manggnt. “Aku memang ada punya urusan untuk mana aku ingin mohon bantuan kau.”
Ia lantas saja kembali pada Cie khie buat ambil kudanya, ketika itu Cie Khe, dengan matanya yang tajam, sedang mengawasi kedua nyonya muda, agaknya ia mengiri.
“Binatang Thio Hek Hou ini sungguh beruntung,” ia kata dalam hatinya. “Sebaliknya aku ada sial-dangkalan! Sekali ini aku datang ke Su-coan Utara, bukan saja aku kehilangan si manis dan ludas uangku, tubuhku-pun mendapat luka-luka parah! Malah sekarang, aku ketemu suhu yang tentunya akan tilik aku. Dasar Kang Siau Hoo Si celaka!“
Cie Khie tidak sempat ngelamun lebih jauh, gurunya telah suruh dia menemui Hek Hou untuk belajar kenal.
Hek Hou berkata dengan suara merendah : “Aku telah dengar nama kau ... ” akan tetapi ia tidak unjuk perhatian besar terhadap Cie Khie ini.
“Naiklah ke keretamu!” kata ia kepada kedua gundiknya sesudah mana, ia memberi tanda akan rombongannya mulai berangkat, menuju ke Barat.
Pau Kun Lun bercakap-cakap kepada beberapa pengiring, diantara siapa ada yang bersikap tawar, mereka sering-sering melirik, suatu tanda mereka masih belum puas.
Dalam perjalanan ini, Cie Khie tidak merasa senang.
“Suhu, buat apa jalan sama-sama dengan mereka ini?“ diam-diam murid ini kisiki gurunya. “Mereka semua mirip dengan kawanan berandal!“
Tapi Pau Cin Hui tidak perdulikan muridnya itu.
Dalam perjalanan ini, dimatanya banyak orang yang telah saksikan peristiwa tadi, kehormatannya Pau Cin Hui naik tinggi, apa pula didalam rornbonan itupun ia yang paling istimewa besar tubuhnya.
Sesudah melalui dua-puluh lie lebih, rombongan ini sampai di Gie-liong.
Thio Hek Hou beri perintah menuju ke dusun Timur, akan berhenti di toko beras Seng Hin toko mana ada kepunyaannya Hoa-Thayswee Chio Seng.
Chio Seng ini, pada sepuluh tahun yang lalu ada satu buaya darat, sampai sulit untuk dia mencari sesuap nasi, maka itu ia telah menumpang tinggal dirumahnya Long-tiong-hiap Cie Kie, walau-pun demikian, ia masih tidak tahu diri, begitulah ia main gila dengan Say Siang Go, yalah isterinya Kim-kah-sin Ciau Tek Cun, sehingga dia sudah diberikan hajaran oleh Kang Siau Hoo. Inipun sebabnya kenapa, waktu Kang Siau Hoo datang pada Cie Kie untuk belajar silat, selagi Siau Hoo diuji tenaganya dengan toya berat, dia sudah jaili Siau Hoo hingga kesudahannya Cie Kie cambuki ia dan diusirnya. Sejak itu, selama sepuluh tahun, ia kembali luntang-lantung, ia hidup mirip dengan penjahat saja. Tapi ia ada punya roman cakap, banyak menarik perhatiannya orang-orang perempuan. Demikian di Ge-liong ini, isterinya satu saudagar telah gilai padanya. Nyonya itu bisa main gila karena suaminya yang jadi saudagar dalam perantauan, setahun penuh tidak penah pulang. Saudagar itu ada punya sawah-kebun, yang tidak dapat terawatkan. Maka, sesudnhnya Chio Seng ditempel Si nyonya hartawan itu, dengan lambat-laun ia kangkangi harta benda itu. Pamili dan pegawai-pegawainya si hartawan tak berhasil merintanginya, karena selain si nyonya berpihak pada Chio Seng, juga Chio Seng telah dapat pengaruhnya Tiang pat-chio Lau Kiat, yang menjadi saudara angkatnya. Lau Kiat tidak melainkan berharta, ia-pun jadi hartawan jagoan. namanya sama kesohornya dengan Thio Hek Hou. Chio Seng-pun telah tempel pembesar negeri, maka kemudin ia segera terkenal sebagai Chio Sam Thayya!
Begitulah hari itu, melihat datangnya Thio Hek Hou dalam satu rombongan besar, Chio Sam Thayya menjadi girang sekali, tapi ia heran kapan ia nampak sahabat itu membawa luka, hingga diwaktu masuk kedalam, tamu ini mesti di pepayang dua orang. Disebelah itu, ia heran sahabat itu datang bersama-sama dua orang lain. Yang ia tidak kenal, dua orang mana ada punya tubuh tinggi-besar dan romannya bengis, malah yang satunya, yang pundaknya miring, pakaiannya terdapat bekas darah. Dengan tidak merasa ia mengawasi dengan buka matanya lebar-lebar.
“Chio Lau-sam, aku bawakan kau dua sahabat baru!” kata Thio Hek Hou pada saudara angkat itu. “Mereka ada sahabat baru akan tetapi aku percaya, nama mereka kau pernah dengar dan telah lama kagumi!” ia lantas tunjuk Cin Hui. “Ini adalah Pau Kun Lun dari Tin-pa dan ini Twie-san-hou dari Cie-yang,” Ia-pun tunjuk Cie Khie.
Chio Seng berjingkrak saking heran dan kagum.
“Aha!” ia berseru, “Benar-benar nama-nama yang sudah lama aku kagumi!”
Tuan rumah ini segera perintah sambuti kuda tamunya, maka sesaat itu toko beras itu menjadi repot. Keluarganya Thio Hek Hou-pun diundang kedalam dimana ada tempat yang luas, cuma kuda dan kereta yang dikirim ke hotel disebelah tokonya.
Orang-orangnya Thio Hek Hou lantas saja dijamu, diajak minum arak oleh orang-orangnya Chio Seng, Hek Hou, Cin Hui dan Cie Khie dilayani oleh Chio Seng sendiri diruangan tengah.
Hek Hou duduk dikursi dengan separuh rebah karena lukanya, tetapi ia bisa bicara sambil tertawa, dengan gembira ia tuturkan Chio Seng bagaimana ketika tadi ia tempur Pau Kun lun, sehingga akhirnya mereka jadi berkenalan. Ia mengaku secara laki-laki bagaimana ia kena dirubuhkan.
Chio Seng kelihatannya heran dan kagum, berulang-ulang ia pandang orang tua itu.
Pau Cin Hui berlaku manis-budi sekali, pada tuan rumah dan Hek Hou, ia membahasakan “lau-tee” adik yang tua …
“Memang biasanya, siapa tidak bertempur, dia tidak akan kenal satu dengan yang lain,” kata Chio Seng kemudian. “Sejak sepuluh tahun yang lalu, aku sudah kagumi Pau Lauko. Sekarang baiklah lauko berdiam denganku disini, kita harus bersahabat rapat!”
“Asal lautee tidak cela aku.” Pau Kun Lun nyatakan.
Cie Khie yang berdiam saja, tidak puas dengan perubahan sikap guruya. Tadinya guru ini besar kepala, tetapi sekarang guru itu jadi sangat manis budi. Ia terus tutup mulut, beberapa kali ia pejamkan mata akan bayangkan si juita yang beberapa kali ia ketemukan …
Selagi mereka bercakap-cakap lebih jauh, tiba-tiba Hek Hou tepuk meja.
“Baru aku ingat, Pau Toako, satu hal buat aku heran!“ kata si Harimau Hitam ini, “Toako, baru hari ini kita bertemu, segera aku telah belajar kenal dengan bugeemu. Golok Kun-lun-too sanggup layani kong-pian dari guruku, Pwee-ciu Hou, dan toya besi dari Tiat Tiang Ceng tetapi satu kabaran yang aku dapati membuat aku kurang mengerti. Aku pernah dengar ceritanya seorang dari Tiang-an, See-an, bahwa kau telah didesak oleh Kang Siau Hoo hingga tak ada jalan untuk kau lari, bahwa murid-muridmu yang pandai, yang jumlahnya lima atau enamp uluh orang telah dilukai atau binasa, malah cucu perempuanmu, satu hiap-lie juga yang bugeenya melebihi Long Tiong Hiap, berdua suaminya, Kie Kong Kiat, masih tidak sanggup lawan orang she Kang itu. Apa bisa jadi Kang Siau Hoo ada punya tiga kepala dan enam lengan berikut tujuh-puluh dua tangan atau dia punyakan wasiat tambang!"
Ditanya demikian, Pauw Kun Lun merasa sangat tersinggung hingga ia diam saja, ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya.
Chio Seng tertawa menghina.
“Aku kenal Kang Siau Hoo pada sepuluh tahun yang lalu, malah aku berdua pernah bertempur! Permainan goloknya adalah bacokan kalang kabutan, bukannya ilmu kepandaian! Dia pernah panggil bapak pada tiga batang toya besi dari Long Tiong Hiap, yang dia tidak mampu angkat! Aku berdua bermusuh satu dengan lain, maka apabila aku dapat kesempatan akan bertemu dengannya pasti aku tak akan kasih hati padanya!“
Pau Kun Lun menghela napas dalam apabila ia telah dengar ucapan itu, ia lantas saja kerutkan dahi.
“Kang Siau Hoo yang sekarang ini bukan lagi satu bocah tak keruan seperti dulu-dulu,” katanya. “Sampai sekarang ini aku belum pernah ketemu pula kepadanya tetapi aku tahu baik orang yang ia telah angkat jadi gurunya. Asal Kang Siau Hoo dapat wariskan kepandaian gurunya itu walau-pun baru satu atau dua bagian, kita ... ah!“ Ia berhenti sebentar. Setelah itu, ia nampaknya jadi dapatkan semangatnya, terus ia kata pula : “Tadi Thio Lautee tanya aku kenapa aku takut terhadap Kang Siau Hoo, bukan? Buat bicara terus terang, aku tidak akut padanya, yang membuat aku takut adalah terhadap gurunya itu. Roman gurunya itu sebagai satu anak sekolah, tubuhnya halus dan lemah, pada tiga atau empat puluh tahun yang lalu, ia sudah berusia lanjut, sekarang ia pasti sudah tua sekali. Tidak ada orang ketahui she dan namanya guru itu, tetapi bugeenya tidak ada yang tidak takuti. Pada empat puluh tahun yang berselang, orang kosen dalam kalangan kangou cuma ada dua, yalah Siok Tiong Liong dan Liong Bun Hiap. Ketika itu namaku masih belum terkenal. Tetapi waktu itu Siok Tiong Liong dan Liong Bun hiap pernah mendapat malu ditangannya guru itu, berdua mereka biasa malang-melintang, tidak ada yang sanggup menandinginya akan tetapi begitu lekas mereka dengar kedatangannya orang tua itu, mereka jadi ciut nyalinya, mereka sembunyi seperti kelinci melihat anjing pemburu ... ”
Thio Hek Hou ketarik mendengar keterangan itu, tapi Chio Seng tertawa besar.
“Pau Lauko, pastilah kau salah dengar!” berkata ia. “Dulu Kang Siau Hoo datang pada Long Tiong Hiap, dia minta diterima menjadi murid, Long Tiong Hiap tidak sudi menerimanya, sengaja dia di permainkan, dia disuruh angkat-angkat toya besi yang berat, dari itu, orang yang mempunyai kepandaian liehay seperti empe itu mana sudi terirna dia sebagai muridnya. Pasti itulah ada kabar bohong belaka, lauko percaya itu, kau jadi ketakutan sendiri. Baru kemarin ini aku dengar kabar Kang Siau Hoo datang ke Sucoan Utara ini, katanya dia jadi begal ditengah jalan, di Loo Su Nia dia telah binasakan dua polisi untuk begal keluarganya tiekoan dari Hong an! Dia benar bernyali besar, sesudah rampas isteri tiekoan, dia masih berani ajak nyonya itu singgah di hotel, dia paksa si nyonya untuk jadi isterinya, hingga nyonya itu gantung diri ... ”
Mendengar ini Cie Khie rasakan kepalanya pusing dan sakit, dadanya sesak, hatinya memukul.
“Atas kejadian ini, pengurus hotel telah melaporkan pada pembesar negeri,” tuan rumah melanjutkan penuturannya, “waktu polisi datang, Kang Siau Hoo lari kabur, kepalanya kena dikemplang toya berkali-kali. Sekarang ini katanya bocah itu berubah macamnya, kulitnya jadi hitam, tubuhnya gemuk, malah-pun dia pelihara kumis yang panjang!“
Cie Khie dalam kagetnya hampir bangun untuk sipat kuping.
Pau Kun Lun jadi sengit sekali, entah ia membenci, entah ia gusar, dengan tiba-tiba ia numbuk meja!
“Ayo!“ Cie Khie menjerit, bahna kaget. Suara tumbukan itu terdengar bagaikan guntur bagi kupingnya.
“Eh, Cie Khie!“ menegor sang guru pada muridnya, siapa ia awasi dengan tajam.
“Suhu ... “ sahut Cie Khie, tubuhnya gemetaran.
Pau Kausu perdengarkan tertawanya, matanya bersorot tajam.
Cie Khie takut bukan main. Kalau gurunya ketahui rahasianya itu, pasti ia bakal dibunuh mati. Mukanya Cie Khie jadi sangat pucat, kedua kakinya jadi lemas, kalau ia tidak sedang duduk, pastilah ia sudah jatuh mendeprok ditanah.
Pau kun Lun tertawa pula, kemudian ia kata pada muridnya:
“Cie Khie, ingatkah kau perbuatan busuk dan hina dina dari Kang Cie Seng dahulu? Aku tidak sangka bahwa Kang Siau Hoo, menjadi terlebih jahat dan cabul dari pada ayahnya! Dulu, sehabisnya membinasakan Cie Seng, aku menyesal, aku insaf Siau Hoo adalah bibit penyakit, aku toh tidak tega singkirkan jiwanya, siapa nyana sekarang, setelah berhasil mempelajari kepandaian, tidak saja dia musuhkan aku, dia juga berbuat sangat jahat dan busuk! Umpama sekarang dia tidak bermusuhan kepadakupun, aku toh hendak lakulau perbuatan mulia, aku mesti tugaskan diri untuk membantu masyarakat menyingkirkan manusia keji itu!“
Cie Khie bergidik, namun sekarang hatinya lega. Ia mengerti, gurunya gusar karena kejahatannya Siau Hoo, bukan disebabkan curigai perbuatannya yang terkutuk dan kejam. Ia tahu guru itu pasti tidak sangka, kejahatan itu adalah buah tangannya sendiri.
Pau Cin Hui lalu menjura pada Hek Hou dan tuau rumah.
“Memang benar aku datang kemari karena desakannya Kang Siau Hoo,“ berkata ia pula, “tetapi aku meninggalkan Han-tiong justeru untuk cari dia, untuk lakukan pertempuran mati atau hidup, sekarang ternyata dia ada demikian jahat, maka umpama kata dia tidak cari aku, aku sendiri nanti cari padanya! Mengenai maksudku ini, sayang aku sudah tua, sedang munidku ini, walau-pun dia ada muridku yang tersayang, apa mau luka-lukanya masih belum sembuh. Luka itu dia dapatkan beberapa hari yang lalu di waktu dia bertempur dengau Kang Siau Hoo. Sudah terang kita berdua bukanlah tandingannya Kang Siau Hoo, oleh karena itu, aku memikir untuk mohon saudara-saudara empunya bantuan. Saudara-saudara adalah orang-orang gagah di Sucoan Utara ini dan orang-orang mulia dari dunia kangou, aku percaya tidak akan saudara-saudara duduk diam saja mengawasi penjahat demikian cabul melakukan terus kejahatannya. Bila saudara-saudara sanggup membantu aku menyingkirkan Kang Siau Hoo itu, tentang tanggungjawab perkara jiwanya terhadap pembesar negeri, akulah yang pikul semua. Orang-orang Kun Lun Pay adalah sebagai saudara empunya keponakan sendiri, dari itu selanjutnya, untuk pergi ke Han-tiong dari tempat lainnya, saudara-saudara pasti ada merdeka …”
“Lau Toako, mengapa kau mengucap demikian?“ Chio Seng memotong jago tua itu. “Kang Siau Hoo adalah musuhku juga! Kita berada disini, cara bagaimana kita bisa ijinkan dia berangkat ke Barat? Mustahil aku mengantap dia kabur ke Su-coan ini untuk cari hidupnya?”
“Loo Sam!” berkata Hek Hou dengan gembira, “pergilah kau perintah orang undang toake datang kemari, untuk kita damaikan urusan menghadapi Kang Siau Hoo ini!“
Hoa Thay-swee Chio Seng segera kirim satu orangnya untuk undang toako mereka, yalah Tiang-pat chio Lau Kiat, seraya dilain pihak ia-pun perintah lekas siapkan sebuah meja perjamuan.
“Aku anggap, jumlah kita disini makin banyak maka baik,” kata Pau Kun Lun kemudian. “Kang Siau Hoo telah belajar silat beberapa tahun, pastilah ia peroleh kepandaian yang istimewa. Paling baik jikalau kita bisa undang Pwee-ciu-hou Kho Loo-suhu serta Tiat Tiang Ceng dan Long Tiong Hiap ... ”
“Kho Loo-suhu sudah undurkan diri, pasti dia tidak akan campur segala urusan seperti kita ini,” Chio Seng bilang. “Tiat Tiang Ceng kabarnya sedang berada dalam propinsi Su-coan, entah dimana. Buat layani satu Kang Siau Hoo, anggap tidak perlu kita mesti undang orang-orang. Apapula Long tiong hiap Cie Kie, lebih-lebih kita tak perlu undang padanya! Dia-pun adalah musuh kita!“
“Kabarnya selama sepuluh tahun ini, Long Tiong Hiap hidup tenang, cara bagaimana dia bolehnya mendapat salah dari kau, saudara-saudara?“ Cin Hui tanya.
“Dia sendiri memang hidup tenang, akan tetapi anaknya, Cie Gan In, ada menjemukan sekali!“ jawab Chio Seng. “Dia suka sekali ganggu aku!”
“Bagaimana kepandaiannya Cie Gan In itu?” Cin Hui tanya pula.
“Kepandaiannya tak dapat dicela,” menerangkan Chio Seng, “malah ilmu pedangnya ada terlebih liehay daripada ayahnya. Dia sekarang berumur kurang lebih dua puluh tahun, sepantaran dengan Kang Siau Hoo, tabiatnya ada terlebih angkuh dari pada ayahnya. Dia telah menikah dengan Cin Siau San, cucu luar dari Siok Tiong Liong. Ilmu pedangnya Cin Siau San tak dapat ditandingi oleh mertuanya lelaki. Dia sering-sering naik keledai hitam yang kecil untuk malang-melintang diluaran!“
Mendengar hal Cin Siau San ini Cie Khie terperanjat, hingga air mukanya pucat sendirinya. Ia segera ingat pengalamannya di sore hari itu dalam sebuah kampung, hatinya jadi ciut sendirinya.
Pau Kun Lun duduk diam, ia buat main kumis jenggotnya.
Hatinya Chio Seng dan Thio Hek Hou kuncup sendirinya selagi mereka bicarakan halnya keluarga Long Tiong Hiap mereka mirip dengan Pau Kun Lun yang dengar disebutnya nama kang Siau Hoo.
Untuk sesaat ruangan jadi sunyi, akan tetapi diluar segera terdengar suara berisik. Itulah Tiang-pat-chio Lau Kiat si Tumbak Panjang, yang datang bersama sejumlah orangnya, dia bertindak masuk dengan sikapnya yang angkuh, ketika Cin Hui sambut ia dengan memberi hormat sambil tertawa, ia membalasnya hanya dengan angguk sedikit, sedang Liong Cie Khie ia tak perhatikan sama sekali.
Ketika itu, barang hidangan sudah mulai disajikan, maka Chio Seng lantas undang semua tamu ambil tempat duduk. Lau Kiat dipersilahkan duduk dikursi pertama, Cin Hui dikursi kedua. Cie Khie tidak ada yang perhatikan, ia jengah sendirinya, ia ngeloyor keluar, sesampainya dipekarangan, orang awasi dia sambil bersenyum agaknya mereka itu tertawai ia yang ada punya kepala gede dan berowokan tak terurus tetapi memakai baju anak sekolah yang pendek dan sesak!
Cie Khie bertindak terus ke pintu, ia merasa sangat tidak enak, tindakannya dibuat berat keras. Dalam hatinya, ia mengutuk Kang Siau Hoo, yang ia anggap menjadi lantaran ia terhina di mana-mana!
Ia bertindak kejalan besar, kedua matanya bersorot bengis. Ia tidak berani buka tindakan lebar akan berjalan cepat, karena setiap kali ia berlaku demikian, terus ia menahan sakit, karena semua lukanya, di pundak, dilengan dan pinggaug, jadi seperti ditusuk-tusuk. Diam-diam ia dapat kenyataan, orang-orang dijalan besar agaknya sangat perhatikan padanya, maka ia lantas masuk dalam sebuah rumah makan.
Didalam restoran itu ada banyak tamu, ketika ia mulai bertindak masuk, ia dengar beberapa orang tertawa, diantaranya ada yang kata dengan suara nyaring : “Dia datang, dia datang! Lekas. Lihat murid terlihay dari Kun Lun Pay!”
Tamu-tamu itu ada orang-orangnya Thio Hek Hou dan Chio Seng, mereka semua mengerti ilmu silat, mereka ada bangsa buaya darat. Sikap mereka bukannya menghina, Cie Khie anggap itu sebagai suatu kehormatan, maka ia terus memberi bormat kepada mereka. Ia jadi gembira.
“Silahkan duduk!“ demikan sorang mengundang. “Chio Sam-ya sedang buat pesta, santapanaya lezat-lezat, araknya wangi, kenapa kau tidak bersantap disana?“
Cie Khie geleng-geleng kepalanya yang gede, ia menjebi.
“Siapa sudi bersantap sama-sama disana?” kata ia. “Guruku dan mereka ada berbahasa panggilan saudara, aku dipandang sebagai keponakan mereka, maka aku puas? Aku Liong Cie Khie ada murid kepala dari Pau Kun Lun, sekarang aku sudah berusia empat puluh lebih, buat belasan tahun aku telah kepalai Ceng Wan Pianw Tiam di Cie-yang, dan dalam Cie-yang Sam Kiat, aku ada yang nomor dua, dengan Long Tiong Hiap dari Su-coan Utara aku pernah adu kepandaian, sekarang disini aku mesti jadi orang terlebih muda, itulah sebabnya yang membuat aku tak puas.”
Rombongan orang itu tertawa besar, suarany riuh.
“Sekarang kau hanya sebawahan setingkat saja dari Thio Jieya dan Chio Sam-ya, akan tetapi kalau nanti datang Pwee Ciu Hou dan Tiat Tiang Ceng, kau mungkin akan menjadi cucu!“ berkata seorang diantara mereka.
Cie Khie mendongkol, hingga ia tumbuk meja dan kakinya menjejak lantai.
“Semua ini ada gara-garanya Kang Siau Hoo yang dipelihara biang anjing!“ ia berseru. “Jikalau tidak mustahil aku jadi dapat pengalaman demikian mendongkolkan?“
Kembali orang tertawa riuh.
Masih Cie Khie mendongkol, berulang-ulang ia damprat Siau Hoo.
Diantara sekalian tamu ada seorang bukan dari rombongannya Thio Hek Hou dan Chio Seng, dia sudah lantas perhatikan orang she Liong itu. Dia berumur kurang-lebih empat puluh tahun, mukanya hitam tubuhnya lebih jangkung daripada tubuhnya Cie Khie tetapi terlebih kurus, dandanannya sangat sembarangan, kedua biji matanya bersinar. Dia semakin ketarik kapan dia dengar disebut-sebutnya nama Kang Siau Hoo.
Seorang, yang rupanya orangnya Chio Seng, menuangi Cie Khie secangkir arak.
“Sahabat, kau damprat Kang Siau Hoo, kau jangan takut!” berkata ia. “Mari minum secawan ini untuk menambah semangat! Aku hendak beritahukan satu hal kepadamu. Kang Siau Hoo itu pasti takut datang ke Gie-liong ini, sebab di Loo Su Nia dia sudah lakukan kejahatan. Perkaranya itu telah berubah menjadi hebat, sampai-pun surat dinas dan residensi telah sampai ditempat kita ini. Hal ini baru saja tadi aku dengar dari Phang Taoya dari kantor tiekoan.”
Liong Cie Khie sudah sambuti arak itu, tetapi ia kaget sampai tangannya ngelejat, hingga arak tumpah mengenai bajunya seorang yang memakai baju hijau. Orang itu menjadi gusar.
“Matamu buta, orang celaka!“ dia membentak seraya memutar tubuh dan sebelah tangnnya melayang.
Inilah Cie Khie tidak sangka, ia-pun sedang kaget, kepalan mengenai lengannya yang sakit, sehingga ia menjerit kesakitan, maka itu ia menjadi gusar, tetapi selagi ia hendak balas menyerang, tiba-tiba si tamu muka hitam dan jangkung, loncat bangun.
“Hei, sahabat-sahabat, jangan kau bicara sembarangan!“ ia menegor. “Kang Siau Hoo itu adalah saudaraku, dia ada satu laki-laki sejati! Dalam hal dia mencegat orang ditengah jalaa, aku hendak percaya, tetapi tuduhan bahwa dia begal keluarga tiekoan, inilah aku sangkal! Umpama tuduhan itu benar, aku bersedia akan mewakili dia depan pengadilan! Aku tahu betul, saudaraku itu pasti tidak akan lakukan perbuatan demikian macam!“
Kata-kata itu membuat orang banyak heran, hingga semua mata ditujukan kepadanya.
Ada dua orang yang rupanya kenal orang ini, mereka menghampirkan akan tolak tubuhnya orang itu.
“Eh, Loo Ngo, kau tentu keliru!” demikian kata satu diantaranya. “Sudah sepuluh tahun kau tidak bertemu dengan Kang Siau Hoo, kau juga tidak bersahabat rapat, perlu apa kau belai dia?“
Orang yang dipanggil Loo Ngo itu agaknya sudah agak sinting.
“Kenapa tidak bersahabat kekal?” kata ia, dengan mata dibuka lebar. “Siau Hoo itu justeru saudaraku senasib. Pada sepuluh tahun yang lalu aku anjurkan dia masuk dalam kalangan Rimba Hijau, akan tetapi dia menolaknya, dari itu, mustahil sekarang dia sudi begal keluarga pembesar? Pasti itu ada perbuatannya seorang jahanam terkutuk, yang sudah berani palsukan namanya Siau Hoo!“
Cie Khie gusar mendengar perkataannya orang itu, yang berarti mencaci kepadanya. Ia juga tidak lihat mata orang punya tubuh jangkung kurus, maka ia menghampiri, terus saja ia mnyerang.
Orang she Ngo itu turut gusar, ia buat perlawanan, maka keduanya segera berkelahi, secara rapat, hingga mereka jadi bergumulan. Cie Khie bertubuh besar, ia sebenarnya bertenaga kuat, akan tetapi ia sedang terluka hebat, gerakannya lambat, dari itu lekas juga ia dapat dibuat rubuh, kepalanya justeru mengenai guci arak.
Diantara sekalian tamu ada yang bersorak seraya tepuk-tepuk tangan.
“Tidak apa! Hayo bangun, bertempur pula!“ demikian ada juga yang menganjurkan, yang mengadu dombakan.
Tamu-tamu yang tidak usilan, menyingkir siang-siang.
Tuan rumah dengan berdiri diatas bangku, menyelak sama tengah.
“Sudah, sudah!“ kata ia.
Cie Khie masih gusar, ia berbangkit, ia menghampiri tuan rumah yang dibetotnya turun dari bangkunya, sesudah mana, ia samber bangku itu buat terus dipakai menyambit siorang she Ngo.
Orang itu angkat sebuah kursi untuk dipakai menangkis, hingga bangku dan kursi jadi bentrok dengan keras, hingga keduanya patah dan rusak.
Dalam sengitnya si orang she Ngo samber guci arak diatas meja, dengan itu ia sambit lawannya.
Cie Khie hendak berkelit, tetapi tidak keburu, poci arak telah mampir di pipinya yang hitam tembem, hidungnya lantas muncratkan darah hidup, hingga ia jadi kalap, ia lari kemeja pengurus akan samber golok cingcang, dengan apa ia timpuk orang she Ngo itu. Apa mau timpukan meleset, golok mengenai kepalanya seorang botak, hingga kepala itu terus mengucurkan darah!
Si botak ini ada orangnya Thio Hek Hou, ia kesakitan dan gusar, dari pinggangnya ia cabut pisau belatinya, segera ia hampirkan orang she Liong itu.
“Orang buta!” ia mendamprat.
Cie Khie mundur, dari sampingnya segera ada orang mencegat si botak itu.
Demikian restoran itu jadi kacau.
Si orang she Ngo lompat keluar, ia berdiri ditengah jalan, ia tepuk-tepuk dada.
“Orang she Liong,” ia berseru seraya menuding. “Sekalian bersama-sama Pau Kun Lun, jikalau benar ada laki-laki, tunggulah di Gie-liong sini, dalam tempo sepuluh hari, pasti aku dapat ajak saudara Kang Siau Hoo datang kemari! Jikalau berani, jangan menyingkir, tetapi apabila kau tak punya guna, pergilah kau kabur!”
Ce Khie gusar, ia balas memaki, ia berlompat untuk keluar, akan tetapi beberapa orang cegah ia dengan pegangi keras kedua lengannya. Ia berasa sakit pada lengan kirinya, ia teraduh-aduh.
“Lepaskan tanganku!” ia minta.
Ia waktu si orang she Ngo sudah lantas angkat kakinya, sedang si botak yang terluka, ada orang yang cegah dan hiburi.
Cie Khie tahu ia bersalah, ia menghampiri kurbannya, ia menjura berulang-ulang ia menghaturkan ma’af.
Orang itu masih gusar, ia masih memaki beberapa kali, baru ia simpan pisau belatinya.
Sampai disitu kegaduhan jadi reda, kecuali kursi-meja yang terbalik dan perabotan yang jatuh pecah.
Ci Khie duduk dibangku, napasnya memburu. Ia seka hidungnya yang berdarah dengan tangan bajunya.
”Orang she Ngo itu orang macam apa?” kemudian ia tanya. “Apa benar-benar dia kenal Kang Siau Hoo? Apakah diantara tuan-tuan ada yang kenal padanya?”
“Dia adalah Hek-pacu Ngo Kim Piu,” sahut satu orang.
“Hm, segala bu beng siaupwee!” Cie Khie menghina, mulutnya menjebi.
“Tetapi di Su-coan Utara namanya terkenal juga,” kata seorang lain. “Tadinya dia ada orang Rimba Hijau, diatas gunung Siang Cu San dia pernah jadi satu taubak besar! Pada kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Kang Siau Hoo telah terlunta-lunta sampai di Su-coan Utara, boleh jadi karena sangat terpaksa ia menjadi liaulo untuk beberapa hari digunung Siang Cu San itu, hingga ia jadi kenal baik dengan Ngo Kim Piu. Ketika Siang Cu San dibasmi, Ngo Kim Piu kena ditawan, tujuh tahun lamanya, dia mesti mendekam dalam penjara! Dia telah dikompes dan disiksa, tapi dia hanya mengaku sebagai orang culikannya penjahat, dia sangkal dirinya jadi berandal. Baru tahun yang lalu dia keluar dari penjara, hidupnya tak berketentuan, benar dia tidak berbuat jahat. Tapi tetap dia suka juga ganggu rumah perjudian. Sebab dia bekas keluaran penjara, orang pandang juga padanya sebagai satu hoohan, sekarang dia tak kekurangan makan dan pakaian. Selama belakangan ini namanya Kang Siau Hoo ramai dibuat sebutan, rupanya dia sengaja memperbesar-besarkannya, antaranya dia bilang bagaimana pada sepuluh tahun yang lalu dia bersahabat dengan Kang Siau Hoo, yang katanya dia pernah tolong jiwanya ... “
Mendengar itu, diam-diam Cie Khie bergidik sendirinya.
“Lau Liong, jangan takut!“ kata beberapa orang disampingnya si Harimau Gunung ini, yang nyalinya sudah ciut. “Apa Kang Siau Hoo bisa buat jikalau dia serta kita semua saudara, kita semua sanggup lawan padanya! Lebih baik bila dia datang kemari, dia telah lakukan kejahatan di Loo Su Nia, pembesar negeri memang bendak bekuk padanya!“
Cie Khie masih bergidik napasnya sekarang tidak terlalu memburu lagi, ia lantas berpura-pura besarkan hati.
“Aku tidak takut! Kalau aku tidak tunggui Kang Siau Hoo disini, aku bukannya satu hoohan!“ ia berseru. Segera ia berbangkit untuk bertindak pergi.
Tuan rumah menghampiri tamunya.
“Toaya, barang-barangku banyak yang rusak, bagaimana?” ia tanya.
Cie Khie mendelik.
“Kau hendak suruh aku yang ganti?” ia tanya. “Orang she Ngo itu sudah kabur, pergi kau susul padanya! Kalau aku mesti mengganti, menurut pantas aku mengganti separohnya!”
Selagi tuan rumah melongo, dua orang polisi muncul dipintu.
Cie Khie kaget, mukanya pucat. Ia mundur dua tindak, tangannya meraba bangku, siap untuk hajar kalau-kalau dia hendak dibekuk.
Kedua polisi itu rupanya tidak niat melakukan penangkapan, mereka hanya tanyakan halnya perkelahian tadi. mereka tengok Cie Khie dan si botak yang terluka, lantas mereka ngeloyor pergi.
Setelah orang sudah pergi, baru Cie Khie rasakan hatinya lega.
“Sekarang aku harus tahu diri,” kemudian Cie Khie berpikir, “Tubuhku terluka aku tidak sanggup berkelahi. Kalau pekara di Loo Su Nia diseidiki, aku pasti akan dapat dikenalinya, karena aku berkulit hitam, inilah berbahaya bagiku. Baik aku gertak suhu supaya dia lekas berlalu dari sini ... “
Ia rogo sakunya keluarkan sepotong perak kecil, yang ia serahkan pada tuan rumah, dengan itu ia minta urusan dibuat habis. Ia-pun menjura dua kali pada si botak seraya berkata : “Toakoo aku yang salah!! Tadi aku dibuat sangat gusar oleh si orang she Ngo hinggaa aku jadi kalap, dengan berkesudahan aku keliru bacok kau ... “
“Sudah, jangan ngoceh tak karuan.“ sahut si botak, yang mukanya masih berlepotan darah, yang kepalanya dibungkus tapi bungkusannya berdarah juga. “Sekarang aku tahu bahwa kau adalah Twie-san-hou Liong Cie Khie dari kaum Kun Lun Pay! Nyatalah kau semua adalah orang-orang tak punya guna!”
Walau-pun dimaki demikian namun Cie Khe tidak jadi gusar, sebaliknya ia maggut pula berulang-ulang, ia memberi hormat. lantas ia ngeloyor keluar dari rumah makan itu. Ia jalan dengan tunduk, ia mendongkol dan berduka, ia jalan menuju ke toko berasnya Hoa-Thayswee Chio Seng.
***
Bab 16
TOKO BERASNYA CHIO SENG ADA punya tiga pintu serta satu pintu besar disamping. Cie Khie bertindak di pintu besar itu. Begitu ia sampai di pekarangan dalam, ia segera dengar sorakan yang ramai, apabila ia angkat kepalanya, ia tampak suatu kalangan bundar dimana ada berkumpul banyak orang, antaranya Lau Kiat, Thio Hek Hou dan Chio Seng, sedang Pau Kun Lun berada di tengah-tengah sedang bersilat dengan golok Kun-lun-too-nya. Yang dipertunjukkan itu adalah “Kie seng kan )oat Sip-pat sie” atau delapan belas jurus ‘Mengusir bintang mengejar rembulan.’ Ini ada suatu ilmu silat yang Cie Khie tidak mampu pahami walaupun ia sudah pelajarkan lamanya tiga tahun.
Goloknya berkelebatan, kumis jenggotnya jago tua itu turut bergoyang melambai. Dia ada punya tubuh besar, gemuk dan berat, akan tetapi dia bergerak dengan cepat dan hebat, hingga sekalian penontonnya jadi tercengang dan akhirnya bertampik sorak memberi pujiannya. Ketika Cin Hui berhenti bersilat napasnya hanya sedikit memburu.
“Sungguh Loo-enghiong ada bersemangat, gagah dan kuat!“ orang memuji. ”Kelihatannya Loo-enghiong tak beda dengan orang dari usia dua atau tiga puluh tahun!”
“Permainan tadi seumur hidup kita belum pernah kita lihat!“ demikian pujian yang lain.
Thio Hek Hou, yang duduk dikursi, telah unjukkan jempolnya.
Hoa Thayswee Chio Seng, yang berpaling dan bicara dengan seorang didekatnya, mengunjuklan keheranan sangat.
Dan Lau Kiat, yang tadinya bersikap angkuh-angkuhan, terpesona mengawasi jago tua itu.
Dengan tengteng goloknya Pau Kun Lun hadapi tuan rumah beramai.
“Pelajaran silat kita kaum Kun Lu Pay ada Su lou-kun, Pat-to-too dan juga Cap-sie-chiu,“ menerangkan ia dengan roman puas, “tetapi walau-pun muridku banyak, kepandaian mereka masih belum sempurna. Diantara murid-muridku yang bisa wariskan sembilan bagian dari kepandaianku cuma ada Lou Cie Tiong, Thio Cie Cay dan cucuku si Ah Loan, dan yang mendapat tujuh atau delapan bagian ialah Kat Cie Kiang, Kee Cie Beng, Liong Cie Khie … “
Selagi berkata sampai disitu, Pau Cin Hui juseru dapat lihat Cie Khie sedang berdiri disamping, pakaiannya robek dan hidungnya berdarah-darah, romannya sangat kucel, hinga ia jadi tercengang, karena mana semua orang-pun berpaling kearah tujuan matanya jago tua itu. Cie Khie lantas jadi sasaran banyak mata.
“Kau kenapa?“ hanya sang guru, yang paksa hampirkan muridnya. “Kenapa kau jadi begini?”
Cie Khie tarik gurunya kesamping.
“Mari, suhu ... “ kata ia dengan muka meringis. “Ada kabar penting aku hendak sampaikan padamu ... “
Ia hendak ajak guru itu pergi sedikit jauh dari orang banyak, diluar dugaan gurunya menjadi gusar.
“Kau hendak bicara apa?” guru itu membentak, matanya mendelik. “Perlu apa takut orang dengar?”
Cie Khie kerutkan dahinya.
“Tadi beberapa orangnya Chio Seng ajak aku pergi minum arak,“ Kata ia dengan pelahan, dirumah makan aku ketemu Hek-pak-cu Ngo Kim Pin Si Macan Kumbang. Dia sangat galak, ketika dia dapat tahu aku ada orang Kun Lun Pay, datang-datang dia serang aku. Aku sedang terluka aku tidak sanggup lawan padanya, maka itu aku kena diajar sampai hidungku keluar darah. Ketika angkat kaki, ia masih sangat gusar, ia pergi sambil menggerutu, katanya ia hendak cari Kang Siau hoo. Menurut katanya Kang Siau Hoo itu ada sahabatnya dari sepuluh tahun yang lalu, bahwa mereka pernah jadi berandal di Siang Cu San. Dia juga sebut-sebut nama suhu, dan dia suruh kita menunggu disini sampai dia dapat cari Kang Siau Hoo untuk Kang Siau Hoo bunuh kita!”
Mukanya Cin Hui berubah dengan tiba-tiba menjadi pucat dan kemudian merah padam.
“Suhu, marilah kita berangkat!“ kala Cie Khie dengan meringis. “Jikalau Kang Siau Hoo datang kemari, dia tentu tidak mau sudah dengan gampang-gampang saja!”
Dengan sekonyong-konyong tangannya Pau Kun Lun melayang mampir dimuka muridnya, di antara suara menggelepok keras, Cie Khie keluarkan jeritan, “Aduh!” yang keras, tapi justeru begitu, kakinya sang guru telah melayang pula kepada badannya.
“Kang Siau Hoo tidak mau sudah dengan gampang-gampang saja?” guru itu berseru. “Justeru akulah yang tidak mau sudah dengan begitu saja! Jikalau dia datang, aku nanti layani pedangnya dengan golokku! Jikalau kau takut, kau pergilah sendiri! Selanjutnya kau jangan panggil pula guru kepadaku!”
Cie Khie rebah ditanah, tendangan gurunya membuat ia measakan sakit bukan main. Ia diam saja menahan sakitnya itu.
Chio Seng dan beberapa orang maju akan membanguni muridnya sang apes itu, sedang Pau Kun Lun juga dibujuk agar amarahnya reda.
Napasnya Pau Cin Hui memburu matanya mendelik, akan tetapi sesaat kemudian ia jadi tenang pula, hingga ia bisa tertawa. Ia-pun urut-urut kumis dan jengotnya.
“Katanya ada Hek-pa-cu Ngo Kim Piu hendak undang Kang Siau Hoo untuk tempur aku! Dia tidak tahu bahwa aku, justeru aku sedang menantikan kedatangannya dia itu!” kata ia dengan sabar tapi romannya keren. Kemudian ia tambahkan pada Chio Seng, “Tadi Chio Lautee minta aku besok pergi cari Long Tiong Hiap ayah dan anak untuk balaskan dendammu pada sepuuh tahun yang lalu, tetapi sekarang karena adanya urusan ini, baik kepergianku ditunda dulu. Aku sekarang akan berdiam disini buat tunggui Ngo Kim Piu dan Kang Siau Hoo. Nanti sesudah ada keputusan dari pertempuranku dengan Kang Siau Hoo, baru aku urus sakit hatimu itu.”
“Untuk urusan itu kita tak uah terlalu tergesa-gesa,” Chio Seng bilang. “Pada sepuluh tahun yang lalu itu, aku tinggal dirumahnya Long Tiong Hiap, kalau tidak ada Kang Siau Hoo, tak akan kejadian aku sampai diperhina tuan rumah, maka itu Kang Siau Hoo-pun ada musuh besarku! Jikalan Kang Siau Hoo benar datang, aku nanti bantu kau, lauko, pasti aku tidak akan buat ia bisa berlalu di Gie-liong ini dengan dengan masih hidup!”
“Aku-pun harap bantuan tuan-tuan semua!” berkata Pau Kun Lun seraya rangkap kedua tangannya, yang masih pegangi goloknya.
Ketika itu Cie Khie sudah ada yang pepayang masuk kedalam kamarnya, sedang Chio Seng bersama Lau Kiat dan Thio Hek Hou undang jago tua itu kembali kedalam untuk duduk bercakapan terlebih jauh.
Cin Hui ulangkan permintaannya supaya tiga sahabat baru itu bantu ia.
“Tentu,” jawab Chio Seng bertiga.
Kecuali Chio Seng, dua yang lain tidak punya sangkutan dengan Kang Siau Hoo, tapi kalau toh mereka suka membantu, itulah disebabkan mereka harap, setelah Pau Kun Lun berhasil menyingkirkan Siau Hoo, goloknya jago tua ini akan dipinjam untuk satrukan Long Tiong Hiap ayah dan anak. Selama Cie Kie dan Cie Gan In masih hidup, berdua mereka tidak mampu menjagoi benar-benar di Su-coan Utara.
Demikian, berempat mereka kelihatannya asyik benar satu dengan yang lain.
Tiang-pat-chio Lau Kiat telah saksikan orang punya permainan golok, kejumawaannya lenyap sendirinya, malah sekarang ia bersikap luar biasa manis budi pada tamunya tadi.
“Karnar disini ada terlalu sempit, sedang bagian depan dipakai untuk toko beras,” berkata ia kemudian, “umpama benar Kang Siau Hoo datang, tidak leluasa untuk lauko keluarkan kepandaianmu, aku kuatir kau nanti mendapat kerugian. Dari itu lauko, baiklah kau pindah tinggal kerumahku saja. Aku ada punya pekarangan yang lebar.”
Pau Cin Hui juga lihat rumahna Chio Seng ini kurang cocok baginya, bukan sebab ruangannya yang sempit, hanya karena orangnya Chio Seng ada terlalu sedikit, andaikata Kang Siau Hoo datang di waktu malam, ada sulit untuk menjaganya. Maka itu dengan girang ia sambut tawarannya orang she Thio itu.
Chio Seng tidak keberatan dengan usul itu, maka di itu hari juga Lau Kiat ajak jago tua itu, berikut muridnya, pindah kerumahnya, yang letaknya di Timur utara kota, terpisah dari rumahnya Chio Seng melainkan tiga atau empat lie. Rumahnya Liau Kiat benar besar, pekarangannya luas dan orang-orangnya berbagai pengawal berikut gundal-gundal, tak kurang lima puluh orang jumlahnya.
Pau Cin Hui puas dan tenang hatinya apabila ia sudah lihat keadaannya Lau-kee chung ini.
Juga Cie Khie gembira tingal di rumahnya Lau Kiat ini, tetapi kegiranganya disebabkan ia tampak Lau Kiat ada punya banyak bujang perempuan yang muda belia, yang sering mundar-mandir keluar masuk, dari itu ia menyesal sangat yang ia berdiam dalam satu kamar dengan guru itu.
Pau Cin Hui yang duga Siau Hoo bakal datang, sudah berlaku hati-hati, jarang ia pergi keluar, sedang malamnya, selagi tidur goloknya terus dihunus, golok mana selalu nempel ditangannya. Untuk Cie Khie, ia-pun telah carikan sebuah golok. Murid itu disuruh tidur disebelah luar, tetapi walaupun demikian, mereka tidur bergiliran. Asal ada suara apa-apa dijendela, Cin Hui pasti turun dari pembaringan akan memasang kuping dijendela. Dimalam pertama, mereka kaget tiga sampai lima kali, hingga Cie Khie jadi tidak keruan rasa.
Pau Kun Lun sendiri meski-pun hatinya tetap tegang, namun tidak jadi letih, diwaktu siang ia sering berlatiha seorang diri.
Di hari kedua, Thio Hek Hou datang bersama-sama keluarga dan orang-orangnya juga, akan tinggal sama-sama dirumahnya Lau kiat, sedang Chio Seng, diwaktu siang datang untuk bercakap-cakap hingga meteka jadi gembira sekali.
Tanpa merasa empat hari telah lewat, dengan tak kurang suatu apa.
Selama itu, setiap hari Lau Kiat kirim orangnya menyelidiki tentang Kang Siau Hoo. Diperoleh kabar bahwa dari kantor tiehu ada datang dua orang polisi untuk diam dikantor tiekban, karena mereka sedang jalankan tugas untuk menangkap Kang Siau Hoo sebagai begal di Lo Su Nio.
Cie Khie pada dua hari pertama tidak penah berani melangkah keluar dari kamar. Ia ada sangat gembira dapat lihat bujang-bujang perempuan, namun hatinya tetap tidak tenteram. Selewatnya dua hari itu, sebab tidak ada kejadian apa-apa, baru hatinya mulai sedikit lega. Disebelah gurunya telah belikan ia dua perangkat pakaian, lukanya-pun sudah mulai sembuh. Selanjutnya ia bergaul dengan orang-orangnya Lau Kiat dan Thio Hek Hou, ia berjudi dan minum arak, malah juga ia berani kelayapan untuk main bunga raya. Semua itu dilakukan diluar tahu gurunya.
Pau Cin Hui tinggal senang di rumahnya Lau Kiat ini, tetapi ia jadi menganggur, dari itu lama-lama dari bersemangat ia menjadi lesu. Sekarang ia pikirkan cucunya, Ah Loan dan Kie Kong Kiat, muridnya juga, ia tidak ketahui bagaimana nasibnya mereka itu. Maka diakhirnya, ia menulis beberapa pucuk surat, ia minta tolong Lau Kiat carikan seorang untuk bawa itu ke Tin-pa, Cie-yang, Han tiong dan Tiang-an. Cie Khie-pun telah menulis surat pada Cie Liong, ia tidak punya maksud apa-apa kecuali minta kandanya itu kirimkan ia uang beberapa ratus tail perak. Ia sudah pikir : “Bila aku sudah punya uang, aku akan berangkat seorang diri, tak dapat suhu cegah aku! Hidup cara begini tidak menyenangkan!”
Belum lewat lima hari sejak keberangkatannya si pembawa surat, dari tengah jalan dia telah minta tolong orang sampaikan suratnya sendiri, antaranya dia menulis, “Ketika aku sampai di Thong-kang, aku bertemu dengan orangnya Hok Lip Piau Tiam dari Long siong, dari siapa aku dapat tahu Kang Siau Hoo berada di Thong-kang dimasa ia menumpang dalam sebuah rumah penginapan bersama Kim-kah-sin Ciau Tek Cun, pernah ada orang lihat Kang Siau Hoo, katanya kepandaiannya tidak seberapa tinggi, sedang waktu itu Siau Hoo sedang rebah sakit di rumah penginapan itu. Kalau dia tidak ketemu Ciau Tek Cin, bisa jadi dia sudah menutup mata karenanya.”
Mengetahui halnya Kang Siau Hoo itu, dengan tiba-tiba semangatnya Pau Kun Lun bangkit, hatinya jadi tegang. Ia memikir suatu hal kejam: “Kenapa aku tidak pergi sekarang juga, selagi ia sakit buat aku bunuh padanya? Dia sedang sakit, kepandaiannya tentu berkurang lebih separuhnya Ciau Tek Cun pasti tidak punya kepandaian berarti untuk lindungi padanya.”
Pau Kun Lun berkerot gigi, ia mengepal-ngepal tangannya, matanya mendelik mengawasi kearah jendeia. Ia tampak hari sudah tidak siang lagi, cahaya dijendela sudah mulai suram. Burung-burungpun sudah mulai perdengarkan suaranya.
“Sekarang ada ketikanya yang paling baik!“ jago tua ini berpikir pula. “Lau Kiat dan Thio Hek Hou barangkali tidak ada dirumah. Dengan larikan kudaku, dalam satu malam tentulah aku akan sampai di Thong-kang, dimana aku akan segea singkirkan musuh yang buat Kun Lun Pay kucar-kacir!”
Pau Loo-kausu ambil putusan dengan getas, ia berindak dengan cepat, sambil tenteng bungkusan dan golok ia pergi ke istal akan ambil kudanya, akan tetapi selagi ia hendak berikan titah kepada penjaga istal, ia lihat dari pintu pekarangan ada masuk empat penunggang kuda, yalah Lau Kiat bersama dua pegawainya, serta seorang lagi dengan baju sutera, yang umurnya ampatpuluh lebih.
Lau Kiat yang lihat Pau Kun Lun bawa-bawa buntalan, segera menghampirkannya.
“Eh, lauko, kau hendak pegi kemana?“ tanya ia.
Melihat disitu ada orang luar, Pau kun Lun tidak segera menjawabnya.
Lau Kiat lantas turun dari kudanya
“Jangan pergi dulu, jangan pergi dulu, lauko!“ kata ia seraya goyang-goyang tangan dan ia suruh salah satu pegawainya sambuti orang punya buntalan dan golok. Kemudian, mengunjuk tamunya ia kata adalah Thia Pat-ya dari kantor hu-tay dari Long-tiong, keuangan sebuah kota semua berada dalam pengurusannya, ia sudah bekerja dua puluh tahun lebih, maka disekitar daerah kota ini tidak ada orang yang tidak kenal padanya. Ia-pun ada murid yang pandai dari Lie Lian Seng dari cabang silat Hoa Ciu Kun dari Pa-ciu. Didalam kalangan kangou, siapa dengar namanya Thia Pat-ya, tidak ada yang tidak menjadi kagum!”
Pau Cin Hui segera memberi hormat ucapkan kata-kata pujian kepada bendahara tiehu itu.
Thia Pat membalas hormat sambil tertawa, ia kata: “Janganlah Lau Toako memuji aku. Sudah lama aku tidak pernah mengembara lagi, aku datang kesinipun sengaja untuk menunjungi lauko, bukan melainkan untuk melihat satu enghiong tertua yang namanya telah menggetarkan Selatan dan Utara, juga sekalian niat mendamaikan suatu urusan dengan lauko sendiri.”
Cin Hui melengak karena ia tidak kenal orang ini, hingga ia tidak tahu orang ada punya urusan apa yang hendak didamaikan.
Lau Kiat sudah lantas ajak tamunya, berikut jago tua itu, masuk kedalam.
Ketika itu Cie Khie sedang berangin di pekarangan dalam. Ia baru saja pulang habis minum arak hingga ia rasakan tubuhnya panas. Ia terperanjat apabila ia tampak Lau Kiat dan gurunya berada bersama seorang dengan pakaian sebagai hamba negeri, lekas-lekas ia menyingkir kedalam kamarnya.
Lau Kiat ajak tamunya duduk di ruangan tamu, ia perintah orangnya pasang lilin dan siapkan hidangan.
Pau Cin Hui perhatikan tamu ini, yang katanya ada punya urusan dengan ia nya. Ia tidak bisa duga urusan apa adanya itu.
Sebentar kemudian, sesudah orang nyalakan lilin, ruangan jadi terang.
Thia Pat ada bekal huncwee dipinggangnya, ia isikan huncwee itu dan menyulutnya, ia sudah lantas mulai menyedotnya.
“Pau Loo-piausu,“ berkata ia kemudian, apakah kau tidak lahu, Long Tiong Hiap akan datang kemari?“
“Aku tidak tahu,“ sahut Cin Hui sambil menggeleng kepala. “Pada sepuluh tahun yang lalu, ketika Kang Siau Hoo undang dia datang ke Tin-pa akan satrukan aku, namanya Long Tiong Hiap sedang kesohornya, beberapa muridku kena ia lukakan dan rubuhkan, maka juga di depan rumahku dia berani banyak laga. Sebenarnya waktu itu aku ada sangat mendongkol, walau demikian, aku tidak ingin tanam bibit permusuhan dengannya, begitulah tatkala aku berdua bertempur, dengan golokku Kun-lun-too aku berlaku sedikit murah hati ... ”
Sebelum orang bicara habis, Thia Pat sudah goyang-goyangkan tangannya.
“Tapi inilah lain,“ berkata ia. “Kali ini Long Tiong Hiap datang bukan dengan maksud seperti dulu itu. Maksud kedatangannya ini adalah karena kegusarannya kepada Kang Siau Hoo yang ia dengar datang ke Su-coan Utara ini sudah berbuat sewenang-wenang dan jahat, di Loo Su Nia dia sudah lukai hamba negeri, dia sudah rampas isterinya tiekoan dari Hong-an. Kemarin ini Long Tiong Hiap bilang, ia hendak menemui lauko untuk bekerja sama, guna singkirkan Kang Siau Hoo. Sebenarnya sudah lama ia tidak merantau lagi.”
Mendengar itu Pau Cin Hui jadi girang.
“Bagus, bagus!“ berkata ia. “Jikalau Long Tiong Hiap benar datang, aku jadi dapat pula satu pembantu!“
“Long Tiong Hiap datang-pun tidak bersendirian saja,” Thia Pat terangkan pula. “Dia datang bersama puteranya Gan In yang kepandaiannya sudah melebihi ayahnya. Sedang Cin Siau San, isterinya Gan In, cucu keponakan luar dari Liong Bun Hiap, -pun ada terlebih liehay lagi dari pada mertua dan suaminya.”
Pau Loo-kausu tertawa.
“Jikalau dia datang bersama-sama nyonya mantunya untuk bantu aku, terpaksa aku mesti tolak bantuannya itu!“ kata jago tua ini. “Sudah beberapa puluh tahun aku biasa merantau, jikalau sekarang aku tak mampu sendirian saja, dan dengan sebatang golokku, menyingkirkan Kang Siau Hoo, tetapi aku mesti minta bantuan orang perempuan, sungguh aku malu hingga aku tidak punya tempat akan umpatkan mukaku! Jikalau aku dapat menangkan Kang Siau Hoo karena adanya bantuan orang perernpuan, habislah nama baikku yang sudah beberapa puluh tahun lamanya!“
Sehabis mengucap demikan, Pau Kun Lun lantas ingat Ah Loan, maka memikir cucunya itu, lantas saja ia menghela napas.
“Tidak, nyonya mantunya itu tidak turut datang,” kata Thia Pat seraya geleng kepala. “Nyonya mantunya itu sudah pulang kerumah orang tuanya. Mereka sudah menikah tiga tahun, biasanya kalau pulang nyonya mantu itu gunakan tempo sedikitnya dua-tiga bulan. Toh sebenarnya rumah mereka terpisah tidak jauh. Itulah melulu disebabkan Cin Siau San gemar merantau sepulangnya kerumah orang tuanya, entah dia ngelayap kemana. Long Tiong Hiap dan anaknya tidak ambil tahu sepak-terjangnya nyonya mantu atau isterinya itu.”
“Jikalau aku sebagai Long Tiong Hiap, aku tidak bisa antapkan itu?” kata Pau Kun Lun. “Aturan rumah-tanggaku ada paling keras. Aku ada punya dua anak lelaki keduanya telah menikah kepada anak-anaknya orang tani. Nona-nona Kangou, seperti tukang jual silat atau jalan ditambang, tak dapat memasuki rumahku. Cucu perempuanku walau-pun dia belajar silat namun dia mengerti adat-istiadat. Sekarang cucuku itu sudah menikah dengan Kie Kong Kiat, cucunya Liong Bun Hiap. Pasti saudara Thia kenal Kie Kong Kiat itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar